
Entah sudah berapa banyak yang Fajar rubah dari kehidupannya, Sheila hanya bisa menarik nafas dalam-dalam agar bisa mengurangi sedikit beban yang ada dihatinya.Pria yang berstatus sebagai suaminya itu sudah terlalu banyak memcampuri urusan pribadinya hingga saat ini.Sekarang hidupnya bukan miliknya lagi.
Nyonya Fatiah mengajak kedua suami istri itu untuk makan malam bersama sebelum mereka berniat kembali ke rumah Fajar.
"Sebaiknya kalian berdua nginap aja disini malam ini,Mama masih kangen loh sama kalian. " ujar Mamanya Sheila itu.
"Sheila sih pengen banget nginap disini Ma, Sheila juga masih kangen dengan rumah ini. " jawab Sheila sambil melirik ke arah suaminya yang masih fokus pada makanan di piringnya.
"Nginap aja ya Nak Fajar,besok pagi-pagi baru kalian pulang. " bujuk Nyonya Fatiah pada menantunya itu.
"Ehemm." Fajar sedikit berdeham.Itu adalah kode kalau dia lagi minta diambilkan minum oleh istrinya.
Sheila yang sudah tau apa yang dimaksud oleh suaminya itu langsung mengambilkan segelas air putih untuk Fajar.Barulah setelah minum air itu Fajar memberikan jawabannya atas keinginan sang ibu mertua.
"Kalau itu yang Mama inginkan,kami tidak akan menolak.Kami akan menginap malam ini. " ujar Fajar.
Mata Sheila langsung berbinar saat itu juga,ia tak percaya kalau Fajar bersedia untuk menginap mengingat suaminya itu tidak menyukai keluarganya.
Fajar bisa melihat betapa bahagianya Sheila saat ini,hanya hal kecil seperti itu saja sudah bisa membuat wanita itu tersenyum senang. Sungguh gadis yang sangat sederhana,ternyata Sheila jauh dari apa yang ia fikirkan selama ini. Gadis itu sangat menyayangi kedua orang tuanya, begitu pula sebaliknya.Keluarga yang dimiliki istrinya itu aslinya sangat hangat dan penuh kasih sayang. Sheila juga merupakan sosok anak yang manja kepada kedua orang tuanya, tapi wanita itu juga ramah kepada siapa saja, meskipun itu sama pembantu sekalipun, sikap Sheila selalu menghormati dan menyayangi mereka.
Fajar memperhatikan setiap gerak-gerik Sheila selama berada di rumah mertuanya itu.Apapun yang istrinya itu lakukan, tidak lepas dari pengawasannya.
Seperti saat ini, Sheila yang sedang membantu Bik Karsih untuk cuci piring.Fajar tersenyum sendiri melihatnya,karena Sheila bisa tertawa riang bersama Bik Karsih.Tadinya Fajar habis diajak berkeliling oleh Mama mertuanya,Fajar ditunjukkan dimana ia bisa beristirahat. Tepatnya itu kamarnya Sheila, ia tertegun ketika melihat kamar istrinya itu. Kesan pertama yang ia lihat, Sheila orangnya rapi dan wangi.
Fajar pun beristirahat sejenak sambil melanjutkan pekerjaannya yang masih banyak di laptopnya.Sampai tiba-tiba ia merasa haus dan pergi ke dapur untuk mengambil minum.
Dan saat ini ia tak sengaja melihat kebiasaan istri barunya itu kalau sedang dirumah orang tuanya, Sheila ternyata pribadi yang hangat dengan senyuman yang sangat manis.Fajar belum pernah melihat senyum itu sebelumnya.Fajar diam-diam mendengarkan mendengarkan pembicaraan antara Sheila dan Bik Karsih pembantunya di balik tembok.
"Non sudah belajar masak belum?. " tanya Bik Karsih.
"Bibik kan tahu sendiri, dari semua pekerjaan rumah tangga.Sheila hanya paling tidak bisa melakukan yang namanya memasak."ujar Sheila.
" Nanti Bibik ajarin, kita belajar masak yang mudah-mudah dulu. Seperti capcay, atau Non Sheila tau gak apa makanan kesukaan suaminya Non,bibik bisa ajarkan gimana cara bikinnya.Biar Non makin disayang suami. "ujar Bik Karsih.
"Disayang suami apaan sih Bik, Sheila gak butuh yang gitu-gitu.Lagi pula siapa juga yang mau disayang sama manusia kulkas dan arogan itu. Sheila malah berharap dia semakin membenci Sheila dan melepaskan Sheila dari cengkraman nya. " ujar Sheila.
"Loh kok aneh si Non, Mas Fajar itu ganteng loh Non. Ya walaupun dulu nya sudah pernah menduda, tapi karisma nya gak berkurang sedikitpun.Kalau Bibik jadi Non Sheila, uhhhh ... sudah Bibik kekepin terus agar gak dilirik sama wanita lain. " lagi-lagi Bik Karsih membuat Sheila jadi makin panas.
Tiba-tiba "Ehemm.. "
Siapa lagi sumber suara itu kalau bukan Fajar suaminya, Sheila hanya menoleh sekilas dan membuang muka sambil berkata. "Kalau mau minum, ambil aja sendiri. Masih punya tangan 'kan?. Tuh airnya ada di kulkas, kalau mau yang biasa, ada tuh di dispenser. " tunjuk Sheila dengan tanpa menoleh ke arah Fajar.
