Zeel Greenlight

Zeel Greenlight
Bagian 25 : Peraturan Baru



“Teman!” seru Sophia kecil.


“Teman?” tanya pendeta.


Sophia kecil berseru, “iya … aku datang ke sini untuk mencari teman!”


Tidak masuk akal bagi pendeta, seorang putri kerajaan datang ke gereja kecil untuk mencari teman.


Tanpa berkata, pendeta menatap salah satu prajurit yang berdiri di belakang Sophia.


Tatapan pendeta seolah bertanya kepada


prajurit itu apa yang sedang terjadi.


Ehem ….


Terdengar oleh pendeta, suara batuk


kecil.


“Tuan putri datang ke sini untuk mencari pelayan pribadi,” tutur salah satu prajurit.


Mendengar itu, Sophia kecil tidak terima.


“Teman bukan pelayan!” seru Sophia kecil.


“Maaf tuan putri,” tutur salah satu prajurit.


“Pendeta … tolong panggilkan calon-calon teman putri,” pinta salah satu prajurit.


Pendeta berkata, “baik … tuan putri tunggu sebentar ya.”


Tap, tap, tap ….


Pendetta berlari ke arah gereja.


“Anak-anak!” seru pendeta.


Beberapa saat berlalu, kini pada halaman gereja, anak-anak asuh gereja berbaris rapi.


Sebagaian dari mereka tampak masih mengantuk, Sebagian dari mereka tampak bersemangat.


Sementara anak-anak asuh itu berbaris rapi, Sophia kecil tampak mengamati.


“Bagaimana tuan putri?” tanya salah satu prajurit.


“Sepertinya tidak ada yang cocok menjadi temanku,” tutur Sohia kecil.


Sophia kecil terus mengamati barisan anak-anak asuh itu.


Hingga ia melihat salah satu anak perempuan sedang berlindung di balik pendeta.


Sebaya dengan Sophia kecil, gadis itu adalah Bendetta kecil.


Tap, tap, tap ….


Sophia kecil berlari mendekati Bendetta kecil.


Kepada Bendetta kecil, Sophia kecil tersenyum.


“Namamu Siapa?” tanya Sophia.


“Be …,” ucap Bendetta kecil.


“Be?” tanya Sophia kecil.


“Bendetta,” jawab Bendetta kecil.


Sophia kecil bertanya, “Bendetta ingin menjadi temanku?”


Kamar Sophia, istana Bluelight.


Terlalu besar untuk ukuran kamar anak kecil, kamar Sophia kecil di dominasi properti berwarna biru.


Pada alas lantai kamarnya, kini Sophia kecil sedang bermain boneka.


Tok, tok, tok ….


Terdengar oleh Sophia kecil, ketukan


dari sisi luar pintu kamarnya.


"Tuan putri,"


Terdengar oleh Sophia kecil, suara Bendetta kecil.


“Masuklah!” seru Sophia kecil.


Kreeek ….


Dari sisi luar, pntu kamar Sophia kecil terbuka.


“Permisi,”


Terpandang oleh Sophia kecil, Bendetta kecil berdiri pada sisi luar kamar.


Tap, tap, tap ….


Dengan setelan pakaian ala pelayan, Bendetta kecil memasuki kamar.


“Kenapa tuan putri memanggilku?” tanya Bendetta kecil.


“Kemarilah,” pinta Sophia kecil.


Beberapa saat berlalu, kini Bendetta kecil duduk di hadapan Sophia kecil.


Kresek, kresek, kresek ….


Sophia kecil tampak sedang sibuk memainkan boneka.


Rasa senang terpancar dari raut wajahnya.


Sementara itu, Bendetta kecil mengamati sekitarnya.


Terpandang oleh Bendetta kecil, banyak boneka di atas kasur Sophia kecil.


“Tuan putri sangat menyukai boneka ya,” ucap Bendetta kecil.


“Begitulah,” jawab Sophia kecil.


Suasana menjadi hening untuk beberapa saat, Bendetta kecil tampak sedikit canggung.


Lingkungan istana menjadi tempat yang baru baginya.


Sementara Sophia kecil terus memainkan boneka, Bendetta kecil mengamati.


Tiba-tiba Sophia kecil berhenti menggerakkan bonekanya, lalu ia sedikit menundukkan kepala.


“Sebenarnya aku kesepian … ayah dan ibu selalu sibuk,” tutur Sophia kecil.


Kemudian Sophia kecil menyodorkan boneka pada genggamannya kepada Bendetta kecil.


“Mari kita bermain,” pinta Sophia kecil.


22 september tahun 1700.


Rumah makan Lotello, wilayah perbelanjaan,


kota benteng Haven.


Malam hari.


Usai menikmati makan malam, Delmon dan


Bendetta berbincang.


“Sebenarnya aku masih tidak percaya


kamu Bendetta,” ucap Delmon.


Bendetta bertanya, “kenapa?”


“Habisnya … kamu sekarang tumbuh


menjadi wanita yang cantik,” puji Delmon.


