
Dail terkejut melihat Bianno sedang sujud dihadapannya, perilaku Bianno melebihi ekspektasinya.
"Baiklah-baikah tidak usah terlalu dipikirkan,"
"Guru sangat rendah hati,"
Ahaha...
Dail tertawa ganjil.
"Sekarang angkatlah kepalamu,"
"Tapi,"
Nada bicara Bianno memberat dan Dail sadar akan hal itu.
"Kenapa?" tawa Dail menghilang.
"Kenapa guru berada di perkemahan bandit?"
"Apa yang guru bicarakan dengan kelompok bandit itu?"
"Aku berusaha untuk mengusir mereka"
Dail sedikit ragu dalam berucap.
"Mengusir?"
"Iya, aku pikir tidak perlu kekerasan untuk mengusir mereka"
"Tidak perlu?"
"Lagian, mereka sama saja seperti kita yaitu demi tujuan bisa bertahan hidup,"
Tap, tap...
Bianno bangkit dari sujudnya, matanya berbinar-binar ketika menatapi Dail.
"Sangat mulia!" seru Bianno.
"Ehhh!" Dail terkejut.
"Tidak hanya memikirkan keamanan desa tetapi guru juga memikirkan hidup para bandit itu, sungguh hati yang sangat mulia!"
Srek, srek, srek...
Dail menggaruk rambut di tekuknya.
"Ya begitulah, hari sudah semakin sore, mari kita kembali ke desa sebelum malam," ajak Dail.
"Baik guru!" seru Bianno.
8 Oktober tahun 1700.
Air mancur, Desa Rout.
Sore itu penduduk desa sedang lalu lalang di sekitar air mancur.
Air mancur yang berada di pusat desa menjadi titik temu kesibukan penduduk desa.
Sudah biasa bagi air mancur tersebut melihat penduduk desa dengan gerobak barangnya ataupun dengan alat penggarap lahannya.
Tap, tap, tap...
Pada salah satu jalan desa menuju air mancur, Bianno sedang berlari dengan bajunya yang sedikit lusuh
Shap...
Bianno mengusap tanah yang menempel pada pipi kanannya, bukannya semakin bersih bekas tanah itu justru semakin membesar.
Terlambat, terlambat, batin Bianno.
Sementara itu di pinggir air mancur, Bianno sedang berdiri sembari melipat tangan, tentunya Bianno bersama seorang pengawalnya.
"Apa yang sedang ia lakukan?"
"Kenapa dia berdiri di situ?"
"Bukankah pengawalnya berkurang satu?"
Berbagai kebingungan dan pertanyaan muncul di antara penduduk yang lewat.
"Komandan mereka sedang membicarakanmu, apa perlu aku beri mereka pelajaran? " bisik pengawal kepada Dail.
"Biarkan saja," kata Dail sambil memejamkan mereka.
"Guru!" diantara kerumunan Dail mendengar suara Bianno baru saja menyerukan namanya.
"Ah muridku!" seru Bianno.
Huh, huh, huh...
Bianno berhenti dihadapan Dail dan berdiri sembari memegangi kedua lutu, napasnya terengah-engah.
"Guru maafkan aku terlambat, tadi pemilik lahan memintaku untuk melakukan pekerjaan tambahan," jelas Dail.
Puk...
"Sudahlah tidak apa, sekarang atur napasmu,"
Sembari menunggu Bianno sesaat untuk mengatur napas, Dail merapikan kumisnya.
"Guru, kenapa kita bertemu di depan air mancur, bukankah kita bertemu untuk latihan?" tanyanya.
"Tentu saja, kita bertemu di air mancur ini adalah untuk latihan,"
"Latihan di tempat seramai ini?"
"Iya tentu saja,"
"Kamu akan melawan dia," kata Dail sembari menunjuk pengawalnya.
Bianno menyorot tajam pengawal Dail.
Mungkin kemampuannya di bawah guru, tetapi dia tetaplah prajurit kerajaan, batin Bianno.
"Baiklah," kata Dail.
Sring...
Dail menarik pedang besi dari balik punggungnya, pedangnya yang berkarat.
Hiii...
Kaki pengawal Dail gemetar, baginya tidak mungkin mengalahkan Bianno, bahkan zirah komandannya saja tergores melawan orang biasa itu.
"Bersiap di posisi kalian masing," pinta Dail.
Kemudian Bianno dan pengawal berdiri sejajar dengan jarak tiga tiga meter, jarak yang cukup untuk menyerang ataupun bertahan.
"Apa yang mereka lakukan?"
"Itu Bianno kan?"
"Apa yang akan ia lakukan bersama prajurit itu?"
Sontak Dail dan kawan-kawan menjadi perhatian di air mancur, menjadi tontonan penduduk.
