Zeel Greenlight

Zeel Greenlight
Bagian 40: Prajurit Emas



Untuk kesekian kalinya tanpa persetujuan, Dail mengambil sepiring ayam panggang madu dari salah satu meja rumah makan.


Tap, tap, tap ….


Dail berjalan Kembali mendekati pemilik minuman.


“Ini, Ayam panggang enak lho,” kata Dail.


Byuuur ….


Dail menumpahkan sepiring ayam panggang madu ke atas pemilik minuman yang masuh terduduk sujud.


Dalam sekejap, Ayam panggang meluncur cepat akibat licinnya madu.


Tas ….


Ayam panggang meluncur tepat ke atas kepala pemilik minuman.


Tas ….


Lalu ayam panggang itu terjatuh di atas lantai, tepat di hadapan pemilik minuman.


Tes, tes, tes ….


Mengikuti ayam panggang, madu dari atas piring juga menetes dengan lambatnya.


Tetesan madu itu mendarat tepat di atas rambut pemilik minuman, kini rambutnya menjadi sedikit agak kekuning-kuningan serta lengket.


“Bagaimana … enak?” tanya Dail.


“Enak,” jawab pemilik minuman cepat.


Pemilik minuman tidak ingin menerima tendangan lagi, ia lebih memilih untuk berenang mengikuti arus.


“Kamu belum memakan ayamnya kan?” tanya Dail.


“Belum,” jawab pemilik minuman.


Dail tersenyum kecil.


Dail berpinta, “kalau begitu cobalah makan ayamnya.”


Pemilik minuman bangkit dari sujudnya, sekarang ia berada dalam posisi duduk.


Terpandang oleh Dail, tubuh lemas pemilik minuman, seakan-akan hembusan angin ringan bisa menerbangkannya kapan saja.


“Apa yang kamu tunggu … cepat makan,” pinta Dail.


Pemilik minuman memandang ke depan, ia melihat ayam panggang di atas lantai.


Tidak lagi bersih, Ayam panggang itu sudah menyatu dengan pasir di lantai.


Huuuek ….


Melihat itu, pemilik minuman hampir


muntah.


Tap, tap, tap ….


Dail melangkah sedkit maju ke depan, Dengan kaki kanannya, Dail mengguling-gulingkan ayam panggang di hadapannya.


Kini ayam panggang itu menjadi tersebar rata dengan pasir.


“Cepat makanlah,” pinta Dail.


Dengan tangan gemetar, pemilik minuman


meraih ayam panggang di hadapannya.


Huuuek ….


Lagi-lagi pemilik minuman hampir muntah.


“Tunggu sebentar … kamu belum mengoleskan madunya,” ujar Dail.


“Tapi … madunya—” ucap pemilik minuman terputus.


“Ada di rambutmu,” sambar Dail memotong kalimat pemilik minuman.


Set, set, set ….


Pemilik minuman menggosok-gosokan ayam panggang dengan rambut belakangnya.


Usai menggosok-gosokan, pemilik minuman menatap ayam panggang itu dengan tatapan kosong.


“Apa yang kamu tunggu … cepatlah makan,” pinta Dail.


Pemilik minuman berkata, “baik.”


Hap ….


Pemilik minuman melahap suapan pertamanya.


Tak, tak, tak ….


Pemilik minuman mengunyah ayam panggang madu itu pelan, tiga kali beruntun.


Hueeek ….


Tidak mampu menelan makanan di dalam mulutnya, pemilik minuman segera memuntahkan makanan itu dari mulutnya.


Uhuk, uhuk, uhuk ….


Pemilik minuman batuk.


Akibat muntahannya itu, kini sepatu Dail terkena imbasnya, ayam panggang madu yang tidak utuh, sekarang menempel di


sepatu Dail.


Sadar akan sepatunya yang ternodai, Dail memelototi pemilik minuman.


Seketika keringat dingin membasahi pemilik minuman, sekujur tubuhnya gemetar.


“Tidak … tidak, aku tidak sengaja,” tutur pemilik minuman dengan bibir gemetar.


Tas ….


Salah satu bawahan Dail menendang pemilik minuman kencang.


Arrrggh ….


Jerit pemilik minuman.


Akibat tendangan itu, pemilik minuman sedikit terpental ke belakang.


Hampir saja bagian belakang kepala pemilik minuman mengenai tepian meja.


Beruntung baginya, pelanggan lain berhasil menahan tubuhnya.


Dail menatap pemilik minuman sinis.


“Menjijikan!” seru Dail.


Tap, tap, tap ….


Usai puas menjahili pemilik minuman, Dail diikuti kedua pria berzirah besi mendekati Aysila.


