
Sophia menatap Zeel, lalu ia tersenyum.
“Zeel … sepertinya kamu berhasil melaksanakan misi yang aku berikan,” kata Sophia.
Zeel berkata, “tidak … belum selesai.”
Sophia menatap sekumpulan bandit itu, kemudian ia kembali menatap Zeel.
“Lalu mereka ini?” tanya Sophia.
Zeel berkata, “sebenarnya ketua bandit-bandit ini belum tertangkap.”
“Apa ia melarikan diri?” tanya Sophia.
“Sophia … tolong tutup gerbang kota untuk beberapa saat, nanti akan aku jelaskan situasinya padamu,” pinta Zeel.
Sophia melihat keseriusan dari tatapan Zeel.
Dengan segera Sophia memerintahkan salah satu prajuritnya untuk pergi ke gerbang utama kota, agar gerbang utama segera di tutup.
Lalu Sophia memerintah sejumlah prajuritnya, untuk mengantarkan bandit-bandit itu ke penjara bawah tanah istana.
Kini hanya Zeel dan Sophia berada pada ruangan singgasana.
“Zeel … ikuti aku,” kata Sophia.
Kemudian Sophia mengajak Zeel untuk masuk ke ruangan kerjanya.
Setelah masuk, Zeel melihat pelayan wanita tampak sedang membersihkan ruang kerja Sophia.
Lalu Zeel dan Sophia duduk berhadap-hadapan.
“Pelayan … tolong siapkan dua teh hangat,” kata Sophia.
Selepas itu, pelayan tersebut berhenti melanjutkan tugas bersih-bersih kemudian pergi menyiapkan teh hangat.
“Zeel … kenapa kamu meminta untuk segera menutup gerbang utama kota?” tanya Sophia.
Kini terjadi kontak mata antara Zeel dan Sophia, tatapan mereka serius.
“Kata para bandit itu … ketua mereka sedang ada di wilayah prostitusi kota ini,” kata Zeel.
Sophia bertanya, “lalu?”
“Karena itu aku meminta untuk menutup gerbang kota untuk sementara,” tutur Zeel.
Sophia berucap, “sepertinya kamu cukup mempercayai omongan bandit-bandit itu ... bagaimana jika mereka berbohong?”
“Tidak akan … pada saat aku mengajukan pertanyaan tentang keberadaan ketua mereka, nyawa mereka sedang berada di tanganku,” kata Zeel tampak yakin.
“Lalu … kamu tahu siapa ketua mereka?” tanya Sophia.
“Anthony … mantan kaisar kota benteng Clever,” ujar Zeel.
Tok, tok, tok ….
Terdengar suara ketukan dari arah pintu.
“Masuklah,” kata Sophia.
Tampak seorang pelayan wanita sedang membawa nampan berisikan dua gelas.
Lalu pelayan itu meletakan kedua gelas yang ia bawa pada meja yang berada di hadapan Zeel dan Sophia.
“Terima kasih,” kata Sophia.
Kemudian pelayan itu pergi lalu menutup pintu dari luar.
Terpandang di hadapan Zeel dua sebuah gelas berisikan teh hangat di hadapannya.
Teh itu berwarna hijau muda, pada permukaan gelas asap keluar lalu menghilang.
Kemudian Sophia mengambil salah satu gelas itu.
Slurp ….
Sophia meminum teh hangat.
Huuuh ….
Sophia menghembuskan napasnya.
“Lalu?” kata Sophia sembari menatap Zeel.
Zeel berkata, “Anthony adalah buronan kami … jadi aku merasa bertanggung jawab.”
Tok, tok, tok ….
Terdengar ketokan dari sisi luar pintu.
“Permisi!”
Terdengar suara seseorang dari balik pintu.
Sophia tersenyum kecil.
“Masuklah,” kata Sophia.
Kreeek ….
Pintu terbuka secara perlahan.
Terpandang oleh Zeel sosok Clare sedang menginitip melalui pintu.
Clare terlihat begitu menggemaskan, melalui posisi Zeel berdiri, ia hanya bisa melihat bagian atas kepala hingga mata Clare, sisanya bersembunyi di balik pintu.
Kontak mata terjadi antara Zeel dan Clare.
Kini mata Clare berbinar-binar, dengan segera ia duduk di samping Zeel lalu ia memeluk Zeel.
“Zeel!” seru Clare sembari memeluk Zeel.
Lalu Zeel mengelus rambut Clare dengan lembut.
Kemudian Clare melepaskan pelukannya lalu ia duduk menghadap Zeel.
Ekspresi senang Clare berubah menjadi ekspresi cemas.
Zeel berucap, “aku baik-baik saja.”
“Syukurlah,” jawab Clare tampak senang.
“Apakah kalian sudah bermesraanya?” rayu Sophia.
