
Lalu mereka bertiga pergi meninggalkan rumah makan, kemudian berjalan menuju toko bunga.
Zeel dan Clare seperti domba yang mengikuti penggembala, mereka mengikuti Langkah Sophia dari belakang.
Hingga Langkah Sophia terhenti kemudian masuk ke sebuah toko, Zeel dan Clare mengikuti dari belakang.
Terpandang di hadapan mereka banyak bunga tertata rapi di dalam pot.
Semua bunga-bunga itu terlihat asing bagi Zeel dan Clare.
“Indahnya,” kata Clare dengan mata berbinar-binar.
Kemudian Clare menghampiri seluruh pot bunga satu persatu, Clare tampak begitu bersemangat.
Sementara itu Zeel dan Sophia mengikuti Clare dari belakang.
Ucap Clare, “toko bunga ini dipenuhi oleh bunga yang belum pernah aku lihat.”
“Aku juga belum pernah melihat bunga-bunga ini sebelumnya,” tutur Zeel.
“bunga-bunga ini merupakan bunga lokal,” kata Sophia.
Clare bertanya, “apakah bibit bunga-bunga ini bisa dibeli?”
“Tentu saja … lagian ini toko bunga,” balas Sophia.
Clare tampak begitu bersemangat mendengar ucapan Sophia.
Clare berkata, “kalau begitu aku akan membeli beberapa, lalu aku tanam di halaman rumahku.”
“Kalau itu tidak mungkin,” tutur Sophia.
Clare dengan ekspresi penasaran bertanya, “kenapa?”
“Bunga-bunga ini hanya tumbuh di wilayah bersalju,” jawab Sophia.
Semangat Clare tiba-tiba hilang entah kemana, kini wajahnya begitu cemberut.
Dengan wajah cemberutnya Clare menoleh ke sekitar.
Hingga pandangannya terhenti ke sebuah lukisan terpampang di dinding.
Clare melihat sebuah lukisan bunga tanpa warna terpampang di dinding, Clare belum pernah melihat bunga ini sebelumnya.
“Sophia … ini lukisan bunga apa?” tanya Clare.
Sophia membalas, “ah itu … bunga es.”
“Indah sekali … di mana aku bisa melihatnya?” tanya Clare dengan ekspresi semangat.
“Bunga itu hanya mitos yang berasal dari sebuah buku dongeng,” tutur Clare.
Mendengar ucapan itu, membuat Clare sedikit sedih.
“Jangan bersedih seperti itu … bagaimana jika kamu membaca buku dongeng tentang bunga itu,” ucap Clare.
“Sophia ada bukunya?” tanya Clare tampak semangat.
“Ada di perpustakaan istana … Zeel nantinya akan kesana, bagaimana kalau kalian pergi bersama,” balas Sophia.
“Aku ingin pergi!” ucap Clare.
Sophia bertanya, “bagaimana menurutmu
Zeel?”
“Aku tidak masalah,” jawab Zeel.
Selepas itu mereka mengelilingi toko bunga itu.
Setelah puas melihat bunga, mereka bertiga memutuskan untuk meninggalkan toko bunga.
Setibanya di luar toko, mereka melihat keadaan hari yang semakin gelap.
Sebagian toko-toko di sekitar mulai menyalakan penerang.
“Tidak terasa sudah malam ya,” kata Clare.
Zeel berkata, “waktu terasa berlalu cepat.”
“Mari kita Kembali,” tutur Sophia.
Kemudian Zeel dan Clare mengikuti Langkah Sophia dari belakang.
Suasana jalanan tampak mulai sepi.
Di tengah perjalanan, langkah Sophia tiba-tiba menjadi pelan.
Tampak Sophia sedang menoleh ke salah
satu toko.
Clare yang sadar akan itu, menoleh ke arah yang sama dengan Sophia.
Clare melihat sejumlah boneka terpajang di etalase toko itu.
“Sophia … ingin mampir sebentar?” tanya Clare.
Beberapa saat kemudian mereka memutuskan untuk mampir ke salah satu toko boneka.
Terpandang di sekitar Sophia banyak boneka tertata di rak-rak.
Boneka-boneka itu memiliki bentuk serta warna yang beragam.
Kali ini Sophia tampak bersemangat, sementara Clare dan Zeel tampak biasa-biasa saja.
“Boneka!” tutur Sophia.
Lalu Sophia mengambil salah satu boneka dari rak kemudian memeluk boneka itu dengan erat.
Sophia berkata, “ imutnya!”
Beberapa menit berlalu semenjak mereka berada di dalam toko bunga.
Kini tangan Sophia dipenuhi banyak boneka.
