
Mungkin jika tidak ada masalah yang terjadi di antara mereka sebelumnya,hubungan kedua insan yang sedang menunaikan sholat Subuh berjama'ah itu akan lebih baik dari sekarang.
Mereka nampak seperti pasangan yang sangat serasi,yang pria tampan dan yang wanita sangat cantik.Sudah dapat dipastikan bahwa keduanya akan menjadi pasangan yang sangat pantas bila bersanding berdua.
Sheila juga terharu ketika menyadari bahwa ia dan Fajar bisa sholat bareng sebagai makmum dan Imam seperti ini.Ada getaran hebat di hatinya saat mendengarkan suara lantunan ayat-ayat Al-Quran yang Fajar baca di setiap rakaatnya.Ternyata Fajar sangat fasih.
Akhirnya sholat dua rokaat itu selesai juga,sepintas Fajar melirik ke arah istrinya yang berada di samping kiri belakang nya saat ia mengucapkan salam ke dua.
Fajar bisa melihat kalau Sheila menitikkan air mata.Entah apa yang sudah membuat istrinya itu menangis,apakah Sheila sedang menangis karena terpaksa menikahi dirinya?, atau karena hal lain?.
Fajar mulai melantunkan do'a,Sheila yang masih berada di belakangnya hanya mengaminkan di dalam hati.Tapi telinganya tiba-tiba sayup mendengar Fajar yang sedang mengirimkan do'a untuk mendiang istrinya, Jihan.Seketika pula Sheila merasa berdosa dan bersalah, ia kembali teringat akan kejadian itu.Airnya matanya semakin deras, apalagi setelah itu Fajar berdo'a agar langkah yang dia ambil tidak lah salah.
'Langkah yang mana maksudnya? 'batin Sheila.'Apakah tentang menikahinya?', beragam pertanyaan tiba-tiba muncul di kepalanya.
Sheila kembali mendengar do'a apa yang suaminya itu panjatkan.Kali ini Fajar berdo'a agar ia bisa memiliki istri yang Sholehah seperti almarhumah Jihan, istri pertamanya.
Jantung Sheila seakan di pacu,detaknya semakin tak karuan.Apa maksud dari do'a Fajar barusan?, apakah yang dimaksud oleh suaminya itu adalah dirinya, atau itu hanya harapan Fajar agar ia bisa memiliki istri yang Sholehah suatu saat nanti setelah berpisah dengan dirinya?.
Sheila jadi tak mau berlama-lama duduk di sana, segera ia berdiri dan meraih sajadah yang tadi ia gunakan untuk Sholat dan menyimpannya ke dalam lemari.Entah kenapa hatinya tiba-tiba mendadak jadi panas saat ini,lalu ia pun pergi meninggalkan kamar itu tanpa izin dulu dari suaminya.
Fajar baru menyadari kalau saat ini Sheila sudah tidak ada lagi di belakangnya. Makmumnya itu sudah melarikan diri entah sejak kapan, Fajar hanya bisa menggelengkan kepalanya.
Setelah membereskan sajadah nya,Fajar segera mandi.Ia sudah menelpon asistennya untuk membawakan pakaiannya ke rumah mertuanya itu.
Sembari menunggu pakaiannya datang,Fajar kembali merapikan beberapa berkas yang sudah ia kerjakan semalam dan menyimpannya di sebuah Flashdisk.Hari ini akan ada rapat lagi dengan beberapa klien penting dan dia harus secepatnya ke kantor.
Sekarang Fajar baru saja selesai mandi,ia hanya mengenakan handuk yang ia lilitkan di pinggangnya.Karena ia benar-benar tidak ada persiapan untuk menginap tadi malam,jadi ia juga tidak bawa baju ganti.
Mana asisten yang dimintai untuk mengantarkan pakaiannya belum datang juga.Fajar kembali menelpon sang asisten untuk segera datang,kalau bisa secepatnya.
Disaat bersamaan,Sheila yang baru saja dari bawah datang dengan membawa nampan berisi sandwich dan juga secangkir teh panas.
