Zeel Greenlight

Zeel Greenlight
Bagian Tambahan : Dewa



*Catatan penting : bagian tambahan dewa ini merupakan buku dewa yang Zeel baca di perpustakaan istana Bluelight, jika tidak berminat silahkan di lewati saja, terima kasih, selamat membaca.


Dahulu kala, dua sosok dewa sedang berjalan melayang di angkasa.


Kedua sosok itu adalah dewi Athena dan dewa Ares, mereka adalah saudara.


Sebagai dewa, mereka memiliki kemampuan di luar nalar.


Masing-masing dari mereka dikaruniai dua batu sakral pada mata mereka.


Dewi Athena memiliki batu whitestone serta bluestone, sementara adiknya dikaruniai


greenstone serta redstone.


Mereka memiliki bentuk tubuh menyerupai manusia, serta paras yang menawan


Kala itu angkasa hanya hitam gelap gulita.


Terpintas di pikiran dewi Athena untuk menciptakan sesuatu dengan kekuatan whitestone.


Dewi Athena membentangkan kedua tangannya, jadilah Ceres.


“Kakak … ini apa?” tanya dewa Ares.


Dewi Athena menjawab, “ini planet adikku … aku akan memberikan kehidupan pada planet ini.”


“Kehidupan?” tanya dewa Ares penasaran.


Dewi Athena tidak menjawab, ia menjauhi adiknya dewa Ares.


Lalu dewi Athena pergi memasuki Ceres, planet yang baru saja ia ciptakan.


“Kakak … tunggu aku!” ucap dewa Ares dengan nada tinggi.


Tak ingin sendiri, dewa Ares mengikuti kakaknya dewi Athena.


Kala itu panet ceres hanya merupakan kehampaan.


Kini dewi Athena melayang tepat di tengah-tengah planet ceres.


Selepas itu dewi Athena membentangkan kedua tangannya, jadilah daratan.


Dewa Ares mendekati kakaknya.


“Ini apa kakak?” tanya Ares.


“Ini adalah daratan adikku … kehidupan akan berlangsung di sini,” tutur dewi Athena.


Kini seluruh permukaan panet ceres di penuhi daratan yang membentang.


Dewa Ares tidak mengerti tentang apa yang sedang di lakukan kakaknya.


Lalu dewa ares turun ke daratan kemudian ia duduk di daratan itu


Tidak sampai di situ, dewi Athena kembali membentangkan kedua tangannya, jadilah


lautan.


Dewa Ares kini hanya duduk mengamati kakaknya, percuma bagi dewa Ares menyanyakan apa yang kakaknya ciptakan.


Dewi Athena hanya akan menyebutkan hal-hal yang tidak pernah ia dengar sebelumnnya.


Kemudian dewi Athena pergi meninggalkan planet ceres.


Di ruang angkasa yang hampa, ia membentangkan kedua tangannya, jadilah matahari.


Lalu dewi athena kembali membentangkan kedua tangannya, jadilah bulan.


Merasa cukup, dewi Athena kembali ke planet ceres.


Setibanya dewi Athena di planet ceres, ia melihat daratan serta lautan yang luas.


Sembari melayang di langit planet ceres, dewi athena membentangkan kedua tangannya,


jadilah kehidupan di air.


Tidak berhenti sampai di situ, dewa Athena membentangkan tangannya, jadilah kehidupan


di udara.


Sementara itu, dewa Ares masih duduk sembari mengamati kakaknya.


“Heee … sepertinya menarik,” tutur dewa Ares.


Sedang asik dengan ciptaanya dewi Athena tidak memperhatikan adiknya.


Setelah menciptakan kehidupan di air dan di darat, dewi Athena merasa ada yang kurang.


Sembari melayang, dewi Athena membentangkan tangannya, jadilah kehidupan di udara.


Sementara itu, dewa Ares sedang berjalan-jalan di daratan sembari mengamati ciptaan


kakaknya.


Dewa Ares berjalan pada daratan yang di penuhi rumput hijau, pohon pohon berukuran


raksasa bertebaran di sekitarnya.


Dewa Ares terus berjalan hingga ia menemukan sebuah danau di hadapannya.


“Heee … di tempat seperti itu juga ada,” tutur dewa Ares.


Ia melihat sejumlah kehidupan berada di dalam air.


Kemudian dewa Ares mengalihkan padangan pada sisi kanannya, ia melihat seekor makhluk


hidup sedang berjalan dengan keempat kaki.


Makhluk hidup itu tampak memiliki sisik pada sekujur tubuhnya, sisik makhluk itu sedikit


Sesekali makhluk itu menjulurkan lidah dari mulutnya, lidah makhuk itu tampak bercabang


menjadi dua pada bagian ujung.


