Zeel Greenlight

Zeel Greenlight
Bagian 47: Gerbang Desa Rout



Dengan raut wajah kesal, Dail dan pengawalnya pergi meninggalkan kedai.


Dail bersama pengawal berjalan di jalan setapak, berjalan menuju penginapan yang tidak begitu jauh dari kedai.


Malam itu jalan sedikit berlumpur, membuat Dail tambah kesal karena lumpur itu menempel pada sepatu besinya.


Sial, batin Dail.


Obor-obor di tepian jalan bersinar cukup terang pada malam itu, dengan kayu rapuh sebagai tiangnya di sepanjang jalan, sebagian serangga mendekati obor-obor itu karena tertarik dengan terangnya.


Melihat komandannya yang marah di antara obor-obor, membuat perasann pengawal ikut terbawa suasana.


"Sialan!"


Syuuut....


Dail menendang lumpur didepannya hingga sebagian terpercik mengenai obor.


Pengawalnya tahu Dail sedang marah, tetapi ia tidak menduga sang komandan akan begitu marahnya.


"Komandan?" tanya pengawal pelan.


"Nenek sialan, padahal aku sudah begitu berjasa menyelamatkan kedainya, kenapa ia tidak mau memenuhi keinginanku!"


seru Dail di tengah heningnya malam,


"Tenang saja komandan, pasti-"


Ssstt...


"Diamlah, aku terpikirkan sesuatu yang bagus,"


Tiba-tiba Dail bibir Dail menekuk.


"Ide?"


"Iya"


"Aku akan memanfaatkan nenek sialan itu,"


10 Oktober, Tahun 1700.


Air mancur, desa Rout, Kerajaan Bosa.


Malam hari.


Hiks, hiks, hiks...


Aysila menangis tersedu-sedu dipelukan soerang wanita yang memeluknya hangat.


Dikelilingi oleh sekumpulan penduduk desa pria yang sedang memegangi obor dan serokan besi.


" Tenanglah Aysila," kata Kepala Desa yang dari tadi berdiri di depan Aysila.


Ia mengelus rambut Aysila dengna tangannya yang keriput.


"Bisa kamu ceritakan apa yang terjadi tentang nenekmu?"


Hiks, hiks, hiks...


Aysila mengusap air dipipinya, rambutnya tampak sedikit berantakan.


"Nenekku menghilang?"


"Bagaimana kejadiannya?"


"Ketika aku membersihkan bar, nenek izin pergi lebih awal menuju lantai dua kedai untuk beristirahat,"


"Lalu?"


"Setelah aku membersihkan bar dan mengunci pintu, aku naik ke lantai dua, terapi nenek tidak berada di kasurnya,"


"Aku mengelilingi kedai dan halaman sambil menyerukan namanya, tetapi aku tidak menemukannya,"


"Kemungkinan nenekmu diculik,"


Aysila menutup mulutnya, beberapa saat yang lalu sang nenek ada di sisinya.


"Bagaimana ini?"


"Nona Aysila sedang kesulitan,"


"Siapa pelakunya?"


Penduduk desa ingin membantu Aysila tetapi tidak bisa banyak berbuat.


Kepala desa mencoba untuk menenangkan Aysila.


Di tengah kesedihan itu.


Dari arah gerbang desa terdengar ramai suara langkah kaki.


Tak selang kemudian, seorang penduduk desa lari terbirit-birit ke arah air mancur.


Bajunya robek-robek dan benjolan biru di wajahnya, seperti seseorang baru saja meninjunya kencang.


Tap, tap, tap...


"Kamu kenapa?" tanya kepala desa.


Gubrak....


Ia tumbang di dekat kepala desa, membuat penduduk desa bertanya-tanya.


"Bandit," tuturnya terbata-bata.


"Bandit menyerang desa kita,"


Kepala desa dan penduduknya tampak panik, sementara itu Aysila seakan-akan tidak peduli, matanya kosong.


"Semuanya pergi ke gerbang desa!"


"Sekarang kita sedang berada di keadaan darurat!"


"Sebagian tolong amankan wanita dan anak-anak ke hutan!"


Seru kepala desa yang berusaha dengan tenang mengatur situasi.


Penduduk desa pria membagi diri, sebagian besar pergi ke gerbang desa dan sisanya mengamankan wanita dan anak.


"Aysila bangkitlah, sekarang mari kita mengungsi, nenekmu pasti baik-baik saja,"


Kepala desa mencoba untuk membujuk Aysila tetapi ia hanya diam terduduk lemas di dekat air mancur yang dingin.


