Zeel Greenlight

Zeel Greenlight
Bagian 12 : Bukit Salju



“Apakah nenek pemilik toko ini?” tanya Zeel.


“Apa?” tanya nenek itu dengan nada tinggi.


Nenek tua itu tidak begitu jelas mendengar perkataan Zeel.


“Apakah nenek pemilik toko ini?” tanya Zeel lagi.


“Iya … apakah kamu ingin membeli bunga?” tanya nenek tua itu.


Zeel menjawab, “tidak … aku ingin bertanya sesuatu.”


Dengan mata rabunnya nenek itu berusaha menatap Zeel.


Namun tidak begitu berhasil, nenek itu melihat kehadiran Zeel di hadapannya, namun buram.


“Apa yang ingin kamu tanyakan?” tanya nenek itu.


Zeel menjawab, “Apakah nenek tau tempat di mana aku bisa mendapatkan bunga es?”


“Bunga es?” tanya nenek itu.


“Iya nek,” tutur Zeel.


“Bunga itu sudah lama punah,” ucap nenek itu.


“Punah?” tanya Zeel.


Nenek itu berkata, “tetapi jika kamu benar-benar ingin mendapatkan bunga es … kamu bisa pergi ke bukit salju.”


“Bukit salju … tempat itu ada di mana nek? tanya Zeel penasaran.


“Bukit salju berada di arah barat laut benteng ini,” tutur nenek tua itu.


Zeel berkata, “terima kasih nek.”


“Kenapa kamu mencari bunga itu?” tanya nenek itu.


“Aku … ingin menghadiahkan bunga itu untuk seseorang,” tutur Zeel.


Nenek itu berkata, “jadi begitu … tunggu sebentar”


Kemudian nenek itu pergi entah kemana, lalu kembali sembari membawa sesuatu dengan kedua tangannya.


Terpandang oleh Zeel sebuah pot kosong berisikan sekop kecil.


“Ini,” ucap nenek itu.


Zeel bertanya, “berapa nek?”


“Ambil saja … itu hadiah untukmu,” kata nenek itu.


“Sekali lagi … terima kasih nek,” kata Zeel.


Kemudian Zeel pergi meninggalkan toko bunga itu, lalu ia berjalan menuju gerbang benteng yang berada di arah barat.


Berbeda dengan kota benteng Clever, kota benteng Haven hanya memiliki satu gerbang sebagai akses keluar masuk.


Selama perjalanan menuju gerbang barat, Zeel melalui jalan berbatu.


Jalanan kota cukup ramai dengan penduduk yang lalu lalang.


Kini di hadapan Zeel terlihat gerbang kota, hanya perlu beberapa langkah lagi hingga Zeel meninggalkan kota benteng Haven.


Di saat Zeel ingin melangkahkan kakinya keluar gerbang, ia dihalangi oleh dua prajurit istana.


“Berhenti!” tutur salah satu prajurit itu.


Kemudian Zeel menghentikan langkahnya.


“Tolong buka penutup kepala anda.” Ucap salah satu prajurit itu.


Selepas itu Zeel menurunkan penutup kepala yang ia kenakan.


Terpandang oleh kedua prajurit itu wajah Zeel dengan rambut poni acak-acakan.


Salah satu prajurit itu berucap “kalau tidak salah … tuan adalah tamu tuan putri,”


“Benar,” kata Zeel.


Salah satu prajurit itu bertanya, “sekarang tuan sedang menuju ke mana?”


“Aku akan pergi menuju bukit salju kemudian kembali ke kota ini,” jawab Zeel.


Salah satu prajurit itu berkata, “Sebaiknya tuan


berhati-hati … monster elemental air ada di sana.”


“Baiklah,” tutur Zeel.


Kemudian Zeel pergi meninggalan kota benteng Haven lalu berjalan menuju arah utara.


Matahari terbenam dengan hangatnya


Zeel berjalan pada dataran salju, sinar mentari sore menerangi langkah Zeel.


Setelah terus melangkahkan kaki ke utara, terpandang di hadapan Zeel bukit salju.


Benar ternyata … di sini ada bukit, batin Zeel.


Zeel baru menyadari keberadaan perbukitan saju


membentang pada utara kota benteng Haven.


Pada perjalanan sebelumnya, pandangan Zeel terbatas akibat badai salju, sehingga ia tidak menyadari perbukitan di utara.


Wusss …


Angin berhembus melalui telinga Zeel.


Kini Zeel sedang berjalan menanjak pada bukit sembari membawa pot bunga berisikan sekop kecil.


Selama Zeel berjalan menanjak ia tidak melihat pohon maupun hewan pada bukit ini.


Hanya bukit hampa yang tertutup salju.


Setelah terus berjalan menanjak, akhirnya Zeel tiba di puncak bukit salju, tidak butuh waktu lama baginya untuk mencapai puncak bukit salju.


Bukit salju ini tidak begitu tinggi.


