
Fajar duduk mendekat disisi Sheila,lalu dengan sangat hati-hati ia membuka kotak kecil beludru itu di hadapan istrinya.
Seketika mata Sheila terpaku dengan apa yang ada di hadapannya,tepatnya dengan isi yang ada dalam kotak beludru itu.
"Cincin?" tanyanya, bingung.
"Iya, ini cincin untuk kamu."Fajar mengeluarkan cincin yang bertahtahkan berlian itu dari tempatnya.Lalu kemudian ia hendak meraih tangan kiri Sheila,namun Sheila malah menahan tangannya.
"Apa maksudnya Anda melakukan semua ini?"
Sheila tidak mau kalau nanti semua ini akan merugikan dirinya terlalu jauh,ia harus tetap waspada.Sheila tidak ingin lupa,kalau pernikahan mereka hanyalah sebatas kontrak perjanjian belaka.
"Saat kita menikah waktu itu,aku hanya memberikan mahar berupa uang sebesar seratus ribu rupiah saja.Tapi hari ini,aku ingin memberikan sebuah cincin pernikahan untuk kamu." Fajar meraih tangan kiri Sheila dan langsung memasangkan cincin itu di jari manisnya.Cincin itu melingkar dengan pas disana.
Sejenak Sheila tersentuh dengan pemberian Fajar dan sikap lembut suaminya itu.Tapi setelah itu ia kembali sadar,mungkin ini semua hanya sebatas, karena Fajar ingin mengucapkan terimakasih kepadanya saja,karena ia sudah bersedia diajak menjadi partnernya di atas ranjang.
Tiba-tiba hati Sheila terasa mencelos karena pikirannya sendiri,ia tidak boleh terlena,'"Ingat Sheila,pernikahan ini hanya sebatas perjanjian kontrak saja." batin Sheila.
"Maaf Mas, sepertinya aku tidak bisa menerima cincin ini."Sheila dengan buru-buru melepaskan cincin berlian itu dari tangannya, sehingga membuat mata Fajar melotot tajam.Apalagi saat Sheila meletakkan cincin itu diatas tempat tidur begitu saja.
Fajar tidak menyangka,kalau Sheila akan melakukan hal yang demikian.Tadinya ia hanya ingin agar identitas Sheila yang sudah menikah bisa di ketahui secara perlahan oleh teman kampusnya.Ia sengaja menyematkan cincin kawin, agar semuanya pada tau,kalau Sheila sudah ada yang memiliki.
"Mengapa kamu melepaskannya?apa kamu tidak ingin orang-orang tau kalau kamu sebenarnya sudah menikah?! " Nada suara Fajar mulai berubah menjadi tinggi.
Sheila terkesiap mendengarnya,ia tidak menyangka kalau Fajar akan marah karena pemberiannya di tolak,wanita itu kini menunduk ketakutan.
"Lihat ini!,aku juga sudah memakainya."Fajar menunjukkan jari manis kirinya yang sudah dipasangi cincin serupa,tapi bentuknya saja berbeda.Di cincin Fajar tidak ada berliannya, dan juga ukurannya lebih besar.
Netra Sheila berpindah ke jari tangan Fajar,ia bisa melihat kalau suaminya itu sama sekali tidak berbohong kepadanya.
"Apa dia benar-benar menyukaiku sekarang?, tapi itu tidak mungkin. Aku juga tidak menyukainya, hubungan ini hanya sebatas status dan juga sampai kami memiliki anak saja. Aku tidak mau selamanya jadi istrinya, iya, aku tidak sudi, " batin Sheila menampik.
Air mata kini tertahan di pelupuk mata Sheila, ia bingung harus bagaimana.Tadi malam itu, dirinya hanya tidak ingin membuat Fajar murka, ia tidak memberontak saat Fajar menyentuhnya,karena ia ingin cepat hamil dan tugasnya selesai.
Tapi ternyata,suaminya itu kini mulai menambahkan peraturan baru di dalam surat perjanjian yang baru lagi.
"Kenapa kamu tidak bisa menerimanya? " tanya Fajar.
"Bukankah hubungan ini hanya sebatas melahirkan anak saja?, aku rasa kita tidak perlu memakai cincin kawin,"ucap Sheila sambil menyeka air matanya,pandangannya tertunduk tak berani menatap suaminya itu.
"Apa kamu tidak ingat klausul yang terakhir tadi?" tanya Fajar lagi.
"Tapi,,, " Sheila nampak masih ragu.
"Kalau kamu mau,kita bisa menghapuskan surat perjanjian itu dan memulai dari awal lagi,"ujar Fajar.
Fajar memegang kedua bahu Sheila untuk meyakinkannya, "Bagaimana? kamu mau kan?" tanya Fajar lagi.
