
Ruang kerja Sophia, istana Bluelight.
Saat itu suasana ruang kerja Sophia cukup hening.
Pada meja kerjanya Sophia sedang duduk.
Sementara itu pada kursi panjang, Zeel dan Clare duduk bersampingan.
“Maaf membangunkan kalian sepagi ini,” ucap Sophia.
Zeel bertanya, “Ada apa Sophia?”
“Leon, Luis dan Emily … tentang orang tua mereka, bagaimana menurut kalian?” tanya Sophia.
Zeel berucap, “aku rasa memberi tahu tentang kematian kedua orang tua mereka, adalah keputusan yang terbaik.”
"Kenapa?" tanya Sophia.
"Tidak ada alasan khusus ... hanya saja mereka harus lebih cepat menerima menyataan," jelas Zeel.
Tidak berkata, Sophia menganggukan kepalanya dua kali.
“Bagaimana menurut Clare?” tanya Sophia.
Clare menjawab, “mereka terlalu muda untuk mendengarkan kabar duka seperti itu … kita akan berbohong”
Tanpa berucap, Sophia menganggukkan kepala dua kali.
Huuuf ....
Sophia menghembuskan napas berat.
“Memang ada benarnya perkataan Clare, mereka masih terlalu kecil, bagaimana menurutmu Zeel?”
tutur Sophia.
Zeel mengangkat kedua tangan ke atas.
“Aku tidak keberatan ... lagian aku kalah suara,” ucap Zeel.
Sophia bertanya, “lalu … siapa yang akan melakukannya?”
“Aku akan melakukannya,” jawab Clare.
“Ngomong-ngomong … kenapa kalian duduk berjauhan?” tanya Sophia.
Meskipun duduk bersampingan, Clare dan Zeel tampak menjaga jarak.
Layaknya mata angin timur dan barat, mereka duduk berlawanan.
“Tidak apa,” jawab Clare.
Terpandang oleh Sophia, pandangan Clare yang kosong.
Sophia kemudian menatap Zeel.
Tidak berucap, tatapan Sophia seolah-olah bertanya apa yang terjadi kepada Zeel.
Sadar akan itu, Zeel menggeleng-gelengkan kepala kepada Sophia.
Pasti ada sesuatu yang terjadi, batin Sophia
“Benar tidak ada apa-apa?” tanya Sophia.
“Tidak ada,” jawab Clare.
Sigap menjawab, Clare tersenyum kecil.
Huuuf ….
Sophia menghembuskan napas berat.
“Kalau begitu … maukah kamu duduk lebih dekat kepada Zeel?” tanya Sophia.
“Tidak,” ucap Clare.
Clare tersenyum kecil.
Sophia menatap Zeel.
Tanpa berucap, pandangan Sophia seolah-olah meminta Zeel untuk berbuat sesuatu.
“Clar—” ucap Zeel terpotong.
Sreeet ….
Clare bangkit dari duduknya
“Kalau begitu aku pergi ke kamar mereka,” ucap Clare.
Tap, tap, tap ….
Clare berjalan menuju pintu keluar ruang kerja.
Kreeek ….
Dengan senyuman di wajahnya, Clare menutup pintu dari sisi luar.
Beberapa saat berlalu.
Usai memastikan Clare sudah cukup jauh, Sophia memutuskan untuk membuka obrolan.
“Sebenarnya apa yang terjadi?” tanya Sophia.
“Clare melihatku berbaring bersama Etna,” ucap Zeel.
“Eeeeeehhh!” seru Sophia.
Merasa kaget, Sophia menutup mulutnya dengan jari-jari.
“Ka ... kamu benar-benar melakukannya?” tanya Sophia.
“Sebenarnya aku tidak sengaja … waktu itu aku masih tertidur,” jelas Zeel.
Sophia bertanya, “lalu?”
“Kata Etna, tanpa sadar aku menarik tubuhnya ke atas tempat tidur,” jelas Zeel.
Pffffttt ….
Sophia hampir tertawa, namun ia berhasil menahannya.
Zeel berkata, “aku sudah menjelaskan situasinya kepada Clare … namun ia tidak percaya.”
Ahahaha ….
Sophia gagal menahan tawa, ia tertawa lepas.
“Tunggu … kenapa Sophia tertawa seperti itu?” ucap Zeel.
Reaksi Sophia tidak terduga oleh Zeel, ia berharap Sophia berempati kepadanya.
Kucek, kucek ….
Sophia mengucek matanya yang berair akibat tawa.
“Maaf-maaf,” jawab Sophia.
Suasana menjadi hening untuk beberapa saat.
“Kapan kalian akan pergi?” tanya Sophia.
“Mungkin beberapa hari lagi kami akan pergi ... tidak ada waktu banyak,” ucap Zeel.
Terpintas di pikiran Sophia, untuk mengadakan perpisahan.
“Sebelum itu bagaimana kalau kita mengadakan acara perpisahan?” ajak Sophia.
“Acara seperti apa?” tanya Zeel.
Sophia berucap, “Zeel adalah prajurit kan.”
“Lalu?” tanya Zeel.
“Bagaimana kalau kita adakan pertarungan!” ajak Sophia.