"Peraturannya bagaimana?" tanya Bianno.
"Sederhana, kamu hanya cukup membuat lawan tandingmu terjatuh,"
"Baik,"
Bianno memasang kuda-kuda dan memegang pedang secara vertikal, siap untuk menebas
Kenapa aku harus melawan dia? batin pengawal Dail.
Pengawal itu memasang kuda-kuda bertahan dengan posisi pedang berada di tengahnya.
"Majulah!" seru pengawal Dail.
"Dengan senang hati,"
"Mulai," seru Dail.
Slash...
Cring...
Tetapi tebasannya berhasil tertahan, dan kini pedang mereka sedang beradu.
Kuat sekali, batin pengawal.
Sial, batin Bianno.
Dail memutuskan untuk mundur ke posisi awalnya berdiri.
Kenapa aku ketakutan? batin pengawal.
Apakah ini karena perbedaan kekuatan?
Aku adalah prajurit kerajaan, sementara ia hanyalah rakyat jelata.
Arrrghhh...
Dengan tangan yang gemetar, pengawal itu berlari ke arah Bianno.
Kemarilah, batin Bianno.
Slash...
Pengawal menebas secara vertikal.
Cring...
Tetapi Bianno berhasil menahannya.
Sial, kenapa rakyat jelata seperti dia berhasil menahan laju pedangku? batin pengawal.
Pengawal yang terbawa amarahnya terus mendorong pedang, tetapi kuda-kuda Bianno cukup kuat untuk menahan tekanan itu.
Kreek...
Hingga penutup mata pada zirahnya turun, membuat pengawal buta untuk sesaat.
Menyadari peluang itu, Bianno memutuskan untuk mundur selangkah.
"Sial, kenapa longgar pada saat seperti ini!"
Ia menoleh ke kiri dan ke kanan, mecari keberadaan Bianno.
Lalu ia bermaksud menaikan penutup mata zirahnya.
Sekarang, batin Bianno.
Gedebug...
Bianno menendang bagian perut pengawal dengan kencang.
Gubrak...
Membuat pengawal itu jatuh tak berdaya.
Suasana menjadi hening sesaat.
Prok, prok, prok...
Tepuk tangan pecah di antara pendudum yang ada di sana.
Hebat!
Apa yang baru saja terjadi?
Bianno mengalahkan prajurit kerajaan kan?
Bianno menatap telapak tangan kanan, lalu mengepalkannya.
Aku menang, batinnya.
Tap, tap, tap...
Dail mendekatkan diri kepada Bianno kemudian menggenggam tangan kanannya lalu mengangkatnya ke udara.
"Penduduk desa Rout, lihatlah muridku, akulah yang telah melatihnya!" seru Bianno.
Penduduk desa hanya terdiam.
Prok, prok, prok...
Hingga seorang penduduk bertepuk tangan diikut penduduk lainnya.
Dail melepaskan genggamannya dari Bianno dan membantu pengawal untuk bangit berdiri.
"Berhasil ya seperti yang komandan rencanakan?" tanyanya.
"Begitulah," tutur Dail lalu tersenyum.
Sementara itu di kerumunan, Aysila dan neneknya menyaksikan kejadian itu dari awal.
Berbeda dengan neneknya dan kebanyakan penduduk, wajah Aysila justru tampak cemberut.
"Komandan Dail hebat ya, ia mampu membuat Bianno sehebat itu dalam berpedang," puji nenek Aysila.
"Tidak, bukan seperti itu nenek, Bianno memang sudah sekuat itu sejak dulu," timpal Aysila.
"Benarkah?"
"Nenek tunggu di sini sebentar, aku akan menghampirinya,"
Tap, tap, tap...
Aysila berjalan di tengah kerumunan mendekati Bianno yang sedang cengar-cengir.
Apa yang ia lakukan
Siapa wanita itu?
Bukankah dia cucu pemilik kedai?
Pertanyaan bermunculan di antara para penduduk.
Lalu Aysila menarik telinga kanan Bianno.
Aduh duh...
"Asyila, apa yang sedang kamu lakukan?"
"Memberikanmu pelajaran,"
"Pelajaran?"
"Hentikan semua kebohongan ini!"
"Kebohongan?"
Dail menatap sinis Aysila.
"Kebohongan katamu?"
"Iya, aku tahu,"
Aysila menatap balik Dail.
"Kebohongan apa yang kami perbuat, jona cantik?" tanya Dail.
"Dail memang dari awal sudah ku-"
Tup...
Dail dengan sigap menutup mulut Aysila dan membisikkan sesuatu pada telinganya.
"Hentikan omongan mu gadis kecil, atau sesuatu yang buruk akan terjadi kepada kedaimu," bisik Dail pelan.
..."Sekarang!"...
...-Bianno-...