
“Bukannya nyonya ingin mencium tuan?” tanya pelayan wanita itu.
Clare dengan ekspresi bingung menjawab, “aku, ingin mencium ... Zeel?”
Kemudian Clare menoleh ke arah Zeel, lalu Zeel membuang pandangannya.
Seketika wajah Clare memerah.
“Bukan begitu … aku ingin melihat matanya,” ucap Clare malu.
Seketika suasana menjadi hening sesaat.
Tok, tok, tok ….
Terdengar suara ketukan dari arah pintu, lalu secara spontan Zeel dan Clare beserta pelayan wanita itu menoleh ke pintu.
Nampak seorang pria berzirah besi berada pada sisi luar pintu, kemudian pelayan itu bangkit dari kursi lalu menghampiri pria berzirah besi itu.
Pelayan wanita dan pria berzirah besi itu terlihat sedang membicarakan sesuatu.
Mereka berbicara cukup pelan sehingga Zeel dan Clare tidak dapat mendengar perbincangan mereka.
Setelah perbincangan mereka selesai, pria berzirah besi itu pergi entah ke mana.
Tak lama kemudian pelayan wanita itu menghampiri Zeel dan Clare.
“Tuan dan nyonya, putri Sophia sudah siap … silahkan tuan dan nyonya mengikuti saya,” ucap pelayan itu.
“Baiklah,” ucap Zeel.
Kemudian Zeel dan Clare secara bersamaan bangkit dari kursi, lalu mengikuti pelayan wanita itu dari belakang.
Mereka melalui sebuah lorong yang berukuran cukup besar, sisi kiri dan kanan lorong terdapat sejumlah pintu dengan jarak yang saling berjauhan.
Lantai terlihat begitu bersih, bahkan Zeel mampu melihat pantulan wajahnya pada permukaan lantai.
Clare menoleh ke langit-langit lorong lalu melihat banyak benda aneh yang memancarkan cahaya di sepanjang lorong.
“Indahnya,” kata Clare.
“Kenapa?,” tanya Zeel sembari menatap
Clare.
Terlihat oleh Zeel kekasihnya sedang menatap langit-langit lorong dengan mata berbinar-binar.
“Lihatlah langit-langitnya … seperti bintang,” ucap Clare.
Lalu Zeel menatap langit-langit lorong, “benar ... benda yang bersinar di langit-langit lorong ini apa?”
Kemudian pelayan wanita itu menoleh ke langit-langit lorong.
Pelayan wanita itu berkata, “ah … ini namanya lampu pijar.”
Beberapa saat kemudian mereka menaiki tangga yang berukuran cukup besar.
Setelah menaiki tangga Zeel melihat sebuah pintu besar terbuka di hadapannya, nampak dua orang berzirah besi sedang berdiri menjaga pintu besar itu.
Sreeet ...
Pintu besar itu terbuka, namun tidak utuh.
Kedua penjaga pintu itu membukakan jalan bagi mereka
“Tuan dan nyonya … sekarang kita akan memasuki ruangan singgasana,” ucap pelayan wanita itu.
“Entah kenapa aku jadi gugup … sebenarnya Sophia itu siapa?” tanya Clare bisik-bisik.
Zeel menjawab dengan bisik-bisik, “aku juga tidak tahu … tenang saja.”
Kemudian pelayan wanita itu membimbing Zeel dan Clare ke dalam pintu besar itu.
Nampak pada sisi kiri dan kanan ruangan itu sejumlah pria mengenakan zirah besi dan bersenjata pedang sedang berbaris rapi.
Barisan sisi kiri dan sisi kanan pria-pria berzirah besi itu terlihat saling berhadapan, sementara bagian tengah ruangan singgasana nampak kosong.
Sisi kiri ruangan terlihat sejumlah jendela kaca besar berjejer serta sebuah pintu kaca berada di tengah.
Nampak sinar rembulan menembus pintu dan jendela hingga menerangi ruangan.
Kemudian pelayan wanita itu berjalan menuju ke tengah-tengah ruang singgasana diikuti oleh Zeel dan Clare.
Kini pelayan wanita itu, Zeel serta Clare berdiri sejajar.
Tampak pelayan wanita itu menyilangkan kedua tangan pada dada untuk beberapa detik.
“Tuan putri … tamu anda sudah tiba,” ucap pelayan itu.
“Terima kasih telah mengantarkan mereka ... kembalilah,” terdengar suara wanita.
Pelayan wanita itu membalas, “baiklah tuan putri ... saya permisi.”
