
Berbagai hinaan keluar dari mulut orang-orang yang terluka hatinya.
Clare yang menerima hinaan serta di lempari hanya menundukan kepalanya ke bawah.
Delmon yang tidak tahan melihat kekejaman itu menarik pedang dari sarung yang berada di balik punggungnya.
“Karena dosanya, gadis ini akan menerima hukuman mati, kami akan melaksanakan hukuman dalam waktu dekat ... sekian,” ucap salah satu pria berjubah putih.
Clare yang terus menerus di lempari berbagai benda tidak mendapatkan perlindungan dari sekumpulan orang berjubah putih.
Sekumpulan orang berjubah putih itu seakan akan membiarkannya.
Lalu sekumpulan orang berjubah putih itu meninggalkan keramaian bersama Clare yang sedang di borgol.
“Ayo Zeel kita sela—” ucap Delmon sambil menoleh ke arah Zeel.
Zeel dengan tatapan kosongnya berputar balik lalu meninggalkan keramaian tersebut.
14 september tahun 1700, kota benteng Clever.
Aktivitas penduduk kota berangsur angsur pulih.
Orang luar dari berbagai tempat kembali datang ke kota Clever untuk urusan pekerjaan maupun hanya sekedar jalan-jalan.
Walaupun tak sebanyak sebelum peristiwa malam darah.
Kedatangan orang luar kota cukup membantu membangkitkan perekonomian kota benteng Clever.
Hari itu prajurit Clever melaksanakan aktivitas
latihan mereka seperti biasa.
Aktivitas prajurit Clever terdiri dari beberapa
tugas di antaranya latihan, patroli, serta penjagaan gerbang.
Jumlah keseluruhan prajurit Clever yang ada dipecah sesuai dengan kebutuhan masing-masing tugas.
Tugas latihan di awali dari pagi hari hingga sore
hari di mana terdiri dari berbagai rangkaian kegiatan yang berguna melatih kemampuan prajurit Clever.
Prajurit unit pedang biasanya latihan tanding
sedangkan prajurit unit panah melakukan latihan memanah.
Siang hari itu, setelah duduk menyaksikan prajurit lainnya saling beradu pedang.
Sang wasit memanggil Zeel serta prajurit lainnya untuk latihan tanding.
Lalu Zeel dan salah satu prajurit saling berdiri
berhadapan, wasit sebagai pengadil langsung memulai latihan tanding.
Tepat setelah wasit memberi tanda dimulainya
latihan tanding.
Zeel dan prajurit itu saling manghampiri dengan berlari, mereka belari dengan pedang siap menebas.
Pedang mereka beradu namun Zeel jauh lebih kuat.
Pedang prajurit tersebut terhempas kemudian melayang ke udara lalu menancap ke tanah.
Prajurit yang kehilangan pedangnya.
Nampak kaget dan tidak percaya dengan apa yang terjadi, ia hanya terdiam.
Sesuai aturan latihan tanding maka prajurit tersebut kalah, lalu wasit menyatakan kemenangan Zeel.
“Aku menyerah,” ucap prajurit tersebut dengan
menatap takut Zeel.
Tanpa menghiraukan wasit serta pernyataan menyerah dari lawan tandingnya Zeel masih melanjutkan aksinya.
Zeel melepas pedang dari genggamannya.
Blam!
Zeel memberi prajurit itu tamparan.
Karena tamparan Zeel prajurit tersebut tergeletak ke tanah.
Tamparan itu mendarat tepat di pipi kirinya.
Namun belum berhenti di situ, Zeel menginjak tubuh prajurit yang tergeletak di tanah itu berulang kali.
Tidak bisa melawan prajurit tersebut hanya tergeletak di tanah.
Wasit yang melihat pelanggaran yang di lakukan oleh Zeel, datang menghampiri untuk melerai.
“Sudah hentikan!” bentak wasit berusaha membuat Zeel menjauh.
Nampak sang pengadil kesusahan untuk mennghentikan aksi Zeel.
Delmon yang berada di pinggir lapangan datang ke tengah-tengah latihan tanding.
Ia berusaha untuk membantu wasit untuk menghentikan Zeel.
“Ada apa denganmu Zeel?” tanya Delmon sembari menahan tubuh Zeel.
“Sudah cukup, ia sudah menyerah kan?” tanya Delmon lagi.
Kala itu Delmon melihat tatapan yang tidak biasa dari Zeel.
Ia merasakan kemarahan di pancarkan temannya.
Zeel menatap lawan latihan tanding seakan-akan ingin membunuh lawan tandingnya.
