Zeel Greenlight

Zeel Greenlight
Bagian 28 : Dansa



26 september 1700, Aula istana, istana Bluelight.


Malam hari.


Di dalam aula istana, tampak meja-meja bulat tertata rapi, pada masing-masing meja sejumlah makanan siap untuk di lahap.


Kala itu ruangan aula istana di penuhi oleh orang-orang berpakaian rapi, para pria tampak mengenakan mantel, sementara para wanita nampak mengenakan gaun.


Pakaian-pakaian yang mereka kenakan tampak memiliki kualitas yang tinggi, mereka berasal dari kalangan bangsawan.


Sebagian dari mereka mereka mengelilingi meja bulat, sebagian dari mereka membuat lingkaran sendiri.


“Itu tuan putri kan?”


“Manis sekali!”


“Cantik sekali ya!”


Suara pria-pria bangsawan, menggema pada seisi aula istana.


Kala itu, putri Sophia berdiri di tengah keramaian


aula istana.


Mengenakan gaun berwarna biru, Sophia tampak begitu tenang layaknya laut.


Putri Sophia menjadi sorotan para bangsawan yang ada di sana.


“Putri Sophia!”


“Gaunnya begitu indah!”


“Andai aku secantik dia!”


Suara wanita-wanita bangsawan tidak ingin kalah.


Tidak hanya disukai pria-pria bangsawan, Sophia juga di sukai oleh wanita-wanita bangsawan.


“Pria di sebelahnya itu siapa?”


“Jangan-jangan!”


“Zirah itu!”


Seketika suasana keramaian menjadi canggung, ketika mereka menyadari seseorang pria sedang berdiri di sebelah putri Sophia.


Mengenakan zirah khas prajurit Clever, pria itu menebarkan senyuman ke penjuru aula, ia adalah Delmon.


“Kenapa seorang prajurit Clever ada di sini?”


“Apa yang terjadi?”


“Jangan jangan dia mengancam tuan putri?”


Terpancar aura ketakutan menyebar begitu cepat pada seisi aula.


Sebagian dari kaum bangsawan sedikit menjauhkan langkah.


Ehem ….


Batuk Sophia pelan.


“Semuanya tolong tenang!” seru Bendetta.


“Tuan putri … pria itu siapa?”


Terdengar oleh Sophia, pertanyaan dari keramaian.


“Tolong perkenalkan dirimu kaisar,” pinta Sophia.


Delmon berucap, “namaku adalah Delmon … kaisar Clever.”


Suasana ketakutan semakin menjadi-jadi.


“Kaisar bukanlah orang yang jahat … ia datang ke sini untuk perdamaian!” seru Sophia.


“Kalau tuan putri berbicara seperti itu,”


Terdengar oleh Delmon, suara dari keramaian


“Bersulang!”


Terdengar suara dari keramaian.


Seketika suasana ketakutan sirna, kini berganti dengan kegembiraan.


Wanita-wanita bangsawan yang tadinya takut, kini mengerumuni Delmon.


“Apakah kamu benar-benar seorang kaisar?”


“Apakah kamu punya kekasih?”


“Pendapatanmu berapa?”


Layaknya peluru yang di tembakkan bertubi-tubi, Delmon tertembak banyak pertanyaan sekaligus.


Hahaha ….


Bingung harus menjawab yang mana, Delmon hanya bisa tertawa.


Pada saat yang bersamaan, di antara keramaian Bendetta sedang berdiri.


Terpandang olehnya raut wajah Delmon yang tampak senang.


Begitu saja senang! batin Bendetta.


Tap, tap, tap ….


Tidak sanggup berada di aula istana lebih lama,


Bendetta memutuskan untuk pergi.


Tap, tap, tap ….


Sophia berjalan di lorong istana.


Kenapa dia malah tersenyum-senyum seperti itu? batin Bendetta.


“Nona Bendetta!”


Terdengar oleh Bendetta, seseorang baru saja


menyebutkan namanya.


Tap ….


Langkah Sophia terhenti.


Sophia menoleh ke belakang, terpandang olehnya seorang pria dengan zirah prajurit Bluelight.


“Kenapa?” tanya Bendetta.


“Sebenarnya kita kekurangan bahan makanan untuk pesta … maukah nona Bendetta mengambilnya bersama saya?” tanya pria itu.


Harusnya bahan sudah cukup, batin Bendetta.


“Tolonglah ikut denganku … kalau begini pesta tidak akan berjalan lancar,” ucap pria itu.


Bendetta hanya berdiri terdiam.


“Ikutilah aku,” pinta pria itu.


Dengan cara sedikit kasar, pria itu menarik tangan Bendetta untuk ikut bersamanya.


“kita mau pergi ke mana?” tanya Bendetta.


Tap, tap, tap ….


Terdengar oleh Bendetta suara langkah kaki pria itu.


Tidak menjawab, pria itu hanya diam.


Sementara itu, pada saat yang bersamaan, Delmon dan Sophia sedang berdansa di dalam aula istana.


Mereka menjadi perhatian seisi aula istana.


“Cocok sekali!”


“Tuan putri!”


“Indah sekali!”


