
“Siapa kamu?” tanya salah satu penjaga gerbang itu dengan wajah sangarnya.
Terpandang oleh kedua penjaga gerbang itu, seorang gadis cantik sedang berdiri di hadapan mereka.
Zeel terdiam untuk beberapa saat.
Tidak ingin penyamarannya ketahuan, Zeel mengeluarkan sebuah kertas dari sakunya lalu menyerahkan surat itu kepada penjaga gerbang.
Kemudian penjaga gerbang itu membaca surat yang Zeel serahkan.
Hahaha ….
Penjaga gerbang itu tertawa.
“Jadi kamu kenalannya Sena ya … masuklah,” ujar penjaga gerbang itu.
Zeel tidak tahu sepenting apa posisi Sena di wilayah prostitusi, yang jelas adalah ekspresi kedua penjaga gerbang itu berubah drastis ketika menerima surat yang Zeel serahkan.
Atas izin kedua penjaga gerbang, Zeel diizinkan memasuki wilayah prostitusi.
Kini Zeel sedang berjalan pada jalan batu.
Zeel menoleh ke sekitar, terpandang olehnya sejumlah wanita dengan pakaian ketat serta sejumlah pria berjejer di sepanjang jalan.
Sejumlah wanita serta pria tampak saling berkomunikasi, entah apa yang mereka bicarakan.
Kontak fisik terjadi di sekitar Zeel, pria-pria yang ada di wilayah itu tanpa ragu menyentuh wanita-wanita yang ada di sana.
Sepanjang perjalanan Zeel mendapatkan godaan, sejumlah pria memainkan matanya sembari menatap Zeel.
Zeel berusaha untuk tenang, walau tangannya tidak tahan untuk meninju pria-pria yang menggodanya.
Wanita-wanita berpakaian ketat yang ada di sana menatap Zeel dengan tatapan aneh, tatapan mereka seolah-olah berkata bahwa mereka tidak suka dengan kehadiran Zeel di sini.
Di sepanjang perjalanan Zeel melihat begitu banyak bangunan berbahan batu dengan jarak berdekatan.
Sebagian atap bangunan tampak tertutup salju.
Zeel terus melangkahkan kakinya hingga ia tiba pada sebuah bangunan berbahan batu.
Berbeda dengan bangunan yang ada di sekitar, bangunan ini tampak lebih besar.
Bangunan itu adalah lobi wilayah prostitusi
Kemudian Zeel melangkahkan kaki ke dalam ruangan itu.
Setibanya di dalam lobi, Zeel melihat sejumlah lilin tepasang pada tembok.
Keadaan ruangan itu tidak begitu terang, cahaya lilin tidak menyinari ruangan itu secara utuh.
Terpandang oleh Zeel sebuah meja berbentuk persegi di hadapannya.
Di balik meja itu terlihat oleh Zeel seseorang sedang duduk pada kursi.
Sadar akan kehadiran Zeel, orang itu bangkit dari duduknya.
Terpandang oleh Zeel sosok wanita dewasa di hadapannya, wanita itu tampak mengenakan pakaian ketat.
Pada bagian dada wanita itu, kain cukup minim hingga memperlihatkan belahan payudara.
Kini mata Zeel terfokus pada bagian payudara wanita itu, melihat belahan payudara di hadapannya membuat birahi Zeel naik.
Glukkk ….
Zeel menelan liur.
“Apakah kamu Zeel?” tanya wanita itu.
Kini pandangan Zeel beralih ke mata wanita itu.
“Kenapa anda bisa tahu?” tanya Zeel dengan wajah serius.
“Tuan putri sudah mengabariku terkait misimu … selain itu seorang wanita tidak akan menatap payudara wanita lainnya seperti itu,” tutur wanita itu.
Mendengar ucapan itu segera pipi Zeel
memerah.
Hahaha ….
Wanita itu tertawa melihat reaksi Zeel, di matanya Zeel hanyalah anak muda polos, tidak masuk akal baginya seorang prajurit sepolos ini.
“Tidak apa aku tidak marah,” ucap wanita tersebut.
“Kalau begitu nama kakak adalah Sena?” tanya Zeel.
Wanita itu berucap, “Benar … namaku adalah Sena, aku adalah resepsionis di tempat ini.”
Sena bertugas sebagai resepsionis wilayah prostitusi, ia betugas melayani dan menyapa para pelanggan yang sedang ingin memuaskan birahinya di sini.
Terkadang para pelanggan tidak menghampiri resepsionis, melainkan langsung menghampiri pekerja ****.
Sena berparas cantik dengan tubuh yang seksi, bukan resepsionis biasa, ia merupakan salah satu mata-mata istana Bluelight.
