Zeel Greenlight

Zeel Greenlight
Bagian 46: Ingin Aysila



Setetes keringat mengalir pada pelipis Aysila.


Gertakan Dail tampak cukup kuat untuk menggentarkan hatinya.


Aysila menggenggam tangan Bianno lalu menyeretnya pergi.


Apa yang terjadi?


Kenapa gadis itu menyeretnya?


Apa yang coba gadis itu sampaikan?


Penduduk desa sekitar merasa heran.


Tap, tap, tap...


" Tunggu, kemana kalian pergi!" seru pengawal Dail berusaha untuk mengejar Bianno dan Aysila.


"Sudah cukup, tidak usah mengejar mereka!" seru Dail.


"Baiklah," tutur pengawal dengan raut heran.


Penduduk desa perlahan membubarkan diri, kembali ke kesibukan masing-masing


"Kemarilah, dekatkan telingamu," pinta Dail.


"Wanita itu, aku menginginkannya," bisik Dail.


"Iya,"


Dail menggosokan dagu, terheran mendapati respon pengawalnya.


"Kenapa reaksi kamu tampak biasa saja?"


"Aku sudah tahu komandan akan mengincar wanita itu,"


"Komandan selalu ke kedainya, tidak mungkin komandan hanya mengincar uang atau nenek tua itu,"


Ahahaha...


Dail tertawa.


Pluk, pluk...


Dail menepuk pundak pengawalnya.


"Sakit!" seru pengawal.


"Ngomong-ngomong soal neneknya, aku berpikir untuk memanfaatkaanya,"


"Bagaimana komandan?"


Dail menatap sekitar, memeriksa apakah ada orang lain yang memperhatikannya dan ternyata tidak, tetapi ia tetap membisikkan perintahnya untuk berjaga-jaga.


"Suruh kawanan bandit agar menyerang kedai pada malam esok, pastikan Aysila dan neneknya tidak terluka, cukup buat mereka ketakutan," bisik Dail.


"Baik,"


8 Oktober tahun 1700.


Kedai Aysila, Desa Bosa, Kerajaan Rout.


Malam Hari.


Malam itu turun hujan, terapi suasana kedai cukup ramai.


Obrolan orang-orang di sana sama sekali tidak terganggu berkat atap kedai yang daapg meredam suara hujan.


Wushhh...


Masalahnya adalah angin hujan yang bertiup, membuat lilin pada sebagian meja pelanggan mati aksi akibatnya.


"Aysila lampunya mati!"


"Aysila tolong ke sini!"


"Aysila,"


"Baiklah tunggu sebentar,"


Tap, tap, tap...


Aysila berjalan dari meja ke meja sembari membawa lilin, agar apinya tetap terjaga Aysila melindunginya dengan tangan kiri.


Malam itu Aysila harus berjalan sedikit berhati-hati, meskipun atap kedai cukup mampu meredam suara hujan, tetapi tidak cukup mampu untuk menahan air hujan yang merembes dari langit-langit lalu membasahi lantai.


Tes, tes, tes...


Aysila harus melewati genangan air itu, agar jalannya tidak terpeleset.


Pada saat yang bersamaan neneknya sedang berada di bar, menyiapkan anggur.


Hingga perlahan hujan berangur berhenti, membuat lilin pada masing-masing meja pelanggan tetap terjaga, air yang tadinya merebes perlahan berhenti.


Pesanan mulai berkurang, pelanggan yang ada masih menikmati pesanannya, dan pembeli baru tidak akan datang selama hujan masih berlangsung.


Di waktunya yang sedikit senggang itu, Aysila memutuskan untuk mengepel lantai, sekaligus mengurangi kegiatannya nanti selama penutupan kedai.


Gubrak...


Tiba-tiba pintu terbuka dengan kasar dan angin hujan memenuhi ruangan kedai, membuat bulu kuduk Aysila berdiri.


Spontan pandangan sesisi kedai tertuju ke pintu kedai, di sana sudah berdiri sekawanan bandit berotot dengan kapak pada tangan kanannya.


Jumlah mereka kurang lebuh sepuluh orang, sebagian dari mereka tidak berbaju sehingga memperlihatkan otot-otot dan luka di badan mereka.


Tap, tap, tap...


Spontan Aysila lari ke arah bar lalu menggegam pisau dapur yang ada di bar.


Kini Aysila berdiri tepat di depan sang nenek.


"Aysila siapa mereka?"


"Aku juga tidak tahu nek,"


"Apakah mereka orang jahat?"


"Mungkin,"


"Nenek tetaplah dibelakangku, jika ada apa-apa pergilah dulu lewat pintu belakang," pinta Aysila.


