
Dalam hatinya, Sheila terus mengutuk pria di hadapannya itu.Bebagai sumpah serapah ia ucapkan,matanya mengisyaratkan kalau saat ini ia sedang memendam kekesalan yang teramat dalam. Bibirnya mengerucut, komat kamit tanpa suara.
"Apa yang sedang kamu pikirkan?. " Fajar yang menyadari kalau gadis didepannya itu lagi menggerutu didalam hatinya menggetok kening Sheila pelan.
"Lama-lama gadis ini kalau dilihat-lihat bisa bikin gue jatuh cinta. Ahk.. sial!. " gerutunya dalam hati.
"Ngapain bengong disitu, ayo jalan!Lepas saja kacamata hitam mu itu! . " sentaknya.
Tentu saja mendengar hal itu membuat Sheila tersentak dari lamunannya yang masih sibuk dengan isi hatinya berucap sumpah serapah.
"Saya sedang sakit mata Pak, maaf. " jawab Sheila dengan tetap memendam geram.
"Ayo payungin saya!!. " ujar Fajar dengan suara yang mendominasi.
Sheila tak bisa mengelak, itu memang tugasnya.Dengan berat hati, ia pun memayungi Fajar sampai ke Aula tempat diadakannya seminar seperti kemaren.
Semua mahasiswi berseru kepada mereka. "Huuuuuuu, Sheila, Sheila, Sheila.. " Mereka meneriakkan nama Sheila sambil bertepuk tangan.Seolah sedang mendukung Sheila untuk mengambil hati si dosen tamu itu.
"Sudah... sudah, harap tenang semuanya. " ujar ketua panitia di atas panggung dengan menggunakan mikrofon membuat semuanya terdiam.
Sheila merasa sangat malu, karena ukuran payung yang lumayan kecil itu sudah memaksanya sedikit mepet dengan tubuh Fajar.Hal itu juga yang dirasakan oleh Fajar, pria dingin itu merasakan hawa panas didalam tubuhnya, saat kulit mereka bersentuhan saat dijalan dari parkiran menuju gedung Aula pertemuan.
Setelah sampai digedung, Sheila segera meredupkan payung dan menggantungnya di pojok ruangan.Lalu dengan sigap ia mempersilahkan dan membimbing Fajar untuk menaiki panggung dan duduk bersama para dosen di sofa yang sudah disediakan dipojok Panggung besar itu.
"Silahkan Pak.. " ujar Sheila sambil merapikan sofa yang akan diduduki oleh Fajar.
"Terimakasih." jawab pria itu, kembali senyuman menyeringai terbit di salah satu sudut bibirnya.
Tak lama acara pun di mulai, Sheila yang tetap berdiri diatas panggung namun sedikit ke belakang dapat melihat, kalau dibawah sana, didekat pintu masuk, Alya berdiri dan menatap sinis ke arahnya.
"Alya maafin aku.. " Sheila mencoba bicara lewat gerakan bibir tanpa menimbulkan suara kepada sahabatnya itu, sudah pasti Alya kecewa, Pagi ini ia sampai terlambat bangun karena kesiangan, semalaman ia tak bisa tidur karena matanya tak bisa terpejam, selalu menghayalkan hari ini, dimana ia akan mendampingi pria idamannya Fajar Sidiq Mubarak,cowok spek Pangeran berkuda putih yang sering ia impikan didalam tidurnya.
Tapi kenyataannya hari ini ia harus kecewa dan menelan pil pahit, karena pada akhirnya Sheila lah yang kini menggantikan dirinya.
Acara pun dimulai, kini Fajar kembali memberikan pidato kuliah nya.Pria itu terlihat sangat karismatik dan wajar saja kalau banyak mahasiswi yang kepincut, apalagi sekarang statusnya sudah menduda.
Alya dan Raysa yang naik ke panggung untuk menyajikan makanan untuk para dosen dan juga si pembicara yang sedang berpidato terus saja mempelototi Sheila. Sheila yang menyadari hal itu langsung memanggil kedua sahabatnya itu untuk mendekat ke arahnya.
"Maafin aku ya Al, ini bukan kemauan aku kok. " ujar Sheila.
"Hellleh, bilang aja kalau kamu memang kepingin jadi asistennya Pak Fajar kan?. "
Pria muda yang menjadi topik pembicaraan itu tiba-tiba berdeham "Ekhemm.. " ujarnya di mikrofon, sehingga semua orang bisa mendengar ucapannya.
Sekali, dua kali, Fajar terus berdehem.Seolah memberi kode kepada sang asisten seharinya kalau dia lagi butuh minum.
"Shel, Minum, cepeeeet kasih minum. " ujar Raysa sambil menyenggol lengan sahabatnya itu.
"Eh, biar kali ini aku aja yang kasih." Alya tak mau menyia-nyiakan kesempatan kali ini.Ia pun segera meraih sebotol air mineral dan bergegas memberikannya pada Fajar.
Mata Fajar seketika melebar saat ia menyadari bahwa bukanlah Sheila yang memberikan air mineral itu padanya.Pandangannya langsung beralih ke arah belakang sofa, dimana Sheila dan Raysa berdiri cengo. Sekilas ia bisa melihat kalau gadis berkacamata hitam itu sedang tersenyum sinis ke arahnya.
"Oh.. mau main-main kau rupanya.Kita lihat saja nanti, setelah ini apakah kamu bisa mempermainkan aku lagi atau kamu akan bertekuk lutut memohon ampunanku. " batin Fajar.