Setibanya di puncak bukit salju, Zeel memandang ke sekitarnya.


Terpandang oleh Zeel sosok monster berbadan besar tidak jauh darinya.


Monster itu berbulu tebal berwarna putih serta


berjalan dengan empat kaki.


Kini terjadi kontak mata antara Zeel dengan monster itu.


Untuk beberapa saat mereka hanya terdiam saling menatap.


Kemudian monster itu membuka mulutnya.


multu monster itu.


Kemudian membentuk air padat.


Splash …


Lalu monster itu menembakan air padat Itu ke arah Zeel.


Tidak salah lagi … monster ini adalah monster


elemental air, batin Zeel.


Dengan cekatan Zeel mengambil pedang besi yang ia sembunyikan di dalam jubahnya.


Slash ….


Zeel menebas air padat yang di arahkan padanya secara vertikal.


Tebasan Zeel tepat mengenai air padat itu, namun tebasan Zeel tidak menghentikan laju air padat itu.


Kemudian air padat tersebut menghatam tepat di wajah Zeel.


Seketika Zeel terpental lalu terbaring di salju.


Wajah Zeel tidak mengalami luka serius hanya saja sedikit memerah.


Daya serang monster itu tidak mematikan, namun cukup untuk membuat targetnya terjatuh akibat gaya dorong.


Kemudian Zeel bangkit berdiri.


Splash ….


Monster itu kembali menembakkan air padat pada Zeel.


Dengan cepat Zeel berguling ke arah lain menghindari serangan monster itu.


Zeel memandang ke arah air padat yang di arahkan kepadanya.


Air padat itu bertabrakan dengan salju, kemudian terhempas ke udara.


Kemudian monster elemental itu berlari menghampiri Zeel.


Zeel yang tidak ingin menjadi makanan monster


elemental, dengan segera Zeel berlari menghindari monster itu.


Lalu monster itu mengejar Zeel dari belakang.


Namun Zeel tidak bisa terus berlari, kini ia berada


pada salah satu tepian puncak bukit salju.


Terpandang oleh Zeel di hadapannya turunan yang cukup terjal ke bawah


Zeel terpojok, monster elemental itu mengejarnya.


Tap ….


Zeel melompat ke depan.


Tap ….


Tidak  ingin kehilangan makanan, monster itu nelompat ke arah yang sama dengan Zeel.


Namun ketika monster elemental itu melompat, ia tidak melihat keberadaan Zeel.


Kemudian monster elemental itu menoleh ke sekitar.


Terpandang olehnya sosok  Zeel sedang bergelantungan pada tanjakan.


Namun monster itu tidak bisa berbuat apa-apa selain terguling ke bawah bukit salju.


Syukurlah, batin Zeel.


Zeel menatap ke atas, terpandang oleh Zeel tangan kanannya yang sedang memegang pedang yang tertancap pada tanjakkan.


Pedang besi itu menyelamatkan nyawa Zeel.


Kemudian Zeel menggoyang-goyangkan badannya, hingga tangan kirinya mampu menggapai tepian puncak.


Setelah berhasil meraih tepian dengan kedua tangannya Zeel naik ke atas.


Terpandang oleh Zeel sebuah bunga tumbuh di permukaan salju tepat di hadapannya.


Selepas itu Zeel menghampiri lalu menentuh bunga itu.


Ketika menyentuh bunga itu Zeel merasakan sensasi dingin.


Bunga itu nampak memancarkan asap dingin berwarna putih .


Bagian mahkota, tangkai, bahkan hingga bagian tangkai bunga itu berwarna transparan.


Tidak salah lagi … ini bunga es, ucap Zeel dalam hati.


Selepas itu Zeel melepaskan bunga itu bersama tanah yang berada pada sekitarannya dengan bantuan sekop kecil, ia tidak ingin merusak akar bunga itu.


Kemudian Zeel meletakan bunga itu beserta tanah ke dalam pot yang ia bawa.


Malam hari tiba, kini Zeel sedang berjalan di lorong istana Bluelight sembari membawa bunga es.


Zeel melangkahkan kakinya menuju kamar Clare.


Seperti malam sebelumnya Clare tidak emngunci pintu.


Tok, tok, tok ….


Zeel mengtuk kamar pintu


“Clare,” ucap Zeel.


Sama seperti malam sebelumnya, terpandang oleh Zeel sosok Clare yang sedang tertidur di meja.


Pada permukaan meja tempat Clare tertidur, Zeel


melihat sebuah keranjang kecil.


Lalu Zeel meletakkan bunga yang ia bawa pada permukaan meja tempat Clare tertidur.


Kemudian Zeel mengangat tubuh Clare ke tempat tidur, lalu menutup Sebagian tubuh Clare dengan selimut.


Lalu Zeel meninggalkan kamar tidur Clare.


Kreek ….


Secara perlahan Zeel menutup pintu kamar Clare dari luar.


..."Dingin sekali tempat ini."...


...-Zeel Greenlight-...