
“Gampang … aku hanya perlu menutup mata, sementara itu Bendetta mencari tempat untuk bersembunyi,” jelas Delmon kecil.
“Lalu?” tanya Bendetta.
Delmon kecil berkata, “lalu … setelah beberapa saat, aku akan mencari Bendetta … jika aku menemukan Bendetta maka aku menang, jika
aku tidak menemukan Bendetta maka Bendetta menang.”
“Jadi begitu … ayo kita lakukan!” seru Bendetta kecil.
“Ayo!” seru Delmon kecil.
Kemudian Delmon kecil dan Bendetta kecil memasuki hutan terdekat.
Setibanya di hutan, suasana hutan tampak sedikit gelap.
Pepohonan besar bertebaran, semak belukar bertebaran, serta rerumputan hijau pada permukaan.
“Ayo kita lakukan!” seru Bendetta kecil.
Bendetta kecil tampak begitu bersemangat, mengingat ini pertama kali baginya bermain petak umpet.
Aura semangat Bendetta kecil menular kepada Delmon kecil.
“Ayo!” seru Delmon kecil.
Kini Delmon kecil menutup mata dengan kedua telapak tangannya.
Sementara itu Bendetta kecil mencari tempat sembunyi.
Tap, tap, tap ….
Terdengar oleh Delmon kecil, suara langkah kaki
menjauhinya.
“Sudah?” tanya Delmon kecil.
Bendetta kecil tampak berlari di antara pohon-pohon.
“Belum!”
Delmon kecil terus mengajukkan pertanyaan yang sama, hingga Bendetta kecil tidak menjawab lagi.
“Kalau begitu … aku cari ya!” seru Delmon kecil.
Selepas itu Delmon kecil membuka matanya, kini Bendetta kecil tidak ada lagi di hadapannya.
Lalu Delmon kecil berjalan di antara pepohonan, ia berjalan sembari menatap sekitar.
Delmon kecil agak kesusahan mencari Bendetta kecil, keadaan permukaan hutan yang berumput tidak meninggalkan jejak Bendetta kecil.
Hingga beberapa saat berlalu, matahari perlahan mulai terbenam.
“Bendetta ada di mana?” tanya Delmon.
Delmon berdiri terdiam di antara peophonan.
Sudah pasti tidak akan di jawab, batin Delmon.
Sementara itu, Bendetta kecil sedang
duduk bersembunyi di balik sebuah pohon.
Bendetta kecil sama sekali tidak mendengarkan suara Delmon kecil, suasana di sekitarnya cukup hening.
Di mana Delmon … aku ketakutan, batin Bendetta kecil.
Tap, tap, tap ….
Terdengar oleh Bendetta kecil, suara langkah kaki dari belakang.
Spontan Bendetta kecil menoleh.
“Delmon!” seru Bendetta kecil sembari tersenyum.
Namun apa yang ia lihat bukanlah Delmon kecil, melainkan monster elemental.
Seketika senyuman Bendetta kecil sirna.
Sementara itu Delmon kecil masih berjalan di antara pepohonan guna mencari Bendetta.
Bendetta … kamu ada di
mana? Batin Delmon kecil.
Aaaaaa ….
Tiba-tiba Delmon kecil mendengar jeritan di
tengah heningnya hutan.
“Bendetta!” seru Delmon kecil.
Mengandalkan pendengarannya, dengan segera Delmon kecil berlari menghampiri sumber suara.
Setibanya pada sumber suara, Delmon kecil melihat Bendetta kecil sedang jongkok pada permukaan rumput sembari menutup kepala.
“Bendetta!” seru Delmon.
Tidak jauh dari Bendetta kecil, Delmon kecil melihat monster elemental.
Berjalan dengan empat kaki, bulu monster elemental itu nampak lebat.
Selepas itu monster elemental tersebut membuka mulutnya lebar-lebar.
Dalam sekejap, partikel-partikel kecil berwarna oren muncul tidak jauh dari mulut monster itu.
Partikel-partikel kecil itu memadat membentuk bola sempurna berwarna oren kemerahan.
Splash ….
Bola tersebut di tembakkan ke arah Bendetta kecil.
Tidak berkutik, Bendetta kecil hanya terdiam di posisinya.
Sementara itu Delmon kecil hanya berdiri terdiam dengan keadaaan kaki gemetar.
Entah itu bola apa, bagi Delmon kecil
bola tersebut tampak berbahaya.
Delmon kecil menatap Bendetta kecil, ia melihat air mata mengalir dari mata Bendetta kecil.
Tap, tap, tap ….