“Aku sudah memahami situasinya,” ujar Sena.
“Syukurlah kalau begitu … itu akan menghemat waktu,” balas Zeel.
“Namanya Anthony kan … berdasarkan ciri-ciri yang tuan putri sampaikan, aku sudah meminta para penjaga untuk menghentikan pria dengan ciri-ciri seperti itu,” ucap Sena.
“Para penjaga belum melaporkan apa-apa … pria bernama Anthony itu harusnya masih ada di wilayah prostitusi.”
“Baiklah … aku akan mencari pria itu,” ujar Zeel.
“Zeel berhati-hatilah dalam mengambil tindakan, aku tidak mempunyai kekuasaan penuh pada wilayah ini,” tutur Sena.
“Baiklah … terima kasih kak Sena,” tutur Zeel.
Kemudian Zeel melangkahkan kaki pergi meninggalkan lobi wilayah prostitusi.
Tanpa arah yang jelas, Zeel berkeliling wilayah prostitusi.
Mata Zeel melirik kesana kemari, pandangan Zeel tertuju kepada pria-pria yang ada di sana.
Pada saat itu wilayah prostitusi cukup ramai, banyak pekerja **** maupun pelanggan lalu lalang.
Hingga langkah kaki Zeel terhenti, terlihat oleh Zeel sosok Anthony sedang berbicara dengan salah satu pekerja ****.
Sosok Anthony tidak terlalu beda jauh dengan apa yang Zeel lihat ketika masih kecil.
Tubuh Antohny terlihat masih berotot, hanya saja rambutnya sedkit memutih serta kulitnya mengkerut.
Sekarang jarak Zeel dengan Athony hanya beberapa meter, Zeel berdiri sembari menatap Anthony.
Sesekali tubuh Zeel tertabrak orang-orang yang sedang lalu lalang di sekitarnya.
Akibat keramaian, Anthony tidak sadar ada yang sedang mengintainya.
Anthony tampak asik berbicara dengan seorang pekerja ****.
Entah apa yang mereka bicarakan, Zeel tidak dapat mendengar.
Beberapa saat kemudian, pekerja **** itu membimbing Antohny ke salah satu bangunan.
Kemudian pekerja **** itu mengunci dirinya bersama Anthony.
Selepas itu Zeel memutuskan untuk kembali ke lobi tempat Sena berada.
Sama seperti sebelumnya, suasana lobi berbanding terbalik dibandingkan suasana jalanan wilayah prostitusi.
Begitu sepi, hanya Sena yang ada di sana.
Setibanya di lobi, Zeel segera menghampiri meja resepsionis, kini Zeel sedang berada di hadapan Sena yang sedang duduk.
“Apakah kamu menemukannya?” tanya Sena.
Zeel berkata, “aku menemukannya … kak Sena, boleh aku minta tolong sesuatu?
“Apa itu?” tanya Sena.
Lalu Zeel menyampaikan kepada Sena apa yang baru saja ia lihat, serta strategi seperti apa yang ingin ia terapkan.
“Jadi begitu,” ujar Sena.
“Bagaimana kak?” tanya Zeel.
Sena berkata, “Baiklah … tunjukkan aku tempatnya.”
Lalu Zeel dan Sena meninggalkan bangunan lobi, kemudian mereka berjalan pada jalanan wilayah prostitusi.
Pandangan pria-pria yang berada di jalanan tertuju pada Sena dan Zeel, kehadiran Sena dan Zeel menutup hawa keberadaan wanita lainnya.
Hingga mereka tiba di hadapan sebuah bangunan batu.
“Di sini,” bisik Zeel.
Langkah Sena dan Zeel terhenti.
Sena berkata, “ikuti aku.”
Kemudian Sena membimbing Zeel ke sebuah bangunan batu.
Bangunan batu itu tepat berada di sebelah kiri tempat Anthony sedang berada.
Tok, tok, tok ….
Sena mengetok pintu bangunan itu.
Sreeet ….
Pintu terbuka dari dalam.
Terpandang oleh Zeel sosok wanita dengan pakaian ketat serta kantung mata wanita yang tampak sedikit hitam.
Wanita itu adalah pekerja ****.
Zeel menoleh ke balik pintu, ia melihat seorang pria sedang terbaring telanjang dada dengan keadaan pinggang kebawah tertutup selimut putih.
“Sena … kenapa?” tanya wanita itu sembari
mengucek mata.
Tanpa membocorkan misi Zeel, Sena memanfaatkan kekuasaanya meminta pekerja **** itu untuk pindah sementara waktu.
..."Ternyata ada prajurit sepolos ini."...
...-Sena-...