Zeel Greenlight

Zeel Greenlight
Bagian 5 : Hutan Tidur III



Selepas itu Zeel masuk ke dalam hutan misterius bersama gerobak yang ia bawa.


Sementara itu Leon dan Luis mengikuti dari belakang, suasana hutan cukup hening.


Tidak ada orang maupun hewan mereka jumpai.


Tumbuh-tumbuhan di dalam hutan misterius itu tampak tidak begitu subur.


Zeel menoleh ke sekitar sembari terus berjalan, ia melihat Pohon-pohon besar tumbuh di hutan itu.


Dedaunan pohon-pohon itu tampak menghambat sinar matahari masuk, sehingga keadaan hutan sedikit gelap.


Krak, krak, krak ....


Sesekali Zeel menginjak ranting pohon yang berserakan di tanah.


Sinar matahari tampak berusaha menembus permukaan hutan melalui selah dedaunan, namun tidak begitu berhasil.


Setelah terus berjalan tibalah Zeel di dekat kereta chobo yang sebelumnya ia kendarai.


Tampak di hadapan Zeel seekor chobo yang tergeletak tidak sadarkan diri.


Tidak salah lagi, ini adalah chobo yang menarik kereta Zeel.


Melihat chobo itu tak sadarkan diri Zeel dibantu Leon dan Luis mengangkat chobo itu ke dalam gerobak.


Beruntung gerobak yang mereka bawa cukup besar sehingga cukup untuk menampung chobo tersebut.


Selepas itu Zeel mengambil sejumlah buah sunetta dari dalam kereta kemudian menaruhnya ke dalam gerobak.


“Indah sekali,” kata Luis sembari menatap mata Zeel.


Zeel bertanya, “apanya?”


Pandangan Luis tertuju pada mata Zeel.


Terlihat jelas oleh Luis mata Zeel yang berwarna hijau serta memancarkan cahaya.


Keadaan hutan yang sedikit gelap membuat mata Zeel terlihat lebih terang dari biasanya.


“Apakah kalian menamai hutan ini?” tanya Zeel.


Leon berkata, “iya … kata ayah nama hutan ini adalah hutan tidur.”


Selepas itu mereka kembali ke desa sembari membawa chobo serta sejumlah buah sunetta di dalam gerobak.


Di perjalanan keluar hutan tidur Zeel berpapasan dengan bunga aneh, Zeel tidak pernah melihat bunga itu sebelumnya.


Zeel mencoba bertanya pada Leon dan Luis, namun mereka tidak tahu apa-apa mengenai bunga tersebut.


Setibanya di desa suasana hening terasa.


Tidak ada seorangpun beraktivitas, desa ini terlihat seperti desa hantu.


Lalu Zeel, Leon serta Luis melanjutkan perjalanan menuju rumah tempat Clare dan Emily berada, yaitu rumah keluarga ketiga anak itu.


Setibanya di halaman rumah Zeel dibantu Leon dan Luis mengeluarkan chobo dari dalam gerobak.


Beberapa saat kemudian Emily berlari menghampiri mereka.


"Emily ... kakak Clare ada di mana?" tanya Zeel.


Emily menjawab, " Kakak Clare masih berbaring kak."


“Kalian masih ada air?” tanya Zeel.


Emily menjawab dengan semangat, “akan aku ambilkan!”


Kemudian Emily sembari berlari kecil masuk ke dalam rumah.


Beberapa saat kemudian terlihat oleh Zeel Emily keluar rumah dengan membawa sebuah ember kayu lalu pergi entah kemana.


“Emily pergi ke mana?” tanya Zeel sembari menatap Emily yang sudah pergi.


Leon berkata, “sumur … mengambil air adalah tugas Emily dalam keluarga kami.”


“Entah kenapa ia senang melakukannya.” Kata Luis.


“Apa kalian punya mangkok?” tanya Zeel pada Leon dan Luis.


"Untuk apa kakak Zeel? tanya Leon.


Leon melihat Zeel, pandangan Zeel tertuju pada sejumlah buah sunetta yang berada di dalam gerobak.


“Keluarga kami jarang menggunakan mangkok,” kata Luis.


Leon berkata, “kalau tidak salah … aku pernah melihat ibu mengambil mangkok dari lemari dapur.”


“Kalau begitu kami akan mencarinya … kakak Zeel tunggu di sini saja,” ucap Luis.


“Baiklah,” balas Zeel singkat.


Lalu Leon dan Luis masuk ke dalam rumah untuk mencari mangkok yang berada di dapur rumah mereka.


Tidak lama kemudian Leon menghampiri Zeel dengan membawa sebuah mangkok diikuti


Luis di belakangnya.


