Zeel Greenlight

Zeel Greenlight
Bagian 30 : Dansa III



“Jangan lihat mereka … tataplah aku,” pinta Zeel.


Secara perlahan, Clare mengalihkan pandangannya kepada Zeel.


“Kita sudah latihan bukan?” tanya Zeel.


Terlihat oleh Clare, senyuman hangat pada wajah Zeel.


“Kamu ini,” ucap Clare.


Clare membalas Zeel dengan senyuman juga.


Aksi dansa antara Zeel dan Clare terus berlanjut, Zeel memimpin jalannya dansa.


Perlahan rasa gugup Clare semakin hilang, meskipun tidak pandai menari, namun Clare terlihat lebih mengalir di bawah kendali Zeel.


“Siapa wanita itu?”


“Warna rambutnya aneh ya,”


“Tapi imut sekali!”


Terdengar oleh Zeel, pria-pria bangsawan di sekitarnya membahas Clare.


Namun tidak terdengar bagi Clare, kini ia hanya fokus kepada senyuman hangat Zeel, bagi Clare orang orang di sekitar layaknya batu.


“Zeel,” tutur Clare pelan.


“Kenapa?” tanya Zeel.


Clare berkata, “Terima kasih.”


Sementara itu, di antara ramainya keramaian.


Sophia dan Delmon menikmati aksi dansa Zeel dan Clare.


Terpandang oleh Delmon, mata Sophia yang berkaca-kaca, namun bibirnya tersenyum.


Perasaanku yang sekarang ... hanya akan mengganggu kebahagiaan mereka berdua, batin Sophia.


Senyuman Sophia terkesan di paksakan.


Prok, prok, prok ….


Sophia bertepuk tangan sembari menyaksikan aksi Zeel dan Clare berdansa.


“Matamu kenapa putri?” tanya Delmon.


“Eh,” ucap Sophia.


Kresek, kresek ….


Seakan-akan baru sadar, Sophia membersihkan  air matanya.


Kepada Delmon, Sophia tersenyum kecil.


“Aku tidak apa-apa,” tutur Sophia.


“Jangan-jang—” tutur Delmon terputus.


Seorang prajurit istana Bluelight datang menghampiri Sophia.


Pada telinga Sophia, prajurit itu nampak sedang membisikkan sesuatu.


Tap, tap, tap ….


Kemudian prajurit itu pergi entah ke mana.


Untuk sepersekian detik wajah Sophia tampak syok, namun dalam sekejap Sophia kembali tersenyum.


“Ada apa?” tanya Delmon.


Tap, tap, tap ….


Sophia mendekatkan dirinya ke Delmon, lalu ia berbisik pada telinga kanan Delmon.


“Bendetta diculik … pelakunya meminta uang tebusan,” tutur Sophia.


Tap, tap, tap ….


Sophia sedikit menjauhkan dirinya dari Delmon.


Terpandang oleh Delmon senyuman pada wajah Sophia, namun tangan Sophia terlihat gemetar.


Dia mencoba untuk menahan emosinya … aku yakin ia tidak ingin membuat kepanikan seisi pesta, batin Delmon.


“Aku akan pergi, tempatnya ada di mana?” tanya Delmon.


Waktu berlalu, kini Delmon sedang di kelilingi rumah-rumah kumuh.


Kala itu suasana begitu sepi seperti tidak ada


seorangpun ada di sana.


Salju berjatuhan di tengah dinginnya malam, sebagian salju mendarat pada zirah yang Delmon kenakan.


Lampu pada teras-teras rumah, menerangi Delmon sepanjang jalan.


Tap, tap, tap ….


Sambil berjalan pelan, Delmon menatap sekitar.


Siap meluncurkan anak panah kapan saja, Delmon bersenjata lengkap.


Tidak lupa akan cadangan anak panah, Delmon membawa sekantung anak panah di balik punggungnya.


Pada salah satu jendela rumah, Delmon melihat


seseorang baru saja mengintipnya.


Tap ….


Delmon menghentikan langkahnya, kemudian ia memejamkan mata.


Mereka ada … mungkin sekitar puluhan orang, batin Delmon.


Tap, tap, tap ….


Terdengar oleh Delmon, suara langkah kaki dari penjuru arah.


Delmon kembali membuka mata.


Delmon menatap sekitar namun tidak ada seorangpun.


Mereka ada di dalam rumah-rumah … aku sudah terkepung, batin Delmon.


Wuuushhh ….


Badai salju tiba-tiba terjadi, salju berjatuhan


semakin lebat.


Sial … situasi ini sama sekali tidak menguntungkanku, batin Delmon.


Akibat badai salju, area jangkauan pandangan Delmon menjadi terbatas, kini ia hanya bisa menatap sejauh tiga meter ke depan.


