
18 September tahun 1700, desa Cochem, wilayah netral.
Pada pagi hari itu Zeel terbangun dari tidur lelapnya.
Kemudian Zeel bangkit dari kursi panjang tempat ia tidur.
Selepas itu Zeel melangkahkan kakinya ke pintu keluar rumah.
Sreeet ….
Zeel membuka pintu keluar rumah secara perlahan.
Dengan sekejap matahari menyinari ruangan tempat Zeel tidur, pagi itu cuaca cukup cerah.
Kemudian Zeel pergi ke halaman rumah untuk menghirup udara segar sembari sedikit melakukan peregangan.
Beberapa saat kemudian, Zeel mendengar suara langkah kaki perlahan mendekatinya dari belakang.
Zeel yang sadar akan itu menoleh ke belakang.
Terlihat di hadapan Zeel sosok Clare yang sedang berdiri di pintu sembari menggosok-gosokan mata.
Clare berkata, “Selamat pagi.”
“Pagi,” balas Zeel.
“Kapan kita berangkat?” tanya Clare dengan wajah bantal.
Ucap Zeel, “Sekarang.”
“Eh … kalau begitu aku akan membangunkan mereka dulu,” lalu Clare pergi.
Zeel berkata, “tolong.”
Selepas merasa cukup dengan udara pagi serta peregangan, Zeel menyiapkan kereta chobo untuk berangkat.
Sementara itu Clare berusaha membangunkan Emily.
“Emily bangunlah,” kata Clare.
Emily membalas, “sabar bu … sumur tidak akan pergi ke mana-mana.”
Medengar ucapan itu Clare geleng-geleng kepala, lalu menggendong Emily yang masih tertidur.
Kemudian Clare melangkahkan kaki menaiki tangga menuju lantai dua.
Terlihat oleh Zeel sosok Leon dan Luis yang sedang tidur di ranjang yang terpisah, tidak ada yang spesial dari ruangan lantai dua.
Dua tempat tidur sederhana, sebuah meja dengan lilin yang menyala di atasnya, serta satu jendela kecil.
“Leon … Luis … bangunlah,” ucap Clare sembari menggendong Emily.
“Kenapa kakak Clare?” kata Leon.
Clare berkata, “kakak Zeel sekarang sedang menunggu kalian di halaman … cepatlah.”
Lalu Leon bangkit dari tempat tidur kemudian
membangunkan adiknya Luis yang masih tertidur.
“Luis … bangunlah,” kata Leon.
Luis dengan wajah bantal membalas, “apa?”
“Kakak Zeel sedang menunggu kita di halaman,” ucap Leon.
Luis bertanya, “kenapa?”
“Aku juga tidak tahu … yang penting bangun,” kata Leon sembari menarik tubuh adiknya Luis.
Beberapa saat kemudian Clare tiba di halaman rumah dengan menggendong Emily, disusul oleh Leon dan Luis dari belakang.
“Ada apa kakak Zeel?” tanya Leon sembari
menggosok-gosok mata.
Zeel berkata, “Kalian bertiga ikutlah bersama kami.”
“Ke mana?” tanya Luis sembari menggosok-gosokan matanya.
Zeel menjawab, “ke kota benteng Heaven.”
“Kenapa kami harus ikut bersama kalian?” tanya Leon dengan wajah bantal.
Zeel berkata, “Terlalu berbahaya bagi anak-anak
seperti kalian berada di desa ini, tidak ada orang lain selain kalian bertiga di desa ini … lagian kita tidak tahu kapan orang tua kalian maupun penduduk desa ini akan kembali.”
Leon dan Luis dengan serentak menjawab, “baiklah.”
“Ah … aku baru ingat, masih ada buah sunetta yang tersisa di dapur,” ucap Clare.
Lalu ia menyerahkan Emily yang tidur di gendongannya kepada Leon.
“Tunggu sebentar ya,” kata Emily kemudian pergi memasuki rumah.
Sementara menunggu Clare kembali, Zeel dibantu Luis untuk menyiapkan kereta Chobo.
Beberapa saat kemudian Clare kembali dengan
membawa sebuah keranjang kayu dengan beberapa buah sunetta di dalamnya.
Setelah persiapan selesai, Zeel, Clare, Leon, Luis,
serta Emily berakat ke arah tenggara mengendarai kereta Chobo.
Zeel mengendarai kereta chobo pada sisi depan, sementara Clare bersama Leon, Luis dan Emily duduk di dalam kereta chobo.
Kereta chobo yang mereka kendarai bukanlah kereta besar, kereta ini memilki empat kursi sederhana pada bagian dalam kereta serta sebuah kursi pada sisi depan kereta untuk pengendara.
Ukuran tubuh Leon, Luis dan Emily cukup kecil karena mereka masih anak-anak, ukuran tubuh mereka yang kecil masih memungkinkan kereta chobo untuk bergerak.
Beberapa saat kemudian Emily terbangun dari tidurnya, lalu ia melihat wajah Clare Leon dan Luis yang duduk di sekitarnya.
“Kita ada di mana?” tanya Emily sembari menggosok-gosok matanya.
Leon menjawab, “kita ada di dalam kereta.”
Lalu Luis menjelaskan apa yang sedang terjadi kepada adik kecilnya.