Clare menunjuk ke arah boneka-boneka yang Sophia bawa.
“Kamu akan membeli semuanya?” tanya Clare.
Sophia tersenyum kecil.
“Tentu saja,” tutur Sophia.
Selepas itu Sophia pergi ke pemilik toko untuk memebayar boneka yang ia bawa.
Lalu mereka pergi meninggalkan toko boneka.
Suasana wilayah perbelanjaan semakin gelap, Sophia memandu Zeel dan Clare ke tempat kereta chobo yang mereka kendarai sebelumnya.
Di tengah-tengah perjalanan, lagi-lagi langkah kaki mereka terhenti.
“Kalian tunggu di sini saja … aku tidak akan lama,” tutur Clare.
Sophia membalas, “baiklah.”
“Hati-hati ya,” balas Zeel.
Kemudian Clare pergi meninggalkan mereka lalu masuk ke salah satu toko.
“Zeel … ini toko apa?” tanya Sophia.
Zeel berkata, “kamu bertanya kepadaku?”
Beberapa menit kemudian Clare Kembali dengan membawa sebuah keranjang.
“Clare, kamu membeli apa?” tanya Sophia tampak penasaran.
Clare tampak tersenyum kecil.
Lalu Clare berkata, “rahasia.”
“Rahasia?” tanya Sophia.
“Nantikan saja,” tutur Clare.
Sophia semakin penasaran.
“Ayolah Clare … beritahu aku,” rayu Sophia.
Selepas itu mereka bergegas ke kereta chobo yang mereka kendarai sebelumnya.
Setibanya di kereta chobo, tampak sejumlah prajurit istana menunggu mereka.
Malam hari tiba, kini mereka bertiga sedang dalam perjalanan Kembali menuju istana Bluelight.
“Sophia … apakah di kota ini ada area Latihan?” tanya Zeel.
Sophia tampak kebingungan.
“Latihan?” tanya Sophia.
Hari semakin malam, kini mereka tiba di istana Bluelight.
Tak lama setelah itu, Clare dan Sophia memutuskan untuk mandi bersama.
Sementara Zeel melakukan aktivitas yang lain.
Kini Clare sedang berendam di tempat mandi istana.
Tempat mandi istana cukup luas, bentuknya persegi dengan tangga menurun pada setiap sisi.
Tampak dari permukaan airnya mengeluarkan asap.
Tidak ada seorangpun di sana selain Clare.
Beberapa saat kemudian Sophia menghampiri Clare dengan tubuh tanpa busana.
Clare menatap tubuh Sophia, bentuk tubuh Sophia tampak langsing.
Kulit Sophia nampak terlihat lembut.
Clare menatap ke arah buah dada Sophia, jika dibandingkan milik Clare ukuran buah dada Sophia dua kali lebih besar.
Dasar monster dada, tutur Clare dalam hati.
Melihat hal itu membuat Clare sedikit minder.
“Clare!” ucap Sophia.
Tap, tap, tap ....
Lalu Sophia berlari ke arah Clare.
Gedebum ....
Sophia melompat ke permukaaan air tempat mandi.
Kini Sebagian permukaan air yang Sophia loncati terciprat ke berbagai arah.
Sebagian dari cipratan itu mengenai Clare.
Clare tertawa kecil.
Lalu Clare berkata, “seperti anak-anak.”
Untuk beberapa saat suasana menjadi hening.
Sophia dan Clare memenjamkan mata sembari berendam.
“Sophia,” ucap Clare.
Sophia bertanya, “kenapa?”
“Di tempat sedingin ini … bagaimana kalian mendapatkan air sehangat ini? Tanya Clare dengan nada pelan.
Sophia menjawab, “para pelayan menghangatkan air ini dengan api.”
Suasana Kembali hening, Sophia dan Clare menikmati kehangatan air pemandian.
“Zeel itu bodoh,” tutur Clare.
“Kenapa tiba-tiba?” balas Clare.
Clare berkata, “pasti ia sedang memaksakan
tubuhnya.”
“Kenapa? kamu mengkhawatirkannya?” rayu Sophia.
Clare membuka mata lalu menatap Sophia.
Seketika Clare menghempaskan air ke arah Sophia.
“Aku akan membalasmu,” tutur Sophia lalu tersenyum licik.
“Apa?” tanya Clare bingung.
Seketika kepala Sophia menghilang dari permukaan air.
Tampak sejumlah gelembung udara berukuran kecil muncul dari posisi Sophia sebelumnya berada.
Sadar akan itu membuat Clare panik.
“Sophia ... kamu ada di mana?” tanya Clare
..."Banyak sekali boneka!"...
...-Sophia-...