“Kakak Zeel … kami menemukannya!” seru Leon.


Kemudian Leon menyodorkan sebuah mangkok kayu pada Zeel, lalu Zeel menerima mangkok kayu yang disodorkan Leon padanya.


Zeel berkata, “terima kasih.”


Beberapa Saat kemudian terlihat oleh Zeel Leon dan Luis dari kejauhan Emily menghampiri mereka dengan membawa ember kayu yang di penuhi air.


Entah kenapa Emily tiba-tiba berhenti berjalan.


Lalu Emily melepas ember yang ia bawa secara perlahan ke atas tanah.


Leon dan Luis yang khawatir berlari menghampiri Emily diikuti Zeel yang berjalan menghampiri Emily.


“Kenapa?” tanya Leon.


Luis menunjuk lutut Emily lalu berkata, “lututnya,”


Terlihat oleh Leon dan Luis darah mengalir dari lutut kaki kiri Emily, darah itu mengalir dari sayatan kecil pada lutut kaki kiri Emily.


Hiks, hiks, hiks ....


Emily menangis sembari menggosok-gosokan matanya.


Melihat luka pada adiknya Leon dan Luis tidak


tahu harus berbuat apa.


“Bawa dia ke rumah … aku akan mencari obat,” kata Zeel.


“Baiklah … airnya?” tanya Leon.


Zeel bekata, “Selama aku pergi … bersihkan lukanya dengan air.”


Selepas itu Zeel pergi entah kemana.


Kemudian Leon mengangkat tubuh adiknya Emily menuju ke rumah diikuti oleh Luis yang membawa ember kayu berisi air.


Setibanya di rumah Leon dan Luis melihat Clare yang sedang tidur di kursi panjang yang berada di ruang tamu.


Clare yang mendengar suara langkah kaki terbangun dari tidurnya.


Lalu Clare melihat Leon yang sedang


mengangkat tubuh Emily.


Clare yang melihat itu kemudian bangkit dari tidurnya lalu menghampiri Emily.


“Apa yang terjadi?” tanya Clare khawatir.


Leon dengan ekspresi sedih menjawab, “lutut Emily terluka.”


“Baringkan dia ke kursi,” balas Clare.


Leon berkata, “baiklah.”


“Zeel ada di mana?” tanya Clare.


Luis menjawab, “kakak Zeel sedang mencari obat.”


“Apa Zeel mengatakan sesuatu?” tanya Clare.


Leon menjawab, “kakak Zeel menyuruh untuk membersihkan lukanya dengan air.”


“Biar aku yang melakukannya, ada kain?” tanya Clare.


“Ada,” kata Leon.


Lalu Leon berlari menaiki tangga menuju lantai dua.


Beberapa saat kemudian Leon kembali dengan


membawa baju, Leon kemudian menyerahkan baju tersebut kepada Clare.


Clare menerima baju tersebut lalu berkata, “tolong ambilkan gelas.”


“Tunggu sebentar,” kata Leon.


Lalu leon berlari pergi ke dapur rumah tersebut.


Beberapa saat kemudian Leon kembali dengan


membawa sebuah gelas kosong lalu menyerahkan gelas kosong tersebut kepada Clare.


“Terima kasih,” kata Clare.


Kemudian Clare mengambil air di bawa Luis dengan gelas kosong lalu mengguyuri baju yang Leon berikan.


Selepas itu Clare meremas baju tersebut, lalu secara perlahan menggosokan baju tersebut dengan lembut pada luka Emily.


“Apakah tidak sakit?” tanya Clare.


Emily menjawab, “tidak sakit.”


“Ini untuk apa kak?” tanya Luis.


“Ini pertolongan pertama agar luka Emily tidak menjadi lebih parah,” kata Clare.


Leon bertanya, “dari mana kakak mempelajari ini?”


“Zeel mengajariku … aku hanya tahu sebatas ini,” ucap Clare lalu tersenyum kecil.


Beberapa saat kemudian Zeel kembali dengan membawa beberapa lembar daun di tangannya.


Lembar daun-daun itu tampak memilki warna yang berbeda-beda.


Selepas itu Zeel meremas daun-daun yang ada di tangannya hingga cairan keluar dari lembaran daun tersebut.


Lalu Zeel menggosokan cairan yang sudah ia peras pada tepian luka Emily.


“Apakah kakak Zeel seorang peramu?” tanya Leon.


Zeel menjawab, “tidak ... tapi aku mempelajari ini.”


..."Aku harap tidak ada racun pada luka Emily."...


...-Zeel Greenlight-...