Bianno melirik ke arah desa tetapi tidak ada sesuatu yang aneh di sana.


Sepertinya, aku memang harus pulang, batin Bianno.


Dail mengikuti intuisinya, ia menaruh perkakas ke gudang pemilik lahan sekaligus mengambil pedang besinya dan berjalan menuju desa.


"Apa yang terjadi?"


Setibanya di desa, Dail melihat wanita desa dan anak-anak sedang berlari ke luar desa, mengikuti arahan penduduk desa pria.


Bianno menghampiri seorang penduduk desa dan bertanya, "Apa yang sedang terjadi?"


"Bandit sedang menyerang desa kita!"


Mata Bianno melotot.


"Apakah kamu melihat Aysila?"


"Gadis kedai itu?"


"Iya"


"Mungkin sekarang ia masih berada di air mancur,"


"Aku permisi,"


Dail berdiri mendekati air mancur dan Aysila sudah tidak berada di sana.


"Aysila!"


"Kamu ada di mana?"


"Aysila!"


Bianno berseru sambil menatap sekitar, tetapi hanya keheningan yang menyapanya.


Tidak ada keberadaan seorangpun, sebuah lentera tegeletak begitu saja di depan rumah, entah kenapa lentera itu tergeletak sendiri.


Tap, tap, tap...


Bianno berjalan mendekati lentera itu, membuka penutupnya yang terbuat dari kaca.


Wuushh...


Lalu meniupnya pelan membuat nyala api di dalam lentera itu mati.


Bianno mematikannya, mencegah api tersebut merambat lalu membakar bangunan yang berada di dekatnya, Bianno panik tetapi logikanya masih tetap berjalan.


Arrrghhh...


Bianno mendengar arah jeritan dari kejauhannya.


Suara ini, mungkin berasal dari gerbang desa, batinnya.


Bianno berlari ke arah gerbang desa melewati jalan di antara rumah-rumah.


Karena tidak ada seorangpun membuat jalan Bianno mulus.


Setibanya di gerbang desa, Bianno mendapati penduduk desa sedang bertarung dengan perlengkapan seadanya, mereka mengenakan garpu besi dan sekup besi.


Bahkan sebagian penduduk desa hanya bermodalkan tongkat kayu yang tidak cukup kuat, beberapa pukulan saja bisa membuatnya patah.


"Bandit!" seru Bianno.


Sementara itu lawannya para bandit, postur mereka lebih tinggi dari penduduk desa dan badan mereka jauh lebih berotot.


Para bandit itu bersenjatakan masing-masing kapak besi, ujungnya tidak begitu tajam karena jarang di asah, mengurangi fungsinya tetapi cukup kuat untuk memotong daging.


Tetapi keadaan tersebut tidak membuat penduduk desa gentar.


Mereka kalah kuat dan kalah persenjataan tetapi mereka lebih banyak.


Ketimpangan jumlah tersebut memaksa seorang bandit harus melawan tiga sampai empat warga desa.


Aku harus bergabung! batin Bianno.


Sringgg...


Bianno menarik pedang dari balik punggungnya, sebuah pedang besi yang sedikit berkarat, tidak begitu impresif tetapi cukup untuk melukai lawan.


Di tengah pertempuran, Bianno melihat seorang warga desa yang sedang tergeletak di tanah, tidak jauh darinya tergeltak tongkat kayu yang sudah terbelah dua.


Didepannya seorang bandit sedang berdiri, siap menebas warga desa malang itu, dengan senyuman di wajah.


Gawat, kalau begini dia bisa mati,batin Bianno.


Tap, tap, tap...


Bianno berlari secepatnya.


Wusshhh...


Kapak itu sudah diayunkan.


Cringgg...


Bianno muncul di waktu yang tepat, membuat pedang besinya dan kapak besi bandit itu saling beradu.


"Sialan, dari mana kamu datang!" seru bandit.


"Entahlah," balas Bianno.


Membuat bandit itu semakin kesal.


"Kamu pergilah!" seru Bianno.


"Tapi kamu-"


"Sudah tidak apa, tanpa senjata akan sulit bagimu untuk bertarung, pergilah!" desak Bianno.


"Sialan!"


Bandit menambah tenaganya, memberi tekanan kepada kuda-kuda Bianno.


"Baiklah!"


Warga desa itu berlari ke dalam desa.


..."Entahlah,"...


...-Bianno-...