Zeel Greenlight

Zeel Greenlight
Bagian 29 : Dansa II



“Cuma perasaan aku saja … apa memang dansa Zeel semakin membaik seiring waktu?” tanya  Sophia.


Delmon tersenyum kecil.


“Begitulah Zeel,” ucap Delmon.


“Apa maksudmu?” tanya Sophia.


Sophia menatap Delmon, layaknya seorang murid yang tidak mengerti penjelasan gurunya.


Pada saat yang bersamaan, Zeel sedang berdansa bersama seorang wanita bangsawan.


Kala itu Zeel di kelilingi wanita-wanita bangsawan lainnya, mereka sedang menanti giliran untuk berdansa bersama Zeel.


Kenapa malah jadi begini, batin Zeel.


Layaknya seekor ikan yang berenang mengikuti arus, Zeel hanya mengikuti gerakan wanita bangsawan yang sedang berdansa bersamanya.


“Anu,” ucap wanita bangsawan itu.


“Kenapa nona?” tanya Zeel.


Wanita bangsawan bertanya, “Apa kamu sudah punya kekasih?”


Ahaha ....


Zeel tertawa kecil.


“Ya ... begitulah,” jawab Zeel.


Huuuf ….


Wanita bangsawan menghembuskan napas berat, tanda kecewa.


“Jadi begitu … aku tidak keberatan menjadi


simpananmu,” ucap wanita bangsawan.


Ahaha ….


Bingung harus merespon apa, Zeel membalas dengan tawa.


“Bagaimana?” tanya wanita bangsawan.


Wanita ini serius, batin Zeel.


“Maaf ya … sepertinya aku tidak memerlukan kekasih tambahan,” tutur Zeel.


“Apakah kamu khawatir dengan pasanganmu?” tanya wanita bangsawan.


Ahaha ….


Zeel tertawa kecil.


“Begitulah,” jawab Zeel.


“Tidak apa, sebenarnya aku juga punya suami ... posisi kita sama,” ucap wanita bangsawan.


Ahaha ….


Zeel tertawa kecil.


Wanita bangsawan ini aneh, batin Zeel.


“Bagaimana?” tanya wanita bangsawan.


Zeel bertanya balik, “bagaimana ya?”


Dag, dig, dug ….


Entah kenapa, detak jantung Zeel semakin kencang.


Tenanglah diriku … pertama-tama aku harus mencari alasan, batin Zeel.


Zeel memandang ke tempat Clare harusnya sedang berdiri, namun Clare tidak ada di sana.


Clare pergi ke mana? Batin Zeel.


“Maaf … akua da urusan mendadak,” kata Zeel.


Zeel melepaskan kedua genggaman tangannya dari wanita bangsawan itu.


Tap, tap, tap ….


Zeel berlari ke tampat terakhir kali ia melihat Clare berada.


Aku harap hal buruk tidak sedang terjadi, batin Zeel.


Zeel menatap sekitarnya, terpandang oleh Zeel


keramaian di sekitarnya.


Clare tidak mungkin berbaur dengan keramaian, batin Zeel.


Zeel menatap sekitarnya, terpandang oleh Zeel salah satu pintu aula.


Nampak sedikit renggang, seakan-akan seseorang baru saja keluar melalui pintu itu.


Pintu tersebut adalah pintu menuju balkon istana.


Tap, tap, tap ….


Zeel menghampiri pintu itu.


Kreeek ….


Lalu ia membukanya secara perlahan.


Terpandang oleh Zeel, Clare sedang berdiri membelakanginya.


Tidak ada seorangpun selain Clare di sana.


Malam itu salju berjatuhan, sebagian salju mendarat di balkon istana.


Tap, tap, tap ….


Zeel menghampiri Clare, kemudian ia berdiri di sebelah Clare.


“Kenapa Clare ada di sini?” tanya Zeel.


“Aku hanya sedang ingin melihat pemandangan,” ucap Clare.


Zeel berkata, “jadi begitu.”


Suasana menjadi hening untuk beberapa saat.


Terpandang oleh Zeel, lautan bangunan kota di


hadapannya, lampu-lampu terang menyinari penjuru kota.


Berada pada ketinggian yang cukup tinggi, balkon istana memungkinkan Zeel untuk melihat penjuru kota benteng Haven.


“Kenapa Zeel ke sini … bukannya kamu sedang berdansa dengan wanita bangsawan?” tanya Clare.


“Tadinya … sekarang sudah selesai,” jawab Zeel.


“Bagaimana?” tanya Clare.


Zeel menjawab, “menyenangkan.”


“Jadi begitu,” tutur Clare.


Keheningan terjadi lagi, Clare tampak menghindari kontak mata dengan Zeel.


“Bagaimana kalau kita berdansa?” ajak Zeel.


