Zeel Greenlight

Zeel Greenlight
Bagian Tambahan : Bunga Es



*Catatan penting : bagian tambahan perang dewa ini merupakan buku bunga es yang Clare baca di perpustakaan istana Bluelight, jika tidak berminat silahkan di lewati saja, terima kasih, selamat membaca.


Dahulu kala, istana Bluelight.


Pagi itu sedang di laksanakan seleksi anggota prajurit Istana Bluelight.


Seleksi itu berlangsung di arena istana Bluelight pada.


Arena istana bluelight merupakan tempat berlangsungnya latihan bagi prajurit istana Bluelight.


Selain itu, arena istana bluelight juga dijadikan


sebagai wadah berlangsungnya pertandingan seleksi anggota prajurit istana Bluelight.


Arena istana Bluelight berbentuk bulat sempurna tanpa atap.


Pada tepian arena, terdapat tempat duduk penonton dengan susunan bertingkat, semakin mendekati tempat latihan semakin rendah.


Permukaan tempat latihan terbuat dari tanah namun sedikit tertutup salju.


Peserta anggota prajurit istana Bluelight datang dari berbagai kalangan, mulai dari keturunan bangsawan hingga orang biasa.


Sistem seleksinya sederhana, setiap peserta akan di adu satu melawan satu.


Proses pertandingan seleksi di pimpin oleh seorang wasit.


Peserta hanya di perbolehkan menggunakan tangan kosong.


Pertandingan akan dinyatakan berakhir jika salah satu peserta menyerah atau tidak mampu melanjutkan pertandingan.


Dari sekian banyak peserta seleksi, sepuluh peserta terakhir yang mampu bertahan akan di angkat menjadi bagian dari prajurit istana


Bluelight.


Pada pagi itu terjadi pertemuan yang cukup bergengsi, yaitu pertemuan antara Edgar sang orang biasa melawan Jonathan keturunan


bangsawan.


Pada saat pertandingan itu berlangsung, hanya tersisa dua puluh peserta saja.


Jadi, siapapun yang menang dalam pertandingan ini maka ia akan menjadi prajurit istana Bluelight.


Pagi itu suasana tempat duduk penonton cukup ramai namun tidak berimbang.


Sebagian besar diisi oleh orang biasa, Sebagian kecil diisi oleh keturunan bangsawan.


Kedua kelompok penonton itu duduk terpisah serta saling menjaga jarak.


Terdapat tempat duduk khusus di arena, di sana raja istana Bluelight serta jajaran pengawalnya sedang duduk memantau proses


seleksi.


“Ayo Edgar!”


“Hajar saja bangsawan sombong itu!”


“Jangan takut!”


Terdengar suara nyaring dari arah bangku duduk penonton.


Suara itu berasal dari kelompok penonton orang biasa, mereka tidak menyukai keturunan bangsawan


Sementara itu suasana dari kelompok keturunan


bangsawan tampak diam saja, mereka memandang rendah orang biasa.


Tampak di tengah lapangan latihan, sedang berdiri berhadapan antara Edgar dan Jonathan.


Sementara itu wasit berdiri tepat di antara mereka berdua.


Dari sisi fisik, tubuh Edgar jauh lebih berotot di


bandingan Jonathan.


Namun dari sisi penampilan, pakaian Edgar terlihat lusuh sementara pakaian Jonathan terlihat lebih elegan.


Kemudian wasit sedikit menjauhi Edgar dan Jonathan.


“Mulai!” seru wasit.


Namun kontak fisik tidak segera di mulai, mereka


saling tatap menatap.


“Apa yang kau lihat dasar rakyat jelata!” bentak


Jonathan.


Kemudian Jonathan berlari ke arah Edgar.


Blam ....


Jonathan meninju edgar dengan tangan kanannya.


Blam ....


Tidak ingin kalah, Edgar menendang pinggang Jonathan dengan kaki kanannya.


Jual beli pukulan dan tendangan terjadi.


Awal pertandingan tampak berimbang.


Namun pada pertengahan pertandingan, stamina Jonathan tampak terkuras habis sementara Edgar biasa saja.


Jonathan menoleh ke pakaian yang ia kenakan.


Kini pakaiannya tidak elegan lagi, kini pakaiannya dipenuhi noda akibat serangan Edgar.


Spontan ekspresi Jonathan menjadi tampak begitu murka dan marah.


“Kamu rakyat jelata … nyawamu saja tidak cukup untuk membayar baju ini!” teriak nyaring Jonathan.


Dengan tenaga yang tersisa Jonathan ingin memukul Edgar dengan tangan kanannya.


Wushhh ....


Namun pukulan itu tidak sampai.


Terdengar suara tendangan.


