Zeel Greenlight

Zeel Greenlight
Bagian 33 : Rintik Salju II



Kepada Zeel, Sophia tersenyum tipis.


“Pergerakan kamu cukup lincah ya,” puji Sophia.


Zeel memandang Sophia tajam.


Zeel berucap, “terima kasih atas pujiannya.”


Tap, tap, tap ….


Sophia berlari cukup cepat ke arah Zeel.


Slash ….


Sophia menebas bagian pinggang kanan Zeel.


Cring ….


Dengan tepat waktu, Zeel berhasil menahan tebasan Sophia dengan belatinya.


Celaka! batin Sophia.


Sreek ….


Akibat tekanan dari tebasan pedang es Sophia, Zeel sedikit kehilangan keseimbangan.


Wushhh ….


Cukup cepat, Sophia berputar satu putaran di tempat.


Slash ….


Sophia menebas pinggang kiri Zeel.


Gawat ... Tidak akan sempat! batin Zeel.


Cring ….


Pedang es Sophia menyayat bagian pinggang kiri jubah Zeel, kini jubah Zeel menjadi sobek.


Tepat pada bagian tebasan,dalam sekejap warnanya berubah perlahan menjadi kemerahan


Tes ….


Cairan kemerahan itu mengalir, lalu menyatu dengan putihnya es di permukaan.


Cairan itu adalah darah Zeel.


“Tuan putri!”


“Hebat!”


“Tuan putri ayo kalahkan dia!”


Penonton pria bersorak sorai, menyambut luka di


pinggang kiri Zeel.


Sementara itu di antara kerumunan wanita, mereka hanya diam membatu, mata mereka tertuju pada darah Zeel yang mengalir.


“Darah!”


“Apakah Zeel baik-baik saja?”


“Tuan Zeel!”


Terdengar kegelisahan di natara kerumunan wanita.


Sementara itu di belakang kerumunan penonton wanita, Clare sedang berdiri dengan kaki yang gemetar.


Hiks, hiks, hiks ….


Air mata mengalir membasahi kedua pipi Clare.


“Zeel!” teriak Clare nyaring.


Suara Clare menembus udara, hingga mencapai telinga Zeel.


Suara ini ... Clare, batin Zeel.


Zeel memalingkan pandangan, menuju asal muasal suara, ia melihat Clare sedang berteriak kepadanya di kejauhan.


Huh, huh, huh ....


Usai berseru, napas Clare terengah-engah.


Kepada Clare, Zeel tersenyum kecil.


Terlihat oleh Clare, mulut Zeel yang bergerak, seolah-olah sedang berucap.


Entah apa yang Zeel katakan, Clare tidak mengerti sama sekali.


Akibat teriakan Clare yang cukup nyaring, suasana menjadi hening, pandangan penjuru arena tertuju kepada Clare.


Sadar akan itu Clare menjadi canggung.


“Maaf!”


“Maaf!”


“Maaf!”


Seru Clare sambil menghadap ke berbagai penjuru.


Sementara itu di tengah arena, Zeel memejamkan mata sejenak, kemudian ia Kembali membuka mata.


Mata Zeel kini berwarna hijau, serta memancarkan cahaya.


Salah satu orang di kerumunan penonton sadar akan itu, kemudian ia menunjuk Zeel dengan tangan gemetar.


“Itu!”


Seru penonton tersebut.


Pandangan kerumunan penonton yang tadinya tertuju kepada Clarre, kini tertuju kepada Zeel.


“Apa itu?”


“Matanya menjadi hujau!”


“Aneh!”


Kerumunan penonton terheran-heran melihat mata Zeel.


Sementara itu di hadapan Zeel, Sophia tersenyum.


“Akhrinya kamu serius …. Zeel,” kata Sophia.


Seet ….


Zeel menaikan sedikit belati pada genggamannya, tanda siap untuk bertarung.


“Jangan salahkan aku jika kamu terluka,” ancam Zeel.


Ahahaha ….


Sophia tertawa sinis.


“Dengan pendarahan seperti itu … apa yang bisa ka—” ujar Sophia terputus.


Apa! Batin Sophia.


Terpandang oleh Sophia, kini darah tidak lagi mengalir dari pinggang kiri Zeel.


Keringat dingin mengalir membasahi jidat Sophia.


Harusnya pendarahan pada pinggang kiri Zeel masih berlanjut … tapi anehnya pendarahan itu berhenti, batin Clare.


“Menarik!” seru Sophia.


Tidak … aliran darahnya tidak berhenti … tapi


terhenti, batin Sophia.


Tap ….


Sophia mundur selangkah.


Sementara itu Zeel sedang menatap Sophia tajam.


Aku hanya punya waktu tiga puluh detik … itu adalah waktu terbaikku, batin Zeel.


Tap, tap, tap ….


Zeel berlari ke arah Sophia.


Cring ….


Belati kayu Zeel dan pedang es Sophia Kembali beradu.


