
5 oktober tahun 1700.
Desa Bosa, Kerajaan Rout.
Malam hari.
Kala itu di dalam sebuah rumah makan, Aysila sedang berjalan dari meja ke meja.
Suasana rumah makan begitu ramai, suara tawa bergema pada seisi ruangan.
Aroma bir mengisi seluruh sudut ruangan, lampu remang-remang menyinari seluruh meja rumah makan.
Para pelanggan di sana kebanyakan laki-laki, suara kunyahan serta cara mereka
menelan air begitu berisik.
“Birnya satu!”
“Birnya tiga!”
“Ayam panggang satu!”
Tanpa antri, para pelanggan menyerukan pesanan mereka.
“Baik!”
“Baik!”
“Baik!”
Jawab gadis itu, sembari mencatat pesanan pada memo kecil.
“Tolong tunggu sebentar!” seru Aysila.
Tap, tap, tap ….
Aysila lari buru-buru ke arah sebuah pintu kayu kecil, seolah-olah sedang di kejar hewan buas.
Kreeek ….
Aysila membuka pintu itu sedikit kasar.
Setibanya di dalam, Aysila segera menyalakan tungku.
Api kecil pada tungku menyala di hadapan Aysila.
Api kecil itu menghangatkan serta menerangkan sedikit wajah letih Aysila.
Gubrak!
Terdengar oleh Aysila, saura nyaring berasal dari arah pintu masuk.
Suara tawa serta obrolan yang tadinya ramai kini hening seketika.
Huuuf….
Aysila menghembuskan napas berat sembari memejamkan mata.
Aysila tidak ingin sang nenek berurusan denga tamu ini.
Tap, tap, tap ….
Aysila berjalan menuju sebuah pintu kecil.
Kreeek….
Aysila dengan begitu lesuh, membuka pintu kecil di hadapannya.
Terpandang oleh Aysila, pelanggannya yang kini diam membatu.
Tidak ada lagi suara kunyahan berisik, kini para pelanggannya nampak mengunyah tanpa berbunyi, meminum tanpa berbunyi.
Aysila memandang sedikit lurus ke depan.
Aysila melihat pintu rumah makannya yang membuka mulut begitu lebar.
Begitu silau, sinar matahari memenuhi seisi ruangan.
Aysila sedikit mengecilkan pandangan matanya, berusaha untuk tetap melihat lurus ke depan.
Pada sisi luar pintu, nampak tiga orang pria dengan setelan zirah besi.
Pria pada sisi tengah tampak kekar dan tinggi, sementara kedua orang pada sisi kiri
dan kanannya tampak biasa saja.
Aysila mengenali aura intimidatif itu adalah Dail.
Dua orang pada sisi Dail adalah pengawalnya yang bertubuh yang tidak ideal untuk ukuran seorang prajurit.
Tap, tap, tap ….
Ketiga pria berzirah besi itu memasuki rumah makan.
Para pelanggan memandang cemas mereka.
Para pelanggan berusaha untuk bertindak normal tetapi mereka tidak bisa.
Dail nama pria nan kekar berzirah besi tersebut, aura keberadaannya begitu mengitimidasi, terutama tubuhnya yang kekar.
Para pelanggan tidak berani kontak mata dengannya, bagi mereka Dail adalah orang
yang berbahaya.
Tap, tap, tap ….
Dail berjalan di antara para pelanggan yang sedang duduk, ia berjalan sembari
menatap sekitar.
Tap ….
Tepat di tengah-tengah rumah makan, langkah Dail terhenti.
Salah satu makanan yang ada di meja makan, menarik lirikan mata Dail.
Makanan itu adalah ayam panggang madu di atas sebuah piring, madu pada ayam panggang itu tumpah memenuhi permukaan piring.
“Permisi … boleh aku cicipi sedikit,” pinta Dail.
Tanpa persetujuan pemilik makanan, Dail meraih ayam panggang madu itu.
Pemilik makanan hanya bisa terdiam, dengan wajah yang sedikit pucat, layaknya seorang
anak kecil yang di rebut mainannya oleh orang dewasa.
Cret ….
Sebagian dari madu ayam panggang itu mengenai pakaian pemilik makanan.
Lagi-lagi pemilik makanan hanya diam membatu.
Hap, hap, hap ….
Begitu lahap Dail memisahkan daging ayam itu dari tulangnya, lalu ia makan.
Kini bibir Dail di basahi madu.
Tes ….
