
Batin Sheila bergemuruh, sejak mereka meninggalkan ruangan dokter Reno,gadis itu nyatanya tidak bisa lagi menyembunyikan air matanya.Kalau boleh jujur, saat ini ia sedang merasa sangat tersudut oleh keadaan.
Di satu sisi, ia memang menyadari kalau hubungan diantara dirinya dan Fajar bukan hanya sebatas keluarga korban dan penabrak saja, tapi sekarang mereka adalah suami istri.
Meskipun dirinya dan Fajar menikah karena alasan dendam pria itu, tapi tetap saja ia tahu apa saja kewajiban seorang istri itu menurut ajaran agama.Apalagi kalau menyangkut perkara urusan ranjang,sebagai seorang wanita yang cukup dewasa diusianya kini yang sudah menginjak kepala dua menuju ke kepala tiga,Sheila tentu tahu kalau menurut ajaran agama ia harus patuh pada suaminya.Bahkan soal urusan yang satu itu,dosa bagi seorang istri jika menolak ajakan suami.Bahkan malaikat akan melaknatnya sampai adzan subuh.
Kini hati gadis itu sedang bimbang, bagaimana nanti jika suaminya itu meminta hak nya? Sheila bingung, benar-benar bingung.Mungkinkah Fajar benar-benar akan menuruti saran dari dokter Reno tadi?.
"Kenapa kamu menangis?. " tanya pria itu sambil menyodorkan selembar tisue kepada Sheila.
"Siapa juga yang menangis?!. " jawab Sheila ketus sambil menyambar tisue dari tangan Fajar.
Memang kalau soal tampang, Fajar tidak kalah dengan artis-artis timur tengah.Kulitnya putih, hidung bangir, mata yang tajam dan menghanyutkan,apalagi postur tubuhnya yang menawan.Pastinya semua wanita diluar sana akan tergoda oleh pria itu, tapi tidak dengan dirinya.
Sheila sadar betul kalau pria yang kini menjadi suaminya itu sangatlah membenci dirinya.Rasanya tidak mungkin pria itu akan tertarik kepadanya, kalau dihati Fajar sendiri masih ada dendam. Lagipula Sheila juga tidak mencintai pria itu.
Selama di perjalanan pulang, Sheila hanya diam. Bahkan ia hanya sibuk menoleh keluar jendela tanpa mau memperdulikan apapun yang sedang dilakukan oleh suaminya itu.Tanpa ia sadari, dari tadi suaminya itu terus memperhatikan dirinya.
Karena merasa suasana diantara mereka saat ini sangat mencekam, Fajar berinisiatif untuk menyalakan musik dari ponselnya yang ia bluetooth ke monitor dan speaker yang ada di mobilnya.
Lagu yang diputar oleh Fajar ini merupakan lagu favorite dari almarhumah istrinya, Jihan.Mendengar musik yang Fajar nyalakan, Sheila mendadak teringat akan ponselnya yang sejak ia pingsan waktu itu,ia tidak tahu entah benda itu ada dimana sekarang.
"Oh iya Pak Fajar, dimana ponselku?. Kenapa aku belum melihatnya sejak aku bangun?. " tanya Sheila.
Bukannya menjawab pertanyaan istrinya,Fajar malah menambah volume musik itu sampai-sampai telinga Sheila menjadi pengang.Pria itu juga ikut bersenandung mengikuti irama musik.
Memang sih Sheila akui kalau ternyata suara Fajar itu bikin candu, sekelas lah sama suaranya Aril Noah, tapi tetap saja Fajar bukan specs cowok idamannya.Baginya sikap Fajar terlalu brutal, terlalu dingin, terlalu angkuh, dan terlalu posesif, tidak seperti kekasihnya yang jauh di Negeri Kangguru sana.
"Ooo Akash, aku merindukanmu. " Batin Sheila.
Membayangkan Akash,membuat senyumnya melebar. Fajar yang sesekali melihat Sheila dari kaca spion depan merasa ada yang aneh dengan gadis itu. Sambil melirik, ia pun bertanya. "Kenapa kamu senyum-senyum begitu?, apa yang sedang kamu fikirkan?Apa kamu mengejek suaraku?. "
"Bukan urusan anda!, yang pasti saya tidak sedang memikirkan anda!. " sahut Sheila ketus.
"Jangan memancing emosi ku Nona, aku bertanya dengan baik-baik kepadamu. " ucap Fajar santai.
"Mana saya peduli!. " ketus Sheila.Sangat malas rasanya berbincang dengan pria itu.