Beberapa saat berlalu, kini Clare sedang berbaring pada pangkuan Zeel.
“Sebenarnya ... kami pihak istana tidak bisa betindak leluasa di wilayah prostitusi, hal ini karena suatu perjanjian,” kata Sophia.
Untuk beberapa saat Zeel terdiam.
Sementara itu Clare terdiam dalam kebingungan, tidak ingin mengganggu, Clare memutuskan untuk mendengarkan saja.
“Apakah kamu punya ide?” tanya Sophia.
“Aku akan menyelinap ke sana … lagian aku bukan bagian dari istana Bluelight,” ujar Zeel.
“Benar juga … lalu bagaimana caramu untuk masuk ke sana?” tanya Sophia.
“Aku akan menyelinap sebagai pekerja di sana,” tutur Zeel.
“Sebagai pekerja … jangan-jangan maksudmu?” tanya Sophia.
Zeel berkata, “Seperti yang ada di pikiranmu … aku akan menyamar sebagai perempuan.”
“Perempuan?” tanya Clare.
Terpandang oleh Zeel, Clare sedang menatapnya kebingungan.
“Clare … sebenarnya aku masih dalam misi,” jelas Zeel.
Clare bangkit dari pangkuan Zeel.
Clare tampak kaget, “belum selesai?”
“Belum … sedikit lagi,” jawab Zeel.
Clare bertanya, “Zeel akan pergi lagi?”
Zeel mengelus rambut Clare lembut.
“Sedikit lagi … aku akan segera kembali,” ucap Zeel lalu tersenyum kecil.
Kemudian Clare kembali berbaring manja pada pangkuan Zeel.
Lalu Zeel dan Sophia kembali melanjutkan
perancanaan terkait penangkapan Anthony.
Sophia mengatakan bahwa ia memiliki mata-mata di wilayah prostitusi, sehingga memungkinkan akses bagi Zeel menyelinap ke sana.
Sembari Zeel dan Sophia membahas perencanaan, Clare tampak tidak peduli, ia sedang menikmati waktunya di pangkuan Zeel.
Selepas itu Sophia mengajak Zeel ke kamarnya guna merias Zeel, sementara itu Clare kembali ke kamar, ia tidak ingin mengganggu Zeel.
Kamar Sophia, istana Bluelight, kota benteng Haven.
Kini Zeel dengan gaun pinjaman Sophia sedang duduk di meja rias milik Sophia.
Zeel memandang ke cermin meja rias, ia melihat
bayangan dirinya sedang mengenakan gaun, namun wajahnya masih terlihat seperti seorang pria.
"Sophia ... bukankah ini gaun mahal?" tanya Zeel sembari menatap bayangan dirinya pada cermin.
Sophia menjawab, "memang aku tuan putri ... namun tidak semua kepunyaanku itu barang mahal."
Lalu melalui cermin yang berada di hadapannya, Zeel melihat sosok Sophia sedang berdiri di belakang.
Sophia nampak tersenyum mengerikan sembari memegang rambut palsu.
Beberapa saat berlalu, kini Zeel mengenakan rambut palsu terurai panjang.
“Cantik sekali!” seru Sophia.
Melalu cermin rias, Sophia melihat Zeel dengan gaun merah serta rambut palsu.
Zeel terlihat benar-benar seperti perempuan, wajahnya yang tampan membuat Zeel terlihat cantik.
Melihat dirinya yang tampak cantik, Zeel merasa aneh lalu memalingkan pandangannya dari cermin.
Kemudian Sophia memberikan sedikit masukan kepada Zeel.
“Zeel … selama berada di sana, palsukan namamu serta hindari berbicara,” ucap Sophia.
“Baiklah,” jawab Zeel.
Siang hari, wilayah prostitusi, kota benteng Haven.
Wilayah prostitusi merupakan wilayah khusus kota benteng Haven, akibat perjanjian pada masa lalu wilayah ini mendapatkan hak khusus.
Di kelilingi pagar berisikan kaca tajam pada ujungnya, wilayah ini akan menyulitkan siapapun yang akan masuk maupun keluar melalui pagar.
Satu-satunya akses hanyalah sebuah gerbang kayu, pada gerbang itu tedapat dua orang penjaga dengan postur tubuh tinggi serta berotot.
Kedua penjaga gerbang tersebut memiliki wajah yang sangar, tanpa zirah besi mereka tampak mengenakan baju tebal seperti penduduk
kota pada umumnya.
Kini Zeel dengan penyamarannya sedang berdiri di antara kedua penjaga gerbang itu.
Kemudian kedua penjaga gerbang itu sedikit membungkuk lalu menatap Zeel dengan wajah sangar.
Gluk ….
Zeel menelan liur.
Mungkin … aku ketahuan, batin Zeel.
..."Zeel cantik sekali!"...
...-Sophia Bluelight-...