
Mnmnmnmn ….
Bendetta berusaha berteriak namun tidak berbuah, mulutnya terikat kain.
Bendetta memandang lurus ke depan, nampak sebuah pintu reyot beberapa meter di hadapannya.
Zzzt ….
Sesekali lampu pada langit-langit mati, kemudian kembali menyala.
Tap, tap, tap ….
Terdengar oleh Bendetta, suara langkah kaki berasal dari balik pintu.
Seketika keringat dingin mengguyuri wajah Bendetta.
Kreeek ….
Dari sisi lain, pintu terbuka secara perlahan.
Tap, tap, tap ….
Seseorang memasuki ruangan tempat Bendetta berada.
Terpandang oleh Bendetta seorang kakek-kakek tua mengenakan jubah.
Nampak lusuh, jubah kakek tua itu memiliki banyak robekan sana sini.
“Bendetta …,” tutur kakek tua pelan.
Mnmnmnm ….
Bendetta berusaha berbicara namun mulutnya terikat kain.
Tap, tap, tap ….
Nampak terburu-buru, kakek tua berlari mendekati Bendetta.
Tidak bisa berbuat apa-apa, Bendetta hanya memjamkan mata.
“Apakah aku mengikatnya terlalu kencang?” tanya kakek tua.
Bendetta yang masih memejamkan mata, merasakan sensasi sentuhan dari bagian belakang kepalanya.
Tap, tap, tap ….
Terdengar oleh Bendetta, langkah kaki menjauhinya.
“Sekarang sudah tidak apa-apa … bukalah matamu,” pinta kakek tua.
Secara perlahan, Bendetta membuka kelopak matanya.
“Lepaskanlah aku!” bentak Bendetta.
Bendetta menatap kesal kakek tua yang sedang berdiri di hadapannya.
“Tenangkanlah dirimu,” pinta kakek tua.
Terpandang oleh Bendetta senyuman hangat kakek tua itu.
Jangan-jangan! batin Bendetta.
Bendetta menatap jeli kakek tua itu.
“Kakek Rocco!” seru Bendetta.
Raut kekesalan sirna dari wajah Bendetta, kini berganti dengan raut senang.
“Syukurlah Bendetta masih mengingatku … terakhir kita bertemu ketika kamu masih kecil, kamu tumbuh menjadi wanita yang cantik ya,”
ucap kakek tua.
“Kakek Rocco sedikit berbeda ya … sekarang janggut dan rambut kakek sangat panjang,” kata Bendetta.
Kakek Rocco berucap, “Begitulah.”
16 maret tahun 1680.
Halaman rumah keluarga Bendetta, desa Freudenberg, wilayah netral.
Sore hari.
Kala itu matahari sore menyinari penjuru desa Freudenberg.
Pada pekarangan rumahnya, Bendetta kecil bersama sang ibu sedang menyirami bunga.
Tap, tap, tap ….
Bendetta kecil terus berlari-lari sembari menyirami bunga.
Sementara itu, ibu Bendetta sedang berdiri menyirami tanaman sambil mengamati aksi Bendetta kecil.
“Ya ampun Bendetta, jangan berlari-lari seperti itu, nanti kamu akan terjatuh!” seru ibu Bendetta.
Ahahaha ….
Dengan tawa di wajahnya, Bendetta kecil terus
berlari-lari sembari menyirami bunga.
“Apakah kamu mendengar perkataan ibu?” tanya ibu Bendetta.
“Aku dengar kok!” seru Bendetta kecil.
Tap, tap, tap ….
Terlihat oleh ibu Bendetta, sang anak masih berlari-lari.
Huuuf ….
Ibu Bendetta menghembuskan napas berat.
“Dasar,” ucap ibu Bendetta.
“Bendetta!”
Terdengar oleh Bendetta kecil, seseorang baru saja menyerukan matanya.
Terpandang oleh Bendetta, kakek Rocco di kejauhan.
“Kakek Rocco!” seru Bendetta kecil.
Tap, tap, tap ….
Bendetta kecil berlari menghampiri kakek Rocco dengan senyuman.
“Bendetta jangan berlari!” seru ibu Bendetta.
“Iya!” seru Bendetta kecil.
Bendetta kecil mengiyakan perintah ibunya, namun ia masih berlari.
Tap ….
Setibanya di hadapan kakek Rocco, Bendetta kecil melihat kakek Rocco sedang membawa sebuah kerancang rotan.
“Ada apa kakek Rocco?” tanya Bendetta kecil.
Terpandang oleh kakek Rocco, senyuman pada bibir Bendetta kecil.
“Kakek baru saja panen,” tutur kakek Rocco.
Bendetta kecil berseru, “Asik!”
Sreeet ….
Secara perlahan, kakek Rocco menurunkan keranjang pada genggamanya ke atas permukaan tanah.
