
Pada sore harinya Aysila sedang berada di dapur untuk memanggang daging.
Sementara neneknya berada di balik bar.
Api besar sedang membara di dapur untuk memanggang daging, sesekali Aysila menggunakan alat peniup agar api tetap stabil.
Tidak banyak bumbu yang Aysila tambahkan pada dagingnya, hanya sebatas garam.
Meskipun begitu, garam adalah sesuatu yang mewah terutama bagi orang-orang yang tinggal di desa.
Huft....
Aysila menghela napas sambil membersihkan keringat yang menetes di dahinya.
Hawa panas api cukup untuk membuat Aysila berkeringat apabila terlalu lama didepan pemanggang.
Seperti sore sebelumnya, pada sore itu keadaan kedai sedang sepi.
Gluk, gluk, gluk....
Sore itu hanya seorang kakek tua sudang duduk di dalam kedai sambil menikmati minuman anggur.
Besar kemungkinan pelanggan lain belum datang, karena pada sore hore kebanyakan pelanggan sedang dalam perjalanan dari lahan.
Setelah beberapa menit Aysila memanggang daging, ia lalu memotong daging itu menjadi bagian-bagian kecil di atas nampan kayu besar.
Jika ada pesanan, Aysila cukup mengambil sepotong daging lalu meletakkanya di atas piring dan daging panggang siap untuk disajikan.
Daging panggang hanya dijual pada saat malam hari, entah kenapa alasannya Aysila hanya mengikuti kebiasaan neneknya selama menjalankan kedai.
Malam harinya, pelanggan berdatangan.
Dalam sekejap kedai Aysila sudah dipenuhi pelanggan, kebanyakan dari mereka memesan daging panggang dan anggur.
Agar efektif, Aysila menyiapkan daging sementara neneknya menyangkan anggur.
"Tolong daging panggang tiga!"
"Tolong anggur dua!"
"Baik!"
Suasana begitu ramai, suasana memaksa pelanggan dan Aysila untuk sedikit meninggikan nada ketika sedang memesan dan menerima pesanan.
Kebanyakan pelanggan yang datang adalah rombongan dan pastinya mereka adalah pelanggan tetap kedai Aysila.
Kreeek....
Pintu kedai yang tadinya tertutup kini terbuka.
Sembari menuangkan anggur Aysila menatap ke arah pintu kedai.
Tap, tap, tap....
Tiga orang berzirah besi merah memasuki kedai.
Seketika suasana kedai menjadi hening.
"Itu prajurit kerajaan bukan?"
"Kemarin mereka juga ke sini,"
"Kenapa mereka ke sini hampir setiap hari?"
Rasa takut, pertanyaan dan rasa penasan timbul di antara para pelanggan.
Tap, tap, tap....
Ketiga pria itu berjalan lurus dari pintu menuju kedai bar, mereka mengabaikan orang-orang disekitarnya.
Setibanya di bar, ketiga prajurit itu tersenyum lebar kepada Aysila.
Sambil melipat tangan, prajurit paling tengah berbicara kepada Aysila.
"Seperti biasa kedai ini selalu ramai pada malam hari," ucapnya.
Hufff....
Asyila menutup keran anggur lalu meletakan gelas anggur ke atas nampan.
Tak....
Cara Aysila meletakkan gelas agak sedikit kasar sehingga berbunyi.
Perasaan Aysila tergambarkan jelas melalui cara dia meletakkan gelas.
"Tunggu sebentar," ucap Aysila.
Kreek....
Aysila membuka laci yang berada di balik bar.
Mata ketiga pria itu tertuju kepada isi di dalam laci tersebut, tatapan yang dipenuhi hawa nafsu.
Aysila mengambil lima keping koin perak.
"Ambillah," ucap Alysila sambil menyodorkan kelima koin perak itu.
Dengan sigap prajurit yang berdiri di tengah menyambar koin perak itu.
Dail namanya, seorang prajurit kerajaan dengan zirah merah kebangganya.
Badannya cukup tinggi dan terlihat bertenaga.
Warna rambutnya sedikit keemasan dengan jenggotnya yang juga yang keemasan.
Postur badannya berdiri tegak, seakan-akan berkata bahwa ia adalah orang paling kuat yang berada di salam ruangan tersebut.
Matanya memandang rendah Aysila.
Sambil mengusap-usap kelima poin perak tersebut Dail berkata, "kalau segini sepertinya kurang."
"Kalau begitu berapa?" tanya Aysila.
Raut Aysila tampak datar-datar saja.
"Sepuluh koin perak," ucap Dail dengan senyuman gigi putihnya.
"Hah yang benar saja!" seru Aysila.
