
Ruangan ini merupakan ruangan tersembunyi pada perpustakaan istana Haven.
Tidak banyak orang yang mengetahui ruangan ini, hanya orang tertentu saja.
“Ada!" seru Sophia.
Kemudian Sophia tampak menarik sebuah buku pada sisi rak.
Lalu Sophia menyerahkan buku itu pada Zeel.
“Ini,” tutur Sophia.
Zeel membalas, “terima kasih.”
Kini Zeel memegang sebuah buku di tangannya, buku itu tampak begitu tebal dan tua.
Bagian sampul buku itu tidak begitu utuh.
“Bawalah buku itu,” tutur Sophia.
Kemudian Zeel dan Sophia meniggalkan ruangan itu.
Selepas itu Zeel duduk pada kursi yang berada di sisi kiri Clare.
Lalu Zeel meletakkan buku yang ia bawa pada permukaan meja.
Dewa, tertulis pada sampul buku itu.
Zeel menoleh ke arah Sophia.
Terlihat sosok Clare yang sedang menatap buku dengan mata berbinar-binar.
Namun anehnya Clare masih berada pada halaman sampul buku.
“Kamu tidak ingin membaca buku itu?” tanya Zeel.
Clare tidak menatap balik Zeel, pandangannya masih fokus pada sampul buku.
“Aku akan membaca buku ini,” tutur Clare dengan semangat.
Lalu Clare membuka lembar pertama pada
buku itu.
Beberapa saat kemudian Sophai datang, lalu ia duduk pada kursi yang berada pada sisi kanan Clare.
Kini Sophia duduk sembari menyandarkan kepala pada telapak tangan kanannya.
Pandangan Sophia tertuju pada Clare.
Terlihat oleh Sophia sosok Clare yang begitu bersemangat.
Namun ada yang aneh pada pandangan Clare, pandangannya hanya terfokus pada satu titik.
Seolah-olah Clare hanya sdang melihat, tidak sedang membaca.
“Bagaimana?” tanya Sophia.
“Aku tidak bisa membaca!” tutur Clare bersemangat.
Sophia tampak tersenyum ramah.
Lalu Sophia berkata, “ kalau begitu … mau aku bacakan?”
“Mau!” seru Clare.
Pagi hari itu Zeel dan Clare serta Sophia menghabiskan waktu di perpustakaan istana Bluelight.
Kini Clare tampak begitu bersemangat, ia menatap buku bunga es dengan serius sembari mendengarkan Sophia yang sedang membacakan isi buku itu untuknya.
Sophia membuka lembar demi lembar.
Sementara itu Zeel sedang membaca buku perang dewa dengan begitu serius, Zeel mengacuhkan sekitarnya, termasuk suara Sophia.
Tidak berasa bagi Zeel dan Clare serta Sophia, kini siang hari tiba.
Pada siang hari itu Zeel sudah selesai membaca halaman terakhir buku perang dewa.
Wajah Zeel tampak tercerahkan, kini ia lebih mengenal batu sakral.
Kemudian Zeel menoleh ke sisi kanannya, terpandang olehnya sosok Clare sedang menangis.
Hiks, hiks ....
Tetes mata mengalir pada pipi Clare.
“Ada apa Clare?” tanya Zeel khawatir.
Zeel kebingungan.
Untuk beberapa saat Zeel tenggelam pada dunia buku yang ia baca.
Namun ketika ia kembali, kekasihnya sedang menangis.
“Ada apa Clare?” tanya Zeel khawatir.
Hiks, hiks ....
Clare menangis tersedu-sedu.
“Ceritanya … begitu sedih,” ucap Clare.
Kemudian Zeel mengelus kepala rambut kekasihnya dengan lembut.
Lalu Zeel mengalihkan pandangannya kepada Sophia.
Sophia nampak tersenyum kecil sembari melihat Zeel dan Clare.
“Sophia … kamu tidak menangis?” tanya Zeel.
“Tidak … aku sudah membaca buk—" ucap Sophia terhenti.
“Tuan putri!” terdengar suara lelaki.
Spontan Sophia menengok ke sumber suara, terlihat olehnya salah satu prajurit istana sedang berdiri di depan pintu perpustakaan.
“Zeel … Clare, aku pergi dulu,” tutur Sophia.
Selepas itu Sophia bangkit dari kursi, lalu ia menghampiri prajurit istana yang sedang berdiri di pintu.
“Bunga ini … aku sangat menginginkannya,” tutur Clare.