Rumah-rumah yang tadinya bisa terlihat jelas oleh Delmon, kini tidak terlihat sama kali.


Tap, tap, tap ….


Terdengar oleh Delmon, langkah kaki mendekatinya dari arah depan.


Dua orang … tidak, hanya satu orang, batin Delmon.


Tap, tap ….


Terpandang oleh Delmon, seseorang pria tua dengan baju lusuh berdiri di hadapannya.


Tampak lemah, pria itu begitu kurus, seakan-akan angin bisa menerbangkan tubuhnya kapan saja.


“Serahkan uangnya!” bentak pria tua.


Dengan tangan gemetar, pria itu menodongkan sebuah sekop ke arah Delmon.


Tidak meyakinkan, sekop itu tampak sedikit berkarat.


Syuuut ….


Delmon menarik anak panah, siap untuk di luncurkan.


Memejamkan salah satu matanya, Delmon membidik pria tua itu.


“Apa yang ingin kamu lakukan!” seru pria tua.


Terpandang oleh Delmon, kaki pria tua itu nampak gemetar.


“Maaf ya kakek tua … sekarang aku sedang tidak membawa uang,” tutur Delmon.


Wuuushh ….


Delmon meluncurkan anak panahnya.


Tidak berkutik, pria tua hanya memejamkan mata


Criiing ….


Tidak mengenai pria tua itu, anak penah Delmon


mengenai sekop pada genggaman pria tua.


Jleb ….


Anak panah yang terpantul, kini menacap pada permukaan salju.


Kaget akan anak panah yang di tujukan kepadanya, pria tua terduduk gemetar.


“Kakek!”


Terdengar oleh Delmon, suara seseorang dari kejauhan.


Tap, tap, tap ….


Terdengar oleh Delmon, langkah kaki dari penjuru arah mendekatinya.


Gawat! batin Delmon.


Keringat dingin mengalir membasahi wajah Delmon.


Sial … tidak ada pilihan lain, tutur Delmon.


Wuuush ....


Wuuush ....


Wuuush ....


Dengan jarak yang begitu singkat, Delmon menembakkan anak panah ke berbagai penjuru arah.


Aaarrrghh ….


Terdengar oleh Delmon, suara jeritan.


Wuuushh ….


Wuuushh ….


Wuuushh ….


Tanpa henti Delmon menembakkan anak panah.


Akibat badai salju yang mengganggu pengelihatan Delmon, ia memanfaatkan indera pendengaran, guna mengetahui posisi dari musuh.


Arrrgghh ….


Dari berbagai penjuru arah, Delmon mendengar suara jerit kesakitan.


Wuuushh ….


Wuuushh ….


Wuuushh ….


Delmon secara beruntun menembakkan anak panahnya, hingga ia tidak mendengar suara apa-apa.


Tidak ada jeritan, hanya hawa dingin berhembus.


Perlahan badai salju mulai mereda, jangakuan pandangan Delmon kembali meluas.


Huuuf ....


Huuuf ....


Huuuf ….


Napas Delmon terengah-engah, menembakan banyak anak panah beruntun begitu menguras energinya.


Terpandang oleh Delmon, sejumlah mayat tergeletak di sekelilingnya.


Baju-baju yang di kenakan mayat-mayat itu nampak lusuh.


Sebagian anak panah Delmon menancap pada dada mayat, sebagian dari anak panah Delmon menancap di bagian kepala.


Apa yang sebenarnya terjadi? batin Delmon.


Banyak dari mayat-mayat itu masih di bawah umur, tanpa senjata yang layak, mereka hanya menggegam kayu maupun batu.


Salju pada permukaan menyatu dengan merahnya darah mayat.


Tap, tap, tap ….


Delmon berjalan menghampiri pria tua di hadapannya, masih hidup, kakek tua itu hanya bisa duduk terdiam menyaksikan aksi Delmon di


hadapannya.


“Bendetta ada di mana?” tanya  Delmon.


Sementara itu pada salah satu bangunan, Bendetta tidak sadarkan diri.


Perlahan kesadaran Bendetta pulih.


Bendetta menatap ke depan namun pandangannya masih buram.


Perlahan padangan Bendetta menjadi jelas, ia menatap sekitar.


Tidak ada seorangpun di sana, sebuah lampu dengan cahaya samar-samar menerangi seisi ruangan.


Berbeda dengan istana Bluelight tempat ia tinggal, ruangan itu tampak tidak terawat dan kumuh.


Sarang laba-laba di mana-mana, perabotan yang berserakan.


Kresek, kresek, kresek ….


Bendetta berusaha untuk bergerak, namun gagal.


Kini Bendetta sedang duduk di kursi, dengan keadaan tangan dan kaki yang terikat.


..."Perasaanku yang sekarang ... hanya akan mengganggu kebahagiaan mereka berdua."...


...-Sophia Bluelight-...