Zeel Greenlight

Zeel Greenlight
Bagian 19 : Salah Paham



Setibanya di kamar, Zeel segera memandang keluar melalui jendela, pandangannya tertuju pada tempat Anthony berada.


21 september tahun 1700, kamar sementara Zeel, wilayah prostitusi, kota benteng Haven.


Pagi hari tiba, Zeel masih belum memalingkan pandangannya dari tempat Anthony.


Hoaaam ….


Zeel menguap.


Sesekali mata Zeel terpejam kemudian terbuka, ia tidak dapat menahan rasa kantuk.


Kreeek ….


Pintu bangunan tempat Anthony berada terbuka.


Terpandang oleh Zeel sosok Anthony dan seorang wanita pekerja **** keluar dari bangunan itu.


Setelah keluar mereka tampak berbincang-bincang di depan pintu, entah apa yang mereka bicarakan, Zeel tidak dapat mendengar dengan jelas.


Beberapa saat kemudian Anthony nampak pergi entah ke mana.


Tap, tap, tap ….


Antony berjalan melalui jalanan batu, pada pagi itu suasana jalanan wilayah prositusi masih sepi.


Tanpa Anthony duga, tiba-tiba seseorang datang menghampiri lalu memeluknya dari belakang.


Antony merasa kaget, lalu ia menoleh ke belakang.


Terpandang olehnya sosok wanita berparas cantik dengan rambut terurai panjang serta mengenakan gaun.


Wanita itu adalah Zeel yang sedang menyamar.


“Kenapa nona cantik?” ujar Anthony.


Zeel melepaskan pelukannya, lalu ia menatap Antony dengan wajah memelas.


Selepas itu Anthony membalikan badan, kini Anthony dan Zeel sedang saling berhadapan.


“Sepertinya aku pernah melihatmu,” ujar Anthony sembari mengelus dagu.


Setetes keringat mengalir di pipi Zeel.


Apakah aku ketahuan? Tutur Zeel dalam hati.


Anthony berkata, “Tidak ... sepertinya hanya perasaanku saja.”


Ahahaha ....


Anthony tertawa.


Tanpa berucap, Zeel menggenggam tangan Anthony.


“Sepertinya nona cantik ini agresif sekali ... baiklah aku akan bermain bersamamu,” ucap Anthony.


Kemudian Zeel membimbing Anthony menuju ke kamar sementaranya.


Setibanya di dalam kamar sementara Zeel, Anthony segera membuka baju.


Kini Anthony sedang berdiri membelakangi Zeel.


“Maaf ya,” ujar Zeel.


Mendengar suara pria, spontan Anthony kaget.


Lalu Anthony menoleh ke belakang


Sekarang, batin Zeel.


Gedebug ....


Zeel meninju bagian pelipis Anthony dengan kuat dan cepat.


Seketika Anthony terkapar tak sadarkan diri.


Setelah kejadian itu, Zeel di bantu Sena berhasil membawa Anthony yang tidak dasarkan diri kabur dari wilayah prostitusi.


Siang hari, singgasana istana Bluelight, istana Bluelight, kota benteng Haven.


Kini Sophia sedang duduk di kursi singgasana, terpandang di hadapannya Zeel sedang berdiri.


“Zeel, aku bersyukur kamu kembali dengan selamat,” ucap Sophia.


Sebagai rasa hormat kepada Sophia, Zeel menyilangkan kedua tangan pada dada untuk beberapa detik.


Terpandang oleh Zeel sosok Sophia sedang duduk di singgasana sembari menyilangkan kaki.


“Zeel ... selamat atas pencapaianmu, sesuai perjanjian aku akan membayarmu,” ujar


Sophia.


“Sophia … bagaimana dengan Anthony?” tanya Zeel.


“Maksudmu ketua bandit itu ... ia sedang berada di penjara bawah tanah istana,” jawab Sophia.


“Jadi begitu,” ucap Zeel.


“Zeel … sebenarnya aku penasaran akan sesuatu,” kata Sophia.


“Apa itu?” tanya Zeel.


Sophia bertanya, “Sebenarnya, wanita yang sudah memelukmu sejak tadi itu … siapa?”


Terpandang oleh Sophia seorang wanita muda dengan rambut merah serta iris mata berwarna biru sedang memeluk tangan kiri Zeel.


“Ah ini … ceritanya panjang,” jawab Zeel.


“Zeel … telah menyematkanku!” seru Etna.


Zeel menatap Etna lalu tersenyum.


Etna dengan nada rendah berkata, “meski aku bukan manusia.”


Zeel tidak mendengar jelas apa yang baru saja Etna katakan.


Zeel bertanya, “apa?”


“bukan apa-apa,” kata Etna.


Etna menatap Zeel lalu tersenyum.