Zeel menatap Clare, tampak Clare sedang mengamati sampul buku bunga es.
Entah sejak kapan Clare tidak menangis lagi, kini matanya kembali berbinar-binar menatap sampul buku bunga es itu.
“Clare … kamu menyukai bunga es?” tanya Zeel.
“Suka!” seru Clare.
Zeel berkata, “kalau begitu … aku akan mencarikan bunga itu untukmu.”
Seketika Clare bangkit dari kursi, lalu ia menghampiri Zeel.
Kini wajah mereka begitu dekat.
“Benarkah?” tanya Clare dengan mata berbinar-binar.
“Benar,” tutur Zeel.
Kemudian Zeel mengelus kepala rambut Clare dengan lembut.
“Kalau begitu aku akan menunggu,” tutur Clare.
Zeel menjawab, “baiklah.”
“Jika kamu kembali membawa seorang wanita ... aku tidak akan memaafkanmu!” tutur Clare dengan wajah serius namun terlihat imut.
“Clare … sebenarnya kamu pikir aku ini apa?” tanya Zeel.
“Guru bilang padaku … laki-laki itu suka selingkuh,” jawab Clare.
“Tidak akan,” kata Zeel.
Selepas itu Zeel bangkit dari kursi.
“Aku pergi dulu,” tutur Zeel.
Clare berucap, “baiklah … hati-hati ya,” tutur Clare.
Lalu Zeel pergi meninggalkan perpustakaan istana Bluelight diiringi lambaian tangan Clare.
Kemudian Zeel berjalan di lorong istana.
Bunga es … dari mana aku mendapatkannya? batin Zeel.
Sembari menatap lampu pijar yang berada di sepanjang lorong istana, Zeel berpikir harus bagaimana untuk mendapatkan bunga es.
Tiba-tiba Zeel teringat toko bunga yang ia hampiri bersama Clare dan Sophia kemarin.
Kemudian Zeel memutuskan untuk ke toko bunga itu.
Sembari terus berjalan di lorong, Zeel teringat percakapan antara Clare dan Sophia.
Pada percakapan itu, Sophia mengatakan bahwa bunga es hanya ada di dalam dongeng.
Seketika Zeel pupus harapan.
Tiba-tiba terlintas di pikiran Zeel wajah Clare yang begitu berharap padanya.
Pemilik toko bunga itu pasti tahu sesuatu, batin Zeel
Kemudian Zeel membulatkan tekatnya untuk pergi ke toko bunga yang ia hampiri kemarin.
Zeel tidak ingin kembali dengan tangan kosong.
Lalu Zeel pergi meninggalkan istana, tidak ada halangan berarti dari prajurit istana Bluelight, mereka mengenal wajah Zeel.
Ketika Zeel pergi meninggalkan istana, badai salju perlahan mulai mereda.
Kemudian Zeel berjalan di antara perumahan penduduk, jalan berbatu Zeel lalui.
Tampak sejumlah penduduk biasa serta sejumlah prajurit istana Bluelight sedang membersihkan jalan yang tertutup salju.
Mereka nampak menggunakan alat tertentu.
Demi menghindari hal-hal buruk terjadi, Zeel memutuskan untuk menutup kepala mengenakan penutup kepala pada jubahnya.
Zeel tidak begitu mengetahui jalanan kota benteng Haven, tapi memorinya selama perjalanan kemarin masih tersisa.
Hingga memori Zeel membimbingnya kepada sebuah toko bunga.
Tidak salah lagi, batin Zeel.
Kemudian Zeel masuk ke dalam bunga itu.
Terpandang oleh Zeel sejumlah pot bunga dengan keadaan tertata rapi.
Pot-pot bunga itu berisikan bunga yang begitu beragam bentuk maupun warna, bunga-bunga itu asing bagi Zeel.
“Permisi!” seru Zeel.
Tidak ada jawaban, suasana toko begitu hening.
“Permisi!” seru Zeel lagi.
Zeel mendengar langkah kaki mendekatinya.
Lalu Zeel menoleh ke sumber suara.
Terpandang oleh Zeel sosok nenek-nenek sedang berjalan dengan bantuan tongkat.
Kulit nenek itu tampak keriput serta rambutnya berwarna putih.
Seperti penduduk kota benteng Haven pada umumnya, nenek itu mengenakan pakaian tebal
Postur nenek-nenek itu lebih pendek dari Zeel.
..."Aku tidak bisa membaca!"...
...-Clare-...