
Sekumpulan wanita ada di dalam tenda tersebut, tanpa mengenakan baju sehelaipun, rambut mereka sedikit acak-acakan.
Mata mereka menangis, kaki mereka bergetar seperti kedinginan, tatapan mereka kosong.
Ada apa komandan?
Musuh?
Kedua pengawal tampak sigap ketika melihat twnda itu terbuka dan menatap ke dalam.
Mereka bukan bandit?
Kenapa wanita ada di sini?
Sekumpulan wanita itu semakin ketakutan ketika Dail menatap mereka terus menerus.
Seorang wanita memberanikan diri untuk meraih batu kecil disekitarnya, seukuran gempalan tangan orang dewasa.
Gluduk...
Batu tersebut dilempar dan tempat mengenai dada Dail yang tertutup Zirah.
Akibatnya zirah Dail sedikit lecet dan wanita pelempar menyembunyikan diri diantara sekumpulan.
Dail hanya diam tak bergeming.
"Mereka adalah budak **** para bandit, mungkin mereka diculik dari desa atau kota sekitar, abaikan saja mereka," jelas Dail.
Tap, tap, tap....
Dail pergi berjalan ke sekitar diikuti pengawal sembari menatap sekitar.
Sementara itu seorang pengawalnya masih tertahan di tenda tersebut, pengawal itu tampak bergairah, seperti macan yang siap menerkam mangsanya.
"Komandan, apakah aku boleh bermain sebentar?" tanyanya.
"Lakukan sesukamu," kata Dail sembari membuka penutup tenda lainnya.
Kresek, kresek, kresek....
Dail mendengar sesuatu dari antara pepohonan.
"Jangan bergerak," bisik dail kepada pengawalnya.
Sementara itu pengawal Dail yang masih didalam tenda sedang bersenang-senang.
Menikmati tubuh budak bandit yang ada di dalam sana, tangan kirinya mencekik leher budak dan tangan kanannya memegang pisau, sementara itu pinggulnya terus bergoyang.
Budak bandit lainnya hanya bisa membantu Dail dalam beersenang-senang, mereka membiarkan Dail meraba tubuh mereka, tidak seorangpun budak yang menunjukkan perlawanan.
Ahhh....
Suara ******* terdengar hingga keluar tenda.
Wushhh....
Suatu Benda terjun bebas dari langit-langit tenda.
Membuat budak yang sedang pengawal Dail setubuhi menjauh.
"Apa yang kamu lakukan!" gertak pengawal ketika kenikmatannya hilang.
Benda itu ujungnya tampak tajam dan merobek langit langit tenda.
Jlebbb....
Benda tersebut menebus perut belakang pengawal Dail hingga kedepan menancap ditanah.
Tes, tes, tes...
Darah merah mengalir dari mulutnya.
Aaaargghh...
Memicu jeritan semua budak yang ada di dalam tenda.
Kemudian mereka berlari tanpa arah dan tujuan meninggalkan tenda.
Pengawal Dail terkapar bersimbah darah, tanpa zirah besi yang telah ia buka sebelumnya.
Sementara itu Dail yang sedang berada diluar bersama seorang pengawal terkepung oleh sejumlah orang tidak di kenal.
mereka memegang kapak besar pada masing-masing tangan kanan mereka, ujung kapak tampak sedikit bergigi karena terlalu sering digunakan.
Tangan-tangan mereka besar dan berurat, siap untuk bergulat kapan saja.
Sebagian dari mereka memakai zirah besi sebagian tidak, mereka adalah bandit
"Apa yang kamu lakukan!" seru Dail kepada pengawal yang sedari tadi dibelakangnya.
"Baik," sahutnya layu.
Pengawal itu maju dengan kaki yang gemetar.
"Lakukan sesuatu!" seru Dail.
"Baik,"
Pengawal itu tanpa berpikir panjang berlari ke arah sekumpulan bandit dengan pedang besinya.
Baginya tidak ada pilihan yang lebih baik, melawan perintah Dail sama saja melawan kerajaan, tapi melawan segerombolan bandit sama saja dengan mati.
Tap, tap, tap....
Berharap keajaiban ia hanya terus berlari ke depan tanpa tahu harus menebas yang mana terlebih dahulu.
Bahkan matanya tidak menatap segerombolan bandit itu, semakin takutnya ia.
"Lepaskan!" seru pengawal walau tahu kedua lengannya tidak akan dilepas begitu saja.
