
Sambil berjalan keluar, Fajar terus memperhatikan titik Koordinat GPS dari ponsel istrinya.Fajar tersenyum ketika dari balik kaca restoran ia dapat melihat mobil Sheila yang terparkir disana.
Dengan iseng ia segera mengirimkan sebuah pesan balasan untuk istrinya itu.
["Aku sebentar lagi nyampe rumah, kamu bisa masak apa aja.Opor ayam juga oke kayaknya, atau bisa juga soto ayam, aku akan memakan semuanya."]
Tringg...
Ponsel Sheila berdenting tanda masuknya pesan,Sheila yang sedang memperhatikan Fajar yang akan keluar dari Restoran itu jadi kalang kabut.
Ia pun segera membaca isi pesan dari suaminya itu, dan ternyata Fajar ingin dimasakkan opor atau soto ayam.
"Duh, bagaimana ini. Maksud berbasa-basi, malah aku yang kejebak sendiri.Apa aku telepon Bik Tarnik aja ya buat bikinin Opor dan soto ayam?"gumam Sheila yang masih bersembunyi di samping mobilnya.
"Tapi aku pengennya kamu yang masakin itu semua, bagaimana dong?. "
Seketika Sheila terlonjak sampai-sampai ponselnya hampir terjatuh ke tanah ketika mendengar suara yang sangat Familiar itu di telinganya.
"Huaaa." Sheila benar-benar kaget.
"M-Mas Fajar..??! " 😲
"Kenapa??, kaget ya saya tahu kamu ada disini?. " tanya Fajar.
"Gak juga, tadi sebenarnya a-aku pengen makan di d-dalam, iya, makan di dalam. " ucap Sheila, gugup.
Fajar tersenyum, "Lalu kamu melihat saya dan Bu Cindy bersama dan kamu memutuskan untuk menguntit kami berdua?. " tandas Fajar.
"B-Bukan,bukan begitu. " Sheila bingung harus alasan apalagi.
"Sudah, kamu gak perlu malu untuk mengakui kalau kamu sengaja mengikuti aku ke sini.Iya 'kan?.Gak biasanya loh kamu itu mau kirim pesan sok perhatian seperti tadi."Fajar kembali tersenyum, ia sengaja menggoda Sheila.
" Mati aku......, kenapa dia bisa tahu?. Oo iya, aku lupa Kalau dia seorang pengacara. Sudah pasti ia bisa membaca ekspresi wajah. Aduhh!?. "batin Sheila berkecamuk.
" Ayo kita pulang. "ajak Fajar tiba-tiba membuat Sheila kaget.
Ia terdiam saat Fajar membukakan pintu mobilnya dengan kunci yang Fajar rebut dari tangannya.
" Masuklah, kita beriringan saja.Ini sudah sore, kapan lagi kamu akan memasaknya? ."tambah Fajar, sementara Sheila kini hanya bengong, ia seakan tersihir dengan sikap lembut dari suaminya itu.
' Benarkah ini dia?.' pikir Sheila.
"Ayo,nyalakanlah mesinnya.Jangan bengong begitu,nanti yang ada kamu bakalan nabrak orang lagi. " ujar Fajar.
Sheila langsung tersadar dari lamunannya itu,ia tersentak saat Fajar mengatakan kata menabrak orang lagi.
Kini ia berusaha menetralisir perasaan gugupnya kembali dan berusaha juga untuk menguasai pikirannya yang tadi mendadak beku.
Sheila mengambil nafas dalam-dalam,ia sangat bingung kenapa ia mendadak jadi takut kalau bikin orang lain celaka lagi. Sepertinya trauma nya akan kejadian itu kembali lagi.
Melihat mobil istrinya yang tidak bergerak sedikitpun dari tadi, Fajar membunyikan klakson beberapa kali di mobilnya yang ada dibelakang mobil Sheila.Barulah Sheila kembali sadar dari lamunan panjangnya.
Perlahan ia pun menjalankan mobilnya dan keluar dari wilayah restoran itu diikuti oleh mobil suaminya di belakang.
Sepertinya fokus Sheila sudah kembali, tadi ia sangat ketakutan.Tapi yang ia takutkan ternyata tidak terjadi, Fajar sama sekali tidak marah kepadanya, justru menurut Fajar, pesan dari Sheila yang sudah menyelamatkan dirinya dari makan siang yang kesorean itu bersama dengan Cindy rekan kerjanya yang centil.
