Your Revenge

Your Revenge
Tidur Saja Disini



Seolah mendapatkan serangan keterkejutan yang bertubi-tubi, tubuh Sheila mendadak tremor apalagi saat Fajar semakin membuatnya tidak mengerti dengan segala sikap lembut yang pria itu berikan.Tak berhenti sampai disitu,Pria yang berstatus sebagai suami sahnya itu dengan lembut membukakan pintu kamar mandi untuknya.Ini benar-benar aneh menurut Sheila, ia sampai bergidik diperlakukan selembut itu.


Setelah berada di dalam kamar mandi Sheila baru bisa bernafas dengan lega. Berada didalam kungkungan pria seperti Fajar membuat pasokan oksigennya mendadak berkurang.Perlahan Sheila mulai membuka pakaiannya satu per satu dan menggantungnya agar tidak basah terkena air.Tapi betapa terkejutnya ia saat ia berbalik dan melihat bathup yang sudah penuh terisi air dengan taburan busa sabun beraroma terapi yang sangat memanjakan indera penciuman.


"Apa dia yang menyiapkannya untukku?. " gumam Sheila.


Tanpa berfikir panjang, Sheila langsung berendam dan menikmati harumnya aroma terapi yang disiapkan oleh suaminya itu. Ini harum yang tidak pernah ia pakai sebelumnya.Tapi tiba-tiba Sheila tersadar dari pikirannya, untuk apa Fajar melakukan semua ini? apakah suaminya itu ingin mengajaknya bercinta? "Hah😲." Sheila terkesiap.


Buru-buru ia menyudahi berendam lalu segera bangkit untuk membilas dan mengeringkan tubuhnya dengan handuk.Tak lupa ia juga memakai kembali pakaian yang tadi ia gantung,Sheila tidak mau kalau sampai Fajar menangkap dirinya setelah ia keluar dari kamar mandi ini.


Sheila menarik anak kunci dari lobangnya, ia ingin mengintip kira-kira apa yang sedang dilakukan oleh suaminya itu.Terlihat disela lobang kunci kalau saat ini Fajar sedang mengotak-atik sesuatu ditangannya, lalu Pria itu menyimpan benda tersebut ke dalam laci yang ada di meja komputernya dan tak lupa mengunci laci itu.Lalu pria itu terlihat menghubungi interkom dalam rumah, mungkin sedang memerintahkan Bik Tarnik tentang sesuatu.


"Apakah itu tadi ponselku?. " gumam Sheila.


Dengan cepat ia segera memasang kembali anak kunci yang ada ditangannya dan memutar kunci tersebut hingga pintu kamar mandi itu pun terbuka.


Seketika mata Fajar langsung tertuju kepada dirinya,Fajar sedikit terkejut melihat Sheila yang masih mengenakan pakaian yang sama.


"Apa kau hanya mencuci wajahmu?. " tanya Fajar sambil berjalan mendekat.


"Tidak, tadi saya juga sudah berendam di bathup. " jawab Sheila.


"Oh ya??. " Fajar mengitari tubuhnya sambil mengendus-endus.


"Benar kau sudah wangi, aku suka wangi ini. " ujar Fajar seraya mengulurkan tangannya untuk menyentuh rambut Sheila dan menyingkapnya kebelakang, sehingga terekspos lah leher putih nan jenjang milik gadis itu.Hal itu membuat debaran jantung Sheila semakin kuat.


Bulu kuduk Sheila meremang, ia tidak kuat lagi, bagaimanapun caranya ia harus segera pergi dari kamar ini kalau ia mau selamat dari serangan suaminya itu.Sheila bisa merasakan debaran jantung Fajar yang tadi berada dibelakangnya,namun disaat Sheila melangkah untuk meninggalkan kamar itu lagi-lagi Fajar menghentikan dirinya.


"Kamu bilang mau minta ponselmu?. " tanya Fajar .


Sheila pun langsung berbalik.


"Iya, dimana ponsel saya?.Saya ingin menelpon Mama, saya sudah kangen. "Sheila sudah tidak sabar untuk melihat ponselnya, ia sangat yakin kalau sudah banyak panggilan dan juga pesan yang sudah ia lewatkan.


" Ponsel mu aman bersamaku,tenang saja. Aku rasa saat ini kamu juga tidak membutuhkan ponsel itu.Kamu lupa apa yang dokter katakan dirumah sakit tadi?. "


Deggg...


"Kalau soal itu, Saya belum siap. " Sheila hanya bisa menundukkan wajahnya, ia tak berani menatap mata Elang yang tengah menatap dirinya sebagai target buruan.Sebisa mungkin ia menghindari tatapan suaminya.


"Kenapa?, bukankah kita sudah sepakat?. " tanpa Sheila tahu, saat ini Fajar sedang mengepalkan tangannya.


"Karena saya tidak mungkin melakukan hubungan seperti itu tanpa adanya perasaan cinta, saya tidak cinta sama anda. " jelas Sheila lagi.


"Kamu pikir saya cinta sama kamu?, hekh!!. " kali ini Fajar sudah tidak bisa menahan emosinya lagi,Ia berbalik dan meninju dinding sampai buku-buku jarinya berdarah.


