
Hutan Wilayah Netral, Tepian Desa Bosa.
Malam hari.
Saat itu suasana hutan cukup hening, cukup banyak pepohonan hijau di sana, namun jarak antar pohon sedikit berjuhan.
Di antara ruang antar pohon, rerumputan liar nan hijau tumbuh menjadi pijakan siapa saja yang hendak melintas di sana.
Malam itu rerumputan tersebut menjadi pijakan untuk sekumpulan pria,
yaitu Dail dan kedua pengawal serta Bianno yang sedikit kikuk.
Kedua masing-masing menggegam erat sebuah obor sembari berdiri tegap, cahaya lampu obor mereka membantu sinar bulan guna menerangi hutan.
Tidak jauh di hadapan mereka, Dail dan Bianno sedang berdiri saling menghadap, postur tubuh mereka begitu timpang, Bianno hanya setinggi dada Dail.
Di hadapan Bianno, Dail sedang melipat kedua tangan di depan dada.
“Peraturannya sederhana … jika kamu mampu menggores zirahku, kamu akan aku jadikan muridku,” tutur Dail.
“Benarkah?” tanya Bianno dengan mata berbinar-binar.
“Benar,” jawab Dail.
Dail tersenyum kecil.
Jika kamu mampu melakukannya … dengan pedang murahan seperti itu, batin Dail.
“Serang aku kapan saja,” pinta Dail.
Bianno berkata, “baik.”
Sreeet ….
Bianno menarik pedangnya dari balik punggung.
Terpandang oleh Dail, pedang Bianno yang sedikit berkarat.
Pffftt ….
Dail menahan tawa, hampir saja tawanya pecah, tingkah Dail membuat Bianno kebingungan.
“Kenapa tuan Dail?” tanya Bianno sembari sedikit memerengkan kepala.
Dail berucap, “tidak apa.”
“Aku datang,” kata Bianno.
Tap, tap, tap ….
Bianno berlari kencang ke arah Dail.
Slash ….
Bianno menebas secara vertikal, kea rah perut Bianno, begitu tipis tebasan Bianno hampir saja mengenai zirah Dail.
Pasti bohong! batin Dail.
Tap …
Dail mundur selangkah ke belakang.
Slash, slash, slash ….
Bianno menebas ke Arah Dail bertubi-tubi.
“Hebat!” seru Cebalos.
Spontan Dail menatap Cebalos dengan sorotan kesal.
“Maaf!” seru Cebalos.
Sementara itu Dail menyetuh pedang dari balik punggungnya.
Bocah sialan … kenapa ia bisa menggunakan pedang sampah itu dengan cukup baik? batin Dail.
Setetes air keringat mengalir pada pelipis kanan Dail.
Merasa tertekan, Dail memilih untuk menyerang.
"Bersiaplah!" gertaknya.
Slash...
Dail menebas ke arah Bianno secara vertikal.
Cring...
Tidak kalah cepat, Bianno menahan laju pedang Dail dengan pedangnnya yang sudah sedikit rapuh.
Sialan! batin Dail.
Dail mendorong sekuat tenaga tetapi Bianno lebih kuat.
Pedang Dail terangkat keatas, spontan Dail mundur selangkah.
Crack....
Suara retakan di malam hari, Bianno sudah menggores Zirah Dail.
Berhasil! batin Bianno dengan gigi terbuka diwajahnya.
Sementara itu Dail hanya diam ternganga, sulit baginya menerima fakta bahwa zirahnya tergores.
Dail memandang tinggi dirinya sebagai prajurit emas, dan sudah seharusnya prajurit emas jauh lebih kuat dibandingkan prajurit biasa.
Fakta dihadapannya membuat Dail malu sekaligus murka, tetapi kelicikan hati Dail jauh berada di atas itu.
Cring...
Sementara itu kedua pengawal Dail tampak marah, mereka siap menebas kapan saja.
Hentikan! seru Dail.
Prok, prok, prok...
Dail bertepuk tangan.
"Kerja bagus, kamu berhasi melakukannya," puji Dail dengan senyuman hambar serta matanya tertutup.
Spontan kedua pengawal Dail juga ikut bertepuk tangan dengan sedikit keraguan di hati mereka.
Aku berhasil? batin Bianno.
Pada saat yang bersamaan Bianno juga sulit menerima fakta, bahwa dirinya yang seorang rakyat biasa berhasil menggores prajurit tingkat emas kerajaan.
"Aku menerima kamu sebagai muridku," ucap Dail lantang sambil membusungkan data.