*
*
*
Sheila memarkirkan kendaraannya,begitu juga dengan Fajar. Disaat Sheila akan menurunkan kopernya yang berisi pakaian dari rumah sang Mama, Fajar kembali menghampiri nya.
"Apa itu?. "
"Baju-baju ku dari rumah Mama. " jawab Sheila.
"Ohh." Fajar pun segera masuk ke dalam dan meninggalkan Sheila yang berusaha menurunkan koper yang berat itu.
Kalau tadi pagi saat memasukkannya ia dibantu oleh Bik Karsih, tapi kali ini tak ada yang membantunya sama sekali.
Tanpa Sheila ketahui, Fajar sudah meminta kepada Bik Tarnik untuk membantu Sheila.Sheila kaget karena tiba-tiba Bik Tarnik datang dan mengejutkannya.
"Biar saya bantu Nyonya. " ujar Bik Tarnik.
"Eh, terimakasih Bik. " ujar Sheila.
"Jangan terimakasih sama Bibik, sebenarnya Tuan lah yang meminta saya untuk membantu Nyonya." ujar Bik Tarnik lagi.
"Benarkah?. "
"Benar Nyonya. "
Tanpa sadar,Sheila pun tersenyum. Hatinya tiba-tiba merasa hangat dan bahagia, ia juga tidak mengerti mengapa ia merasa seperti itu.
Bik Tarnik membawakan koper Sheila sampai ke atas,tentu saja Sheila juga membantunya. Ia tidak mau kalau benar-benar merepotkan Bik Tarnik seorang diri.
"Si Lina kemana Bik, kok gak kelihatan?. " tanya Sheila sembari mereka menaiki tangga dan mengangkat koperasi besar itu.
"Biasa Nyonya, kerjaannya selalu main HP mulu. Kalau dibilangin paling bisa ngeles Nya, saya sampai pusing di buatnya. Rasanya saya malu sudah minta ke Tuan untuk mempekerjakan keponakan saya itu. " jawab Bik Tarnik.
"Ya udah, gak papa Bik.Biarkan nanti saya yang bilangin ke dia buat rajin-rajin bantuin Bibik. Semoga aja dia mau nurut ya Bik. " ujar Sheila.
"Iya, semoga ya Nyonya.Terimakasih,Nyonya baik sekali,persis kayak Nyonya Jihan dulu." sahut Bik Tarnik."Ups, maaf Nya. Saya sungguh tidak bermaksud membanding-bandingkan."Bik Tarnik buru-buru meralat ucapannya.
"Gak masalah kok Bik,walau bagaimana pun beliau adalah Nyonya rumah ini yang sebenarnya.Saya ini hanya seorang pengganti yang tak mungkin bisa untuk menggantikan dirinya Bik.Kapan-kapan Bibik bisa kan cerita sama saya tentang bagaimana hubungan Tuan dan Mbak Jihan dulu, saya jadi penasaran semesra apa mereka?. " tanya Sheila.
"Tentu Nyonya, pasti bakal Bibik ceritakan. " sahut Bik Tarnik.
"Oke, sudah sampai.Terimakasih ya Bik atas bantuannya,o iya ini ada uang sedikit untuk Bibik dari saya. Silahkan di ambil."Sheila menyelipkan 2 lembar uang seratusan ribuan di telapak tangan Bik Tarnik.
"Ya ampun Nyonya,Anda baik sekali. Terimakasih Nyonya,terimakasih." ujar Bik Tarnik.
"Sama-sama Bik, Bibik juga sudah bantu saya, saya juga berterimakasih sama Bibik. "jawab Sheila sambil mengenggam tangan Bik Tarnik" Kalau begitu saya masuk ke dalam kamar dulu Bik,soalnya saya mau mandi dulu, habis itu Bibik bisa temanin saya masak 'kan?. "ujar Sheila.
" Bisa Nya, tentu saja bisa.Saya kan sudah janji mau ajarin Nyonya memasak. "sahut Bik Tarnik lagi.
"Terimakasih loh Bik, ya udah saya masuk dulu ya Bik. "
"Iya Nya."
Di balik pintu kamarnya, Fajar sedang menguping pembicaraan Sheila dan Bik Tarnik.
"Pintar juga ternyata gadis itu,ia sudah bisa mengambil hati Bik Tarnik.Baguslah, setidaknya ia tidak merasa sendirian dirumah ini. " gumam Fajar.