
Gyuuutt ….
Delmon memeluk Bendetta erat.
Tidak ingin di peluk, Bendetta meletakkan tangan di depan dada, seolah-olah Bendetta menolak pelukan dari Delmon.
Hiks, hiks, hiks ….
Dalam pelukan Delmon, Bendetta masih menangis.
“Kenapa?” tanya Bendetta.
Delmon tidak bergeming.
Gedebug, gedebug, gedebug ….
Secara beruntun, Bendetta memukul dada Delmon pelan.
“Kalian semua prajurit sama saja … tanpa berpikir
panjang, selalu berpikir pendek,” ucap Bendetta.
Hiks, hiks, hiks ….
Terdengar oleh Delmon, isak tangis Bendetta.
Bendetta berucap, “padahal ia hanya ingin hidup layak.”
Delmon tidak tahu harus bereaksi seperti apa, bagi Delmon ia sudah melakukan sesuatu yang benar.
Namun bagi Bendetta, Delmon melakukan kesalahan.
Wuushhh ….
Angin dingin berhembus melalui pintu yang terbuka.
Dalam pelukan Delmon, tubuh Bendetta perlahan melemas.
27 september 1700.
Kamar Clare, istana Bluelight, kota benteng Haven.
Siang hari.
Saat itu mentari sore menerangi seisi kamar Clare melalui jendela.
Dengan pakaian jubah hitamnya, Clare sedang duduk pada sebuah kursi.
Sinar mentari terlihat begitu hangat, namun kehangatan mentari tidak di rasakan oleh Clare.
Hawa dingin lebih mendominasi seisi ruangan.
Hachim ….
Clare tiba-tiba bersin, sekarang hidungnya sedikit memerah.
Dingin sekali, padahal aku sudah cukup lama berada di sini … sepertinya aku masih belum terbiasa, batin Clare.
Kesek, kesek, kresek ….
Clare menggosok-gosong hidungnya.
Hidungku terasa gatal, batin Clare.
Suut, suut, suut ….
Pada permukaan meja di hadapannya, Clare tampak sedang menjahit sesuatu.
Tangan kiri Clare memegang boneka, sementara tangan kirinya memegang jarum.
Suut, suut, suut ….
Secara perlahan Clare menusuk boneka itu dengan jarumnya, bersama benang yang terikat pada jarum.
Meja Clare nampak sedikit berserakan, gulungan-gulungan benang bertebaran dengan berbagai macam warna.
Tidak jauh dari benang-benang itu, Shiro sedang
terlelap di atas meja.
Zzzzz ….
Terdengar oleh Clare, suara dengkuran Shiro.
Sadar Shiro sedang terlelap, Clare memelankan temponya dalam menjahit, agar Shiro tidak terbangun akibat suara yang di hasilkannya.
Tap, tap, tap ….
Sementara itu, pada saat yang bersamaan Zeel sedang berjalan pada lorong, mendekati kamar Clare.
Tap ….
Langkah Zeel terhenti, tepat di depan pintu kamar Clare.
Seperti biasa, Clare cukup sering lupa mengunci pintu kamarnya.
Tok, tok, tok ….
Terdengar oleh Clare, ketukan dari arah pintu
kamarnya.
Suut ….
Seketika Clare berhenti menjahit.
Gawat … aku lupa menutup pintu, batin Clare.
Secara perlahan, Clare memalingkan pandangannya ke arah pintu.
Layaknya robot, gerakan Clare begitu kaku.
Dag, dig, dug ….
Tempo detak jantung Clare sedikit meningkat.
Jika Sophia melihat ini … maka rencanaku, batin Clare.
Huuuf ….
Clare menghembuskan napas lega, ia melihat Zeel sedang berdiri pada sisi luar pintu.
“Apakah aku mengganggu?” tanya Zeel.
Clare berucap, “tidak begitu sibuk … masuklah.”
Kreeek ….
Dari sisi luar, Zeel mendorong pintu kamar Clare.
Tap, tap, tap ….
Zeel melangkahkan kaki ke dalam kamar Clare.
Tup ….
Dari sisi dalam kamar Clare, Zeel menutup pintu.
Suut, suut, suut ….
Clare kembali melanjutkan jahitannya.
“Ada apa?” tanya Clare.
Tap, tap, tap ….
Zeel berjalan, kemudian ia duduk pada tepian kasur Clare, membelakangi jendela.
Suut, suut, suut ….
Terdengar oleh Zeel, suara Clare menjahit.
“Clare sedang menjahit boneka ya?” tanya Zeel.
Clare menjawab, “begitulah.”
“Kenapa kamu membuat bunga?” tanya Zeel.
Clare bertanya, “Kita akan pergi dari sini kan?”
“Iya … dalam waktu dekat,” tutur Zeel.