Tap, tap, tap...
Dail dan kedua pengawalnya pergi meninggalkan Bianno seorang diri ditengah hamparan rumput hijau yang di selimuti malam.
"Latihannya bagaimana?" tanya Bianno.
"Latihannya nanti saja" terang Dail sedang sembari melambaikan tangannya.
"Apakah anda yakin menjadikan dia murid anda komandan?"
"Dia hanyalah rakyat jelata komandan,"
Bisik kedua pengawal Dail.
"Seorang prajurit emas mampu dan wajib memenuhi janjinya," jelas Dail.
"Tapi bagaimana jika kerajaan tahu?"
Tanya seorang pengawal.
"Tenang saja pengawasaan kerajaan tidak seketat itu hingga ke pelosok desa kecil seperti ini," terang Dail.
"Lalu bagimana tentang murid itu?" tanya seorang prajurit.
"Aku akan memanfaatkannya," ucap Dail.
7 Oktober Tahun 1700.
Kerajaan Rout, Desa Bosa.
Sore hari.
Sore itu Bianno sedang berjalan diantara lahan, kedua sisinya dipenuhi oleh lahan kosong yang terbuka, siap untuk ditanami.
Sebagai pekerja serabutan, Bianno biasanya menawarkan diri kepada pemilik lahan untuk memperkerjakannya.
Sehingga lahan kosong yang Bianno lirik sekarang adalah peluang pekerjaan baginya.
Bagi Bianno sendiri dengan Kejaksaan kondisi keuangannya tidak mungkin cukup untuk membeli lahan.
Gajinya hanya terbatas untuk makan sehari-hari.
Gruduk, gruduk...
Dari belakang Bianno mendengar suara kereta, ia menoleh dan angin kereta tersebut melewati wajahnya.
Bianno mengenali kereta tersebut, kereta kepunyaan gurunya Dail.
"Guru!" seru Bianno sembari berlari mengejar kereta yang jauh lebih cepat darinya.
Kemudian kereta itu perlahan melambat dan berhenti.
Dari balik jendela kereta, Dail mengeluarkan kepalanya.
"Kenapa?" tanya Dail basa-basi, padahal ia tahu apa yang Bianno butuhkan.
"Latihan kapan guru?"
"Nanti, persiapkanlah dirimu,"
Dail masuk kembali dan berjalan.
Kereta itu tampak pergi ke arah luar desa dan terkesan agak buru-buru.
Kemana ya guru, dia terlihat sedang terburu-buru, batin Dail.
Bianno kembali berjalan untuk menemui pemilik lahan, sementara itu Dail dan pengawal sudah berada di luar desa.
"Apakah komandan yakin?"
"Mereka adalah sekumpulan orang yang berbahaya,"
Tanya kedua pengawal, memastikan langkah mereka.
"Tidak apa, kita datang untuk negosiasi, mereka mungkin bodoh tetapi cukup paham akan sesuatu yang menguntungkan mereka," jelas Dail.
Dail dan kedua pengawalnya masuk ke hutan, jarak antar pohon nampak jarang, tetapi semakin kedalam jaraknya semakin padat.
Hingga kereta Dail dan pengawal tidak mampi masuk di sela-sela pepohonan.
"Apakah komandan Yakin mereka ada disekitar sini?" tanya seorang pengawal sembari membukakan semak belukar untuk Dail.
"Tidak salah lagi, mereka suka bersembunyi di kedalaman hutan, terutama kedalaman hutan yang rapat seperti ini," terang Dail.
Beberapa saat kemudian mereka mencium aroma makanan lalu mengikutinya, aroma itu membawa mereka ke tengah-tengah perkemahan bandit.
Sebuah panci besar yang menggantung berisikan makanan hangat, tidak ada api dibawahnya hanya ada arang dan tanah yang sudah berbaur menjadi satu.
"Perkemahan bandit!"
"Dimana mereka?"
ucap kedua pengawal yang tampak bersemangat tetapi juga takut.
"Pelankan langkah kalian, mereka sedang mengamati kita" pinta Dail.
Kresek, kresek....
Dail menoleh ke salah saru tenda yang sedikit bergoyang.
Kedua pengawal Dail gemetar dan hanya diam terpaku sambil menatap sumber suara.
Tap, tap, tap....
ia menghampiri tenda tersebut perlahan lalu membukanya dengan sedikit kasar.
Raut wajah Dail datar ketika mendapati isi tenda tersebut.
..."Kita akan memanfaatkannya,"...
...-Dail-...