Bendetta memandang Delmon kesal.


Bendetta berkata, “jadi maksudmu dulu aku tidak cantik?”


Delmon menggerak-gerakan kedua telapak


tangannya.


Bendetta memalingkan wajah kesalnya


dari Delmon.


Dag, dig, dug ….


Jantung Bendetta berdetak kencang.


Rekor muri bagi Bendetta, ia menatap


Delmon lebih dari sepuluh detik.


“Delmon juga tumbuh menjadi pria yang


tampan,” tutur Bendetta pelan.


“Apa?” tanya Delmon.


Suara Bendetta terlalu kecil,  Delmon tidak dapat mendengar dengan jelas.


Bendetta menatap Delmon kesal, pipi


Bendetta memerah namun tatapannya tampak kesal.


“Lupakan!” seru Bendetta.


Kresek, kresek ….


Delmon menggaruk-garukan rambutnya, dalam batinnya ia bertanya.


Kenapa dia menjadi marah? batin Delmon.


Suasana menjadi canggung untuk beberapa saat.


Di dalam suasana canggung itu, Delmon


maupun Bendetta sedang memikirkan topik.


Sama-sama terpintas di otak mereka untuk menceritakan masa lalu, namun mereka memiliki ketakutan yang sama pula, sama-sama takut lawan bicara tidak ingat akan kenangan masa lalu.


Sehingga suasana canggung terus berlanjut.


Delmon terus menatap Bendetta, sementara Bendetta terus menghindari kontak mata dengan Delmon.


“Bendetta?” tanya Delmon.


“Apa?” tanya balik Bendetta.


Delmon bertanya, “apa aku boleh memanggilmu Netta?”


Gawat … situasi macam apa ini, batin Bendetta.


“Tidak apa … aku tidak keberatan,” jawab Bendetta.


Dag, dig, dug ….


Jantung Bendetta berdetak kencang.


“Aku juga mau,” ucap Bendetta.


Delmon bertanya, “Bendetta ingin apa?”


“Nama panggilan untuk Delmon,” ucap Bendetta.


Mendengar itu, mata Delmon berbinar-binar.


“Boleh saja … Bendetta ingin memberiku nama panggilan apa?” tanya Delmon.


“Monmon,” ucap Bendetta pelan.


Delmon tidak dapat mendengar dengan jelas perkataan Bendetta.


“Coba ulangi sekali lagi?” pinta Delmon.


Kini Delmon mengfokuskan indera pendengarannya pada Bendetta.


“Monmon,” ucap Bendetta pelan.


Masih dengan suara yang pelan, namun kali ini dapat mendengarnya dengan cukup jelas.


Ahahahaha ….


Delmon tertawa lepas.


Melihat reaksi Delmon, Bendetta merasa


kesal.


“Tunggu … kenapa kamu tertawa?” tanya


Bendetta.


“Tidak apa … boleh saja,” jawab Delmon.


Ahahaha ….


Delmon tidak dapat menahan tawanya.


Ahaha ….


Terbawa suasana, Bendetta juga ikut tertawa.


Setelah itu, suasana menjadi lebih cair, baik Bendetta dan Delmon mulai berani terbuka.


Sesekali mereka tertawa terbahak-bahak.


Sementara itu, pada rumah makan yang berbeda, Sophia masih mengamati Delmon dan Bendetta.


“Kenapa mereka bersenang-senang seperti itu?” tanya Sophia.


Sophia cemburu, pertama kali baginya melihat Bendetta tertawa selepas itu.


Meskipun sedikit kesal, pada hati kecilnya Bendetta juga ikut senang.


Zzzz ….


Tiba-tiba Sophia mendengar suara dengkuran.


Sophia menoleh ke arah suara, terpandang olehnya Clare sedang tertidur pulas dalam pelukan Zeel.


Secara perlahan, Zeel mengelus rambut hitam Clare.


“Tunggu!” seru Bendetta.


“Kenapa? tanya Zeel.


Sophia bertanya balik, “kenapa kalian malah bermesra-mesraan?”


“Sebenarnya ini sudah jam tidur Clare … karena itu aku mengelusnya,” jelas Zeel.


Melihat itu, membuat hati Bendetta panas, ia merasa sendiri.


“Peraturan di kota ini bermesraan di depan umum!” seru Bendetta.


Berdasarkan perasaan pribadinya, Bendetta mencipatakan peraturan baru.


Kenapa dengan wanita ini? Batin Zeel.


Akibat seruan Bendetta, Clare terbangun dari tidurnya.


Kresek, kresek ….


Clare menggosok-gosokan matanya.


“Ada apa?” tanya Clare.


Akibat seruan Bendetta itu pula, suasana rumah makan yang tadinya ramai menjadi hening.


“Suara itu?”


“Rasanya aku pernah mendengarnya di suatu tempat,”


“Jangan-jangan,”


Terdengar oleh Sophia, suara pada sesisi rumah makan.


..."Peraturan di kota ini di larang bermesraan di depan umum!"...


...-Sophia Bluelight-...