Melihat hal itu, tentu saja Sheila jadi merasa bersalah.Seandainya kecelakaan itu tidak pernah terjadi, tentu Fajar tidak akan merasakan yang namanya kehilangan orang-orang yang dicintainya, dan kehidupan Sheila pasti juga akan berjalan seperti biasa.


Melihat darah yang mengalir disela jari-jari suaminya,spontan Sheila langsung meraih telapak tangan Fajar untuk melihat seberapa parah luka ditangannya.


"Dimana kotak obatnya? ".tanya gadis itu.


Bukannya menjawab, Fajar malah menatap istrinya dengan tatapan sendu.


" Untuk apa kamu berpura-pura peduli?. "tanya Fajar.


" Aku tidak bisa membiarkan seseorang yang terluka di hadapanku. Aku juga manusia yang punya hati nurani. "jawab Sheila.Dengan tenang gadis itu mencari kotak obat tanpa menunggu Fajar memberitahunya dimana letak kotak tersebut.


Sheila membuka setiap laci yang ada di nakas,beruntung ia segera menemukannya.Dengan telaten Sheila membersihkan luka ditangan Fajar dan membalutnya sehingga mata suaminya itu tak kunjung berhenti menatap ke arah wajahnya.


Sejenak ada desiran hebat didada pria yang sempat menduda itu,tapi ia tidak mau terhanyut karena cintanya hanyalah untuk almarhumah istri pertamanya.


" Selesai, sekarang anda bisa beristirahat. Saya juga mau istirahat. "ujar Sheila,ia langsung membereskan kotak obat dan merapikannya ke tempat semula.


Sejenak Fajar menatap telapak tangannya yang diperban, bibirnya tersenyum tipis.Baru kali ini gadis itu perhatian padanya.


" Kalau begitu, saya permisi dulu."ucap gadis itu sambil membuka pintu kamar Fajar. Fajar yang tersadar dari lamunannya langsung berkata"Tidur saja disini, mulai sekarang ini akan menjadi kamar kita. "


Langkah Sheila terhenti,apa yang ia takutkan mungkinkah akan segera terjadi?.


"Aku ingin kita segera melakukan kesepakatan kita sesuai dengan surat perjanjian itu,tentunya kamu tidak lupa kan,Nyonya Fajar. "


"😲"


Sheila menoleh tapi bukan untuk mengiyakan, melainkan gadis itu malah menolak mentah-mentah.


"Sudah saya katakan kalau saya belum siap, lain kali saja. " jawabnya dan langsung keluar dari kamar itu secepatnya. Ia bahkan lupa untuk meminta ponselnya dikembalikan.


Lagi-lagi Sheila sudah menguji kesabaran Fajar, dari tadi ia sudah menahan hasratnya melihat leher jenjang nan putih mulus itu. Ingin sekali ia mencicipinya karena sudah tiga minggu ini ia tidak merasakan sentuhan dan disentuh oleh lawan jenis.


Tak berpikir panjang, ia pun segera mengikuti Sheila turun ke bawah.Sheila yang sadar kalau dirinya sedang diikuti oleh serigala yang sedang kelaparan mempercepat langkahnya agar tak terkejar oleh Fajar.


Sampai didepan kamar tamu yang ditempatinya, Sheila segera memutar gagang pintu itu tapi sayang sekali pintunya tidak bisa di buka.


"Kenapa tidak bisa dibuka?. " tanyanya.


"Kamu tidak akan bisa membukanya karena saya sudah menyuruh Bik Tarnik untuk menguncinya, lagipula kasurnya masih basah. Kamu lupa kalau tadi aku mengguyur mu?!. " suara Fajar semakin dekat.


Sheila semakin ketakutan saat jaraknya dan Fajar sudah semakin dekat.Suaminya itu menghampirinya dan menarik tangannya kembali ke arah tangga.


"Lepaskan saya Pak Fajar, saya tidak bisa melakukan itu. Saya benar-benar belum siap, sungguh. Beri saya waktu beberapa bulan, ah salah beberapa minggu lagi ya, please." Sheila mengerahkan semua kemampuannya untuk menolak ajakan suaminya itu, tapi Fajar tak menggubris nya.Ia malah memanggul tubuh ramping Sheila seperti karung beras dan membawanya kembali ke ke kamarnya dilantai dua.


"Tolong lepaskan saya Pak, saya janji kalau saya sudah siap saya sendiri yang akan mendatangi anda. " bujuk Sheila.


"Kamu kira saya bodoh! perjanjian tetaplah perjanjian,kamu pasti ingin perjanjian itu segera berakhir kan? Kalau begitu cepat tunaikan tugasmu agar kamu segera bisa mengandung benihku. Sembilan bulan kemudian aku akan membebaskanmu kalau kamu sudah melahirkan bayi itu!." ujar Fajar sambil menurunkan Sheila diatas tempat tidurnya.


Air mata gadis itu terus mengalir, ia tidak menyangka kalau Fajar benar-benar menginginkan anak darinya.Se dendam itu Fajar kepadanya, sampai ingin menjadikannya janda setelah ia melahirkan dan bahkan mungkin kelak ia juga tidak akan berhak atas anak itu.