Your Revenge

Your Revenge
Menepati Janji



Setelah pagi menjelang, Sheila segera bergegas untuk membersihkan dirinya.Meskipun ia sudah mulai pasrah dengan apa yang terjadi didalam hidupnya akhir-akhir ini, tapi Sheila tidak mau terlalu terlihat mudah dimata pria yang berstatus suaminya itu.


Sheila memang melakukan tugasnya sebagai seorang istri, tapi ia juga masih memiliki keinginan untuk melanjutkan studinya.Tadi malam sikap Fajar memang sudah mulai lembut dalam memperlakukan dirinya, tapi ada satu hal yang aneh dari pria itu, entahlah.


Fajar terbangun setelah Sheila sudah tidak ada lagi dikamarnya, pria itu mengucek matanya. Keadaannya sekarang masih polos dibawah selimut.Saat ia menyadari kalau sang istri sudah tidak ada dikamar itu, Fajar segera bangkit dan memeriksa kamar mandi yang ternyata juga kosong.


"Kemana dia?. " gumam Fajar.


Pria itu segera membersihkan dirinya dan tak lupa ia menunaikan sholat subuh,ia sangat yakin kalau Sheila tidak mungkin kabur dari rumahnya setelah apa yang terjadi tadi malam.


Fajar juga ingin menepati janjinya kepada Sheila,ia membuka laci meja komputernya yang biasanya ia kunci dan mengambil apa yang selama ini Sheila cari. Sebuah ponsel yang selama ini ia sembunyikan kini berada ditangannya, Fajar menyalakan ponsel itu dan di sana sudah banyak pesan yang masuk,ratusan kali misscall yang tak pernah diangkat.


Beberapa pesan masuk dari sebuah nomor yang bertuliskan nama seseorang di sana yang menanyakan kabar istrinya itu.


"Hekh!,gombal sekali cowok ini.Entah bagaimana reaksinya kalau tahu dia sudah menikah denganku. " gumam Fajar.


Tiba-tiba pintu dibuka, Fajar sedikit terkejut dan segera menyembunyikan ponsel Sheila dibelakang tubuhnya.


"Maaf Pak Fajar, apa hari ini saya sudah boleh kuliah lagi?. " tanya Sheila gugup.


"Boleh saja,aku juga sudah berjanji tadi malam.Jadi mulai hari ini kamu sudah boleh masuk kuliah lagi, tapi kamu harus bisa menjaga nama baik ku sebagai seorang pengacara. Jangan terlibat kasus apapun di kampus ataupun diluar sana. Ingat itu!. " ujar Fajar tegas.


"Baik Pak, saya usahakan. " jawab Sheila.


"Satu lagi, jangan lagi kamu panggil aku dengan sebutan itu,ganti yang lain. " ujar Fajar.


"Lalu saya harus panggil Bapak dengan sebutan apa?. " tanya Sheila, ia bingung.


"Kamu bisa panggil aku dengan sebutan_, ya... layaknya seorang istri kepada suaminya." ujar Fajar dengan sedikit melirik ke arah Sheila.


"Nanti saya pikirkan,kalau begitu saya permisi mau siap-siap dulu. "


"Kamu pakai saja pakaian yang ada lemari itu, sebagian masih ada yang baru dan belum pernah dipakai, lihat saja barkotnya. " ujar Fajar lagi.


Sheila segera masuk ke ruang ganti dan mengganti pakaiannya dengan pakaian yang menurutnya masih bisa diterima oleh tubuhnya, karena rata-rata pakaian yang almarhumah Jihan beli adalah baju-baju muslimah,semuanya panjang dari atasan sampai bawahan.


Sheila menyisir rambutnya dan memoles sedikit lipstik berwarna nude di bibirnya agar wajahnya tidak terlihat pucat.


"Nanti aku akan ke toko kosmetik bentar abis dari kampus. " gumamnya.


Setelah merasa siap Sheila pun segera keluar dari Walk in Closet itu, sejenak Fajar nampak terpesona melihat kecantikan istri barunya itu.Semakin hari Sheila semakin memancarkan sinarnya seperti sang mentari pagi yang menghangatkan, Fajar jadi terkesima.


"Saya pamit dulu Pak. " ujar Sheila sambil menyodorkan tangannya untuk pamitan kepada sang suami.


Seketika Fajar tersadar dari lamunannya"Biar saya yang akan mengantarkan kamu ke kampus. "ujarnya.


" Tapi,apa itu tidak akan merepotkan anda?."terus terang saja Sheila agak khawatir kalau ada mahasiswa ataupun mahasiswi lainnya yang akan melihat ia yang diantar oleh Fajar.


"Apa kamu keberatan kalau aku antar?. " tanya Fajar Balik.


"T-Tidak Pak. " jawabnya.