Sheila nampak masih berpikir,ia tidak boleh gegabah. Memang sejauh ini mereka tinggal bersama, sikap Fajar padanya berangsur-angsur berubah.Suaminya itu, kini mulai lembut dan tidak sekasar dulu.
Tapi bukannya marah,Fajar marah meraih tubuh Sheila dan memeluknya.
"Kalau boleh jujur, akhir-akhir ini,aku mulai nyaman dengan mu."Fajar terus memeluk Sheila,meskipun wanita itu berusaha untuk melepaskan diri dari pelukannya.
" Tapi ini tidak boleh terjadi Mas,kamu lupa ya?kita menikah hanya sampai anak yang kamu inginkan itu lahir.Aku masih ingin melanjutkan study ku setelahnya,aku belum ingin menikah tadinya."Sheila mendorong dada Fajar dan menjauh.
"Oleh karena itulah,aku ingin kita menjalankan pernikahan ini sebagai mana mestinya.Aku sebagai suami kamu yang sah,menginginkan kamu sebagai istriku.Baik itu didalam rumah ini,maupun diluar sana.Aku tidak mau ada laki-laki lain yang mengejar istriku! " tegas Fajar.
"Soal study kamu, kamu bisa terus kuliah sampai kamu sarjana dan bekerja pun tak masalah."Fajar masih berusaha meyakinkan Sheila.
Sheila terkesiap mendengar ucapan Fajar, "Apa Mas Fajar,,,sudah mulai jatuh cinta padaku?" tanya Sheila.
Fajar berdiri dan membalik badannya, membelakangi Sheila.Dadanya naik turun dengan cepat,ia sendiri juga tidak mengerti dengan apa yang ada didalam hatinya,benci... atau cinta??
"Mas tidak bisa menjawabnya 'kan? " Sheila pun berdiri sambil membalut tubuhnya dengan selimut,lalu ia berlalu ke kamar mandi sambil menangis.
Sheila terus menangis,ia tidak mengerti apa mau Fajar sebenarnya.Kadang sikapnya kasar, kadang seketika berubah menjadi selembut marshmello.
Fajar masih terpaku di depan pintu kamar mandi,yang di dalamnya ada Sheila.Laki-laki itu nampak merasa bersalah mendengar isak tangis Sheila didalam sana.
"Sheila,dengarkan aku."Fajar mencoba membujuk Sheila.
" Untuk apa?dari awal kita memang tidak punya hubungan apa-apa.Semuanya akan kembali seperti semula saat aku sudah berhasil melahirkan anak untuk kamu,PAK FAJAR."Kini Sheila juga kembali merubah panggilannya kepada Fajar.
Jawaban dari Sheila,tentu saja sudah melukai hati Fajar.Ia sadar sekali,Sheila mengatakan itu,pasti karena sikapnya selama ini pada istrinya itu.
Tadinya Fajar juga mengira,kalau perasaan di dalam hatinya ini hanya sebatas rasa tidak terimanya melihat Sheila selalu di dekati oleh laki-laki di kampusnya,yaitu Angga.
Fajar membelikan cincin kawin itu,hanya karena ingin memberitahukan identitas Sheila ke semua orang,kalau wanita itu sudah menikah.Tapi pertanyaan Sheila tentang 'apakah dia mencintai Sheila? 'itulah yang sekarang sedang mengusiknya.
"Baiklah,kalau itu yang kamu mau.Aku akan ke bawah dulu,berhentilah menangis.Aku tidak ingin melihat matamu bengkak,simpanlah cincin itu kalau kamu tidak mau memakainya," ujar Fajar.
Mendengar itu,Sheila langsung mengusap air matanya.Ia sangat yakin kalau laki-laki itu sudah pergi dari kamar sekarang. Terdengar suara pintu kamar yang di tutup.
Sheila segera mandi dan membersihkan dirinya,ditatapnya bayangan dirinya di pantulan cermin kamar mandi itu.
Sejenak ia berpikir akan apa yang baru saja terjadi,"Apa benar, laki-laki itu ingin kami hidup bersama sampai seterusnya?, tapi mengapa ia tidak bisa menjawab pertanyaan dariku? apakah karena dia masih bingung dengan perasaannya,sama seperti ku? "gumam Sheila.
****
Sementara itu, di dalam kamar tamu rumahnya.Fajar juga sedang mandi di kamar mandi yang ada di ruangan itu.
Pria bertubuh atletis itu mengguyur semua kepalanya dengan air shower untuk mendinginkan otaknya yang terasa panas, bagaimana tidak?pertanyaan Sheila tadi sudah menyentil hati nuraninya.
" Apakah aku mulai mencintainya? kenapa?!!!. Seharusnya aku membencinya, bukan malah jatuh cinta kepadanya,KENAPA!!! "Fajar meraung sambil meninju dinding kamar mandi yang berlapiskan marmer.Sepertinya laki-laki itu juga bingung dengan perasaannya sendiri.