Zeel berucap, “aku akan mengajarimu … di sini.”


Clare hanya terdiam.


Tanpa izin, Zeel menggenggam kedua tangan Clare.


Kini mereka berdiri berhadap-hadapan.


Zeel menatap Clare, namun Clare tidak.


Menudukkan kepala ke bawah, Clare memandang lantai balkon istana.


Seeet, seet, seet ….


Di bawah salju, di tengah dinginnya malam, Zeel


dan  Clare sedang berdansa.


Zeel membimbing jalannya dansa, berbeda dengan Clare yang tampak kaku, Zeel tampak begitu lepas dang mengalir.


“Sejak kapan Zeel bisa menari?” tanya Clare.


Zeel berucap, “barusan … wanita-wanita bangsawan itu mengajariku.”


“Zeel benar-benar cepat mengerti ya, kamu ahli


berpedang, ahli mengobati dan sekarang bisa menari,” puji Clare.


Zeel tersenyum kecil.


“Terima kasih,” ucap Zeel.


Huuuf ….


Clare menghembuskan napas berat.


“Berbeda denganku,” ucap Clare pelan.


“Apa?” tanya Zeel.


Akibat suara Clare yang begitu pelan, Zeel tidak dapat mendengar perkataan Clare dengan jelas.


“Apakah Zeel tidak apa-apa bersamaku?” tanya Clare.


Zeel bertanya balik, “kenapa kamu bertanya seperti itu?”


“Harusnya Zeel yang paling tahu, aku tidak bisa


apa-apa, aku tidak bisa melindungimu, aku tidak bisa mengobatimu, aku tidak bisa menari … dan di acara sebesar ini aku hanya bersembunyi di sudut ruangan.” ucap Clare.


Terpandang oleh Zeel, mata Clare barkaca-kaca.


Tes ….


Setetes air mata Clare membasahi balkon.


“Clare jangan berbicara seperti itu,” tutur  Zeel.


“Bangsawan di dalam sana ... mereka cantik-cantik kan?” tanya Clare.


Zeel menundukkan kepala, terpandang olehnya lantai balkon istana.


“Aku … tanpa Clare tidak bisa, alasanku bisa bertahan sejauh ini adalah karena Clare, aku mencintaimu,” tutur Zeel.


Dag, dig, dug …


Tempo detak jantung Clare meningkat.


“Jadilah lebih percaya diri … pasti akan ada yang bisa kamu lakukan, demi dirimu sendiri dan demiku juga,” ucap Zeel.


Sementara itu di tempat yang berbeda, Bendetta sedang mengikuti seorang prajurit istana.


Tap, tap, tap ….


Bendetta melalui jalanan sempit berbatu, terpandang oleh Bendetta sejumlah pemukiman kumuh di sekelilingya.


Nampak tidak terawat, Sebagian atap dari rumah-rumah itu membuka jalan bagi salju.


Tap, tap, tap ….


Bendetta terus berjalan sambil menatap sek


“Bahannya ada di mana?” tanya Bendetta.


Tap ….


Di hadapan Bendetta, langkah prajurit istana itu terhenti.


Kemudian prajurit tersebut berputar arah menghadap Bendetta.


Perasaanku tidak enak, batin Bendetta.


“Apakah bahannya benar-benar ada di sini?” tanya Bendetta.


Prajurit istana berucap, “maaf aku ya Bendetta.”


Sring ….


Prajurit istana itu menarik pedang dari balik punggunya.


Tap, tap, tap ….


Bendetta mundur beberapa langkah.


Tak lama kemudian, sekumpulan orang muncul dari dalam rumah sekitar Bendetta.


Sebagian besar dari sekumpulan orang itu adalah orang dewasa, Sebagian masih anak-anak.


Pakaian-pakaian mereka tampak lusuh dan robek.


Tap, tap, tap ….


Bendetta berusaha untuk melarikan diri, namun tidak ada rute melarikan diri baginya.


Bendetta terkepung dari berbagai penjuru arah.


Seketika kaki Bendetta gemetar.


“Aa … apa yang terjadi?” tanya Bendetta.


Sementara itu di dalam aula istana.


Zeel sedang berdansa bersama Clare.


Clare memandang sekitarnya, terpandang oleh Clare, sorot keramaian tertuju padanya.


Seketika sekujur tubuh Clare menjadi dingin, keringat dingin mengalir pada wajah itu.


Sadar akan itu, Zeel berusaha menenangkan Clare.


Kepada Clare, Zeel tersenyum kecil.


“Tidak apa-apa,” tutur Zeel.


Menghindari kontak mata dengan orang sekitar, Clare memandang lantai aula istana, terlihat oleh Clare pantulan wajahnya.


“Tapi,” kata Clare pelan.


..."Aku tanpa Clare ... tidak bisa."...


...-Zeel Greenlight-...