
Didalam taksi yang kini ia tumpangi, Sheila masih menangis.Supir taksi yang melihat hal itu langsung menawarinya sebungkus tisu.
"Ini Mbak,buat nyeka air mata Mbaknya." ujar Supir taksi itu.
"Terimakasih." Sheila menyambut uluran tisu dari pak supir.
"Mbaknya kabur dari pernikahan ya?." tanya Pak supir lagi.
"Kok Bapak bisa tau?. " tanya Sheila tersentak.
"Lah itu Mbaknya pake kebaya putih, dan juga disanggul melati, kayak mau nikahan. " ujar sang supir taksi.
"Iya sih Pak, tolong ngebut ya Pak. Saya gak mau kalau sampai ketangkap. Soalnya saya tidak mencintai pria itu Pak,malah saya sangat membencinya.Saya juga dipaksa buat nikah sama dia. " jelas Sheila.
"Beres Mbak,saya akan bantu Mbak biar gak ketangkep. " jawab Bapak supir taksi itu, lalu ia mempercepat laju mobilnya.
Entah apa yang ada didalam benak Sheila sekarang, yang pasti saat ini ia ingin menghindar dari pria yang beberapa menit lalu sudah sah berstatus sebagai suaminya.
Sesekali ia menoleh kearah kaca belakang mobil taksi itu karena takut kalau-kalau ada yang mengejar nya. Benar saja, ada dua orang pria yang sedang berboncengan sepeda motor dengan memakai seragam hitam-hitam terus mengikuti kemanapun arah taksi yang membawa dirinya.Sheila sangat yakin kalau itu adalah orang suruhannya Fajar.
"Cepat Pak, buruan. Ada motor yang mengejar kita!. " Ucap Sheila panik.
"Tenang Mbak cantik, saya pasti akan menyelamatkan Mbak. Pegangan ya... "ujarnya.
Pak supir semakin menginjak gasnya dan akhirnya bukanlah selamat melainkan mereka malah kena tilang polisi yang kini sedang bertugas dipinggir jalan dalam operasi razia.
"Yaa, apes banget dah..!????. " ujar Pak supir yang mau tak mau berhenti karena dua orang polisi sudah menyetop mobilnya.
Dua orang yang mengikuti mobil taksi itu mendadak menyingkir ditepi jalan yang agak jauh karena takut ketahuan polisi .
"Maaf silahkan Anda turunkan kacanya?. " ucap Pak polisi sambil mengetuk kaca pintu mobil taksi itu.
"Serahkan SIM dan STNK nya!. " ujar Pak Polisi.
Mau tak mau Pak supir pun diminta untuk turun dari taksinya karena ia juga akan dimintai keterangan.
"Mengapa anda membawa mobil dengan kebut-kebutan begitu?, itu bisa membahayakan orang lain!. "ucap Pak polisi.
" Iya, maaf Pak. Saya justru sedang menyelamatkan Mbak yang ada didalam.Dia mau dinikahkan paksa Pak. "ujar supir taksi itu jujur.
Polisi pun meminta Sheila untuk turun juga,dan dimintai keterangan tentang penyelamatan dari apa?Sheila hanya bisa menceritakannya dari awal sampai akhir,tapi tidak sepenuhnya ia jujur. Kelihatannya Polisi itu sedikit menaruh iba padanya.
" Maaf Mbak, kayaknya Mbak harus kembali ke keluarga Mbak, pasti suami Mbak sudah menunggu dan mungkin sedang mencari Mbak kemana-mana. "ujar Pak Polisi.
" Tapi... "Sheila bingung harus bagaimana, tak mungkin juga kalau ia menceritakan semuanya secara gamblang. Bisa-bisa Sang Papa akan masuk penjara, begitu juga dengan dirinya yang sudah menyebabkan kematian orang lain, kalau polisi sampai tahu bahwa bukti CCTV itu sudah di beli oleh orang tuanya, bisa-bisa mereka sekeluarga juga akan mendekam di penjara.
" Ya sudah Mbak, sebaiknya Mbak segera menghubungi keluarga Mbak agar mereka menjemput anda disini, untuk Pak supir, mohon maaf anda tetap harus ikut kami ke kantor."ujar Pak Polisi.
"Apes banget saya Mbak... Mbak... ,gara-gara nolongin Mbak nih. " Ujar Pak supir taksi sambil menarik topi dari kepalanya dan melemparkannya ke sembarangan arah didepan Sheila.
Sheila mengerti kesedihan dan kesialan yang dialami oleh supir itu, dalam hati ia berjanji akan membantu membebaskan Bapak itu nanti kalau keluarganya sudah datang.
