Zeel Greenlight

Zeel Greenlight
Bagian 15 : Bendetta Kecil



Pasukan khusus melanjutkan perjalanan menuju desa Cochem.


Selama perjelanan berlanjut, mereka melalui jalanan yang sedkit becek karena curah hujan.


Siang haru berlalu, sore hari tiba.


Pasukan khusus yang berada di bawah pimpinan Zeel sekarang sudah tiba di desa Cochem.


Setibanya di desa, pasukan khusus segera membangun tenda, sesuai kebutuhan mereka membangun empat tenda.


Demi menghindari bahaya serangan musuh, mereka memutuskan untuk memasang tenda di hutan yang berada di tepian desa.


Terlalu beresiko bagi mereka untuk memasang tenda pada tempat yang terbuka.


Zeel juga ikut serta dalam memasang tenda, ia terlatih untuk melakukan ini.


Sembari menancapkan pasak tenda ke tanah Zeel menoleh ke desa Cochem.


Terpandang oleh Zeel suasana pemukiman penduduk yang begitu sepi, tidak ada seorangpun lalu-lalang.


Pasukan khusus menyusun keempat tenda itu membentuk lingkaran, tepat pada tengah lingkaran tenda itu mereka ingin membuat api unggun.


Hari semakin sore, sebagian pasukan khusus mencari kayu sebagai bahan api unggun lalu meletakkannya pada tempat yang sudah di tentukan.


Kini Zeel berdiri di hadapan api unggun yang belum menyala.


“Semuanya … berkumpul!” perintah Zeel.


Kemudian seluruh anggota pasukan khusus itu membentuk lingkaran mengelilingi api unggun.


Zeel berkata, “sekarang aku akan melakukan pembagian tugas."


Zeel membagi pasukan khusus dalam beberapa kelompok kecil, dua orang menyiapkan makan malam, dua orang patroli, sisanya memakamkan jenazah penduduk desa Cochem dengan layak.


“Baiklah … dimulai!” seru Zeel tegas.


Kemudian pasukan khusus itu menyebar sesuai intruksi yang Zeel minta.


Malam hari tiba, kini pasukan khusus sedang berkumpul mengelilingi bara api unggun, terkecuali kelompok patroli.


Beberapa saat kemudian Zeel mendengar suara langkah kaki dari belakangnya, suara langkah kaki itu terdengar cepat.


Spontan Zeel menoleh ke belakang.


Terpandang oleh Zeel dua anggota prajurit khusus yang sebelumnya ia minta utnuk berpatroli.


Huh, huh, huh ….


Kedua anggota pasukan khusus tampak datang dengan napas terengah-engah.


“Kenapa?” tanya Zeel penasaran.


“Bandit …,” ucap salah satu pasukan khusus itu.


Kemudian kedua pasukan khusus yang tengah kembali dari patroli itu bercira kepada Zeel apa yang mereka lihat, mereka mengaku melihat sekumpulan bandit sedang berkemah tidak jauh dari desa.


“Salah satu dari bandit itu adalah … Anthony,” kata salah satu pasukan khusus itu.


Mendengar nama itu, seketika tubuh Bendetta bergetar, keringat dingin mengalir dari tubuhnya.


Bendetta teringat akan masa lalunya.


24 agustus tahun 1680


Desa Freudenberg, wilayah netral


Desa Freudenberg merupakan satu dari banyak desa yang berada di wilayah netral.


Pada desa ini deretan rumah berbahan dasar kayu tertata rapi, setiap rumah memiliki bentuk serta ukuran yang sama.


Desa Freudenberg terkenal akan perkebunan kentangnya, hampir semua halaman rumah penduduk memiliki perkebunan kentang.


Desa ini di pimpin oleh kakek-kakek tua bernama Aldo.


Siang hari itu kepala desa mengumpulan seluruh penduduk desa.


“Semuanya … prajurit Clever meminta kita untuk segera menyerahkan hasil panen,” ucap Aldo.


“Yang benar saja!”


“Sekarang bukan waktunya musim panen!”


“Jangan bercanda!”


Terdengar oleh kepala desa, berbagai ocehan dari para penduduk desa.


Sore hari tiba, dua orang prajurit Clever datang dengan membawa gerobak chobo.


Kedua prajurit Celever itu datang dengan zirah besi serta bersenjatakan pedang besi.


Berbeda dengan kereta chobo, gerobak chobo tidak memiliki kereta melainkan gerobak.


