
*Peringatan sebelum membaca, bagian ini mengandung adegan dewasa!
Bendetta kecil kebingungan.
Kedua orang tuanya bangkit dari kursi meja makan lalu menghampiri jendela.
Bendetta kecil menatap kedua orang tuanya yang sedang berdiri melihat keluar jendela.
Entah kenapa, Bendetta kecil melihat ibunya nampak sedang menutup mulut dengan kedua telapak tangan.
“Ibu … ayah … kenapa?” tanya Bendetta kecil.
Kemudian ibu Bendetta menghampiri Bendetta kecil yang sedang duduk di kursi mea makan.
“Kemarilah,” kata ibu Bendetta.
Lalu ibu Bendetta menggendong Bendetta kecil,
Ketika di gendong, Bendetta kecil merasakan sensasi dingin dari kulit ibunya.
kemudian ibu Bendetta menaruh anaknya pada kolong meja.
“Ibu … kenapa?” tanya Bendetta kecil.
Ibu Bendetta, “Untuk sementara … anakku yang manis tetaplah di sini.”
Ibu Bendetta tersenyum ramah di balik ketakutan yang luar biasa.
“Janji ya jangan kemana mana?” tanya ibu Bendetta.
Selepas itu itu Ibu Bendetta mengarahkan jari kelingkingnya pada Bendetta.
“Janji,” kata Bendetta kecil.
Kemudian ibu Bendetta dan Bendetta kecil saling mengikatkan jari kelingking mereka.
Lalu ibu Bendetta pergi meninggalkan anaknya sendirian di kolong meja.
Kala itu Bendetta kecil mematuhi janjinya, ia duduk di bawah korong meja sembari memeluk lutut.
Dari bawah kolong meja Bendetta kecil melihat sekitar.
Terpandang oleh Bendetta kecil sosok ayahnya sedang berdiri di dekat pintu sembari memegang sebuah tongkat.
Bendetta kecil kebingungan.
Tidak jauh dari ayahnya, sekitar tiga meter ibu
Bendetta berdiri.
Gubrakkk ....
Bendetta kecil mendengar suara nyaring dari arah pintu rumahnya.
Pintu rumah tampak dibuka paksa dari sisi luar.
Argghhh ….
Bendetta kecil mendengar suara jepitan dari arah
pintu, ia melihat perut ayahnya tertusuk pedang besi.
Kemudian pedang besi itu di cabut dari tubuh ayahnya, darah bercucuran dari perut ayah Bendetta.
Bagi Bendetta kecil, ini pertama kali baginya melihat pembunuhan.
Terpandang oleh Bendetta sosok pria yang menghunuskan pedang besi ke ayahnya, sosok itu adalah Anthony, sang kaisar Clever pada masa itu.
Entah kenapa, Anthony nampak sempoyongan.
Bendetta kecil gemetar, kini sekujur tubuhnya terasa dingin.
“Ayah!” seru Bendetta kecil.
Kini Bendetta kecil melihat tubuh ayahnya terbaring di lantai dengan keadaan bersimbah darah.
Mendengar teriakan Bendetta kecil, spontan Anthony menoleh ke kolong meja.
Anthony melihat sosok anak kecil sedang duduk sembari memeluk lutut.
Kini terjadi kontak mata antara Bendetta kecil dan Anthony.
Bendetta kecil ketakutan, Anthony menatapnya dengan tersenyum.
Kemudian Athony ingin menghampiri anak itu.
“Jangan!” seru ibu Bendetta.
Terpandang oleh Bendetta kecil sosok ibunya sedang menahan lengan Anthony.
“Ha?” kata Anthony sembari menatap remeh ibu Bendetta.
Anthony merasakan sensasi dingin dari tangan ibu Bendetta.
Ibu Bendetta berkata, “jangan … setidaknya ampuni nyawa anak itu.”
Anthony melepaskan pegangan ibu Bendetta.
Kemudian Anthony memegang dagu ibu Bendetta dengan tangan kanannya.
Anthony menatap ibu Bendetta dengan penuh *****.
“Kalau begitu … layani aku dengan tubuhmu, setidaknya aku akan mengampuni anak itu,” tutur Anthony.
Ibu Bendetta hanya terdiam, kini Anthony menjilati pipinya.
Kemudian Anthony membuka baju ibu Bendetta dengan paksa.
Di hadapan Bendetta kecil, ibunya di perkosa.
Ahh ….
Sesekali ibu Bendetta mendesah, Bendetta kecil tidak mengerti apa yang terjadi.
Slash ….
Setelah puas, Anthony menebas kepala ibu Bendetta di hadapan Bendetta kecil.
