Zeel Greenlight

Zeel Greenlight
Bagian 41: Prajurit Emas II



Waktu berlalu, matahari perlahan semakin menyelimuti dirinya.


Kegiatan penduduk desa Bosa Kembali


seperti biasa, yang tadinya mengerumuni Dail kini Kembali berjalan.


Silih berganti, penduduk desa melewati


air mancur.


Sebagian dari penduduk desa mendorong


gerobak membawa dagangan, sebagian dari penduduk desa membawa keranjang


berisikan hasil panen kebun.


Baju mereka terlihat sedikit kotor, lumpur maupun tanah menempel pada baju mereka.


Bagi mereka perkataan Dail hanyalah angin lalu, mereka tidak membutuhkan kehadiran Dail di desa itu.


Membentuk pola lingkaran, kala itu Dail sedang berbincang dengan kedua pengawalnya.


kedua pengawal memasang wajah khawatir, sementara itu Dail memasang wajah optimis, senyum lebar pada pipi Dail.


Huuuf ….


“Tuan Dail … sepertinya penduduk desa


tidak menerima kehadiran kita,”


“Benar … raut wajah mereka terlihat kesal kepada kita.”


Tutur kedua pengawal.


Pluk, pluk ….


Dengan senyuman di wajahnya, Dail menepuk Pundak kedua pengawal.


“Tenang saja … sekarang mereka hanya belum mengerti,” kata Dail.


Ibanez bertanya, “Lalu bagaimana cara agar kita dapat membuat mereka mengerti?”


“Kemarilah,” kata Dail.


Gyuuut ….


Dail mendekatkan kedua pengawal kepada dirinya.


“Begini … kita akan menyerang desa ini,” bisik Dail.


“Hah!” seru kedua pengawal serentak.


Spontan mereka berseru, perkataan Dail membuat mereka kaget.


Akibat seruan kedua pengawal, sebagian penduduk yang lalu Lalang di sekitar mereka, melihat mereka.


“Ssssssttt!” seru Dail sembari menempelkan telunjuk tangan kanan di bibir.


“Jangan berisik,” bisik Dail.


“Tapi … jika kita melakukan itu maka reputasi kita akan buruk di mata penduduk desa.”


“Benar … tidak hanya buruk di mata


penduduk desa ini, tetapi di mata desa-desa wilayah netral lainnya.”


Tutur kedua pengawal cemas.


“Bukan kita yang menyerang desa ini,” kata Dail.


“Lalu siapa?"


Tanya kedua pengawal serentak.


“Kita akan menyewa bandit untuk menyerang desa ini,” jelas Dail.


Seorang pengawal bertanya “lalu... bagaimana kita menyewa bandit-bandit itu?”


“Gampang saja … mereka bisa kita jumpai di wilayah netral, keberadaan mereka tersebar di sepenjuru wilayah netral, di dalam hutan,” tutur Dail.


“Permisi!”


Terdengar oleh Dail dan kedua pengawalnya, suara seseorang menjamah telinga mereka.


Spontan Dail dan kedua pengawalnya saling menjauhi satu sama lain.


Dail melihat seorang anak remajasedang melambaikan tangan kepada mereka.


Dail tersenyum ramah kepada remaja itu, sementara Kedua pengawal menatap sinis remaja itu.


Tap ….


Anak remaja itu mundur selangkah, ia merasa kehadirannya tidak di terima.


“Jangan seperti itu, tersenyumlah,” bisik Dail.


Dalam sekejap kedua pengawal tersenyum.


Ahaha ….


Remaja itu tersenyum kecil kepada mereka


bertiga, setets keringat mengalir pada pelipisnya.


“Ada apa anak muda?” tanya Dail.


Bibir remaja itu Nampak gemetar.


“Sebenarnya aku bercita-cita untuk


menjadi prajurit,” kata remaja itu.


Tap, tap, tap ….


Dail melangkah menghampiri remaja itu,


pada saat yang bersamaan remaja itu sedikit menegakkan kepala ke atas, guna memandang Dail yang lebih tinggi darinya.


Orang ini tinggi sekali, dan juga tubuhnya kekar … tuan Dail pasti kuat, batin remaja itu.


Tas ….


Dengan tangan kanannya, Dail menepuk pundak kanan remaja itu pelan.


“Cita-cita yang bagus anak muda … siapa namamu?” tanya Dail.


“Bianno … namaku Bianno,” jawab Bianno dengan bibir gemetar.


Dail memandang ke balik punggung Bianno, ia melihat gagang pedang yang siap di tarik kapan saja.


“Di balik punggungmu, itu pedang kan?” tanya Bianno.


Bianno berucap pelan, “iya.”


“Dari mana kamu mendapatkannya?” tanya


Dail.


Bianno berkata, “aku menabung untuk


pedang ini.”