Kehadiran Delmon nampak berhasil menenangkan Zeel.
Delmon yang khawatir dengan keadaan temannya datang ke kamar Zeel malam itu.
Delmon mengetuk pintu namun tidak ada jawaban, pintu kamar Zeel sedikit renggang seakan akan tidak terkunci.
Kreeek ....
Delmon yang menyadari akan hal itu mendorong pintu ke arah dalam, dan benar pintu kamar Zeel tidak terkunci.
Delmon masuk ke dalam lalu melihat keadaan kamar yang gelap seakan akan tidak ada orang.
Dengan inisiatifnya Delmon menyalakan lilin yang berada di kamar Zeel.
Setelah menyalakan lilin, Delmon melihat sosok
Zeel yang sedang bersandar di dinding sembari memeluk lutut.
Tatapan mata Zeel seolah olah kosong, Delmon kaget sekaligus khawatir melihat keadaan temannya.
“Zeel,” ucap Delmon dengan mimik wajah khawatir.
Zeel menoleh ke arah Delmon dengan tatapan mata kosong.
Namun tak sepatah kata keluar dari mulut Zeel.
Delmon yang bingung harus berkata apa datang mendekati Zeel lalu duduk di hadapan Zeel.
“Ibu dan ayahku sudah tidak ada,” Ucap Zeel dengan nada rendah.
Delmon yang mendengar itu dari mulut Zeel lalu
menampar pipi kanan Zeel dengan kencang.
Namun Zeel tidak bereaksi apa-apa, setelah itu Delmon duduk di samping Zeel.
Delmon menghembuskan nafas panjang, kemudian bercerita panjang lebar.
“Dulu aku punya adik … Namanya Ella, dia adik
kecil yang lucu … suatu hari ia akan menjadi penyanyi katanya, tapi cita-citanya musnah, tanpa alasan yang jelas prajurit khusus Clever datang menjemputnya, setelah itu aku tidak pernah melihat adikku lagi, waktu itu aku masih sangat kecil dan lemah … andai saat itu aku cukup kuat mungkin ia sekarang ada di sisiku,” cerita Delmon panjang lebar.
Lalu Delmon bangkit berdiri kemudian menuju pintu kamar Zeel.
Kemudian Delmon memegang pintu kamar, tak ada reaksi apapun yang di tunjukkan Zeel.
Ia masih bersandar di dinding sambil memeluk lututnya.
“Zeel, jika kamu memiliki sosok berharga dalam
hidupmu … lindungilah ia dengan kekuatanmu,” Ucap Delmon.
“Jika kamu membutuhkan bantuan … aku siap
membantumu,” ucap Delmon yang sudah hendak meninggalkan kamar Zeel.
Delmon berkata, “selamat malam.”
Lalu Delmon menutup pintu kamar Zeel dari luar.
Ucapan Delmon terngiang di dalam pikiran Zeel,
Malam itu pikiran Zeel dipenuhi oleh potongan-potongan memorinya bersama Clare.
Zeel tidak bisa tidur hingga matahari terbit.
15 September tahun 1700, kota benteng Clever.
Setelah Zeel melalui rangkaian rutinitas seperti prajurit Clever lainnya malam hari akhirnya tiba.
Malam itu Zeel mengundang Delmon untuk datang ke kamarnya.
Zeel yang sedang menunggu Delmon di kamarnya.
Tok, tok, tok ....
Mendengar suara ketukan pintu.
“Zeel, ini aku Delmon,” terdengar suara dari arah
pintu kamar Zeel.
Zeel membuka pintu kemudian berkata, “masuklah.”
Selepas itu Delmon masuk ke kamarnya Zeel, lalu
Zeel menutup pintu kamarnya rapat-rapat.
Zeel mengambil lilin yang ada di atas
meja kasurnya.
Lalu menaruhnya di lantai kemudian Zeel duduk menghadap lilin tersebut.
Selepas itu Zeel meminta Delmon untuk duduk di hadapannya.
“Delmon, aku membutuhkan kekuatanmu,” ucap Zeel dengan wajah datar.
Delmon tersenyum kecil kemudian menjawab, “baiklah.”
“Clare tidak bersalah atas peristiwa malam darah, malam itu ia bersamaku ... aku ingin menyelamatkannya,” ucap Zeel.
Delmon membalas, “aku punya rencana.”
..."Jika kamu memiliki sosok berharga dalam...
...hidupmu, lindungilah ia dengan kekuatanmu.”...
...-Delmon-...