“Seperti biasa … ayam panggang madu di sini memang yang terbaik,” puji Dail.
Tek ….
Dail mengembalikan ayam panggang madu itu kembali ke piring, namun tidak tersisa
apa-apa selain tulangnya saja.
“Terima kasih,” ucap Dail.
Kepada pemilik makanan, Dail tersenyum.
Usai mengembalikan makanan yang ia minta, pandangan Dail teralih ke sebuah gelas
kayu pada meja yang sama.
Aroma dari dalam gelas tercium tajam oleh Dail, aroma bir anggur segar.
Dail berkata, “kebetulan sekali.”
Lagi-lagi tanpa persetujuan pemilik makanan, Dail meraih segelas bir itu.
“Kamu!” seru pemilik minuman.
Raut wajah pemilik minuman tamak kesal, ia menyorot Dail tajam, kedua tangannya
menggempal sipa meninju.
Kedua orang pada sisi kanan dan kiri pemilik minuman berusaha menahan pemilik minuman.
“Lepaskan aku!” seru pemilik makanan.
Dail menatap pemilik minuman dengan senyuman.
“Kamu tidak tahu seberapa keras usahaku untuk minum di sini!” seru pemilik minuman.
Pemilik minuman memelototi Dail, seakan-akan ia tidak takut akan hawa intimidasi Dail.
“Maaf … bisa ulangi?” pinta Dail.
Cring, cring ….
Pandangan tertuju kepada dua orang berzirah besi di belakang Dail.
Kedua orang itu tampak mengeluarkan pedang besi dari sarung pedang.
Begitu tajam, pedang besi itu sedikit mengkilat akibat pantulan cahaya.
Seketika nyali pemilik minuman menjadi ciut, tanpa pikir panjang ia Kembali duduk di
kursi.
“Kenapa tiba-tiba duduk … bukannya kamu ingin mengucapkan sesuatu kepadaku?” tanya
Dail.
Pemilik minuman berucap, “maaf.”
“Kenapa kamu minta maaf?” tanya Dail.
Pemilik minuman tediam dalam duduknya, ia tidak berani menatap Dail, ia hanya
menundukkan kepala.
“Jika kamu begitu inginnya meminta maaf,” kata Dail.
Dail menoleh ke ke kiri dan ke kanan, menatap dua orang berzirah besi yang bersamanya.
Tap, tap, tap ….
Kedua pria berzirah besi mendekati pemilik minuman, kemudian mereka memaksa pemilik minuman untuk bangkit dari kursi.
Tidak ada perlawanan dari pemilik kursi, ia hanya pasrah.
Tap, tap, tap ….
Kedua pria berzirah besi membawa pemilik minuman ke hadapan Dail.
Lalu kedua pria berzirah besi melepaskan pemilik minuman dari genggaman.
Kaki pemilik minuman begitu lemas, kini ia duduk di lantai, seolah-olah tidak memiliki tenaga sama sekali.
Sementara itu Dail tersenyum sinis, menatap pemilik minuman tak berdaya di depannya.
“Sujudlah,” pinta Dail.
Pemilik minuman hanya diam.
Gedebug ….
Salah satu pria berzirah besi menendang punggung pemilik minuman.
Akibatnya kini pemilik minuman berada dalam posisi sujud, jidat menempel di lantai.
Dail tersenyum kecil.
“Bagus … kalua begitu aku akan memberikanmu hadiah,” ucap Dail.
Tap, tap, tap ….
Dail berjalan menjauhi pemilik minuman sambal menatap sekeliling.
Lagi-lagi tanpa persetujuan, Dail mengambil gelas bir anggur milik salah satu pelanggan.
Tap, tap, tap ….
Dail mendekati pemilik minuman.
Byuuuur ….
Dengan senyuman di wajahnya, Dail menyirami pemilik minuman dengan segelas bir anggur.
Sekarang pemilik minuman basah kuyup, bajunya kini menyatu dengan warna anggur yang sedikit kemerahan.
“Bagaimana?” tanya Dail.
Pemilik minuman hanya diam.
“Tuan Dail sedang berbicara padamu!” seru salah satu pria berzirah besi.
Gedebug ….
Salah satu pria berzirah besi menendang pemilik minuman.
“Enak,” jawab pemilik minuman pelan.
“Syukurlah … tunggu sebentar,” pinta Dail.
Tap, tap, tap ….
Dail kembali berjalan menjauhi pemilik minuman sembari menatap sekitar.
..."Sujudlah"...
...-Dail-...