“Coba perlihatkan pedangmu,” pinta


Dail.


Bianno berkata, “baik.”


Cring ….


Dengan tangan kanannya, Bianno perlahan menarik pedang dari balik punggungnya.


“Ini,” tutur Bianno sembari menyodorkan pedangnya kepada Dail.


Dail meraih pedang itu, untuk beberapa saat Dail terus memandangi pedang itu.


“Pedang yang bagus,” kata Dail sembari tersenyum kecil.


Bianno.


Bianno tersenyum.


“Terima kasih,” tutur Bianno.


Tidak bagus … terlalu berat, tidak


tajam, serta kualtas besinya begitu rendah, batin Dail.


“Kamu ingin menjadi prajurit kan?” tanya Dail.


“Iya … aku ingin menjadi prajurit,” jawab Bianno lugas.


Terpandang oleh Dail, tatapan tajam Bianno.


Menarik, batin Bianno.


Dail berucap, “kalau begitu … aku akan melatihmu jika kamu berhasil membuat zirahku tergores.”


Mendengar itu, mata Bianno berbinar-binar.


“Benarkah?” tanya  Bianno.


“Iya,” ujar Dail.


“Aku akan melakukannya!” seru Dail.


Aura semangat Bianno terpancar hingga Dail merasakannya.


“Semangat yang bagus!” seru Dail.


Dail menyodorkan kepalan tangan kanannya kepada Bianno.


Tos …


Bianno menyodorkan kepalan tangan kanannya kepada kepalan tangan kanan Dail.


Bianno tersenyum lebar sembari menatap


Dail.


Aku pasti akan menggores zirah besi itu! Batin Bianno.


Dail tersenyum kecil sembari menatap Bianno.


Tidak mungkin, pedang sampah itu akan menggores zirah besiku, batin Dail.


“Kalau begitu … ikuti aku,” pinta Dail.


Tanpa berpikir Panjang, Bianno menerima permintaan Dail.


“Baiklah!” seru  Dail.


Tap, tap, tap ….


Dail dan kedua pengawalnya jalan beriringan, sementara Bianno mengikuti dari belakang.


Penduduk yang berpapasan dengan mereka


menatap kesal Dail dan kedua pengawalnya.


Mereka menghandari Dail, sehingga yang


berpapasan sedikit menjauh.


Dail dan kedua pengawalnya berusaha


untuk bersikap biasa saja, walaupun mereka sadar orang-orang tidak menyukai


kehadiran mereka.


Sementara itu Bianno teracuhkan, hawa


kehadiran Bianno seakan-akan tertutup oleh ketiga prajurit di depannya.


Bianno hanya fokus kepada Dail,


seakan-akan penduduk desa lainnya hanyalah batang pohon, hanya ia dan Dail di


sana.


Hingga Bianno tersadar, ia sudah


berada di perbatasan desa.


Tepian desa Bosa, malam hari.


Wuuush ….


Angin malam berhembus meniup dedaunan


pada ladang.


Sembari menggegamg bor, seorang gembala itu masih terjaga.


Rambutnya sudah putih, posturnya sedikit bungkuk, sembari memegang obor pengembala itu juga memegang bagian


punggunya.


Punggungku sudah terasa sakit … mungkin waktunya aku pulang, batin pengembala itu.


Tap, tap, tap ….


Terdengar oleh pengembala, suara langkah kaki dari kejauhan.


Pengembala menoleh ke mana suara berasal, ia melihat tiga orang pria berzirah besi sedang jalan beriringan, dua dari tiga pria berzirah besi itu menggengam obor, sinar api obor memantul pada zirah mereka.


Siapa mereka? batin pengembala.


Pengembala memalingkan pandangannya sedikit ke belakang.


Bianno? batin pengembala.


Tidak asing bagi pengembala, Bianno adalah salah satu dari banyaknya anak remaja yang ada di desa.


“Bianno!” seru pengembala.


Mendengarkan Namanya di sebut, spontan Bianno menoleh.


Bianno tersenyum kepada pengembala.


“Kakek!” seru Bianno.


Pengembala bertanya, “apa yang kamu lakukan!”


“Sekarang aku akan pergi latihan!”


seru Bianno.


Pengembala Kembali mengalihkan


pandanngannya ke depan Bianno.


Ia melihat ketiga pria berzirah besi,


sedang tersenyum kepadanya


Kenapa sebenarnya mereka … kenapa mereka berlatih selarut seperti ini? batin pengembala di penuhi pertanyaan.


“Hati-hati!” seru pengembala.


“Baik!” seru Bianno sambal melambaikan


tangan.


Bersama cahaya obor yang menyala,


orang-orang itu menjauhi pengembala, juga menjauhi desa.


..."Aku pasti akan menggores zirah besi itu,"...


...-Bianno-...