Zeel Greenlight

Zeel Greenlight
Bagian 16 : Bendetta dan Dendam



Malam itu bulan bersinar cukup terang.


Tap, tap, tap ....


Zeel mendengar suara langkah kaki dari hutan arah utara.


Terpandang oleh Zeel sosok orang dengan pakaian ala pelayan istana Bluelight sedang berlari di antara pepohonan hutan.


Zeel tidak mengejar sosok itu, Zeel membangunkan seluruh anggota pasukan khusus lalu meminta mereka berbaris.


Di antara barisan itu, Zeel tidak melihat kehadiran Bendetta.


“Bendetta ada di mana?” tanya Zeel.


Pelayan wanita berkata, “tadi ia masih tidur di sampingku … tapi ketika aku terbangun Bendetta sudah tidak ada.”


Tidak ingin gegabah dalam melakukan pergerakan, Zeel menggali informasi lebih kepada anggota pasukan khusus lainnya.


“Apakah ada yang mempunyai petunjuk?” tanya Zeel.


“Anu,” ucap salah satu anggota pasukan khusus sembari mengangkat tangan kanan.


Zeel bertanya, “kenapa?”


“Mengenai pemimpin bandit itu yang bernama Anthony … Bendetta punya pengalaman buruk dengannya.”


Seketika Zeel mengingat wajah suram Bendetta ketika mendengar nama Anthony.


Zeel berkata, “jadi begitu … kurang lebih aku memahami situasi ini.”


Pasukan khusus lainnya kebingungan dengan maksud dari perkataan Zeel.


“Kalau begitu penyerangan kita lakukan segera ... persiapkan diri kalian,” kata Zeel.


“Siap!” seru pasukan khusus serentak.


Setelah beberapa saat bersiap, kini pasukan khusus kembali berbaris.


“Semuanya sudah siap?” tanya Zeel.


Salah satu pasukan khusus mengangangkat tangan.


“Tuan Zeel … sebenarnya pedangku hilang dan aku tidak tahu kemana,” ucap salah satu pasukaan khusus itu dengan wajah tampak merasa bersalah.


“Tidak apa-apa … aku paham,” ucap Zeel.


Lagi-lagi perkataan Zeel membuat seluruh pasukan khusus kebingungan.


Terlihat oleh pasukan khusus wajah Zeel yang begitu serius, Zeel tenggelam kedalam pikirannya.


“Tuan Zeel?” tanya pelayan wanita.


Mendengar ucapan pelayan wanita itu seketika membuat Zeel tersadar.


“Maaf … aku akan menjelaskan keadaannya.”


Kemudian Zeel menjelaskan dugaanya, ia menduga Bendetta menggambil lentera serta pedang besi milik salah satu pasukan khusus, Zeel menduga Bendetta ingin membalaskan dendamnya.


“Masuk akal,” ucap salah satu anggota


pasukan khusus.


Selepas itu, di bawah pimpinan Zeel pasukan khusus bergerak menuju hutan yang berada di arah utara.


Tidak ingin musuh menyadari, pasukan khusus bergerak tanpa mengendarai kereta chobo, mereka memilih untuk bejalan kaki guna meminimalisir suara yang mereka timbulkan.


Sementara itu Bendetta sedang berjalan di antara hutan menuju utara, ia tampak memegang lentera pada tangan kanan sembari membawa pedang besi pada tangan kirinya.


Anthony … dengan tanganku ini aku akan membunuhmu, batin Bendetta.


Bendetta terus berjalan ke arah utara sembari menatap lurus ke depan.


Arghhh ….


Akibat pandangannya yang terlalu fokus ke depan, Bendetta terjatuh akibat tersandung akar pepohonan.


Sakit, batin Bendetta.


Kini Bendetta sedang mengelus-elus kedua lututnya yang memar akibat terjatuh.


Namun Bendetta tidak menyerah, dengan di penuhi rasa dendam ia bangkit berdiri lalu melanjutkan perjalanan dengan kaki sedikit terpincang-pincang.


Setelah terus melanjutkan perjalanan, langkah kaki Bendetta terhenti.


Sekitar seratus meter di hadapannya tampak cahaya berwarna oren menyala di antara hutan.


Tidak ingin ketahuan, Bendetta meninggalkan lentera di tempat ia berdiri lalu berjalan secara perlahan menuju sumber cahaya.


Setelah terus berjalan, kini Bendetta bersembunyi di balik salah satu pohon terdekat dengan sumber cahaya.


Lalu Bendetta mengintip ke arah sumber cahaya, terpandang olehnya api unggun menyala serta sejumlah tenda sederhana mengelililingi api unggun itu.