“Aku lapar,” ucap Emily setelah mendengarkan
penjelasan kakaknya Luis.
“Ini makanlah,” kata Clare sembari menyerahkan buah sunetta kepada Emily.
“Maaf ya … hanya ada ini,” kata Clare.
Emily menjawab, “tidak apa kak … ini sudah lebih dari cukup.”
Kemudian Clare, Leon, Luis dan Emily menyantap buah sunetta secara bersama-sama sebagai sarapan mereka.
Sementara itu Zeel masih fokus mengendarai kereta chobo.
Medan datar berpasir mereka lalui, kiri kanan jalan hanya ada hutan, tidak nampak rumah sama sekali apalagi pemukiman.
Tidak banyak orang yang berani tinggal di wilayah netral seperti ini, bandit maupun monster bisa menyerang kapan saja.
Kebanyakan orang memilih hidup bersama di kota benteng karena aman, biasanya hanya orang-orang yang terpaksa yang tinggal di wilayah netral seperti ini.
Siang hari tiba, Zeel mendengar suara aliran sungai tak jauh di sekitar mereka.
Kemudian mereka memutuskan untuk berhenti
isitirahat sejenak di tepian sungai.
Setibanya di sekitar sungai mereka langsung turun dari kereta.
kemudian Zeel melakukan sedikit peregangan, pinggang Zeel sedikit pegal setelah berkendara cukup lama.
Sementara itu Clare bersama Leon, Luis dan Emily pergi lebih dahulu ke tepian sungai untuk meminum air sungai.
Air sungai tersebut cukup jernih hanya saja suhunya lebih dingin.
Berbeda dengan sungai tempat Zeel dan Clare istirahat sebelumnya, tidak ada satupun pohon yang berbuah di sekitar tepian sungai ini.
Pohon-pohon di sekitar sungai cukup lebat, semak-semak cukup tinggi berada di antara pepohonan tersebut.
Rerumputan nampak tumbuh dengan baik di sekitar sungai itu.
Setelah melakukan sedikit peregangan Zeel berniat menghampiri Clare dan yang lainnya.
Namun lanngkah Zeel terhenti ketika
mendengar sesuatu dari arah semak-semak.
“Clare, pergilah ke kereta bersama mereka.” Kata Zeel.
Clare menoleh ke arah Zeel lalu berkata, “kenapa?”
“Cepatlah,” kata Zeel dengan wajah serius.
Lalu Clare dengan sigap menggiring ketiga anak itu ke arah kereta.
“Kenapa kak?” tanya Emily penasaran.
Clare berkata, “ikuti saja.”
Beberapa saat kemudian sosok misterius keluar dari semak-semak menghampiri mereka.
Sosok tersebut datang dengan kecepatan cukup
tinggi.
Nampak sosok misterius tersebut menuju ke arah Clare dan ketiga anak-anak itu.
Zeel yang sadar dengan itu dengan sigap menghadang pergerakan sosok misterius itu dengan pedang besinya.
Zeel memegang pedangnya dengan posisi horizontal guna menahan pergerakan sosok misterius tersebut.
Tangan kiri Zeel memegang pegangan pedang, sementara tangan kanannya memegang area sekitar ujung pedang.
Nampak di hadapan Zeel sosok monster yang haus darah.
Monster tersebut berkaki empat dengan kuku tajam serta taring tajam, monster itu memiliki ekor berwarna merah.
Karena sadar gerekannya tertahan oleh Zeel, lalu
monster tersebut memutuskan untuk mundur beberapa langkah dari Zeel.
Nampak monster tersebut membuka mulutnya, kemudian menembakkan sesuatu ke arah Zeel.
Splash ….
Lalu Zeel dengan refleknya menghindari serangan itu.
Rerumputan yang ada di hapadan Zeel seketika menjadi hangus.
“Jadi begitu … api ya,” kata Zeel lalu tersenyum
kecil.
Lalu Zeel menutup matanya untuk beberapa saat kemudian membuka matannya kembali.
Mata Zeel yang tadinya cokelat kini berubah menjadi hijau serta memancarkan cahaya.
Zeel berlari ke arah monster itu, lalu monster
tersebut menembakkan tiga api berbentuk bola ke arah Zeel.
Splash, splash, splash ….
Kali ini Zeel tidak menghindarinya, sambil terus
berlari ke arah monster itu, Zeel menerima ketiga bola api yang di arahkan padanya.
Tubuh Zeel tidak terluka atau terbakar sama sekali, kemudian Zeel menghantam kepala monster itu dengan pegangan pedangnya.
Lalu monster misterius itu tergeletak di rerumputan tak sadarkan diri.
“Kakak Zeel hebat!” kata Leon dengan ekspresi kagum.
Luis berkata, “keren!”
Sementara itu Clare dan Emily hanya terdiam sembari tepuk tangan.
“Sekarang sudah tidak apa-apa … sebaiknya kita segera pergi sebelum kawanan monster ini kemari,” ucap Zeel.
Selepas itu Zeel memasukan pedang besi ke sarung pedang yang berada di balik punggungnya.
“Itu sebenarnya apa?” tanya Clare.
Zeel menjawab, “monster elemental.”
..."Kakak Zeel hebat!"...
...-Leon-...