
Sudah tersaji seporsi makanan masing-masing di hadapan mereka.
“Ini apa?” tanya Zeel penasaran.
Sophia menjawab, “Ini hiyayakko … enak lho.”
Zeel melihat seporsi makanan asing di piringnya, sesuatu berwarna putih berbentuk kotak dengan sayur-sayuran hijau pada bagian atas, serta cairan berwarna hitam pada bagian bawah.
“Terlihat enak,” ucap Clare sembari memegang garpu dan sendok.
Sophia membalas, “cobalah.”
“Selamat makan,” lalu Clare menyatap hidangan itu.
Sophia, “bagaimana?”
“Dingin … tapi enak,” kata Clare.
”Zeel … cobalah makan,” ucap Sophia.
Zeel berkata, “selamat makan.”
Lalu ia menyantap hidangan yang ada di hadapannya.
“Benar … dingin tapi enak,” Zeel nampak kaget.
“Benar kan? Ucap Sophia lalu tersenyum kecil.
Setelah lima menit berlalu, mereka selesai menyantap hidangan pembuka.
Selepas itu kepala koki datang menghampiri mereka lalu menyajikan makanan utama.
“Ini apa?” tanya Clare nampak semangat.
“Ini salad dingin,” balas Sophia.
Tersaji di hadapan mereka potongan-potongan berbagai macam sayur segar yang di lumuri
saus berwarna berwarna putih.
Lalu Clare menyantap salad dingin itu.
“Dingin dan segar,” ucap Clare.
Sementara itu Zeel nampak belum memakan makanannya.
“Kenapa Zeel?” tanya Sophia.
Zeel membalas, “aku kurang menyukai sayur.”
“Coba saja sedikit … enak lho,” bujuk Clare.
Lalu Zeel menyantap salad dingin yang tersaji di
hadapannya.
Awalnya Zeel nampak sedikit ragu, namun keraguan itu hilang ketika salad dingin itu sudah berada di mulutnya.
“Tidak seburuk yang aku bayangkan.” Ucap Zeel.
Setelah sepuluh menit berlalu mereka selesai menyantap hidangan utama.
Piring Sophia dan Clare nampak sudah kosong sementara piring Zeel nampak tersisa.
Beberapa saat kemudian kepala koki datang menghampiri mereka lalu menyajikan makanan
penutup.
Nampak masing-masing di hadapan mereka tersaji sebuah mangkok kecil dengan sesuatu
berwarna putih pada bagian dalam mangkok.
“Ini kesukaan aku … cobalah,” bujuk Sophia.
Kemudian Zeel dan Clare menyantap hidangan penutp itu bersama-sama.
“Ini namanya apa?” tanya Zeel.
Sophia membalas, “es krim.”
“es krim … enak,” ucap Clare.
Lima menit berlalu, kini es krim sebagai hidangan penutup sudah selesai mereka
santap.
Beberapa saat kemudian seorang pelayan wanita datang ke arah Sophia kemudian membisikan
sesuatu pada Sophia.
Lalu pelayan wanita itu pergi dari ruang makan istana.
“Katanya tiga anak yang ikut bersama kalian baik-baik saja,” kata Sophia.
“Syukurlah mereka baik-baik saja,” kata Zeel.
Clare bertanya, “mereka sekarang ada di mana?”
“tenang saja … mereka ada di bawah pengawasan para pelayan istana,” jawab Sophia.
Clare nampak menghembuskan napas dari mulutnya.
“Syukurlah,” ucap Clare lega.
“Apakah ketiga anak itu anak kalian?” tanya Sophia.
“Bukan,” jawab Clare dan Zeel serentak.
Jawaban mereka sama, nampun ekspresi wajah mereka berbeda Ketika menjawab.
Zeel tampak biasa-biasa saja, sementara Clare tampak malu-malu.
“Bisa kalian ceritakan lebih rinci?” tanya Sophia.
Kemudian Clare menceritakan bagaimana ia dan Zeel menemukan ketiga anak itu.
“Jadi begitu … aku akan melakukan sesuatu,” tutur Sophia dengan wajah serius.
“Tolong,” tutur Zeel dan Clare.
Suasana hening beberapa saat.
“Sophia … tentang pertanyaan aku tadi, kenapa kamu menjadi pemilik toko bunga?” tanya
Clare penasaran.
Lalu Sophia menyandarkan dagu pada kedua tangannya.
“Sebenarnya aku bosan,” balas Sophia.
Kemudian Sophia bercerita panjang lebar tentang kesehariannya sebagai tuan putri, ia mengaku lelah akan rutinitasnya sebagai tuan putri.
tuan putri.
Clare entah kenapa nampak semangat mendengarkan cerita Sophia, sementara Zeel
terlihat biasa-biasa saja.