Terdengar oleh Sophia dan Delmon, suara keramaian sekitar mereka.


Sambil berdansa, Sophia dan Delmon saling menatap.


“Kamu sepertinya cukup pandai berdansa,” puji Sophia.


Delmon menjawab, “terima kasih … seseorang mengajarkanku.”


“Aku melepaskan senjataku, di hadapan para penjaga,” ucap Delmon.


Sophia berucap, “kamu cukup gila ya.”


Delmon tersenyum kecil.


“Begitulah,” jawab Delmon.


Dalam sepersekian detik, senyuman pada wajah Sophia sirna.


Sophia menatap Delmon tajam.


“Bagaimana perasaanmu kepada Bendetta?” tanya Sophia.


Delmon tersenyum kecil.


“Aku menyukai Bendetta,” jawab Delmon.


Huuuf ….


Sophia menghembuskan napas berat.


Kepada Delmon, Sophia tersenyum kecil.


“Jika kamu membuat Bendetta menangis … aku akan mengejarmu sampai ke ujung dunia,” tutur Sophia.


Menakutkan, batin Delmon.


"Dia begitu rapuh," ucap Sophia.


Sementara itu, dari kejauhan Zeel dan Clare menikmati aksi dansa Delmon dan Sophia


Prok, prok, prok ….


Zeel dan Clare bertepuk tangan.


Kala itu Clare dengan setelan gaun berwarna hitam, memeluk erat tangan kanan Zeel, layaknya seorang anak kecil yang tidak ingin


jauh dari orangtuanya.


“Bagaimana kalu kita ke sana?” ajak Zeel.


Clare memandang keramaian, entah kenapa kaki Clare gemetar.


Menundukkan kepala, Clare memandang lantai keramik aula.


“Aku tidak bisa … jika Zeel ingin pergi ke sana tidak apa,” ucap Clare.


Zeel berucap, “kalau begitu aku akan pergi ke sana … jika terjadi apa-apa panggil aku.”


Clare tersenyum kecil.


“Iya,” jawab Clare.


Tap, tap, tap ….


Zeel berjalan menjauhi Clare, berjalan mendekati


keramaian.


Aksi dansa Sophia dan Delmon kini sudah usai.


Prok, prok, prok ….


Dengan senyuman di wajah, keramaian bertepuk tangan kepada mereka.


“Tuan putri!”


“Kaisar!”


“Kalian cocok sekali!”


Prok, prok, prok ….


Di antara keramaian, Delmon dan Bendetta melihat seseorang berjalan mendekati mereka sambil bertepuk tangan.


Dengan mantel berwarna hijau tua serta senyuman di wajah, orang itu adalah Zeel.


Tap ….


Langkah Zeel terhenti.


“Indah sekali,” puji Zeel.


Seketika pandangan keramaian tertuju pada Zeel.


“Siapa laki-laki itu?”


“Wajahnya manis sekali!”


“Jangan-jangan cinta segitiga!”


Terdengar oleh Zeel, suara keramaian.


“Anu … Zeel,” ucap Sophia pelan.


“Kenapa Sophia?” tanya Zeel.


Terpandang oleh Zeel, telinga Sophia memerah.


“Jika kamu tidak keberatan … bagaimana kalau kita berda—” ucap Sophia terputus.


Aaaaarghh ....


Jerit wanita-wanita bangsawan bergema seisi ruangan.


"Maaf bisa ulangi?" pinta Zeel.


Sophia berucap, "tentang pertandingan kita ... jangan lupa ya."


Zeel tersenyum kecil, "baik."


Sophia kedua telapak tangannya, Sophia meraba dadanya sendiri.


Dug, dug, dug ....


Jantung Sophia berdetak sedikit berat serta sedikit nyeri.


Kenapa aku tidak bisa menyampaikannya? batin Sophia.


Tap, tap, tap ….


Wanita-wanita bangsawan itu kini mengerumuni Zeel.


Mereka menghalangi pandangan Bendetta.


“Siapa nama kamu?”


“Apakah kamu punya kekasih?”


“Berdansalah denganku!”


Layaknya hujan peluru, Zeel di tembakki banyak pertanyaan sekaligus.


Hahaha ….


Tidak tahu harus menjawab pertanyaan yang mana, Zeel hanya tertawa kecil.


Sreeet ….


Salah satu wanita bangsawan menarik Zeel.


“Tunggu,” seru Zeel.


Zeel terbawa arus, wanita bangsawan itu berdansa bersamanya.


Beberapa menit berlalu, secara bergiliran Zeel menari bersama wanita bangsawan yang berbeda-beda.


Sementara itu, sedikit jauh dari keramaian, Clare


memandang  Zeel kesal, layaknya seorang


istri yang memergoki suaminya selingkuh.


Zeel bodoh! batin Clare.


Tap, tap, tap ….


Clare meninggalkan aula istana, entah pergi ke mana.


Sementara itu, dalam keramaian aula, Sophia dan Delmon menikmati aksi dansa Zeel bersama para wanita-wanita bangsawan.


...“Jika kamu membuat Bendetta menangis … aku akan mengejarmu sampai ke ujung dunia.”...


...-Sophia Bluelight-...