Fajar maju dan mengambil gelas, lalu segera mengambil minum di kulkas.
"Bisa bikinin aku kopi gak,aku masih harus menyelesaikan beberapa pekerjaan. Jadi mataku harus on terus sampai tengah malam. " pinta Fajar.
"Iya, nanti saya buatkan. " jawab Sheila malas.
"Tolong antar ke kamar ya, nanti. " ujar Fajar.
"Kamar tamu 'kan?, oke nanti saya antar. " ujar Sheila sambil terus mengelap piring.
"Bukan, tapi ke kamar kita atau kamar kamu. " jawab Fajar.
"What??!,kenapa anda bisa tahu kamar saya?" tanya Sheila bingung, ia belum memberi tahu Fajar dimana kamarnya.
"Uuuuhhhh,aku fikir kalau kami menginap aku bisa bebas dari pria itu walau cuma satu malam saja, tapi Mama kok malah ngebiarin dia tidur dikamar aku.Itu sama saja dengan Mama membiarkan anak gadisnya di mangsa oleh predator itu. " gerutu Sheila didalam hatinya.
"Hikhikhik." Terdengar suara tawa yang ditahan dari bik Karsih.
"Iiiih, Bibik. Kok malah ngeledek sih. " keluh Sheila.
"Abisnya, Non sama suaminya lucu banget deh.Kan wajar kalau suami istri itu tidurnya bareng,masa' mau pisah kamar sih Non. " ujar Bik Karsih.
"Tapi kalau suaminya kayak gini,Sheila mah ogah! . " ujar Sheila sambil menghentakkan kakinya dan langsung beranjak meninggalkan dapur.
"Lah, kopinya??. " Fajar jadi bingung dengan sikap istrinya itu, tadi katanya mau bikinin kopi, tapi kok malah pergi gitu aja.
"Udah Den Fajar, entar Bibik aja yang bikinin kopinya, tunggu sebentar ya. "
Bik Karsih segera menyeduhkan secangkir kopi untuk suami dari Nonanya itu.Setelah mendapatkan kopinya, Fajar segera membawa cangkir kopi itu ke atas.Ia masih harus menyelesaikan beberapa surat penting di laptopnya.
Namun saat ia akan membuka pintu kamar istrinya itu,ia tidak bisa membukanya karena pintu itu sudah terkunci dari dalam.Fajar sudah bisa menebak siapa yang melakukan hal itu kalau bukan istrinya sendiri.
"Sheila... "panggil Fajar sambil mngetuk pintu itu.
Tok..... tok.... tok.....
" Cepat buka pintunya!. "bujuk Fajar dari luar.
Tapi Sheila tak bergeming, ia kini tengah memutar musik keras-keras dan semakin keras.Bagaimana pun caranya ia ingin bisa terbebas dari suaminya itu, walaupun cuma satu malam saja.
" Sheila, jangan memancing kemarahan ku!"Suara Fajar lagi.
Tapi Sheila tetap pada pendiriannya, ia masih tidak mau membukakan pintu.Fajar tak hilang akal, ia merogoh kantong celananya untuk mencari ponsel. Kemudian ia mengirimkan pesan pada istrinya itu.
"Buka pintunya, kalau tidak dibukakan maka berita tentang Papa mu yang korupsi akan ada di portal online malam ini juga!. " ancam Fajar.
Sheila yang memang sedang memegang ponselnya langsung melihat isi pesan yang dikirim Fajar.
"Gila nih orang, bisa gawat kalau beritanya Papa sampai dipublikasikan olehnya. "gumam Sheila.
Kini Sheila sudah tidak punya pilihan lain, buktinya ancaman dari Fajar telah mampu membuatnya tak bisa berkutik.Mau tak mau ia pun harus membukakan pintu kamarnya untuk suaminya itu.
"Krieeeett." pintu dibuka.
Fajar masuk dengan membawa cangkir kopinya, sebelah tangannya lagi sedang memasukkan ponselnya ke kantong celana.Sekilas tatapan mereka saling mengunci dengan mulut Sheila yang mengerucut kesal.
"Tentunya kamu tidak mau kan kalau nama baik keluarga kebanggaanmu hancur? lain kali jangan pernah lagi main-main dengan Fajar Sidiq Mubarak. Kamu pasti tahu konsekuensinya bukan?. " 😏
Fajar masuk dan duduk di sofa sambil menaruh cangkirnya, diatas meja sudah ada laptopnya yang memang sudah ditinggalkan dalam keadaan menyala sejak tadi.
"Puas anda sekarang!?,saya bahkan tidak punya ruang privasi lagi sekarang. Bahkan dikamar pribadi saya sendiri!. " tegas Sheila.
"Hehehe, apa kamu lupa kalau kita ini suami istri?, kamar kamu tentu sudah menjadi kamar saya juga. Kamar kita. " balas Fajar dengan percaya diri.
"Terserah!. " Sheila menghentakkan kakinya, ia naik ke tempat tidur, meraih remot dan mematikan suara musiknya. Moodnya hari ini benar-benar hancur, dan penyebab semua itu adalah suaminya sendiri. Fajar!.