
Berbeda dengan prajurit istana Bluelight, prajurit
militer kota benteng Clever tidak memiliki unit perawat khusus, sehingga mereka butuh bantuan pihak luar.
“Ketua kuil … beliau ada di mana?” tanya Delmon.
Prajurit khusus itu berkata, “Ketua kuil sedang berada di singgasana.”
“Tolong antarkan aku,” pinta Delmon.
“Baiklah kaisar,” ucap prajurit itu.
Kemudian Delmon mengikuti langkah kaki prajurit tersebut dari belakang.
Hingga mereka tiba pada sepasang pintu kayu, entah kenapa sepasang pintu kayu itu tampak rusak.
Seakan-akan pintu itu didobrak paksa dari luar.
“Ketua kuil ada di dalam sana kaisar … aku sampai di sini saja,” ucap prajurit itu.
Delmon, “baiklah … terima kasih.”
Tap, tap, tap ....
Prajurit khusus itu pergi berlari entah ke mana.
Tanpa perlu membuka, Delmon masuk ke dalam pintu itu.
Setibanya di dalam ruangan, ia melihat sosok di penuhi perban sedang duduk pada sebuah kursi besar.
Hanya bagian mata yang nampak, sosok itu memiliki mata berwarna putih yang memancarkan cahaya.
Tidak ada orang lain di sana, hanyak sosok tersebut.
Keadaan ruangan cukup gelap, hanya sinar rembulan menerangi seisi ruangan melalui jendela.
“Selamat datang kaisar,” ucap sosok perban itu.
“Ketua kuil … kenapa anda menculik Clare?” tanya Delmon.
Sosok perban itu berkata, “Kenapa menurutmu?”
“Jangan-jangan kamu adalah dalang di balik peristiwa malam darah?”
Hahahaha ….
Sosok perban itu tertawa lepas.
Dengan segera Delmon menarik panah serta busur yang berada di balik punggungnya.
Kemudian Delmon mengarahkan bidikannya pada kepala sosok perban itu.
“Apa tujuanmu?” tanya Delmon.
Sosok perban itu berucap, “Batu sakral ... sekarang batu sakral itu berada pada Zeel.”
“Kamu sebenarnya siapa?” tanya Delmon.
“Aku adalah dewa … aku hanya ingin mengambil kembali milikku,” ucap sosok itu.
“Bohong … dewa harusnya sudah mati!” bentak Delmon.
Terpandang oleh sosok perban, sesuatu berwarna ungu melekat pada ujung anak panah Delmon.
“Sepertinya kamu memilki racun pada anak panah itu” ucap sosok perban.
Mengingat apa saja yang terjadi ke belakang, baik kepada penduduk dan kepada temannya, Delmon tidak dapat menarahan rasa marahnya.
Wuussshhh ….
Anak panah itu Delmon melesat di udara.
“Sampai berjumpa lagi,” ucap sosok perban itu.
Jleeebb ….
Busur panah Delmon mendarat tepat pada jidat sosok perban itu.
Seketika darah mengalir dari jidat sosok perban tersebut.
Tidak ada reaksi kesakitan dari sosok perban itu, ia tampak tersenyum sembari menatap Delmon.
Seketika sosok perban itu berubah menjadi partikel-partikel kecil berwarna putih.
Kemudian partikel-partikel kecil itu melayang lalu menghilang di udara.
Selepas kejadian itu, Delmon pergi meninggalkan kuil utama.
Kini Delmon berada pada halaman kuil utama, terpandang olehnya sejumlah prajurit khusus tampak aneh.
Mereka tampak memegang bagian kepala mereka masing-masing.
Tap, tap, tap ….
Dengan segera Delmon berlari menghampiri prajurit khusus terdekat dengannya.
Prajurit khusus itu tampak duduk di tanah sembari memegang kepala dengan dua tangan.
“Apa yang terjadi?” tanya Delmon.
Prajurit khusus itu menatap balik Delmon dengan mata yang melotot.
“Apa yang terjadi?” tanya prajurit tersebut.
“Entah apa yang terjadi, pada saat itu seluruh prajurit khusus kehilangan ingatannya,” tutur Delmon menutup ceritanya.
Untuk beberapa saat, suasana ruangan menjadi hening.
Zeel, Delmon, dan Sophia tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing.
“Itu artinya Zeel dan aku sedang diincar?” tanya Sophia.
Delmon berkata, “Sepertinya begitu.”
“Lalu … kenapa sosok perban itu tidak menangkapku saat itu?” tanya Zeel.
Delmon menggeleng-gelengkan kepala.
“Aku tidak tahu … mungkin ia ada alasan khusus,” jawab Delmon.