Pedang besi masih digenggamannya, tetapi pergelangannya yang tertahan membatasi ruang gerak tangannya.
Kedua bandit itu memutar tubuh pengawal hingga menghadap Dail.
Melihat pengawalnya yang tertangkap begitu mudahnya membuat dahi Dail berkeringat, tetapi dia berusaha untuk tetap terlihat tenang.
kemudian seorang bandit dari belakang pengawal mendekatinya dari belakang, membuat pengawal terkepung dari tiga arah.
Bandit itu menempelkan kapak besi pada leher pengawal.
Sreeet...
Dia menggesekan sedikit ujung kapaknya yang sudah tidak rata pada pengawal membuat garis merah pada leher pengawal.
Tes...
Membuat setetes darah mengalir ke tanah.
"Jangan membunuh pengawalku!" seru Dail.
Hah?
Tanya seorang bandit.
"Tunggu sebentar,"
Kresek, kresek, kresek...
Dail menggali sesuatu diantara sakunya dan mengeluarkan sebuah benda berkilau.
"Ini, aku adalah prajurit emas!" seru Dail dengan tangan yang gemetar.
Para bandit itu terdiam dengan mulut terbuka, menatapi benda berkilau pada genggaman Dail, emblem emas kerjaan Riot.
Tamatlah riwayat kita! seru seorang Bandit.
Tanpa Dail perintahkan, sekumpulan Bandit itu segere melepaskan pengawal Dail.
Tap, tap, tap...
Pengawal itu berlari ke arah Dail dengan terhuyung-huyung, lemah seperti selembar kertas yang dapat tertiup angin kapan saja.
"Komandan Dail," seru pengawal itu sembari memeluk erat kaki kanan Dail.
Diantara sekumpulan Bandit, seorang Bandit berbadan terbesar maju kedepan, jenggot putihnya nampak berantakan.
Kemudian ia sujud dihadapan Dail dengan telapak tangan kanan menggumpal dan menempel di ataa tanah.
"Aku adalah ketua sekumpulan Bandit ini, aku akan mengabulkan segala permohonan tuan, tetapi tolong lepaskan kawananku," pintanya kepada Dai.
Menyadari posisi berbalik, Dail menaikkan dagu.
"Apapun?" tanya Dail.
"Tentu tuan," seru Bandit.
Bagi para Bandit, prajurit kerajaan adalah sesuatu yang paling mereka takuti, melawan prajurit kerajaan artinya melawan kerajaan.
Berbeda cerita jika mereka adalah organisasi bandit besar atau tergabung dalam aliansi bandit besar, melawan kerajaan akan menjadi sesuatu yang mungkin.
"Bekerjalah untukku," minta Dail.
"Bekerja?"
"Iya,"
Mengikuti ketua, sekumpulan banfit itu juga ikut sujud.
"Kami siap melayani anda sebagai budak,"
"Bukan seperti itu," kata Dail.
"Aku mengajak kalian untuk bekerja sama,"
"Bekerja sama?" tanya ketua Bandit.
"Kalian tahu di dekat sini ada desa Rout, aku meminta kalian untuk menyerang desa itu tentunya dengan imbalan," ucap Dail sembari melangkah mendekati sekumpulan Bandit.
"Kenapa kami harus menyerang desa tersebut atas perintah anda tuan?"
Gyuttt...
Dail merangkul ketua Bandit yang lebih tinggi darinya, sehingga tangan Dail agak lebih ke atas.
"Kamu tidak perlu tahu detailnya, cukup serang desa itu sesuai perintahku, dan kembali ketika aku meminta kalian untuk kembali," bisik Dail pelan ditelinga ketua bandit.
Tap, tap, tap...
Dail berjalan menjauhi ketua bandit, mendekati pengawalnya yang masih bergetar ketakutan.
"Tentang imbalan, tidak usah khawatir, kalian akan mendapatkan satu persepuluh dari hasil kerja sama kita," terang Dail sembari menepuk pundak pengawalnya yang tidak sadarkan diri.
Sementara itu diwilayah hutan yang sama, Bianno sedang membuka jalan diantara pepohonan.
Di mana ya, batin Bianno.
Bianno sedang menatap sekitar, terkhususnya permukaan tanah, ia sedang mencari tumbuhan obat permintaan warga desa.
Permintaan semacam ini biasanya diminta oleh penduduk usia lanjut sebagai obat, mereka menempelnya dipapan desa dengan harapan pemuda desa mau dibayar imbalan.
..."Bekerjalah untukku,"...
...-Dail-...