
16 September tahun 1700, wilayah netral.
Pagi itu Clare terbangun dari tidurnya melihat Zeel yang sedang duduk di dinding gua.
“Zeel, jangan bilang kamu tidak tidur? tanya Clare dengan wajah bantal.
Zeel menoleh menghadap Clare kemudian berkata, “ya.”
“Itu tidak baik bagi kesehatanmu,” kata Clare sembari menggosok-gosok mata.
Selepas itu Zeel dan Clare melanjutkan perjalanan menuju desa terdekat.
Jalan berpasir mereka lalui, kiri kanan hanya ada hutan.
Zeel tidak begitu hafal daerah netral, namun yang ia tahu, banyak desa-desa mandiri yang berada di wilayah netral.
Sesekali Zeel dan Clare singgah di perjalanan, mereka singgah untuk memetik buah sunetta yang berada di tepian jalan.
Pohon buah sunetta ini banyak dijumpai di alam liar, buah sunetta memiliki rasa yang manis serta berair.
Tak banyak buah sunetta yang mereka jumpai sepanjang jalan, namun jumlah itu lebih dari cukup bagi Zeel dan Clare untuk menunda lapar mereka sepanjang perjalanan.
Tak lupa dengan hewan chobo yang membawa mereka Zeel dan Clare membagian buah sunetta untuk hewan tersebut.
Tak lama kemudian Zeel dan Clare melihat asap mengepul ke udara berada di kejauhan.
Lalu Zeel mempercepat tempo kereta chobo yang ia kendarai, Zeel meduga ada hal buruk yang sedang terjadi.
Dan benar adanya, setibanya di sumber asap Zeel
melihat sebuah desa yang terbakar.
Api melahap sebagian pemukiman yang berada
di desa tersebut, beberapa kali Zeel mendengar suara teriakan.
“Clare ... diamlah di kereta ini, aku harus melakukan sesuatu,” kata Zeel dengan wajah serius.
Clare dengan wajah khawatir berkata, “jangan
memaksakan dirimu.”
“Jika terjadi sesuatu ... teriaklah senyaring mungkin, aku akan menghampirimu, “ kata Zeel.
Lalu Zeel berlari menuju desa lengkap dengan zirah besi khas prajurit Clever serta pedang besi.
Sementara itu Clare bersembunyi di dalam kereta chobo, Clare di penuhi rasa bersalah, ia merasa tidak berguna.
Sementara itu Zeel berjalan di antara pemikuman desa.
Aroma gosong tercium oleh Zeel.
Beberapa mayat pria Zeel jumpai, lalu Zeel mendengar suara minta tolong kemudian menghampiri asal suara tesebut.
Terlihat oleh Zeel sosok pria dewasa dengan keadaan kaki kiri yang terjepit reruntuhan rumah.
“tolong … kakiku,” ucap pria tersebut nampak
kesakitan.
Zeel menghampiri pria itu, kemudian berkata, “aku akan menyelamatkanmu.”
Arghhh ....
Pria desa itu terdengar merintih kesakitan.
Dengan segera Zeel mengangkat reruntuhan yang menimpa pria desa tersebut.
Reruntuhan itu cukup berat sehingga memakan waktu bagi Zeel, ia yang terus berusaha akhirnya berhasil memindahkan reruntuhan tersebut.
Zeel berhasil menyelamatkan nyawa pria itu, namun sayang kaki kiri pria tersebut harus terpisah dari bagian tubuh lainnya.
Bagian kaki pria itu nampak buntung, melihat kakinya yang buntung seketika pria tersebut tak sadarkan diri.
Seketika dari arah belakang Zeel terdengar suara
tebasan pedang.
Slash ....
Lalu Zeel menoleh ke belakang, terlihat oleh Zeel sosok wanita dan laki laki dengan pedang aneh.
Desing ....
Kedua sosok tersebut nampak sedang beradu
pedang.
“Mundurlah ... bawa pria itu bersamamu,” kata sosok wanita berpedang aneh.
“Terima kasih,” kata Zeel.
Lalu Zeel berlari membawa pria buntung tersebut ke hutan yang berada di pinggir desa, kemudian memberikan pertolongan pertama pada pria buntung tersebut.
Zeel memanfaatkan tumbuhan di sekitar guna menghentikan pendarahan pada kaki pria desa itu.
Tak lama kemudian sosok wanita yang menyelamatkan Zeel tadi datang menghampiri Zeel.
“Kamu baik-baik saja?” tanya sosok wanita tersebut pada Zeel.
Terlihat oleh Zeel sosok wanita yang cantik dengan baju ala tuan putri.
Matanya sangat menawan.
Zeel tidak percaya bahwa wanita dengan baju seperti tuan putri ini mengangkat sebuah pedang aneh untuk menyelamatkan dirinya.
“Aku baik-baik saja, ucap Zeel.
Wanita itu menatap zirah Zeel kemudian berkata, “zirah kamu … kamu prajurit Clever ya?”
Zeel menganggukan kepala kemudian berkata, “bagaimana dengan pria ini … aku hanya memberikan pertolongan pertama, jika terus begini ia akan mati.”