Delmon menetap Zeel yang sedang duduk di hadapannya.
“Sebenarnya ini misi khusus untuk Zeel,” ujar Delmon.
Zeel bertanya, “misi apa itu Delmon?”
“Zeel … apakah kamu tahu ada pengguna batu sakral selain kamu dan Sophia di dunia ini?” tanya balik Delmon.
Zeel menjawab, “Aku tahu … ada redstone dan whitestone.”
“Syukurlah kamu tahu … penjelasan aku akan lebih cepat,” tutur Delmon.
“Jadi … misi seperti apa itu?” tanya Zeel.
“Zeel … pastikan bahwa redstone dan whitestone tidak jatuh ke tangan sosok perban,” pinta Delmon.
Kemudian Delmon menjelaskan kepada Zeel keberadaan kedua batu sakral itu.
Untuk beberapa saat Zeel terdiam.
“Baiklah … aku akan mengambil misi ini,” ucap Zeel.
Sophia menatap Delmon.
“Bagaimana denganku kaisar Clever?” tanya Sophia.
Delmon menjawab, “aku pikir selama tuan putri berada di bawah pengawasan istana serta tidak keluar tanpa alasan yang penting … akan baik-baik saja.”
Huuuf ....
Sophia menghembuskan napas.
“Baiklah,” kata Sophia.
Selepas itu, rapat tertutup antara Zeel, Delmon serta Sophia usai.
Sophia segera keluar meninggalkan ruangan rapat, sementara itu Delmon dan Zeel masih bertahan di dalam ruangan rapat.
“Zeel … aku ingin memberikan kamu sesuatu,” ujar Delmon.
Zeel bertanya, “apa itu?”
Kemudian Delmon meletakkan sebuah kotak kayu pada meja, tepat di hadapan Zeel.
“Bukalah,” ucap Delmon.
Lalu secara perlahan Zeel membuka kotak itu.
Terpandang oleh Zeel sebuah belati kecil berwarna cokelat tua.
“Ini apa?” tanya Zeel.
Delmon berkata, “Ini hadiah dariku … belati kayu.”
Zeel memandang lebih detail belati itu, terlihat oleh Zeel sejumlah pola berbentuk belah ketupat pada bagian pegangan belati.
“Kayu?” tanya Zeel.
“Yup … kayu iron tree,” jawab Delmon.
Mendengar itu Zeel tampak kaget.
Zeel bertanya, “iron tree … bukankah ini kayu mahal?”
“Jangan dipikirkan … anggap saja ini hadiah misimu.”
Zeel mengambil belati kayu itu dari kotak, lalu ia menarik belati itu dari sarungnya.
Belati itu terbuat dari iron tree seutuhnya, bahkan hingga bagian sarung.
Terpandang oleh Zeel belati kayu itu tampak begitu padat dan tajam.
Kemudian Zeel kembali memasukan belati kayu itu ke sarungnya.
“Terima kasih Delmon,” ucap Zeel.
Usai memberikan hadiah pada Zeel, Delmon meninggalkan ruangan rapat.
Setibanya di pintu ruangan rapat, langkah Delmon terhenti.
Delmon melihat seorang pelayan wanita mengenakan kacamata bulat.
Dengan rambut sebahu berwarna cokelat, wanita itu terlihat cantik di mata Delmon
Pelayan wanita itu adalah Bendetta.
Wajah wanita itu terasa tidak asing bagi Delmon.
Kini terjadi kontak mata antara mereka.
Terpandang oleh Bendetta sosok seorang pria dengan zirah besi.
Dengan rambut pendek belah tengah berwarna cokelat, pria itu terlihat tampan di mata Bendetta.
“Jangan-jangan … kamu Bendetta?” tanya Delmon.
Bendetta nampak kaget.
“Delmon?” tanya balik Bendetta.
Seketika Bendetta teringat akan masa kecilnya.
15 april tahun 1685, gereja Freudenberg, desa Freudenberg, wilayah netral.
Kala itu matahari musim semi sedang terbenam, sejumlah anak tampak sedang bermain pada halaman gereja.
Mereka bermain di bawah pengawasan pengasuh gereja Freudenberg.
Gereja itu menampung seluruh anak yatim piatu maupun buangan, salah satu dari anak-anak itu adalah Bendetta kecil.
Berbeda dengan anak-anak lainnya yang tampak
berlari-lari pada halaman gereja, Bendetta kecil memisahkan diri dari anak-anak lainnya.
..."Zeel akan meghadapi banyak hal ke depan, aku harap belati ini dapat berguna baginya."...
...-Delmon-...