“Karena itu aku diam-diam menjadi pemilik toko bunga … hanya pelayan pribadiku yang tahu akan hal ini.” Sophia mengakhiri ceritanya.
“Jadi … Sophia juga suka bunga?” tanya Clare.
“Suka,” balas Sophia.
Lalu Clare menggengam kedua tangan Sophia seolah-olah Sophia adalah harta karun.
Sementara itu Sophia merasa sedikit tidak nyaman dengan reaksi Clare.
“Clare … tanganmu,” ucap Sophia.
“Maaf,” balas Clare.
Seketika Clare melepaskan genggamannya.
Zeel berkata, “Sophia … aku ingin menanyakan sesuatu.”
“Tentang apa? jika tentang batu sakral aku tidak akan memberi tahumu sekarang,” balas Sophia.
“Sebenarnya bukan tentang itu … tetapi tentang pelayan pribadimu,” kata Zeel.
“Ah … maksudmu Bertha? kenapa? Apa kamu tertarik dengannya?” rayu Sophia.
Entah sejak kapan Clare memegang garpu dengan erat sembari menatap Zeel, Clare nampak seperti seorang pemburu yang siap menombak mangsanya kapan saja.
“Bukan seperti itu … ada sesuatu yang aneh dari tatapannya,” ucap Zeel.
“Benar juga … ia juga menatapku dengan aneh,” kata Clare.
“Sebenarnya … kedua orang tuanya terbunuh oleh salah satu prajurit Clever Ketika ia masih kecil,” balas Sophia.
Perbincangan setelah makan malam mereka terus berlanjut, hingga pelayan pribadi Sophia
datang menghampiri Sophia.
“Tuan putri … sudah waktunya anda tidur.” Ucap Bertha.
Sophia menjawab, “baiklah.”
“Bagaimana kamar untuk Zeel dan Clare?” tanya Sophia.
“Kamar mereka sudah kami siapkan tuan putri,” balas Bertha.
Clare berkata, “Bertha tolong antarkan mereka ke kamar … aku akan pergi sendiri.”
“Baiklah tuan putri,” ucap Bertha.
Hoam ....
Sophia menguap.
“kalau begitu, Zeel dan Clare sampai jumpa besok,” kata Clare.
Zeel dan Clare menjawab secara serentak, “Selamat malam.”
"Tuan dan nyonya silahkan ke arah sini," tutur Bertha.
Lalu Zeel dan Clare bangkit dari kursi kemudian menghampiri Bertha.
Terlihat Bertha sedang menunjukkan arah dengan kedua tangannya.
Secara tutur kata Bertha terdengar sopan, namun kesopanan tutur kata itu berbanding terbalik dengan ekspresi wajah yang ia tunjukkan.
Ekspresi wajah Bertha nampak tidak nyaman, seolah-olah sedang terpaksa.
Clare membalas tatapan Bertha dengan ekspresi marah.
Zeel yang sadar akan itu lalu memegang bahu Clare.
Kemudian Sepersekian detik terjadi kontak mata antara Zeel dan Clare.
Tanpa berbicara, Clare nampak paham apa pesan yang Zeel sampaikan.
Selepas itu Zeel dan Clare pergi ke arah yang sesuai dengan petunjuk Bertha, kemudian
mereka tiba di sebuah lorong.
Lalu Bertha datang menghampiri mereka ke lorong.
"Tuan dan nyonya silahkan mengikuti saya," ucap Bertha.
Kemudian Bertha membimbing Zeel dan Clare pada depan pintu sebuah ruangan.
"Ini kamar tidur untuk tuan dan nyonya," tutur Bertha.
"Tunggu sebentar ... hanya satu?" tanya Clare.
"Kenapa?" tanya Zeel dengan wajah polos.
"Kenapa katamu?" pipi Clare nampak memerah.
"Apa nyonya ingin ruangan sendiri?" tanya Bertha.
Clare mengangkat tangannya dengan cepat ke atas.
"Tolong," ucap Clare.
Bertha menjawab, "baiklah ... nyonya silahkan ikuti saya."
"Dengan senang hati," tutur Clare.
Kemudian Bertha membimbing Clare tepat ke ruangan yang tepat berada pada sebelah kamar
tidur Zeel.
Dari kejauhan Zeel melihat Clare dan Sophia nampak sedang membicarakan sesuatu.
Tak lama kemudian Bertha pergi meninggalkan Clare.
Clare yang sadar akan tatapan Zeel dari kejauhan, mengulurkan lidahnya sembari
menatap balik Zeel.
Lalu dengan segera Clare masuk ke kamar tidurnya.
Sreeet ....
Kemudian ia menutup pintu kamar tidurnya dari dalam.
..."Sayur ... ternyata tidak seburuk itu."...
...-Zeel Greenlight-...