Tanpa Delmon kecil sadari, tubuhnya bergerak dengan sendirinya.
Kini Delmon kecil sudah berada di depan Bendetta kecil, ia sudah siap menyambut bola tersebut.
Sementara itu dari arah lain.
Tap, tap, tap ….
Terdengar suara langkah kaki.
Sadar akan itu, Delmon kecil kembali membuka mata.
Terlihat oleh Delmon kecil, seorang pria dengan zirah besi muncul di hadapannya sembari membawa panah.
Dengan posisi siap memanah, pria itu menarik tali panah
Namun tidak ada busur di sana.
Tiba-tiba partikel-partikel kecil berwarna biru muncul pada panah.
Selepas itu partikel-partikel biru tersebut memadat kemudian membentuk anak panah.
Berwarna putih transparan serta memaparkan hawa sejuk, busur itu tampak menjanjikan.
“Tidak akan aku biarkan!” seru pria itu.
Swuuushhh ….
Pria tersebut melepaskan anak panah.
Sementara itu dari arah yang berlawanan, suatu bola berwarna oren kemerahan siap menghantam anak panah.
Bum ….
Anak panah dan bola itu bertabrakan dengan kecepatan tinggi.
Duar ….
Akibat tabrakan tersebut, terjadi ledakan kecil.
Anak panah dan bola oren kemerahan itu kini berubah kembali menjadi pertikel-partikel kecil.
Perpaduan antara partikel kecil berwarna biru dan merah, membuat ledakan tersebut nampak indah.
Melihat sosok pria itu, monster elemental mundur beberapa langkah.
Tap,tap,tap ….
Lalu lari entah ke mana.
Selepas itu, pria berzirah besi tersebut menoleh ke balakang.
“Kamu tidak apa-apa?” tanya pria itu.
Terpandang oleh Delmon kecil seorang pria berzirah besi berdiri di hadapannya.
Berbeda dengan zirah besi yang sering Delmon lihat dari tempat asalnya, zirah besi pria itu nampak memiliki kain yang tebal.
Dengan rambut rambut cokelat terurai gondrong berwarna cokelat, pria itu tersenyum ramah kepada Delmon kecil.
“Aku baik-baik saja,” jawab Delmon kecil.
Pria tersebut menoleh ke belakang Delmon, ia melihat seorang gadis kecil sedang jongkok sembari menutup kepala dengan dua tangan.
“Bagaimana dengan dia?” tanya pria itu.
Tap, tap, tap ….
Dengan segera Delmon kecil menghampiri Bendetta kecil.
Masih menutup mata, tubuh Bendetta
kecil tampak bergetar.
“Bendetta … sudah tidak apa-apa,” ucap Delmon.
Mendengar suara Delmon kecil, secara perlahan Bendetta kecil membuka matanya.
Terpandang oleh Bendetta kecil, sosok Delmon kecil sedang menatapnya dengan khawatir.
Kemudian Delmon kecil mengulurkan tangannya pada Bendetta.
“Ayo,” tutur Delmon kecil.
Bendetta kecil menerima uluran tangan Delmon kecil, lalu ia bangkit berdiri.
“Paman … terima kasih telah menyelamatkan kami,” kata Delmon kecil.
Pria tersebut berkata, “tidak-tidak … aku hanya kebetulan lewat.”
Menerima ucapan terima kasih, pria itu tampak sedikit malu-malu.
Kemudian pria tersebut sedikit membungkukan badannya agar sejajar dengan kedua anak kecil di hadapannya.
“Nama paman adalah Alvero … nama kalian?” tanya Alvero ramah.
“Nama aku Delmon,” jawab Delmon.
Kemudian Alvero menatap Bendetta kecil.
Dengan segera Bendetta kecil berlindung di belakang Delmon kecil.
Alvero bertanya, “nama nona cantik siapa?”
“Ben … Bendetta,” ucap Bendetta kecil dengan nada rendah.
“Raja!”
“Raja!”
“Raja ada di mana!”
Terdengar oleh mereka suara pria dari kejauhan.
Beberapa saat kemudian, muncul seorang pria berzirah besi lainnya datang menghampiri mereka.
“Raja … kenapa raja pergi tiba-tiba?” ucap pria berzirah besi.
Alvero menggaruk-garukkan rambut sembari tersenyum.
“Maaf … aku mendengarkan suara teriakan, jadi aku langsung ke sini,” kata Alvero.
Pria berzirah besi berkata, “Dasar … seluruh prajurit khawatir pada raja, ayo kita kembali,”
“Sebentar,” tutur Alvero.
..."Delmon kamu ada di mana?"...
...-Bendetta kecil-...