Kini kepala ibu Bendetta tergeletak di lantai terpisah dari badan, terlihat oleh Bendetta kecil darah mengalir dari bibir ibunya.
Kemudian Anthony mengayun-ayunkan pedang besinya guna membersihkan darah yang melekat, kini darah yang melekat itu berjatuhan ke lantai.
Selepas itu Anthony memasukkan pedang besi itu ke sarung pedang yang berada di balik punggungnya.
Lalu Anthony menatap Bendetta kecil sembari tersenyum, kemudian ia menghampiri Bendetta.
“Aku akan menepati janjiku … aku tidak akan membunuhmu,” ucap Anthony.
Bendetta kecil hanya diam.
“Namaku Anthony … ingatlah nama orang yang pernah mengampuni nyawamu ini,” ucap Anthony sembari mengelus rambut Bendetta kecil.
Kemudian Anthony pergi meninggalkan rumah itu.
Bendetta kecil tidak bergerak sama sekali dari kolong meja, ia terdiam membatu.
Hari itu menjadi hari yang tidak terlupakan bagi
Bendetta, bahkan hingga dirinya beranjak.
Cahaya api unggun menyinari wajah Bendetta, terpandang oleh Zeel wajah Bendetta yang begitu suram.
Malam itu keadaan cuaca tidak panas, namun keringat mengalir dari tubuh Bendetta.
“Bendetta … kenapa?” tanya Zeel.
Bendetta menoleh ke sekitar, terpandang oleh Bendetta seluruh anggota pasukan khusus menatapnya khawatir, termasuk Zeel.
“Aku tidak apa-apa,” kata Bendetta.
Bendetta berbohong, kini ia sedang memeluk dirinya sendiri dengan tangan gemetar.
Anggota pasukan khusus lainnya kini kembali seperti biasa, terkecuali Zeel yang masih khawatir.
Kelompok patroli menceritakan apa yang mereka lihat.
Bendetta tampak menyimak serius apa yang kelompok patroli itu ceritakan.
Zeel untuk beberapa saat terus menatap Bendetta, ia merasakan ada yang aneh dari diri Bendetta.
Setelah beberapa saat kelompok patroli bercerita, Zeel mematangkan strategi lalu menetapkan penyerangan pada tengah malam.
Selepas itu Zeel memberlakukan jam bebas bagi
pasukannya.
Hari semakin malam, pasukan khusus beramai-ramai terkecuali Bendetta mengelilingi Zeel bersama hadiah lentera yang Zeel terima.
Zeel mengambil sebatang kayu menyala dari api unggun, lalu ia mendekatkan kayu menyala itu pada sumbu lentera.
Waahhh …
Ucap pasukan khusus itu serentak.
Kemudian Zeel menutup sumbu itu dengan sebuah kaca transparan berbentuk bulat memanjang ke atas.
Untuk beberapa saat Zeel serta sejumlah pasukan khusus menatap lentera itu kagum, ini pertama kali bagi mereka melihat lentera.
Hari semakin malam, guna energi terpenuhi, Zeel
meminta seluruh pasukan khusus untuk tidur.
Kini Zeel sedang tidur dengan dengan sejumlah anggota pasukan khusus lainnya pada tenda yang sama.
Tepat pada samping kanan Zeel, terdapat hadiah lentera yang ia terima, lentera itu dalam keadaan masih menyala.
Zeel tidak tidur sepenuhnya, ia masih dalam keadaan setengah sadar.
Sreeet …
Zeel mendengar sesuatu dari pintu tenda.
Kemudian Zeel membuka matanya sedikit.
Karena hanya membuka matanya sedikit, Zeel tidak mampu melihat dengan jelas siapa orang yang membuka tenda.
Sinar rembulan memasuki tenda Zeel melalui pintu tenda yang terbuka.
Terpandang oleh Zeel seseorang berpakaian ala pelayan istana Bluelight sedang berdiri pada sisi luar tenda.
Sadar akan itu, Zeel memutuskan untuk pura-pura tidur.
Memanfaatkan indera pendengaran, Zeel mendengar sosok itu menghampiri sisi kanan Zeel kemudian pergi meninggalkan tenda.
Beberapa saat kemudian Zeel membuka mata, kini keadaan tenda yang ia tempati menjadi gelap gulita, Zeel kehilangan lenteranya.
Tanpa membangunkan anggota pasukan khusus lainnya, Zeel keluar dari jendela.
Setelah keluar dari tenda, Zeel melihat api unggun yang sudah tidak menyala lagi.
..."Lakukan apa saja sesukamu kepadaku ... tapi ampuni nyawa anakku."...
...-Ibu Bendetta-...