Dewa Ares yang penasaran, mendekatkan dirinya guna melihat makhluk itu lebih jelas.


Sekarang jarak mereka begitu dekat, kini mereka sedang bertatap-tatapan.


“Heee … dia bergerak,” tutur dewa Ares.


Blam ....


Dengan seketika dewa Ares menghujamkan pukulan pada makhluk hidup itu.


Seketika makhluk hidup itu mengeluarkan suara tanda kesakitan.


Sementara itu, dewi Athena yang sedang melayang di langit, mendengarkan suara dari


kejauhan.


Dengan segera dewi Athena terbang dengan kecepatan tinggi menuju sumber suara.


Hingga ia melihat sosok adiknya yaitu dewa Ares sedang berdiri pada permukaan tanah.


Tidak jauh dari adiknya, dewi Athena melihat seekor makhluk hidup tergeletak tidak


bernyawa pada rerumputan hijau.


Makhluk itu tampak mati mengenaskan dengan keadaan tubuh terbelah dua, dengan segera dewi Athena menghampiri makhluk tidak bernyawa itu.


Lalu dewi Athena duduk pada permukaan rerumputan hijau.


Hiks, hiks ....


Kini air mata dewi Athena menetes lalu mendarat pada bagian kepala makhluk hidup itu.


“Kenapa … kenapa kamu membunuh hewan ini?” tanya Dewi Athena.


Dewi Athena menatap adiknya dengan tatapan serius, pipi dewi Athena tampak masih dibasahi air mata.


“Jadi nama benda itu hewan?” tanya dewa Ares.


“Kenapa kamu membunuhnya?” tanya dewi Athena.


Dewa Ares kebingungan.


Dewa Ares bertanya balik, “membunuh?”


“Karena kamu membunuhnya … makhluk hidup ini mati,” tutur dewi Athena dengan nada sedih.


Dewa Ares bertanya, “mati?”


“Ia tidak hidup lagi!” ucap dewi Athena dengan nada tinggi.


Dewa Ares yang tadinya kebingungan, kini tersenyum.


“Ahh … kalau begitu kakak tinggal menciptakannya lagi, gampang kan?” tutur dewa Ares.


Kini dewi Athena menundukan kepalanya sembari menatap hewan tidak bernyawa itu.


“Pergi,” kata dewi Ares dengan nada rendah.


“Kakak … jangan marah begitu, ini hanya masalah kecil,” tutur dewa Ares coba menenangkan kakaknya.


“Pergi jauh-jauh dari sini!” bentak dewi Athena sembari menatap kesal adiknya.


Melihat keadaan kakaknya yang begitu murka, dewi Ares melayang ke udara lalu pergi meninggalkan planet ceres.


Selepas itu dewi Athena menggali tanah, kemudian ia menguburkan hewan tidak bernyawa itu.


Berbagai hewan-hewan yang ada di sekitar area itu berkumpul, baik yang di darat maupun di udara.


Mereka mengelilingi dewi Athena serta tempat hewan tidak bernyawa itu dikubur.


Pada saat itu tiba-tiba cuaca menjadi mendung, seakan-akan alam juga ikut bersedih.


Dewi Athena tampak masih meratapi kuburan itu, hewan-hewan yang berada di sekitarnya juga merasakan kesedihan dewi Athena.


Lalu dewi Athena mengelus kepala hewan-hewan yang ada di sekitarnya dengan lembut.


Dewi Athena menatap hewan-hewan di sekitarnya, ia sadar akan betapa lemahnya ciptaanya.


Terbesit di pikiran dewi Athena untuk menciptakan makhluk berakal.


Selepas itu dewi Athena bangkit dari duduknya.


Kemudian dewi Athena membentangkan kedua tangannya pada permukaan rumput, jadilah


manusia pertama.


Tampak sosok bayi manusia sedang berbaring telanjang pada permukaan rumput.


Selepas itu, dewi Athena menggendong bayi manusia itu.


“Aku beri nama kamu Eve,” tutur dewi Athena.


Kemudian dewi Athena kembali duduk sembari menggendong Eve, sosok bayi manusia.


“Wahai ciptaanku,” tutur dewi Atena.


Suara bergema ke berbagai penjuru planet ceres, berbagai kehidupan yang ada di darat, udara serta air mendengar suara dewi Athena.


“Manusia yang berada di pangkuanku ini … kelak akan beranak pinak, ia akan menjaga serta mengelola seluruh ciptaanku,” tutur dewi Athena.


..."Aku akan melindungi ciptaanku."...


...-Dewi Athena-...