Kamar Delmon, istana Bluelight.
Siang hari.
Kala itu Delmon sedang berbaring di atas tempat tidur, akibat luka yang ia terima beberapa waktu lalu, Delmon hanya bisa berbaring guna mempercepat pemulihan dirinya.
Selimut menutupi sekujur tubuh Delmon, terkecuali leher hingga kepala.
Tok, tok, tok ….
“Aku masuk ya,”
Terdengar oleh Delmon suara wanita, tidak asing baginya, suara itu adalah suara Bendetta.
“Masuklah,” ucap Delmon.
Kreeek ….
Pintu kamar terbuka secara perlahan.
Terlihat oleh Delmon, Bendetta dengan pakaian
pelayannya memasuki kamar.
Pada kedua tangannya Sophia tampak membawa nampan.
Beberapa saat berlalu, kini Bendetta sedang duduk pada tepian tempat tidur Delmon.
Pada pangkuan Bendetta, Delmon melihat semangkuk bubur hangat di atas nampan.
Asap meluap dari dalam manguk bubur, tanda masih hangat.
“Monmon bisa makan sendiri?” tanya Bendetta.
Ahahaha ….
Delmon tertawa lepas.
Melihat itu, pipi Sophia memerah.
“Kenapa kamu malah tertawa?” tanya Bendetta.
“Maaf-maaf,” jawab Delmon.
Sophia berucap, “kalau begitu aku tidak akan memanggilmu Monmon lagi.”
“Jangan lakukan itu … aku tidak masalah,” ucap Delmon.
Delmon tidak dapat menahan tawanya, entah kenapa panggilan Monmon terdengar lucu baginya.
“Kalau begitu janji jangan tertawa lagi ya,” pinta Sophia.
“Janji,” balas Delmon.
“Delmon bisa makan sendiri?” tanya Bendetta.
“Tidak mungkin,” jawab Delmon.
Tidak ada keraguan pada raut wajah Delmon.
Sebenarnya tidak ada luka berarti pada tangan Delmon, ia hanya sedang berbohong guna
Bendetta menyuapinya.
Sementara itu, Bendetta tidak menyadari kebohongan Delmon.
Gluuuk ….
Bendetta menelan liurnya sendiri.
“Kalau begitu,” tutur Sophia pelan.
Sreeet ….
Bendetta menyodorkan sesendok bubur kepada Delmon.
Terpandang oleh Delmon, pandangan Bendetta yang entah lari ke mana.
Hap ….
Delmon melahap sesendok bubur.
“Enak!” seru Delmon.
“Benarkah?” tanya Bendetta.
Delmon bertanya, “benar … apakah Bendetta yang membuat bubur ini?”
“Begitulah … buka mulutmu” pinta Bendetta.
“Aaaaa,” ucap Delmon.
Terpandang oleh Bendetta, mulut Delmon yang terbuka lebar.
Ahahaha ….
Bendetta tertawa.
“Kenapa Netta tertawa?” tanya Delmon.
“Monmon seperti anak-anak,” jelas Bendetta.
“Netta yang minta kan?” tanya Delmon.
Bendetta berkata, “maaf-maaf.”
Beberapa menit berlalu, sesi menyuap terus Berlanjut.
Semangkuk bubur yang tadinya utuh, kini hanya tersisa sedikit.
Tiba-tiba Bendetta berhenti menyuap Delmon.
“Kenapa Netta?” tanya Delmon.
Bendetta bertanya balik, “malam itu … kenapa kamu melindungiku?”
“Memangnya ada alasan untukku tidak melindungimu?” tanya Delmon.
“Hasilnya kamu jadi terluka seperti ini,” tutur Bendetta pelan.
Terpandang oleh Delmon, mata Bendetta berkaca-kaca.
“Luka seperti ini bagiku tidak ada apa-apanya,” jawab Delmon.
Syuuut ....
Delmon mengeluarkan tangannya dari balik selimut.
Lalu ia mengelus rambut Bendetta secara perlahan.
“Monmon?” tanya Bendetta.
Syuut, syuuut ….
Delmon mengelus rambut Bendetta lembut.
“Tangan kamu sepertinnya baik-baik saja,” tutur Bendetta pelan.
Gawat! batin Delmon.
Tanpa sengaja, Delmon menggerakan tangannya dengan normal.
“Bendetta tunggu sebentar … aku bisa jelaskan,” ucap Delmon.
Sreeet ….
Bendetta bangkit dari duduknya, lalu ia meletakan mangkuk bubur di atas tepian kasur.
Terpandang oleh Delmon, telinga Bendetta yang memerah.
“Monmon bodoh!” seru Bendetta.
Tap, tap, tap ….
Bendetta pergi meninggalkan kamar Delmon.
“Tunggu sbentar!” seru Delmon.
Kreeek ….
Bendetta menutup pintu kamar dari sisi luar.
Tap, tap, tap ….
Bendetta berjalan di lorong.
Padahal tanpa harus berbohong … aku akan melakukannya, batin Bendetta.
..."Memangnya ada alasan untukku tidak menolongmu?"...
...-Delmon-...