
Dengan perasaan yang hancur itu, Sheila melerai pelukan sang Mama, lalu ditatap nya kedua mata wanita yang sudah melahirkan nya kedunia itu, mencoba mencari kejujuran disana.
"Jawab Sheila Ma, jawab yang jujur... hiksss.. hiksss.. " Sheila kembali menangis dan terus menangis, namun wanita dihadapannya hanya diam dan mengarahkan pandangannya ke arah yang lain.
Lalu Sheila bertanya lagi, "Apakah Pria yang istrinya meninggal itu bernama Fajar Sidiq Mubarak??!. " tegasnya.
Seketika mata Nyonya Fatiah kembali membola,seakan mengiyakan pertanyaan Sheila barusan.
"Benar kan Ma?!. " desak Sheila.
"D- dari mana kamu tau sayang?. " ujar Nyonya Fatiah terkejut.
"Jadi benar dia orangnya Ma?. pantas saja pria itu akhir-akhir ini selalu meneror Sheila Ma.Ternyata benar kalau Sheila sudah membu*uh istri dan calon anaknya Ma, hiksss.. hiksss.. Sheila pemb**uh Ma, pembu*uh... " Sheila tak kuasa menahan gejolak yang menekan batinnya. Rasa bersalahnya itu sudah benar-benar menyiksa batinnya.
"Jadi pria itu meneror kamu??? kenapa kamu gak cerita sama Mama sayang?. " Nyonya Fatiah kembali bertanya.
"Untuk apa Sheila bilang Ma, seperti kalian yang tidak mau kalau Sheila jadi cemas, begitu juga Sheila gak ingin Mama Papa jadi cemas. " ujar Sheila.
"Tapi ini namanya kejahatan sayang, Papa mu sudah mengusahakan jalan damai dengan pria itu, tapi dia tetap ngotot tidak mau berdamai, malah dia juga menawarkan beberapa persyaratan yang tidak masuk di akal untuk bisa berdamai. " ujar Nyonya Fatiah.
"Persyaratan ??, persyaratan bagaimana Ma?" tanya Sheila penasaran.
"Dia bilang... kalau kamu... harus... mau... "Nyonya Fatiah tidak sanggup melanjutkan ucapannya.
" Sheila harus apa Ma?. "Sheila yakin kalau kelanjutannya pasti benar-benar konyol seperti yang Mamanya bilang.
" Dia ingin kamu... menggantikan istrinya sampai kamu bisa melahirkan seorang anak untuknya sayang. "Nyonya Fatiah tak sanggup menatap mata putrinya itu.
" Apa Ma??. "tubuh Sheila mendadak lemas seperti tak bertulang, ia hampir saja pingsan mendengar penuturan Mamanya.
" Tapi Papa sudah menolaknya sayang,kamu tenang aja, Papa mu pasti akan menemukan jalan yang terbaik dan kamu tidak perlu menikah dengan Pria itu. "ujar Nyonya Fatiah seraya mencoba menenangkan putri satu-satunya itu.
Sheila yang terus menangis dan berfikir masih kalut dengan fikirannya, ia tidak tahu harus setuju atau tidak.Saat ini dihatinya masih ada cinta untuk kekasihnya Akash yang jauh di negeri seberang.
Tiga tahun yang lalu,Sheila dan Akash terpaksa berpisah karena kekasihnya semenjak SMA itu harus menempuh pendidikan di Australia.Karena desakan orang tuanya yang ingin Akash pergi belajar di negri Kanguru itu, akhirnya mau tak mau mereka berdua LDRan.
Sheila tidak ingin bila hubungannya dengan Akash yang masih berjalan ini harus putus hanya gara-gara kasusnya.Berita soal kecelakaan itu memang sudah diredam oleh orang tuanya, tapi dengan adanya ancaman dan juga syarat perdamaian yang tak masuk diakal ini, tentu saja membuat hidup Sheila dan keluarganya tidak akan bisa tenang.
" Sheila harus bagaimana Ma? , Sheila gak mungkin menuruti kehendak pengacara itu.Hiksss... hiksss. "gadis itu terus saja menangis, matanya bahkan sudah bengkak sekarang. Nafsu makannya juga menghilang.
