Zeel Greenlight

Zeel Greenlight
Bagian 8 : Kota Benteng Haven V



19 september tahun 1700, istana Bluelight, kota benteng Haven.


Seperti hari-hari sebelumnya, hari itu cuaca cukup dingin hingga menusuk tulang.


Cuaca seperti ini merupakan hal yang lumrah bagi seluruh penduduk kota benteng Heaven.


Mereka selalu menggunakan baju berbahan tebal saat beraktivitas.


Pagi hari itu Clare terbangun dari tidurnya.


Dengan keadaan setengah sadar Clare mengucek matanya.


Clare melihat sinar matahari menembus jendela, namun sinar itu tidak beriringan dengan panas.


Cuaca begitu dingin hingga Clare tidak ingin melepas selimut dari tubuhnya.


Ingatan Clare agak kabur, ia mencoba mengingat apa yang terjadi.


Kalau tidak salah, aku ada di kamar Zeel, tutur Clare dalam hati.


Jangan-jangan, batin Clare.


Entah kenapa seketika pipi Clare memerah.


Beberapa saat kemudian Clare bangkit dari tempat tidur.


Aku akan meminta Zeel untuk bertanggung jawab, kata Clare dalam hati.


Clare bangkit dari tempat tidur dengan perpaduan ekspresi antara marah dan malu.


Selepas bangkit dari tempat tidur, Clare menghampiri kursi panjang lalu ia melihat Zeel.


“Zeel aku minta tanggung ja—” kalimat Clare terhenti.


Ia melihat Zeel yang sedang tertidur dengan nyenyak di kursi, Zeel tertidur dengan posisi melengkung.


Clare menghentikan kalimatnya, ia tidak ingin membuat Zeel terbangun.


Zeel tertidur tanpa keadaan selimut, padahal cuaca sedang sedingin ini, ucap Clare dalam hati.


Seketika Clare Kembali ke tempat tidur, lalu ia mengambil selimut.


Kemudian Clare mengenakan selimut itu pada Zeel yang sedang tetidur di kursi panjang.


Lalu Clare duduk di lantai yang berada tak jauh dari Zeel.


Clare menatap Zeel yang sedang tertidur.


Seperti bayi, batin Clare.


Entah kenapa Clare tersenyum-senyum sendiri.


Beberapa saat kemudian Zeel terbangun dari tidurnya.


Dengan tatapan buram Zeel melihat seseorang sedang duduk menatapnya.


Pandangan Zeel semakin jelas, kini ia mampu melihat dengan jelas siapa sosok yang sedang menatapnya.


Orang itu adalah Clare.


“Clare …,” ucap Zeel dengan nada rendah.


Seketika dengan keadaan terbaring Zeel mendekatkan wajahnya pada wajah Clare.


Zeel menggerakan tangan kanannya ke bagian belakang kepala Clare, lalu ia mendorong kepala Clare mendekati wajahnya.


Kini dahi mereka saling bersentuhan.


“Syukurlah, tubuhmu tidak dingin lagi,” ucap Zeel.


Mata mereka bertatapan, mereka begitu


dekat.


Seketika pipi Clare memerah.


Dak, dig, dug ....


Jantung Clare berdetak kencang.


Selepas itu Clare mendorong Zeel lalu ia menjauhi Zeel.


“Ada apa denganmu?” tanya  Clare dengan nada tinggi.


Clare tampak marah namun juga tampak malu.


“Kamu tidak mengingatnya?” tanya Zeel.


Clare berkata, “ya aku memang tidak mengingatnya … pasti kamu berbuat yang ti—"


“Kamu kemarin malam sakit,” Zeel memotong kalimat Clare.


“sakit?” tanya Clare dengan wajah penasaran.


Kemudian Zeel menjelaskan kepada Clare kejadian semalam, tampak Clare tidak begitu mengingat kejadian semalam.


Clare mendengar cerita Zeel dengan tatapan sinis, bagi Clare bisa saja Zeel mengarang cerita.


Tapi, seandainya apa yang di ceritakan Zeel merupakan kebohongan, cerita itu tidak akan menjadi alasan bagi Clare untuk membenci Zeel.


“Baiklah … aku akan percaya pada ceritamu,” kata Clare.


Tak lama setelah itu, seorang wanita berpakaian lengkap ala pelayan istana Bluelight datang mehampiri mereka.


“Tuan saatn—” ucap pelayan itu terhenti.


Terjadi kontak mata antara pelayan itu


“Tuan dan nyonya … saatnya sarapan, tuan putri sedang menunggu kalian,” ucap pelayan itu.