"Permisi," seru ketua Bandit.


Tap, tap, tap...


Kawanannya berbondong-bondong memasuki kedai dengan kulit yang sedikit basah akibat hujan.


Kawanan Bandit itu berbaur dengan pelanggan kedai, bergabung ke meja mereka menyapa mereka lalu mengambil makanan mereka.


Tentunya para pelanggan tidak bisa berbuat apa-apa dengan kawanan bandit yang sedari tadi membawa kapak besi pada masing-masing diri mereka.


Tap, tap, tap...


Ketua Bandit berjalan mendekati bar dengan mata garang, membust Aysila mundur selakangah.


"Apa yang kamu inginkan, uang?"


Bibir Aysila gemetar menatap bandit yang jauh lebih tinggi darinya.


"Nona cantik, seperti yang kamu duga"


Gubrak...


Terdengar bunyi hentakan kasar dari arah pintu.


Sebenarnya pintu kedai sudah terbuka sejak kedatangan bandit, sehingga hentakkan itu tidak memiliki fungsi tertentu.


Mungkin fungsinya hanya untuk mencuri perhatian.


Pada sisi luar pintu, kini berdiri Dail dengan seorang pengawalnya, tentunya mereka datang bersenjata lengkap dengan zirah besi yang tentunya berat.


Tap, tap, tap...


Dail melakukan langkah pertama, memasuki kedai.


Cukup untuk membuat mata pelanggan yang ada di dalam sana menjadi berbinar-binar.


Mereka tidak mengharapkan kedatangan Dail, tetapi tidak ada pilihan lain, Dail menjadi harapan penyelamat mereka di malam itu.


Kedatangan Dail membuat ketua bandit mengabaikan Aysila, kini punggungnya yang besar membelakangi Aysila.


Untuk sepersekian detik terjadi tatap mata anatara Dail dan Ketua bandit, tidak ada pembicaraan yang berarti, entah pesan apa yang disampaikan melalui tatapan mata mereka.


"Anak buahku, kita mundur!" seru ketua bandit.


Membuat kawanan bangkit dari duduk, sebagian masih menyantap makanan lalu menyisakan tulangnya saja.


Hingga ketua bandit dan Dail berdiri berpapasan, ketua Bandit meninggalkan kedai, diikuti seluruh anak buahnya.


Dail menoleh ke luar memastikan kawanan bandit itu menjauh.


Kreeek...


Dail menutup pintu kedai dari sisi dalam, secara perlahan.


"Tuan Dail!"


"Tuan Dail!"


"Ia adalah penyelamat kita!"


Pelanggan yang tadinya hening kini tampak sumringah.


Sebagian pelanggan bertepuk tangan, sebagian bangkit berdiri untuk menyalaminya.


Dail berjalan ke tengah kedai, membuat sorak semakin pecah.


"Apa sih, ini bukanlah hal yang spesial, sudah menjadi kewajiban saya sebagai prajurit kerjaan untuk melindungi desa," terang Dail.


Prok, prok, prok...


Penduduk bertepuk tangan, nenek Aysila bertepuk tangan, kecuali Aysila yang memandang sinis Dail sejak kedatangannya.


Dail menghampiri bar dan menyapa Aysila.


" Kenapa nona cantik, wajahmu tidak terlihat senang, lihatlah nenekmu,"


"Tidak ada apa-apa,"


"Nenek, aku sudah berjasa untuk kedai ini, apakah aku boleh meminta sesuatu?


"Apa permintaanmu anak muda, selama nenek bisa memenuhinya, nenek akan mewujudkan pemintaanmu sebagai tanda terima kasih,"


"Aku menginginkan cucu nenek,"


"Hah?"


Mata Aysila terbuka lebar mendengar perkataan itu.


"Nenek tidak kebe-"


Cekatan Aysila menutup mulut sang nenek.


"Apa yang kamu katakan?" Aysila menatap Dail tajam.


Cukup untuk emmbuat Dail terancam.


"Tunggu sebentar, aku hanya ingin menikahimu, tidak ada niat buruk di balik itu,"


"Iya, anak ini baik, dia baru saja menyelamatkan kedai kita,"


"Jangan tertipu, aku merasa ada yang aneh,"


"Jadi?"


"Jika yang bersangkutan tidak ingin, nenek tidak bisa berbuat apa-apa, nenek berjanji akan mengabulkan permintaanmu yang lain,"


"Cih,"


tap, tap, tap...


Dail pergi meninggalkan kedai bersama pengawalnya.


..."Aku menginginkan cucu nenek,"...


...-Dail-...