“Stroberi ada banyak!” seru Bendetta kecil.
Terlihat oleh Bendetta kecil, buah stroberi memenuhi seisi keranjang.
Berbentuk kecil nan imut, stroberi-stroberi itu
berwarna merah di hiasi biji-biji kecil berwarna putih.
“Ambilah sesukamu,” tutur kakek Rocco.
Seeet ….
Bendetta kecil mengambil salah satu stroberi, lalu ia melahapnya.
“Manis sekali!” seru Bendetta kecil.
Terpandang oleh kakek Rocco, Bendetta kecil sedang memejamkan mata sembari memegang kedua pipi.
26 september 1700, sebuah bangunan kumuh, kota benteng Haven.
Malam hari.
“Kenapa kakek Rocco ada di kota ini?” tanya Bendetta.
Kakek Rocco berucap, “Sebenarnya dua tahun lalu … desa kita di serang oleh bandit.”
Mendengar itu, Bendetta merasakan sensasi nyeri pada dadanya.
“Lalu bagaimana dengan penduduk desa yang lainnya?” tanya Bendetta.
Kakek Rocco sedikit menundukkan kepala menandang lantai.
“Sebagian dari kami berhasil melarikan diri … sisanya kakek tidak tahu bagaimana nasib mereka,” tutur kakek Rocco.
Kemudian Bendetta menundukkan kepala, memandang bagian pahanya, rasa nyeri pada bagian dada Bendetta terus berlanjut.
“Apakah kakek mengikatmu terlalu kuat?” tanya kakek Rocco.
Tap, tap, tap ….
Dengan raut wajah bersalah, kakek Rocco kembali mendekatkan dirinya kepada Bendetta.
Kresek, kresek, kresek ….
Kakek Rocco berusaha meregangkan ikatan tali pada kedua lengan Bendetta.
Terlihat oleh Bendetta, tangan kakek Rocco yang begitu kurus layaknya ranting.
Kulit kakek Rocco nampak kusut.
“Waktu berjalan begitu cepat ya kek,” ucap Bendetta.
Melihat perubahan pada tubuh orang yang ia kenal, Bendetta sadar waktu sudah lama berlalu.
Kakek Rocco memang sudah tua ketika Bendetta kecil, namun tidak setua apa yang Bendetta lihat sekarang.
Kresek, kresek, kresek ….
Kakek Rocco berhasil meregangkan tali pengikat di kedua tangan Bendetta.
Terpandang oleh kakek Rocco, pergelangan tangan Bendetta yang memerah.
“Maaf ya Bendetta … kakek tidak ingin membuatmu terluka,” tutur kakek Rocco.
Bendetta berbohong, ia merasakan sedikit pedih pada area pergelangan tangannya.
“Tunggu sebentar ya,” tutur kakek Rocco.
Kresek, kresek, kresek ….
Kakek Rocco meregangkan ikatan pada kedua kaki Bendetta.
Usai meregangkan ikatan, terpandang oleh kakek Rocco kaki Bendetta yag sedikit kemerahan.
“Apakah benar tidak sakit?” tanya kakek Rocco.
Bendetta tersenyum kecil.
“Aku tidak apa-apa kek,” jawab Bendetta.
Kakek Rocco berkata, “jika kamu merasa kesakitan, bilang pada kakek ya.”
“Baik,” jawab Bendetta.
Wuuushhh ….
Angin berhembus memasuki ruangan, melalu langit-langit yang sedikit terbuka.
Bendetta terikat namun tidak terikat, Bendetta bisa kabur kapan saja, pengikat pada tangan dan kakinya kini begitu longga, hanya perlu sedikit tekanan agar terbuka.
Mulut Bendetta tidak tertutup lagi, ia bisa menjerit kapan saja.
Bendetta menatap kakek Rocco, sementara itu kakek Rocco menghindari kontak mata dengan Bendetta.
Kakek Rocco menunduk ke bawah.
“Kenapa kakek menculikku?” tanya Bendetta.
Gluk ….
Kakek Rocco menegek liurnya sendiri.
“Sebenarnya kami butuh uang untuk makan,” tutur kakek Rocco pelan.
Bendetta bertanya, “kami?”
“Sebenarnya, sebagian dari penduduk desa kita yang selamat … bermukim di kota ini,” jelas kakek Rocco.
Bendetta bertanya, “Lalu?”
“Kota ini tidak memihak kaum-kaum terlantar seperti kami, di kota ini kami sulit untuk emncari pekerjaan, penduduk lokal memandang
rendah kami,” keluh kakek Rocco.
Huuuf ….
Bendetta menghembuskan napas berat.
“Ketika mendengar Bendetta bekerja di kerajaan … kami memutuskan untuk menculikmu demi uang dari kerajaan,” tutur kakek Rocco.
Tap ….