Kini Etna memeluk tangan kiri Zeel erat sembari menggosok-gosokan pipinya pada bahu Zeel.


Kemudian Sophia menoleh ke sisi kiri Etna, terlihat oleh Sophia dua anak kecil dengan baju lusuh.


“Lalu mereka?” tanya Sophia.


Etna menjawab, “mereka adalah adikku.”


“Jadi begitu … lalu apa yang ingin pada mereka, Zeel?” tanya Sophia.


“Sophia … jika memungkinkan, maukah kamu memperkejakan mereka?” pinta Zeel.


Huuuf ….


“Baiklah … anggap saja ini sebagai bagian dari hadiahmu Zeel,” ucap Sophia.


Kemudian Etna melepaskan pelukannya dari Zeel, lalu ia memeluk kedua adiknya erat.


Hiks, hiks, hiks ….


Sembari memeluk kedua adiknya, Etna meneteskan air mata.


“Kakak kenapa?” tanya salah satu adik Etna khawatir.


Menerima pelukan dan tangisan dari kakaknya, kedua adik Etna ikut menangis.


Melihat kehangatan itu, Sophia tersenyum.


“Etna … kamu akan bekerja mulai besok.” Ucap Sophia.


Etna berkata, “baik tuan putri.”


Terpandang oleh Zeel tangisan Etna yang begitu lepas dan mengalir, entah hal-hal berat apa saja yang di alami Etna.


Beberapa saat berlalu, kini Sophia, Zeel, dan Etna sedang berada di ruang kerja Sophia.


Zeel dan Etna tampak duduk berseblahan, Etna masih belum melepaskan pelukannya pada tangan kiri Zeel.


Kini kedua adik Etna sedang duduk pada kursi yang bersebrangan dengan Zeel.


Sementara itu Sophia duduk pada kursi meja kerjanya, membelakangi jendela.


Sophia nampak sedang berpikir keras.


Jika Clare melihat ini akan bahaya, batin Sophia.


“Permisi,” terdengar suara wanita dari luar pintu.


Bahaya! Aku lupa mengunci pintu, ucap sophia dalam hati.


Kreeek …


Pintu terbuka secara perlahan.


Terpandang oleh Sophia sosok Clare memasuki pintu.


“Permisi,” tutur Clare.


Setibanya Clare di ruangan kerja Sophia, terlihat


olehnya Zeel sedang dipeluk oleh wanita yang ia tidak kenal.


“Zeel … kamu selingkuh?” tanya Clare.


Terpandang oleh Zeel sosok Clare sedang berdiri di depan pintu sembari menunjuk Etna.


Sementara itu Etna menatap Clare kebingungan.


“Clare,” ucap Zeel.


Kemudian Clare menatap ke sekitar, terpandang olehnya dua anak kecil.


“Dan kamu sudah punya anak dengannya?” ujar Clare sembari menunjuk kedua anak itu.


Tangan Clare gemetar.


Kedua adik Etna menatap Clare kebingungan.


“Clare aku bisa jelaskan,” kata Zeel.


Ucapan Zeel tidak berarti, kini Clare tenggelam dalam kesalahpahamannya.


Mata Clare bekaca-kaca, kini ia menutup mulut dengan kedua tangannya.


Clare berkata, “Ini terlalu berat bagiku.”


Hue, hue, hue ….


Spontan Clare menangis, kemudian ia berlari


meninggalkan ruang kerja Sophia.


“Clare!” seru Zeel.


Plaaak ....


Melihat kejadian itu, Sophia menepuk jidatnya sendiri.


Kemudian Zeel bangkit dari kursi.


“Zeel?” tanya Etna.


Zeel berkata, “maaf Etna, aku pergi sebentar.”


Lalu Zeel keluar dari ruangan kerja Sophia.


“Zeel?” tutur Etna.


Tanpa penjelasan dari Zeel, Etna kebingungan.


Kemudian Zeel berjalan di lorong, hingga ia tiba di hadapan kamar Clare.


Terlihat pintu kamar Zeel sedikit terbuka, lalu ia menghampiri pintu itu.


Kreeek ….


Zeel membuka pintu kamar Clare secara perlahan.


Terpandang oleh Zeel sosok Clare sedang duduk pada sudut ruangan sembari memeluk lutut.


Hue, hue, hue ….


Terdengar oleh Zeel suara tangisan Clare.


Kemudian Zeel secara perlahan mendekati Clare.


“Clare?” tanya Zeel dengan nada rendah.


Clare memandang Zeel.


“Kenapa kamu ada di sini … uruslah istri dan anak-anakmu,” ucap Clare.


Hue, hue, hue ....


Isak tangis Clare semakin menjadi.


Zeel berkata, “Clare kamu salah paham.”


“Apanya?” tanya Clare.


Zeel berucap, “semuanya.”


..."Ini terlalu berat bagiku."...


...-Clare-...