Gerobak chobo umum digunakan untuk mengangkat barang dalam jumlah banyak.


Setibanya di desa Freudenberg, dua orang prajurit Clever itu heran, tidak ada satupun hasil panen yang di siapkan untuk mereka.


Sementara itu penduduk desa Freudenberg tidak berani keluar, mereka bersembunyi di rumah masing-masing.


Sebagian penduduk mengintip lewat


Sadar akan itu, membuat dua orang prajurit Clever tersebut marah.


“Semuanya keluar!” teriak salah satu prajurit Clever itu.


Penduduk desa Freudenberg ketakutan, mau tidak mau mereka harus keluar rumah.


Kemudian seluruh penduduk desa keluar dari kediamannya masing-masing.


Di antara kerumunan itu, kedua prajurit Clever menoleh-noleh ke arah kerumunan nampak sedang mencari sesuatu.


“Kepala desa kalian ada di mana!” bentak salah satu prajurit Clever.


Di antara kerumunan itu terdengar suara, “aku ada di sini.”


Di antara kerumunan itu, tampak seorang kakek tua sedang berjalan.


Kerumunan penduduk membukakan jalan bagi kakek tua itu sembari menatapnya.


“Hasil panen mana?” tanya salah satu prajurit Clever.


Kedua prajurit Clever itu tampak marah.


Lalu kepala desa itu sujud di hadapan kedua prajurit Clever tersebut.


“Mohon maaf tuan … sekarang bukan musim panen,” ucap kepala desa sembari bersujud.


“Kamu pikir kami peduli!” bentak salah satu prajurit Clever.


Kepala desa berkata, “mohon maaf tuan … tunggulah tiga hingga empat bulan lagi, maka hasil panen kami akan melimpah.”


“Itu terlalu lama!” bentak salah satu prajurit Clever.


Kemudian salah satu prajurit Clever itu menginjak kepala kakek tua yang tengah bersujud tersebut.


Prajurit itu menendang bahu kanan kepala desa dengan kencang.


Seketika kakek tua itu terpental kemudian terkapar di tanah.


Arghhh ....


Kakek itu terlihat kesakitan.


Para penduduk desa lainnya hanya terdiam, bukannya tidak ingin membela kepala desa, mereka terdiam dalam ketakutan.


“Aku akan melaporkan ini kepada kaisar!” bentak salah satu prajurit Clever itu.


Usai kejadian itu, kedua prajurit Clever tersebut kembali dengan membawa gerobak kosong.


Malam hari tiba.


Kebanyakan penduduk desa Freudenburg kini sudah pulang ke rumahnya masing-masing.


Suasana jalanan desa begitu sepi, tidak banyak orang lalu lalang, hanya para peternak yang baru pulang dari lahan ternak.


Di antara banyaknya rumah di desa itu, kini salah satu keluarga kecil sedang makan malam bersama.


Keluarga kecil Bendetta, keluarga ini begitu harmonis, terdiri dari sepasang suami istri, serta Bendetta kecil.


Mereka menyantap makan malam bersama, malam itu menjadi malam pertama bagi Bendetta kecil menyuapi dirinya sendiri dengan sendok.


Biasanya Bendetta selalu di suapi oleh ibunya.


“Bukalah mulutmu lebih besar lagi,” kata ibu Bendetta.


Aaaa ….


Kata ibu Bendetta sembari mempraktekkan kepada anaknya.


Kemudian Bendetta mengikuti ibunya, dengan tangan sedikit gemetar Bendetta mengarahkan sendok berisi makanan ke arah mulutnya.


Happp ….


Bendetta menyuapi diri untuk pertama kalinya.


Melihat akan keberhasilan anaknya, ibu dan ayah Bendetta bertepuk tangan kecil.


“Hebat sekali anak ayah,” kata Ayah Bendetta.


Kini mata Bendetta kecil berkaca-kaca.


Hahaha ….


Bendetta kecil tertawa senang.


Kemudian ibu Bendetta mengelus kepala Bendetta kecil dengan lembut.


Hal kecil dan sederhana, tapi momen itu menjadi langkah besar bagi Bendetta kecil.


Arghhhh ….


Tiba-tiba terdengar jeritan di tengah keheningan malam, segera pandangan ayah dan ibu Bendetta tertuju ke arah suara.


Kala itu terlihat oleh Bendetta kecil, wajah ayah dan ibunya yang begitu serius.


..."Tangan ibu terasa hangat."...


...-Bendetta kecil-...