"O iya, ini ponsel kamu.Aku harap setelah ini kamu tidak lagi berhubungan dengan laki-laki yang bernama Akash itu.Segera beri tahu dia kalau kamu sudah menikah dan tidak bisa menjalin hubungan lagi dengannya, atau perlu aku yang memberitahu padanya?. " pertanyaan Fajar lebih terdengar seperti ancaman di telinga Sheila.


Sheila hanya bisa menundukkan wajahnya, ia bingung harus bagaimana. Kalau ia membela diri yang ada Fajar akan semakin keras kepadanya.


"Ini, ambillah. "


Sheila menyambut ponselnya dari tangan Fajar, didalam hatinya ia sangat bersyukur karena Fajar mau menepati janjinya.


"Alhamdulillah ponselku kembali. " batinnya.


"Terimakasih . " ucap Sheila.


"Hmm." jawab suaminya itu.


"Tunggu aku dibawah,kita sarapan dulu. " lagi-lagi Fajar bersikap baik kepadanya.


Ia hanya bisa menuruti apa yang diminta oleh suaminya itu,Sheila menyiapkan sarapan berupa nasi goreng dengan telor mata sapi dan juga sosis itu ke dalam piring.


Disaat yang sama,Fajar sudah tiba di meja makan dan melihat Sheila yang sibuk melayani dirinya.Hatinya sedikit tersentuh, tanpa sadar ia pun tersenyum karena merasa ada yang memperhatikannya .


"Silahkan." Ujar Sheila.


"Kamu juga makan. " jawab Fajar.


Bik Tarnik dan Lina sampai saling lirik karena tak percaya dengan perubahan sikap kedua majikannya yang kini nampak malu-malu dan canggung tapi tidak bertengkar lagi seperti kemaren .


"*Mungkin semalam mereka habis... " bisik Lina ke Bukdenya Bik Tarnik.


"Hush!, jaga omongan kamu. Kalau didengar sama Tuan bisa berabe. " bisik Bik Tarnik balik*.


Lina langsung nyengir kuda dan Bik Tarnik lalu menyeretnya kebelakang.


Sepasang suami-istri itu makan dengan tenang, hanya suara garpu dan sendok yang terdengar di sana.Tak ada obrolan sedikit pun.


Sampai akhrinya Sheila selesai terlebih dahulu karena tadi ia memang mengambil sedikit nasi goreng ke dalam piringnya.


"Kalau sudah selesai, nanti hubungi aku.Jangan kamu blokir lagi nomorku. Awas saja kalau berani. " ujar Fajar santai.


"Iya Pak. " sahut Sheila.


"Aku bukan Bapak kamu. " ujar Fajar, ia mulai kesal karena Sheila terus memanggilnya seperti itu.


"M-Maaf, nanti saya pikirkan lagi. "


"Mulailah panggil aku...Mas,itu lebih baik. " ujar Fajar.


"Baiklah kalau begitu, Mas Fa-jar. " ucap Sheila gugup.


Rasanya aneh ketika harus memanggil laki-laki yang sudah memaksanya untuk menikah itu dengan sebutan Mas,berasa sekali kalau dia sudah menikah sekarang.Sheila harus bisa menjaga dirinya dari godaan diluar sana, karena statusnya sekarang sudah berubah. Bukan gadis lagi.


*


*


*


Setelah sarapan selesai, Fajar mengantarkan Sheila ke kampus sesuai dengan apa yang ia katakan tadi.


"Maaf Pak ,eh.. Mas. Berhenti disini saja. " ucap Sheila.


Dia tidak mau kalau ada yang melihatnya turun dari mobil suaminya itu, apalagi anak-anak sudah banyak yang tahu dengan mobil suaminya itu, karena Fajar sudah beberapa kali datang ke kempus ini.


"Kenapa? , kamu khawatir kalau tidak ada lagi yang ngejar-ngejar kamu kalau mereka lihat kamu diantar oleh seorang Fajar?. " tanya Fajar.


"Bukan begitu Mas, tapi saya hanya tidak mau kalau mereka salah faham. Itu saja. " jawab Sheila.


"Baiklah, untuk kali ini saya akan turuti kehendak kamu, tapi lain kali kamu tidak akan punya kesempatan untuk menolak apapun mau saya dan saya tidak akan menuruti kehendak kamu lagi. " ujar Fajar.


Tentu saja Sheila jadi sedikit ketakutan ketika mendengar ucapan suaminya itu.


Dengan perlahan ia pun mengangguk dan mulai menyalami tangan suaminya itu.


"Saya turun dulu Mas. "pamit Sheila.


" Hmm, jaga nama baik saya. "pesan Fajar.


" InsyaAllah. "sahut Sheila.


Ia pun segera berlalu, sementara Fajar masih terus menatap istrinya itu dari dalam mobilnya sampai punggung Sheila sudah tidak terlihat lagi di matanya barulah ia meninggalkan tempat itu.