"Apa kamu tidak ingin melihat ponselmu lagi?!. " ancam Fajar.
"Ponsel ku...? , kembalikan ponsel saya!. " pinta Sheila.
"Nanti akan ku kembalikan kalau tiba dirumah. " jawab Fajar.
Pria itu terlihat santai, sehingga Sheila percaya saja kalau Fajar benar-benar akan mengembalikan ponselnya.
*
*.
*
Setelah mereka tiba dirumah, Sheila ingin menagih janji suaminya itu.
"Dimana ponselku?. " tanyanya.
"Ikut aku!,aku menyimpannya dikamar ku. " ujar Fajar.
"Ada apa dengan dia ?. " batin Sheila.
Sheila terus mengikuti suaminya itu sampai dikamar milik Fajar.
"Masuklah." ujar Fajar, pria itulah terlihat melepas sweater nya dan membuka dua kancing bagian atas kemejanya.Sehingga nampaklah dada bidang yang menonjol dan nampak gagah.Lalu tak lupa ia juga melinting lengan kemejanya sampai ke siku.Sehingga semakin terlihat macho saja.
Sejenak Sheila meneguk air liurnya melihat hal tersebut, tidak dapat dipungkiri kalau pemandangan didepan nya kini terlalu indah untuk dilewatkan.
"Duduklah, aku mau ke kamar mandi sebentar. " ujar Pria itu lagi.
Sheila pun menurutinya,'hanya duduk 'kan?! 'pikir gadis itu.
Ternyata tiga puluh menit sudah berlalu,namun Fajar tak kunjung keluar dari kamar mandi. Sheila sudah merasa bosan menunggu suaminya itu keluar,ia sampai mondar-mandir di depan pintu kamar mandi.
"Apa sebenarnya yang dilakukan pria arogan itu didalam, kenapa lama sekali?. " gumamnya.
Beberapa kali terdengar decakan kesal dari bibir gadis itu,sampai tiba-tiba pintu kamar mandi itu terbuka dan nampaklah Fajar yang hanya menggunakan handuk sebatas pinggang.
Tentu saja Sheila jadi malu ketika melihatnya dalam keadaan seperti itu, gadis itu langsung memunggunginya.
"Apa yang anda lakukan?. " tanya Sheila sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangan.
"Memangnya apa yang aku lakukan?. " ujar Fajar, dengan santai nya pria itu duduk di meja komputernya sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil.
"Ke-kenapa anda ti-dak me-makai ba-ju?. " tanya Sheila, gugup.
"Mandilah!. "ujar pria itu tanpa basa-basi.
Sheila kaget dan tak percaya sampai mulutnya ternganga, saat mendengar ucapan suaminya itu.Ia pun langsung membalikan badannya ingin meninggalkan kamar Fajar.
" Mau kemana?!. "tanya Fajar.Pria itu pun bangkit dari kursinya dan berjalan ke arah Sheila.Sehingga membuat tubuh gadis itu gemetaran.
"Saya mau mandi dikamar bawah. " jawab Sheila, tangannya sudah akan meraih gagang pintu didepannya.Namun tangan itu di cegah oleh Fajar dan ditariknya.
Tubuh Sheila pun seketika berbalik ke arah suaminya,seketika juga Fajar langsung mengunggkung tubuh gadis itu ke daun pintu.
Sheila bisa merasakan hembusan nafas suaminya itu yang menerpa kulit wajahnya.Tentu saja saat ini jantungnya berdebar tak karuan, pria itu menatapnya dengan tatapan yang tidak dapat dibaca, matanya berkabut dan terus menatap wajah cantik dihadapannya.Bahkan Fajar sampai menundukkan wajahnya agar mata mereka bisa saling menatap dari dekat.
"Anda mau apa?,saya mau mandi dikamar saya!. " tegas Sheila.
"Aku bilang kamu mandilah,bukan keluarlah." ucap Fajar dengan nada yang menggoda.
"Maksud anda? anda ingin saya man-di di sini?. " tanya Sheila tak menyangka.
"Tentu saja,silahkan!." Fajar bergerak mundur dan mempersilahkan istrinya itu untuk menuju ke kamar mandi miliknya.
"T-Tapi saya... " Sheila ragu.
"Bukankah sudah seharusnya suami istri itu berbagi kamar mandi dan yang lainnya?. "
"Pertanyaan macam apa itu?. " Sheila bingung dengan sikap suaminya.
"Ayo, tunggu apalagi?. "
Lagi-lagi Pria itu bersikap tidak seperti biasanya,sekarang nadanya lebih lembut dan tidak arogan lagi.