Semua pelanggan terkejut, kecuali seorang kakek tua yang sedang duduk agak jauh dari bar dan nenek Aysila, pendengaran mereka sedikit terganggu.
"Kami melindungi tempat ini, jika tidak ada kami di sini mungkin tempat ini sudah berakhir," ucap Dail.
Wajah Dail dan Ayslia kini begitu dekat.
Gluk....
Aysila menelan ludahnya sendiri.
Aysila mundur selangkah lalu mengambil susanya di laci.
Tap, tap, tap....
Sudah mendapatkan apa yang mereka inginkan, Dail bersama dua orang lainnya pergi meninggalkan bar dengan senyuman di wajah mereka.
Malam semakin larut, pelanggan yang tadinya ramai kini sudah pergi meninggalkan kedai.
Banyak piring dan gelas kotor di atas meja, sebagian sisa makanan atau minuman masih tersisa di atas piring dan gelas.
Sebagian sisa makanan dan minuman jatuh ke lantai.
Aysila sedang bolak-balik mengambil piting dari meja lalu mencucinya di dapur.
Malam akan panjang bagi Aysila dan sang nenek.
Kreeek...
Pintu kedai Aysila terbuka dan Aysila menoleh.
Bianno sedang berdiri di balik pintu dengan baju sedikit lusuh.
"Selamat malam," kata Bianno.
Aysila mengusap keringat, "selamat malam."
"Nenek ada di mana?"
"Di dapur,"
Bianno yang melihat Aysila kewalahan, terbesit untuk membantu Aysila.
"Aku akan membantumu," ucap Bianno.
"Kamu yakin?" tanya Aysila.
Aysila fokus di dapur bersama neneknya membersihkan gelas dan piring yang tersisa, sementara itu Bianno membersihkan meja dan lantai.
Bulan semakin tinggi, Aysila tinggal menata perkakas di bar sementara Delmon membersihkan meja bar, nenek Aysila pamit lebih dahulu karena pingganggnya sudha sakit.
Meski berkeringat, bibir Aysila sedikit tersenyum.
"Aysila kamu hebat ya," kata Bianno.
"Apanya?" tanya Aysila sambil mengusap perkakas.
"Padahal kamu dulu selalu cemberut ketika membantu nenek di bar, sekarang kamu melakukannya dengan senyuman,"
Aysila tidak menjawab dan pipinya sedikit memerah.
Setelah membersihkan meja, Bianno bermaksud untuk pergi tetapi Aysila menahan tangan kanannya.
"Ini," kata Aysila sambil menempelkan telapak tangan kananya pada telapak tangan kanan Bianno.
Selain telapak tangan Aysila, Bianno merasakan ada sesuatu yang membuat telapak tangannya terasa dingin, tiga keping koin perak.
Beberapa detik kemudian Bianno tersadar bahwa Aysila sedang menggegam tangannya.
Ehhh....
Sontak Bianno menjauh.
"Maaf tiba-tiba," kata Aysila sambil sedikit menunduk.
Delmon memandang tiga koin perak di jarinya.
"Ini kebanyakan,"
Tiga koin perak yang Aysila dapatkan setara dengan pendapatan Delmon tiga hari menggarap kebun.
"Terimalah," kata Ayslia.
"Tapi,"
"Hari ini Bianno sudah banyak membantuku, jadi izinkan aku untuk berterima kasih,"
Bianno ragu lalu mengembalikan dua koin perak di tangannya.
"Aku segini saja cukup,"
Bianno tidak begitu tahu berapa pendapatan bagi Aysila, yang jelas baginya akan lebih baik bila Aysila memegang banyak uang.
Hari-hari itu terus berlanjut, Bianno selalu mendapatkan roti lapis favoritnya setiap pagi gratis.
Dan malam hari Bianno selalu mebantu Aysila dan neneknya di bar, Aysila sadar bahwa Bianno tidak bisa membantu secara cuma-cuma, ia sadar Bianno selalu datang ke bar dengan baju beraroma tanah serta noda tanah yang menempel.
Hingga pada suatu malam Aysila dibantu Bianno di bar, sepertis hari-hari sebelumnya.
Malam itu pekerjaan Bianno usai sementara Aysila masih tersisa sedikit.
"Dimana aku menaruh sendok itu?" tanya Aysila sambil menbelakangi Bianno.
"Malam sudah semakin larut, aku pulang,"
"Ambil saja di laci bar," kata Aysila yang tampak sibuk mencari sesuatu.
Bianno membuka laci bar dan melihat satu koin emas dan dua koin perak.
Sreeet....
Bianno menutup laci bar tanpa menyentuh isinya.
"Sudah aku ambil," ucap Bianno sambil berjalan menuju pintu keluar bar.
"Baiklah, hati-hati,"
..."Di mana sendok itu?"...
...-Aysila-...