Di hadapan Bendetta, kakek Rocco bersujud.
“Tolong maafkan kami!” seru kakek Rocco.
Melihat itu, sontak Bendetta kaget.
“Tidak apa-apa kek … justru Bendetta merasa bersalah,” tutur Bendetta.
Kakek Rocco bertanya, “kenapa Bendetta merasa
bersalah?"
“Ketika aku sudah merasakan hidup yang nyaman di tempat yang baru … aku melupakan tempat asalku,” ucap Bendetta.
“Bendetta tidak salah!” seru kakek Rocco.
“Kakek tolonglah berdiri, Bendetta merasa tidak nyaman,” pinta Bendetta.
“Maaf!” seru kakek Rocco sembari bersujud.
“Jika masalah uang Bendetta bisa sedikit membantu,” ucap Bendetta.
“Syukurlah,” tutur kakek Rocco.
Bendetta berucap, “karena itu … kakek berdirilah,” pinta Bendetta.
Tap ….
Kakek Rocco bangkit dari sujudnya.
Terpandang oleh Bendetta, Mata kakek Rocco yang berkaca-kaca.
“Sebaiknya lukamu di obati, tunggu sebentar ya , kakek akan mengambilkan obat,” ucap kakek Rocco.
Tap, tap, tap ….
Kakek Rocco berjalan menjauhi pintu, berjalan
mendekati pintu.
Gubrak!
Tiba-tiba pintu terbuka paksa dari luar, hampir mengenai kakek Rocco.
Wuuusssh ….
Melalui pintu, seketika hawa dingin memasuki ruangan.
Terpandang oleh Bendetta, Delmon sedang berdiri pada sisi luar pintu.
Lengkap dengan panahannya, Delmon siap melepaskan anak panah kapan saja.
Terlihat oleh Delmon, sekujur tubuh kakek tua di
hadapannya yang gemetar.
“Kenapa kamu tahu tempat ini?” tanya kakek Rocco.
Wuuush ….
Tanpa pikir panjang, Delmon meluncurkan anak tanah.
Jleb ….
Dalam sepesekian detik, anak panah menembus dada kakek Rocco.
“Kakek!” seru Bendetta.
Terlihat oleh Bendetta, mata anak panah berpadu dengan darah, menembus kakek Rocco.
Tes, tes, tes ….
Darah yang berada pada mata anak panah, menetes ke lantai, kemudian membeku.
Seketika air mata mengalir, membasahi pipi Bendetta.
Tap, tap, tap ….
Delmon berlari menghampiri Bendetta.
“Bendetta!” seru Delmon.
Di hadapan Bendetta, Delmon sedikit menunduk.
Kresek, kresek, kresek ….
Secara cekatan Delmon membuka ikatan pada kedua tangan dan kedua kaki Bendetta.
Belum usai membuka, Delmon seketika terhenti.
Tunggu sebentar, ada yang aneh … kenapa ikatan ini bisa terbuka begitu mudah? batin Delmon.
Kresek, kresek, kresek ….
Delmon kembali membuka ikatan.
Usai membuka ikatan, Delmon kembali berdiri tegak.
“Sepertinya pergelangan tangan dan kakimu terluka … ayo cepat kita obati,” pinta Delmon.
Mendengar ucapan Delmon, Bendetta tidak bereaksi apapun, ia hanya duduk terdiam sembari menundukkan kepala.
“Bendetta?” tanya Delmon.
Terpandan oleh Delmon, air mata membasahi pipi Bendetta.
Tes ….
Sebagian air mata mengalir, membasahi rok pelayan Bendetta.
“Kenapa kamu menangis?” tanya Delmon.
Bendetta masih diam tidak bergeming.
Delmon berkata, “Sekarang sudah tidak apa-apa … aku sudah menghabisi mereka semua.”
Rasa khawatir Delmon semakin menjadi-jadi.
Sreeet ….
Delmon menarik tangan kanan Bendetta.
Layaknya bunga mati, Bendetta begitu lemas.
Tanpa perlawanan, Bendetta bangkit berdiri.
Tasss ….
Tidak terduga oleh Delmon, Bendetta menampar Delmon dengan telapak tangan terbuka.
“Kenapa … Bendetta?” tanya Delmon.
Terlihat oleh Delmon, Bendetta menatapnya dengan mata yang berkaca-kaca.
Layaknya kaca, bendungan air mata Bendetta siap pecah kapan saja.
Bendetta bertanya, “kenapa?”
“Kenapa?” tanya balik Delmon.
“Kenapa kamu membunuhnya?” tanya Bendetta.
“Mereka menculikmu,” jawab Delmon.
Hiks, hiks, hiks ….
Isak tangis Bendetta semakin menjadi, baginya jawaban Delmon bukanlah jawaban.
..."Kenapa?"...
...-Bendetta-...