Bendetta yang tidak tahu di tenda mana Anthony berada, tanpa berpikir panjang Bendetta mendekati salah satu tenda secara perlahan.


Setibanya di hadapan salah satu tenda Bendetta sedikit menunduk dengan tujuan membuka tempat masuk tenda.


Namun sebelum tangan Bendetta sampai, tangan orang lain sampai terlebih dahulu di pundaknya.


Seketika Bendetta terdiam membatu, kemudian ia menoleh ke belakang.


Terlihat oleh Bendetta sosok laki-laki dewasa dengan badan yang tinggi serta berotot sedang menatap Bendetta dengan senyuman.


“Apa yang sedang di lakukan gadis muda di tengah hutan seperti ini?” tanya laki-laki itu.


Kemudian Sophia menjauhi laki-laki itu lalu ia menarik pedang besi yang ia bawa dari dalam sarung.


“Anthony ada di mana!” bentak Bendetta.


Laki-laki itu berucap, “Ketua … ia baru saja pergi menuju kota Benteng Haven.”


Akibat suara nyaring Sophia, Bandit lainnya keluar dari tenda.


Kini Bendetta dan salah satu bandit, sedang di kelilingi bandit lainnya.


“Aku kira apa … ternyata hanya kucing kecil,” ucap salah satu Bandit yang mengelilingi Bendetta.


Hahaha ….


Seluruh Bandit tertawa.


Bendetta menoleh ke sekitarnya, namun tidak ada Anthony di antara bandit-bandit itu, hanya sekumpulan pria berotot.


Walaupun sudah cukup lama, Bendetta masih ingat jelas dengan muka bandit itu.


Slash, slash, slash ….


Dengan pedang besinya Bendetta menyerang bandit yang berada di hadapannya.


Tebasan Bendetta begitu berat, sesekali ia hampir terjatuh.


Bandit yang Bendetta serang dapat menghindar


dengan mudah.


Tanpa senjata seluruh bandit itu tampak meremehkan Sophia.


Slash, slash, slash ….


Bendetta tidak berhenti mengayunkan


pedangnya, namun tidak mengenai laki-laki itu.


Tanpa kemampuan berpedang, serta bermodalkan rasa dendam Bendetta mengayunkan pedang besinya.


Hahaha ….


Tebasan Bendetta menjadi bahan tertawaan bagi bandit-bandit itu.


Bahan tertawaan itu berakhir ketika Bendetta tidak mampu mengayunkan pedangnya lagi.


Huh, huh, huh ….


Napas Bendetta terengah-engah.


“Nona cantik … kalau begitu akan aku ajarkan cara mengayunkan pedang yang benar,” ucap bandit yang ada di hadapan Bendetta.


Kemudian bandit itu mengambil paksa pedang besi milik Bendetta.


“Hentikan!” seru Bendetta.


Kini pedang Bendetta berada di genggaman bandit itu.


Bendetta sudah berusaha mempertahankan pedang itu sebisanya, namun bandit itu jauh lebih kuat.


Slash ….


Bandit itu mengayunkan pedang ke arah


kepala Bendetta.


Tebasan itu merobek kulit pipi kanan Sophia, tidak dalam, tebasan itu hanya menimbulkan luka sobek.


Seketika darah mengalir dari pipi Bendetta.


Hahaha ….


Melihat itu para bandit tertawa senang.


Gresek, gresek ….


Terdengar oleh para bandit suara


langkah kaki dari penjuru arah.


“Siapa itu?” tanya bandit yang menebas pipi Bendetta.


Tiba tiba dari arah hutan muncul seseorang dengan jubah berwarna hijau tua.


Orang itu adalah Zeel.


Tap, tap, tap ....


Zeel berlari menghampiri bandit yang menebas pipi Bendetta.


“Aku kira apa … ternyata hanya bocah,” kata Bandit itu.


Terpandang oleh bandit itu sosok Zeel yang berlari ke arahnya dengan tangan kosong.


Tidak menganggap Zeel sebagai halangan, bandit lainnya hanya menjadi penonton.


Zeel berpapasan dengan Bendetta yang hanya berdiri terdiam, kini Zeel berada di hadapan bandit itu.


“Apa yang di lakukan bocah malam-malam begini!”


Slash ….


Bandit itu menebas Zeel.


Tidak menghindar, Zeel dengan cekatan menahan tangan bandit itu sehingga tebasan terhenti.


“Apa!” seru bandit itu.


..."Anthony … dengan tanganku ini aku akan membunuhmu."...


...-Bendetta-...