" Kamu tenang dulu ya sayang, Mama akan bicarakan hal ini sama Papa dulu. Nanti Mama akan kasih tahu kamu solusinya kalau Papa Mama sudah mendapatkan nya. "ujar Nyonya Fatiah, lalu setelah itu beliau langsung menemui suaminya yang menunggu diluar kamar sambil mondar-mandir.
" Bagaimana Ma?. "tanya Tuan Hari.
Lalu apa yang harus kita lakukan Pa?!. "Nyonya Fatiah mendadak stress karena memikirkan hal ini.
" Papa juga gak tahu Ma, pria bernama Fajar itu seorang pengacara ternama .Ia mempunyai banyak koneksi juga, tak kalah dari kita Ma.Bahkan uang milyaran yang Papa tawarkan sebagai upaya damai pun sudah ditolaknya mentah-mentah."
"Lalu apa yang harus kita lakukan Pa? , Sheila jelas akan menolak pernikahan paksa itu.Mama juga gak mau kalau putri kita satu-satunya hidup menderita dengan pria tak berperasaan seperti Fajar itu Pa. " Kini Nyonya Fatiah tak bisa lagi menahan air matanya, ia menumpahkan semua kesedihannya itu di dada suaminya.
"Papa akan mencoba untuk bernegosiasi lagi dengan pemuda itu Ma,seharusnya ia bisa menerima takdir yang digariskan Tuhan untuknya. "Tuan Hari mencoba menenangkan istrinya, meski didalam hatinya ia pun masih ragu untuk bisa meyakinkan Fajar agar mau menerima upaya damai yang ia lakukan.
****
Pagi menjelang, meskipun matanya terasa perih karena terus menerus menangis,Sheila harus tetap ke kampus hari ini. Alasannya karena begitu ia bangun tidur, rentetan pesan dari Fajar sudah membuat ponselnya tak henti-hentinya berbunyi.
Disetiap pesan itu, Fajar mengingatkan padanya agar segera bersiap ke kampus dan menerima hukuman sebagai asistennya untuk seminar hari ini.
Sambil menghela nafas kasar, Sheila mencoba berdiri dan melangkahkan kakinya ke kamar mandi. Ia tidak mau membuat pria pemaksa itu mengeluhkan akan dirinya lagi, dan berakhir dengan dirinya yang terpaksa menuruti keinginan paling absurd dari pria itu, yaitu menjadi pengganti istrinya dan melahirkan anak untuknya.
Sheila bergidik ngeri ketika membayangkan hal itu." Yang benar saja. "gerutunya sambil menyikati setiap gigi-gigi putih yang berderet rapih didalam rongga mulutnya.
***
Karena matanya yang masih bengkak walaupun sudah disamarkan dengan conselar dan juga bedak, akhirnya Sheila memutuskan untuk memakai kacamata hitam ke kampus. Kalau ada yang tanya, dia akan menjawab karena lagi sakit mata.
Setelah sampai dikampus, Sheila segera bergabung dengan rekan-rekannya yang lain.Kuliah hari ini akan dimajukan menjadi satu jam lebih awal dari jam yang kemaren.Hal itu berdasarkan keinginan Fajar selaku Dosen tamu.
" Bagaimana ini, Alya belum datang!?"ujar ketua BEM.
" Kalau begitu kamu saja yang jadi asistennya Pak Fajar, beliau memang minta asisten untuk hari ini. "ujar Si ketua BEM merangkap Ketua Panitia Seminar itu.
" Kok saya Kak, saya sedang sakit mata. "ujar Sheila mencoba mengelak.
" Kan memang kamu yang ditunjuk langsung oleh Pak Fajar, kemaren di parkiran. "tiba-tiba Pak Rinto datang ketengah-tengah mereka.
" Waduh.. mampusss aku. "batin Sheila.
" Benar itu Sheila?. "tanya Ketua Panitia.
" Benar Kak. "Sheila hanya bisa tertunduk tak berdaya,tak mungkin juga ia menolak kalau sudah ada dosennya disini.
Walhasil hari itu, Sheila terpaksa menunggu Fajar diparkiran dan menyambut pria itu dengan menggunakan payung untuk memayunginya karena cuaca mendadak berubah, dan kini hujan gerimis pun mengguyur membasahi bumi.
Fajar tersenyum melihat Sheila yang sudah menunggunya dalam kondisi hujan seperti ini.Gadis itu sejenak menatap tajam kearah Fajar,seketika ia teringat persyaratan yang diajukan pria tampan itu kepada kedua orang tuanya.