Kemudian wanita pelayan itu pergi entah ke mana, ia meninggalkan Zeel dan Clare yang masih berdiri di tengah-tengah ruangan singgasana.
Terlihat di hadapan Zeel dua kursi megah nampak kosong, lalu Zeel mengalihkan pandangannya sedikit ke sisi kanan.
Zeel melihat sebuah kursi yang lebih kecil namun tidak kalah megah, Sophia sedang duduk di sana sembari menyilangkan kaki.
“Selamat datang … Zeel dan Clare di istana Bluelight,” ucap Sophia lalu tersenyum kecil.
Tepat pada sisi kiri Sophia seorang pelayan wanita sedang berdiri.
Pelayan itu nampak menatap Zeel dan Clare dengan ekspresi benci, seolah-olah tidak suka dengan kehadiran Zeel dan Clare.
Clare yang sadar akan itu menatap balik dengan ekspresi marah.
“Kamu sebenarnya siapa?” tanya Zeel.
Sophia menjawab, “maaf … aku tidak bilang sebelumnya, aku adalah putri Raja Bluelight ke-16.”
“Itu menjelaskan semuanya,” ucap Zeel.
Zeel tampak biasa-biasa saja, pertemuan mereka sebelumnya cukup untuk tidak membuat Zeel kaget.
Sementara Clare tampak tidak merasa nyaman, tatapannya seolah berkata, jika Zeel tidak ke sini maka aku tidak akan ke sini.
“Sophia … tentang kekuatan batu sakral,” ucap Zeel.
“Ah tentang itu … ada di perpustakaan istana,” balas Sophia.
Zeel berkata, “Kalau begitu … bolehkah aku ke sana?”
“Perjalanan kalian melelahkan bukan ... bagaimana kalau kalian bersantai-santai dahulu di kota ini?” kata Sophia.
“Aku tidak keberataan,” ucap Zeel.
Clare berkata, “Aku … selama bersama Zeel tidak masalah.”
“Syukurlah,” ucap Sophia.
“Sophia … aku pernah mendengar suaramu, tapi aku lupa di mana,” kata Clare.
“Oh begitu, Benetta … ambilkan jubahku,” perintah Sophia.
Kemudian pelayan wanita yang berdiri tepat di samping Sophia pergi entah ke mana.
Beberapa saat kemudian pelayan itu kembali dengan membawa jubah berwarna hitam.
Lalu Sophia bangkit dari kursi kemudian mengenakan jubah itu di hadapan Zeel dan Clare.
“Pemilik toko bunga!” ucap Clare nampak kaget.
Selepas itu Clare berlari ke arah Sophia lalu memeluk Sophia.
“Pantas saja … suaramu tidak asing, tapi kenapa?” tanya Clare.
Sophia membalas, “nanti aku ceritakan.”
“Baiklah,” kata Clare.
Sophia berkata, “kalian lapar?”
Kemudian Sophia mengajak Zeel dan Clare untuk makan malam di ruang makan istana.
Suasana ruang makan istana nampak elegan, meja makan istana berbentuk persegi panjang.
Begitu banyak kursi mengelilingi meja makan itu, ruang makan istana Bluelight mampu menampung banyak orang.
Di sanalah Sophia, Zeel dan Clare sedang duduk menunggu makan malam.
Clare duduk di sebelah Sophia sementara Zeel duduk bersebrangan dengan mereka berdua.
Entah kenapa Clare duduk menghadap Sophia sembari menatap Sophia dengan begitu semangat.
Sementara itu Sophia terlihat sedikit tidak nyaman.
Beberapa saat kemudian seseorang pria berpakaian serba putih datang menghampiri mereka sembari membawakan tiga buah piring di atas nampan.
“Permisi tuan putri … ini hidangan pembukanya,” ucap pria berpakaian serba putih itu.
“Terima kasih,” balas Sophia.
Lalu pria berpakaian serba putih itu meletakkan tiga buah piring yang ia bawa ke atas meja makan istana, kemudian pergi entah ke mana.
“Pria itu siapa?” tanya Clare dengan penuh semangat sembari menatap Sophia.
Sophia menjawab, “ ah itu … dia kepala koki istana.”
“Istana itu hebat ya,” ucap Clare dengan mata berbinar-binar.
Sophia membalas, “Begitulah … Clare bisa kamu sedikit menjauh.”
Entah sejak kapan jarak kursi Clare dan Sophia begitu dekat.
“Maaf!” ucap Clare nampak semangat.
Lalu Clare memindahkan kursi tempat ia duduk kembali ke posisi awal.
..."Aku adalah putri Raja Bluelight ke-16."...
...-Sophia-...