****
Setengah jam menunggu, akhirnya kedua orang tuanya datang juga ke kantor polisi itu. Sheila berlari kepelukan sang Mama untuk menghilangkan penat dihatinya, ternyata orangtuanya masih mau mempedulikan dirinya yang sudah kabur dari pernikahan dan meninggalkan kedua orang tuanya begitu saja.
"Sudah sayang, jangan menangis lagi ya. Ada Papa dan Mama disini. " ujar Nyonya Fatiah sambil mengelus punggung putrinya.
"Untuk apa kamu terus menangis, istriku. "
Suara yang tiba-tiba hadir diruangan itu sontak saja membuat Sheila terperanjat dan melerai pelukannya di tubuh sang Mama.
"Untuk apa anda kemari?!!. " Bentak Sheila kepada Pria yang kini berstatus suami sahnya itu.
"Tentu saja aku ingin menjemput pengantin ku. Inilah kan malam pertama kita. " tanpa malu Fajar malah mengumumkan pernikahan mereka didepan semua orang yang ada disana.
"Wah, ternyata Mbak ini adalah istri anda ya Pak Fajar?." Pak polisi itulah malah menjabat tangan Fajar, sepertinya mereka saling mengenal.
"Benar sekali Pak Romi, terimakasih karena sudah menjaga istri saya. "
"Oh iya, kenalkan,,, ini kedua mertua saya. Anda pastinya juga tau siapa mereka bukan?. " ujar Fajar memperkenalkan Tuan Hari dan Nyonya Fatiah.
"Oh, tentu saja .Siapa yang tidak mengenal politikus handal negeri ini. " ujar Pak polisi itu.
"Apa kabar Pak Hari? " tanya Pak kepala polisi itu.
"Baik.. baik... " sahut Tuan Hari, ada bagusnya juga ia mempunyai menantu seperti Fajar yang koleganya luas, ternyata.
Tanpa sadar Tuan Hari dan istrinya itu sudah memuji menantu baru mereka dan menatap Fajar dengan bangga.
"Ma, Pa, ayo kita pulang. " ajak Sheila, ia tidak mau lama-lama disana dan ia tidak suka melihat pria itu, Fajar.
"Mau pulang kemana sayang, kita kan baru saja menikah. Kamu ikut pulang kerumah kita ya? " Fajar segera menyela diantara pembicaraan Mama mertua dan juga istrinya itu.
"Tidak, aku tidak mau!. " tolak Sheila ketus.
Fajar mendekat dan ia membisikkan sesuatu ke telinga Sheila.
"Kamu tidak lupa kan dengan apa yang saya katakan waktu itu?!. " ancam Fajar ditelinga Sheila.
Sheila meremang, bulu kuduk nya berdiri saat suara dalam Pria itu menyapu telinganya.
"Ah,Terimakasih Pak Romi atas semuanya, sepertinya kami harus permisi dulu, karena ini sudah mulai malam. " ujar Fajar.
"Ooh, iya silahkan kalau begitu.Saya ucapkan selamat atas pernikahan anda yang baru. Semoga menjadi keluarga yang SAMAWA. "
"Aamiin, terimakasih Pak. " ujar Fajar sambil bersalaman dengan kepala Polisi itu.
"Sama-sama Pak Fajar. " sahut Pak Romi.
Disaat yang sama Fajar segera menggenggam tangan Sheila, meskipun Sheila mencoba melawan dan ingin melepaskan genggaman tangan suaminya itu. Tapi Fajar tetap bisa mengintimidasi Sheila dengan tatapan matanya yang menusuk hati.
"Tunggu dulu.. " ujar Sheila.
"Ada apa lagi?. " tanya Fajar lembut, maklum masih didepan Pak Romi.
"Bagaimana dengan Bapak supir taksi tadi, apakah kamu bisa membantu untuk membebaskannya dengan jaminan?. " tanya Sheila pelan sambil tertunduk didepan Fajar.
Fajar tersenyum,membebaskan Bapak itu bukanlah hal sulit baginya, apalagi dia adalah seorang pengacara.
"Baiklah aku akan bantu Bapak itu, tapi ini tidak gratis ,sayang." Fajar mengedipkan sebelah matanya kepada Sheila dengan genitnya seolah memberi tahu kalau Sheila harus membayar semua bantuannya ini dengan sangat mahal.
Sheila bergidik ngeri membayangkan bayaran apa yang mungkin akan dituntut Fajar dari dirinya.