“Tenang saja,” ucap sosok wanita tesebut.
Tak lama kemudian sebuah kerumunan datang menghampiri mereka, sebagian dari kerumunan tersebut nampak bersenjata sebagian tidak.
Lalu Zeel mengarahkan pedang besinya pada kerumunan tersebut.
Lalu pandangan kerumunan tersebut tertuju pada Zeel yang sedang mengarahkan pedang kepada mereka.
Mereka memandang Zeel seolah-olah siap bertarung, sadar akan itu sosok wanita tersebut meminta kedua belah pihak untuk menurunkan pedangnya.
Setelah suasana telah kondusif, sosok wanita tersebut menjelaskan situasi dengan rinci namun ringkas.
Kemampuan komunikasi wanita tersebut sangat bagus.
Lalu wanita itu tampak memberikan intruksi pada kerumunan tersebut.
“Tim medis bertahan di sini, prajurit unit pedang
lakukan evakuasi, jangan lakukan pertarungan yang tidak perlu," tutur wanita itu.
Lalu kerumunan tersebut segera melaksanakan intruksi wanita itu.
Zeel tidak tahu siapa sosok wanita itu, yang jelas ia adalah sosok yang dapat di andalkan.
Kemudian sosok wanita tersebut mengarahkan tangannya pada Zeel seolah-olah ingin bersalaman.
“Sophia,” ucap wanita tersebut sambil tersenyum kecil.
Lalu Zeel membalas, “Zeel.”
Kemudian Zeel bersalaman dengan Sophia.
Zeel merasakan tangan Sophia seperti tangan wanita pada umumnya, nampak lentik dan kecil.
Kedua tangan Sophia nampak mengenakan sarung tangan , Zeel tidak tahu sarung tangan itu terbuat dari apa.
“Sophia … pria yang menyerangku tadi itu siapa?” tanya Zeel.
Sophia berkata, “mereka bandit, mereka kelompok keji yang suka menjarah.”
“Menjarah?” Zeel nampak kaget.
“Ya begitulah … bagaimana denganmu Zeel, ingin membantu kami?”
Zeel menatap Sophia lalu berkata, “aku akan
membantumu.”
“Baiklah … kamu harus di belakangku,” ucap Clare sambil berlari ke arah desa.
Zeel melihat Sophia yang sedang berlari, Sophia
berlari sembari memegangi bawahan roknya.
Cara lari Sophia tidak meyakinkan Zeel bahwa wanita tersebut bisa bertarung, lalu Zeel mengikuti langkah Sophia dari belakang.
Beberapa saat kemudian Sophia dan Zeel tiba di
pertempuran.
Terlihat oleh Zeel sekelompok orang dengan bersenjatakan pedang melengkung dan orang-orang yang bersama Sophia tadi sedang bertempur.
Pertempuran nampak seimbang, namun hal itu berubah ketika Sophia maju ke garis depan.
Sophia membuka telapak tangan kanannya, kemudian muncul pertikel-partikel kecil.
Freeze ....
Lalu partikel partikel itu membentuk sebuah pedang.
Slash, slash, Slash ....
Dengan pedang itu Sophia menghantam para bandit tanpa peduli bahwa roknya kotor menyentuh tanah.
Pedang Sophia cukup kuat untuk membelah pedang melengkung bandit-bandit tersebut.
Sementara itu Zeel dengan pedang besinya serta
orang-orang yang bersama Sophia melawan bandit-bandit yang tersisa.
Para bandit-bandit itu kini nampak ketakutan menghadapi Sophia.
"Sial!"
"Kenapa ada pengguna batu sakral di sini?"
Terdengar suara dari para bandit yang tersisa.
Kemudian para bandit-bandit yang tersisa itu menyerang Sophia dengan serentak dari berbagai arah.
Zeel yang melihat titik buta Sophia segera berlari
menghampiri titik buta tersebut, dan Zeel tertusuk pada bagian perutnya.
“Zeel?” kata Sophia dengan wajah kaget.
“Aku tidak apa-apa” ucap Zeel.
Lalu pandangan Sophia tertuju pada zirah besi yang Zeel kenakan.
Sophia melihat tusukan pedang para bandit itu menembus zirah besi Zeel, namun anehnya tidak ada darah yang mengalir.
Sejak saat itu Sophia menaruh rasa curiga pada Zeel.
Sore hari tiba, pertempuran di desa itu sudah berakhir dengan kemenangan Sophia bersama orang-orangnya serta Zeel.
Sebagian bandit yang selamat melarikan diri ke arah hutan yang berada di sekitaran desa.
Para penduduk yang terluka di rawat oleh orang-orang yang bersama Sophia.
“Zeel—” Ucap Sophia.
Ucapan Sophia terhenti setelah melihat Zeel segera pergi usai pertempuran.
Sophia bingung bertanya-tanya kenapa Zeel nampak terburu-buru seperti itu.
Lalu seorang kakek-kakek tua dengan sebuah tongkat datang menghampiri Sophia.
..."Siapa pria ini?"...
...-Sophia-...