Edgar menendang perut Jonathan dengan kaki kanannya, tendangan Edgar jauh lebih bertenaga serta lebih cepat di bandingan pukulan edgar.


Akh ....


Tampak darah mengalir dari mulut Jonathan.


Selepas itu Jonathan tergeletak tak sadarkan diri di salju.


“Bagus!”


“Rasakan itu bangsawan!”


Tedengar suara nyaring dari kelompok penonton orang biasa.


Kemudian wasit mengangkat tangan kanan Jonathan ke atas sebagai simbol kemenangan.


Kini sorak sorai dari penonton kelompok orang biasa semakin meriah.


Pertandingan itu di akhiri dengan kemenangan Edgar.


Selepas pertandingan itu selesai, Edgar segera pulang ke rumahnya.


Dengan sejumlah luka memar pada bagian tubuhnya, edgar berjalan di antara salju.


Hingga tampak di hadapan Edgar sebuah rumah batu sederhana.


Rumah itu tersusun dari batu yang di tata rapi.


Dari luar rumah itu tampak kecil.


Bagian atap rumah itu tertutup salju berwarna putih.


Terdapat sebuah pintu serta jendela kayu sederhana.


Perlahan Edgar mendekati pintu.


Tok, tok, tok ....


Edgar mengetuk pintu ramah itu.


“Iya,” terdengar suara wanita dari dalam rumah.


Edgar berkata, “Ini aku.”


Dari luar rumah Edgar mendengar suara langkah kaki berlari mendekatinya dari balik pintu.


Perlahan pintu terbuka.


“Banyak sekali lukamu!” tutur wanita itu tampak kaget.


“Elli … aku—” ucap Edgar terhenti.


“Cepatlah masuk,” tutur Elli memotong kalimat Edgar.


Elli merupakan kekasih Edgar, hubungan mereka di mulai sejak satu tahun lalu.


Paras Emily biasa-biasa saja, sikap perhatian Elli


membuat Edgar jatuh cinta padanya.


Elli tampak masuk ke dalam rumah.


Kemudian Edgar juga mengikuti masuk ke dalam.


Tidak ada yang spesial dari rumah ini, sebuah meja pendek sederhana tepat di tengah rumah, lilin yang menyala pada tembok.


Sebuah tempat tidur sederhana untuk satu orang, serta berbagai perabotan rumah sederhana lainnya.


Inilah rumah Edgar.


Tidak lama setelah itu, Emily tampak mengambil sesuatu lalu meletakannya pada meja pendek.


Kini tampak sejumlah dedaunan serta alat penumbuk berada pada meja pendek.


Elli segera duduk di meja pendek lalu ia meletakan dedaunan ke dalam alat penumbuk.


Kemudian Edgar menghampiri meja pendek lalu duduk di sisi lain.


Kini mereka duduk berhadapan.


Terlihat oleh Edgar sosok Elli yang sedang meracik sesuatu.


Tanpa perlu bertanya Edgar paham apa yang sedang Elli lakukan, meracik obat untuknya.


“Elli … aku—” kalimat Edgar terpotong.


“Tidak apa-apa … masih ada tahun depan,” potong Elli.


Edgar berkata, “Tapi aku—”


Elli memotong kalimat Edgar, “Pertama-tama, mari rawat lukamu.”


Elli bangkit dari duduknya lalu menghampiri edgar sembari membawa alat penumbuk berisikan obat yang sudah ia racik.


Kemudian Elli mengoleskan obat yang telah ia racik pada luka Edgar.


Obat hasil racikan Elli berwarna hijau, serta memiliki tekstur kasar berair.


“Elli aku lolos,” tutur Edgar.


Elli bertanya, “Apanya?”


“Seleksi prajurit,” jawab Edgar.


Seketika Elli menghentikan olesannya.


“Benarkah?” tanya Elli.


“Benar,” balas Edgar.


Kontak mata terjadi di antara mereka, lalu mereka berdua tersenyum sembari bertatap-tatapan.


Selepas itu, Elli kembali mengoleskan racikan obat.


“Kalau begitu … siang ini aku akan memasak masakan spesial,” tutur Elli lalu tersenyum kecil.


Usai mengobati luka Edgar, Elli memasak untuk makan siang mereka berdua.


Sementara itu Edgar menyelimuti diri di tempat tidur.


Elli memasak di ruangan yang sama dengan tempat Edgar berbaring.


Tidak ada ruangan lain di rumah itu, berbagai


perabotan terkumpul di ruangan yang sama.


Termasuk tungku yang ini Elli gunakan untuk memasak.


Edgar sebenarnya ingin membantu Elli memasak, namun Elli menolak.


..."Dasar rakyat jelata!"...


...-Jonathan-...