Aysila sama sekali tidak menunjukkan reaksi ketakutan kepada Dail.


Tap ….


Tepat di hadapan Aysila, Dail tersenyum kecil.


“Seperti biasa … seperti bunga di taman senyumanmu begitu indah,” puji Dail.


Pujian Dail tidak mengena bagi Aysila, baginya bunga adalah sesuatu yang indah tetapi taman asalah sesuatu yang asing baginya.


“Kenapa kamu ke sini, harusnya aku sudah membayar pajak untuk bulan ini?” kata Aysila.


Dail berucap, “jangan seperti itu … tidak sopan menjawab sapaan orang dengan pertanyaan.”


Dail mendekatkan tangan kanannya ke arah wajah Aysila, sadar akan itu Aysila mundur satu langkah.


Dengan telunjuknya, Dail mengelus dagu Aysila.


“Tolong hentikan!” seru Aysila.


Perilaku Dail kepada Aysila menjadi pusat perhatian seluruh pelanggan rumah makan.


Mereka hanya bisa mononton, tanpa keberanian untuk berbuat apa-apa.


Melawan Dail tidak akan membawa perubahan bagi mereka.


6 Oktober, 1700.


Desa Bosa, Kerajaan Rout.


Sore itu di tepian desa, para gembala sedang mengawal domba di ladang.


Hap, hap, hap ….


Sebagian dari domba sedang memakan rerumputan di bawah matahari sore, Sebagian dari domba sedang bersantai di antara rerumputan nan hijau.


Sementara itu para petani sedang berjalan Kembali menuju desa Bosa, masing-masing dari mereka membawa keranjang.


Dari kejauhan, mereka mendengar suara samar-samar, suara itu berasal dari desa.


Suara itu menjadi tanda tanya bagi mereka.


Pada saat yang bersamaan, tepat di tengah-tengah desa, tiga orang pria sedang berdiri di sekitaran air mancur.


Ketiga pria itu menjadi pusat perhatian penduduk desa.


Ketiga pria tersebut adalah Dail, serta dua anak buahnya.


Mereka terlihat bersenjata lengkap, serta zirah besi yang mengkilat.


“Siapa mereka?”


“Apa yang mereka lakukan?”


“Kenapa mereka ada di sini?”


Kehadiran Dail dan kedua anak buahnya menjadi bahan perbincangan penjuru desa.


“Apa yang kalian lakukan di sini!”


“Jangan mengganggu kami!”


“Pergilah!”


Mayoritas penduduk desa menunjukkan reaksi ketidaksukaanya akan kehadirn dail dan kedua anak buahnya.


Ehm ….


Dail mengeluarkan batuk kecil.


“Tolong perhatikan sebentar!” seru Dail dengan pengeras suara.


“Mulai hari ini, para bandit tidak akan menyerang kalian, makanan kalian akan terjamin, kami perwakilan dari kerajaan Rout, sekarang ada di sini untuk kalian, bersenang-senanglah!” seru Dail.


“Hah!”


“Tanpa kehadiran kalian kami sudah


baik-baik saja!”


“Pergilah tinggalkan desa kami!”


Sementara itu di antara kerumunan penduduk, sedang berdiri seorang anak muda dengan pedang di balik punggunya, ia siap menarik pedang itu kapan saja dari punggunya, Bianno nama anak muda itu.


Merasa dirinya tidak di terima, mata Dail berkaca-kaca.


“Para penduduk desa yang malang … kalian tidak tahu apa-apa,” seru Dail.


Set ….


Dail mengusap air mata pada pipinya.


“Tolong perlihatkan,” pinta Dail.


Sreet ….


Salah satu anak buah Dail, membuka gulungan kertas.


Gulungan kertas itu tampak tebal dan kuat, serta berukuran cukup besar.


Seketika pandangan penduduk desa tertuju pada  gulungan kertas itu.


“Pada kertas ini … Raja Rout V telah


menganugerahkan sinarnya melalui aku, prajurit Emas, bersenanglah!” seru Dail.


Melihat surat itu, tangan Bianno melemas,


ia perlahan menjauhkan tangan kanan dari punggungnya.


Pupil mata Bianno, perlahan membesar.


Apakah aku sedang bermimpi! batin Bianno.


Dag, dig, dug ….


Jantung Bianno berdetak kencang.


Sekarang salah satu prajurit Emas ada


di depanku! batin Bianno.


Hidup tuan Dail! seru Bianno sembari


menggempalkan tangan kanan ke atas.


Pandangan benci penduduk kini


teralihkan kepada Bianno, tetapi Bianno tidak merasakan akan kehadiran kebencian itu,


Bianno terbutakan akan sinar Dail.


..."Penduduk Desa Yang Malang,"...


...-Dail-...