Suasana menjadi hening.
Suuut, suuut, suut ….
Suara jahitan Clare menggema seisi kamar.
“Aku terpikir untuk memberikan Sophia semacam hadiah,” tutur Clare.
“Hadiah?” tanya Zeel.
“Iya … boneka ini,” ucap Clare.
Terpintas dalam benak Zeel,momen ketika ia bersama Clare dan Sophia berada di toko boneka.
Pada momen itu, Sophia tampak seperti kelaparan di hadapan boneka-boneka, seperti beruang melihat ikan.
Zeel berucap, “kalau tidak salah … Sophia sangat
menyukai boneka.”
“begitulah, karena itu aku membuatkannya boneka,” kata Clare.
Suasana kembali senyap.
Suuut, suuut, suuut ….
Hanya suara jahitan bergema pada seisi ruangan.
“Clare … bisa kamu ke sini sebentar?” pinta Zeel.
Clare berpaling menatap Zeel.
“Kenapa?” tanya Clare.
Tup, tup, tup ….
Terpandang oleh Clare, Zeel sedang memukul pelan tepian kasur.
Kontak mata terjadi di antara mereka, wajah Zeel
begitu datar.
Bisa-bisanya dia meminta dengan raut wajah seperti itu, batin Clare.
Dalam sekejap pipi Clare memerah, ia menatap sinis Zeel.
“Sekarang Shiro ada di sini,” tutur Clare.
Zeel berucap, “ tidak apa-apa.”
Huuuf ….
Clare menghembuskan napas berat.
Clare kembali menghadap meja.
Kresek, kresek, kresek ….
Clare memasukan berbagai perkakas menjahit ke dalam suatu wadah, termasuk boneka.
Tup ….
Clare menutup wadah perkakas menjahit dengan rapat.
Sreeet ….
Kemudian Clare bangkit dari kursi.
Tap, tap, tap ….
Clare berjalan mendekati Zeel, lalu ia duduk pada sisi kanan Zeel.
Sinar matahari sore menyinari punggung mereka berdua.
Tanpa saling menatap, mereka berbicara.
Dag, dig, dug ….
Tempo detak jantung Clare meningkat.
Hari ini Zeel cukup berani, batin Clare.
Clare curi pandang kepada Zeel, terpandang olehnya wajah Zeel yang memandang lurus ke depan.
Apakah ia ingin menciumku? batin Clare.
Dag, dig, dug ….
Tempo detak jantung Clare semakin meningkat.
Huuuf ….
Clare menghembuskan napas berat.
Clare mendekatkan telapak tangan kanannya pada mulut.
Huuuf ….
Di hadapan telapak tangan, Clare menghembuskan napasnya.
Syukurlah …. Tidak ada bau aneh, batin Clare.
“Clare,” tutur Zeel pelan.
Clare memalingkan wajahnya ke arah Zeel, begitu kaku layaknya robot.
“Ke ke kenapa?” tanya Clare.
Huuuf ….
Zeel menghembuskan napas berat.
“Sebenarnya aku ingin menyampaikan sesuatu yang penting,” tutur Zeel.
Clare yang tadinya seperti kerasukan robot, kini kembali menjadi normal.
“Ada apa?” tanya Clare.
“Sebenarnya … aku sudah di berikan misi rahasia,” tutur Zeel.
Clare bertanya, “misi rahasia?”
“Iya … kaisar Clever memintaku,” jawab Zeel.
Clare bertanya, “misi seperti apa itu?”
“Mencari seseorang,” jawab Zeel.
Huuuf ….
Clare menghembuskan napas berat.
“Misi ini mungkin akan berat dan memakan waktu lama,” ucap Zeel.
Zeel memandang langit-langit, memandang lampu yang tidak menyala.
“Aku tidak tahu bahaya macam apa yang akan aku temui di depan sana,” kata Zeel.
Clare yang sedari tadi menatap Zeel, sudah menduga arah pembicaraan ini akan ke mana.
“Karena itu … aku meminta Clare untuk tinggal,” pinta Zeel.
Zeel menatap Clare, kontak mata tidak terjadi di
antara mereka, Clare menundukkan kepala, memandang lantai.
“Ada apa?” tanya Zeel.
“Tidak apa,” jawab Clare.
Seeet ….
Zeel bangkit dari duduknya.
“Lusa … kita akan meninggalkan kota ini,” pinta Zeel.
“Iya,” jawab Clare pelan.
Tap, tap, tap ….
Zeel melangkahkan kaki beberapa langkah, maju ke depan.
“Syukurlah … kamu dapat mengerti,” tutur Zeel.
...“Kalian semua prajurit sama saja … tanpa berpikir...
...panjang, selalu berpikir pendek,"...
...-Bendetta-...