"Eh Shel,kamu lihat 'kan tadi?. Sepertinya Pak Fajar menatap kamu dalam banget. Kayak mau nerkam gitu...khawww... . " ujar Raysa sambil memperagakan gerakan kucing hutan yang akan menerkam mangsanya.
"Apaan sih Sa? ,mana berani dia nerkam aku. Yang ada kamu kali yang mau diterkam. " sewot Sheila.
Kini ia bertekad akan melawan dan membalas setiap perlakuan pria itu.
****
Setelah seminar hari ini berakhir dan di tutup dengan acara foto bersama diatas panggung sebagai kenang-kenangan, Fajar yang sedang bersalaman dengan para petinggi kampus sekilas melirik ke arah Sheila.
Sheila tahu jika pria itu tengah melirik setajam silet kepadanya, dengan berani Sheila membalas balik lirikan pria itu lalu memalingkan muka.Sejak mengetahui maksud dan tujuan dari Fajar, ia tak ingin terlihat lemah lagi.
Tanpa menunggu Sheila langsung menuruni panggung dan meminta izin pada ketua panitia untuk pulang terlebih dahulu.Satu hal yang pasti, Sheila ingin menghindari pria itu. Ia tidak mau diintimidasi seperti yang sudah-sudah.
Namun sayangnya, baru saja Sheila sampai di pintu masuk Aula, lagi-lagi namanya dipanggil dengan pengeras suara dan diminta mengantarkan Pak Fajar yang terhormat kembali ke mobilnya oleh Pak Rinto sang dosen.
Sheila mendengkus kesal mendengar hal itu, Raysa dan Alya yang baru saja mau mengejarnya kini juga ke
ikutan heran.Kenapa juga tuh dosen tamu terus-terusan pengen ditemani oleh Sheila, apakah mereka saling mengenal sebelumnya?. Tak jarang para mahasiswa dan mahasiswi yang ada di sana juga merasakan hal yang sama.
Sheila memang tidak beranjak dari tempatnya, ia hanya menoleh kebelakang dan berkata. "Maaf Pak, saya harus pergi. " ujarnya,mendengar ucapan Sheila itu ekspresi wajah Fajar langsung berubah.
Semua orang langsung kebingungan, ada apakah gerangan antara pengacara Fajar ini dan Sheila?.Kenapa mereka terlihat seperti sedang dalam sebuah hubungan? Persis seperti pasangan kekasih yang sedang bertengkar.
Dengan cepat, Fajar segera mengucapkan kata "Permisi Bapak-bapak. " Sambil menangkupkan tangannya.Lalu ia berlari menuruni panggung dan langsung menuju ke tempat dimana Sheila sekarang sedang berdiri.
Melihat tindakan pria itu, Sheila sedikit gentar.Apa kata orang? , pasti semua orang akan berfikir kalau diantara mereka berdua ada sebuah hubungan.
"Maaf Pak Fajar, sebenarnya apa mau Anda? kenapa Anda terus saja meminta saya melakukan ini dan itu?. " tanya Sheila kesal. Fajar sejenak menatap sekeliling sebelum ia menjawab pertanyaan Sheila.
"Sebaiknya kita bicara di tempat lain, ada yang mau saya sampaikan sama kamu!. " Ujar Fajar dengan suara lirih agar tidak didengar oleh orang lain yang masih memperhatikan mereka dari jauh.
Terdengar bisik-bisik dikalangan mahasiswi "Yaaa, kayaknya Pak Fajar suka deh sama Sheila.Pupus deh harapan kita. " keluh mereka.
Untuk kali ini, karena ia juga tidak mau dijadikan bahan gosip di kampusnya, Sheila mencoba berdamai dengan keadaan.
"Ikuti saya!. " suara Bas Fajar yang tepat di sisi telinga Sheila.Lalu pria itu bergegas pergi ke arah parkiran.
Dengan kesal Sheila terpaksa mengikutinya."Apa mau Anda sebenarnya?!. "sergah Sheila setelah mereka sampai di parkiran.
" Kamu bertanya mau saya??. "Fajar mendekatkan wajahnya kepada Sheila.
Bulu kuduk Sheila meremang seketika karena hembusan nafas Fajar yang begitu dekat menerpa kulit pipinya. Bahkan Sheila sampai memundurkan wajahnya agar jaraknya dan Fajar sedikit jauh.
" Cepat katakan, saya masih banyak urusan yang lainnya!. "ujar Sheila ketus.
" Coba kamu tanyakan pada kedua orang tuamu, syarat apa yang sudah saya ajukan?! "sinis Fajar.
" Dasar laki-laki tidak punya etika, Anda pikir saya sudi?!, jangan mentang-mentang Anda dari pihak korban jadi bisa mengintimidasi dan memperlakukan saya seperti sapi perah Anda ya!!!. "Sheila sudah tak tahan lagi.
" Hooo, rupanya kamu sudah tahu?. Asal kamu tahu saja ya gadis judes!Saya bisa saja mengirim kamu ke penjara. Kamu Pikir setelah orang tuamu yang kaya raya itu membeli dan melenyapkan semua bukti kecelakaan itu,Saya akan tinggal diam begitu saja dan membiarkan kalian bertindak sesuka hati kalian??! Hekh??!!!. "Fajar mencengkram dagu gadis itu dengan kuatnya sampai-sampai Sheila merasa tercekik dan kesulitan untuk bernafas.