Apa ini … Tebasan Zeel menjadi lebih kuat, batin


Sophia.


Cring, cring, cring ….


Begitu cekatan, Zeel mengarahkan tebasannya kepada Sophia.


Slash ….


Aarghhh ….


Jerit Sophia.


Namun Sophia tidak terluka, besi berada di balik gaunnya.


Kepada Sophia, Zeel tersenyum.


Jadi begitu, batin Zeel.


Apa-apaan pria ini! batin Sophia.


Kenapa belati kayu ini bisa mengimbangi pedang es? batin Sophia.


Slash ….


Secara vertikal, Zeel mengayunkan pedangnya kepada Sophia.


Cring ….


Sophia berhasil menahan laju ayunan belati Zeel.


Sejak tadi … Zeel sama sekali tidak serius, batin Sophia.


Tangan kanan Sophia gemetar, menahan tebasan belati Zeel.


Slash, slash, slash ….


Beruntun, Zeel menebas belatinya cekatan.


Jika terus seperti ini gawat … staminaku, batin Sophia.


Huh, huh, huh ….


Napas Sophia terengah-engah.


Uap salju melayang di hadapan mulut Sophia.


Slash ….


Zeel menebas dari bawah, secara vertikal.


Gawat! batin Sophia.


Pedang es terlepas dari genggaman Sophia.


Jleb ….


Pedang es Sophia menancap salju di permukaan.


Tidak mungkin! batin Sophia.


Sementara itu, Zeel memandang Sophia datar.


Dengan begini … selesai, batin Zeel.


Pada saat yang bersamaan, Sophia menatap Zeel.


Keseimbanganku! batin Sophia.


Jlub ….


Sophia terbaring di atas permukaan salju, Sebagian bajunya kini menjadi basah.


Tepandang oleh Sophia, langit mendung nan luas.


Salju-salju berjatuhan, membasahi pipi Sophia.


Ini adalah kekalahanku, batin Sophia.


Sementara itu, dengan napas terengah-engah, Zeel menatap Sophia yang sudah terbaring.


Aku menang, batin Clare.


Suasana arena Kembali hening, pandangan sesisi arena tertuju pada Sophia yang terbaring.


Selesai! seru pengadil.


“Tuan putri!”


“Tuan putri kalah?”


“Dengan belati kayu?”


Pertanyaan-pertanyaan serta kesedihan pecah di antra kerumunan penonton laki-laki, mereka tidak percaya dengan apa yang mereka


lihat.


Beberapa saat lalu Sophia mendominasi, kini Sophia terbaring.


“Zeel!”


“Kamu melakukannya!”


“Nikahi aku!”


Begitu kontras, penonton wanita bersorak-sorai menyambut kemenangan Zeel.


Sementara itu, pada barisan penonton paling belakang.


Bendetta, Delmon, serta Clare menunjukkan reaksi yang berbeda-beda.


Bendetta kini memandang cemas Sophia yang terbaring di antara salju.


“Tuan putri,” ucap Sophia pelan.


Tepat di sebelah kiri Bendetta, Delmon sedang


tersenyum kecil sembari mengusap dagu.


Sudah kuduga … dengan kecekatan yang Zeel miliki, ia begitu cocok mengenakan belati … biasanya aku selalu melihatnya mengenakan pedang, pertandingan ini membuktikan kualitasnya,batin Delmon.


Sementara itu di tengah-tengah arena, Zeel melambaikan tangan sembari tersenyum hangat kepada penonton.


Zeel berkedip, tanpa ia sadari matanya Kembali seperti sedia kala.


“Terima kasih sudah mendukungku!” seru Zeel.


“Zeel!”


“Zeel!”


“Zeel!”


Terdengar jelas oleh Zeel, sorak-sorai penonton


menyerukan Namanya.


Hingga perlahan-lahan suara itu tidak terdengar jelas.


Suara penonton terdengar seperti kicauan burung tidak


elas.


Kepalaku pusing, batin Zeel sembari memegang kepala.


Pandangan Zeel yang tadinya jelas, kini perlahan


memburam.


Dari kejauhan, Clare sadar akan keanehan pada diri Zeel.


Tes ….


Terlihat oleh Clare, darah Kembali mengalir pada


pinggang kiri Zeel.


Tidak main-main, pendarahan pada pinggang kiri Zeel cukup parah.


Darah Zeel mengalir, menyatu dengan dinginnya


permukaan es.


Sadar akan itu, kaki Clare gemetar, mata Clare berkaca-kaca.


Jlub ….


Seketika Zeel terjatuh, di antara dataran salju.


“Zeel! Jerit Clare.


Tap, tap, tap ….


Di antara kerumunan Clare berlari menuruni anak tangga arena, menghampiri Zeel.


Kucauan ramai di sekeliling Clare, namun untuk saat itu Clare tidak mendengar apa-apa.


..."Aku hanya punya waktu tiga puluh detik … itu adalah waktu terbaikku."...


...-Zeel Greenlight-...