“Kami akan segera ke sana,” balas Zeel.


Kemudian pelayan itu pergi entah kemana.


Beberapa saat kemudian Zeel dan Clare pergi ke ruang makan istana, di sana Sophia sudah menunggu mereka.


Pagi itu Zeel dan Clare menyantap menu sarapan yang tidak biasa bagi mereka, sementara Sophia terlihat biasa saja.


Selepas sarapan mereka pergi ke balkon istana.


Balkon istana berada tepat pada sisi kiri ruang singgasana istana Bluelight.


Ukuran balkon istana cukup luas hingga mampu menampung lima puluh orang.


Tepian balkon istana di batasi oleh pagar yang terbuat dari bebatuan.


Pada pagar pembatas terdapat sejumlah tiang berukuran besar sebagai tumpuan atap balkon istana.


Tidak banyak benda di balkon istana, hanya terdapat sebuah meja berukuran sedang serta sejumlah kursi.


Pagi itu Zeel, Clare serta Sophia tidak duduk di sana, melainkan mereka pergi ke tepian balkon lalu bersandar pada pagar pembatas balkon istana.


Terpandang di hadapan mereka wilayah kota benteng Haven yang luas.


Pagi itu aktivitas penduduk kota benteng Haven mulai ramai.


Mereka nampak mengenakan pakaian tebal.


Berbeda dengan kota benteng Clever, tidak ada pagar pembatas antar wilayah di dalam benteng.


Wilayah yang ada di kota benteng Haven cenderung membaur.


Terkecuali wilayah istana, satu-satunya wilayah yang di keliling dinding.


Pagi itu suasana dalam keadaan mendung.


Butiran salju berjatuhan dari langit.


Di saat Clare, Zeel serta Sophia memandang ke luar istana, terdengar suara Langkah kaki dari belakang, suara kaki itu mendekati mereka.


Tap, tap, tap ....


Spontan mereka menoleh ke belakang.


Suara Langkah kaki itu berasal dari Emily, Leon, dan Luis yang sedang berlari menghampiri mereka.


Juga tampak seorang pelayan wanita berada di belakang ketiga anak-anak itu.


“Kakak!” ucap ketiga anak itu bergantian sembari berlari.


Lalu Leon dan Luis memeluk Clare, sementara Emily memeluk Zeel.


“Kakak Clare, aku ingin pulang,” ucap Leon.


Luis berkata, “aku juga.”


“aku juga,” tutur Emily.


Sophia mendekati ketiga anak itu lalu mengelus kepala mereka.


“Sebaiknya kalian di sini dulu untuk sementara ... kakak akan memberikan kalian banyak es krim,” ucap Sophia lalu tersenyum kecil.


Lalu Sophia melirik seorang pelayan wanita yang berada di belakang ketiga anak itu.


“Ada yang mau es krim? Ucap pelayan wanita itu dengan ramah.


“Mau,” balas Leon, Luis, serta Emily serentak.


“Kalau begitu kemari,” tutur pelayan wanita itu.


“Kakak Zeel, kakak Clare, kami pergi dulu ya,” ucap Leon.


“Sampai jumpa,” kata Emily sembari melambaikan tangan.


Luis berkata, “sampai nanti.”


“Kalian jangan berbuat nakal ya,” pesan Clare.


Kemudian ketiga anak itu pergi mengikuti pelayan wanita meninggalkan balkon istana.


Tampak ketiga anak itu begitu menggemari es krim.


Sama seperti Zeel dan Clare, ketiga anak itu juga disuguhi es krim Ketika berada di istana Bluelight.


Kini hanya tersisa Zeel, Clare serta Sophia di balkon istana.


“Bagaimana?” tanya Zeel.


Sophia berkata, “aku sudah mengirim tim investigasi ke desa Cochem, mereka akan kembali ketika sudah menemukan sesuatu.”


“Aku berharap hal buruk tidak terjadi … ketiga anak-anak itu masih kecil,” kata Zeel.


“Semoga seluruh penduduk desa itu baik-baik saja,” ucap Clare.


Zeel, Clare serta Sophia begitu khawatir akan kejadian ini, namun mereka berusaha menutup-nutupi atau mengalihkan pikiran ketiga anak itu.


Hal buruk bisa saja terjadi, bukan sesuatu yang normal ketika hampir seluruh penduduk suatu desa hilang dalam waktu semalam.


Kini mereka hanya bisa menunggu hasil tim investigasi tentang apa yang terjadi.


..."Dingin sekali."...


...-Clare-...