Karena sedari tadi mereka sudah pada sarapan, tapi Fajar belum juga turun, Sheila sengaja bilang ke orang tuanya kalau suaminya itu masih ada pekerjaan di atas.Sheila juga tahu kalau Fajar sama sekali tidak membawa pakaian ke rumah orang tuanya, kecuali baju yang memang sudah ia pakai dari kantor kemaren.Jadi Sheila bisa mengerti mengapa Fajar tak turun untuk sarapan.
Sheila agak terkejut ketika melihat suaminya itu hanya menggunakan handuk saja.
"Apa perlu aku pinjamkan baju sama Papa?."tanya Sheila.
"Tidak usah,sebentar lagi asistenku akan mengantarkan pakaianku.Terimakasih sandwich dan juga teh nya. " ujar Fajar sambil mengunyah sarapannya.
"Sama-sama,kalau begitu aku ke bawah dulu untuk menyampaikan kepada Bik Karsih kalau nanti akan ada asisten Anda yang akan datang membawakan pakaian." ujar Sheila.
"Apa kamu tidak bisa memanggilku seperti orang normal?,kenapa kesannya sangat resmi sekali.Kita ini suami istri 'kan?, kemaren kamu sudah memanggilku Mas Fajar,mengapa sekarang kembali lagi pakai kata Anda?.Dan...tolong mulai sekarang kamu biasakan bilang aku-kamu, jangan saya -Anda lagi.Kesannya kita ini seperti atasan dan bawahan saja."ujar Fajar.
Sheila terpaku di tempatnya,ia tidak mengerti apa alasan Fajar memintanya memanggil pria itu dengan panggilan yang lebih akrab.Rasanya tidak mungkin kalau suami pemaksanya itu mulai menyukai dirinya,itu mustahil bukan?.
"Kenapa kamu diam saja,mulailah panggil aku seperti kamu memanggil kekasihmu itu." ujar Fajar.
"Maaf,a-ku tidak janji aku bisa." jawab Sheila.
"Baiklah,aku usahakan." jawab Sheila.
Masa bodo sekarang dengan alasan pria itu, yang penting ia tidak boleh baper apalagi jatuh cinta dengan perlakuan Fajar yang mulai lembut padanya akhir-akhir ini.Jangan pernah lupakan betapa arogan dan pemaksanya pria itu kepadanya beberapa hari yang lalu,ia tidak boleh terlena dan terbuai oleh kelembutannya yang entah akan bertahan sampai kapan.
Mungkin saja besok sikap pria itu kepadanya akan berubah lagi,Sheila tidak mau hal itu membuat dirinya lemah.Sekarang ia harus bisa mawas diri dan lebih berhati-hati lagi dalam mengontrol perasaannya.
Beberapa menit kemudian,Bik Karsih datang dengan membawa sebuah paper bag dan juga sebuah jas yang masih ada gantungannya.
Kebetulan Sheila yang menerima semua itu dari tangan Bik Karsih,ia juga tahu kalau Fajar juga pasti akan menyuruh dirinya yang mengambilkan.
"Ini." ujar Sheila sambil menyodorkan jas dan paper bag itu.
"Terimakasih." sahut Fajar sambil menerima semuanya dari tangan Sheila.
Sheila yang sudah bersiap untuk berangkat kuliah baru saja akan membuka pintu kamar untuk keluar.
"Bisa tolong pasangkan aku dasi?. " minta Fajar.
"Apa?, tapi sa- eh aku tidak pernah memasangkan dasi kepada siapapun sebelumnya,jadi aku gak bisa. " jawab Sheila jujur.
"Kalau begitu belajarlah,karena mulai besok aku mau kamu yang memasangkan dasi untuk ku." ujar Fajar.
"Baiklah, nanti aku pelajari,tapi sekarang aku mau berangkat kuliah dulu."ujar Sheila.
"Nanti kamu naik mobil kamu aja dulu,soalnya hari ini aku banyak meeting dengan beberapa klien.Jadi tidak akan ada waktu untuk bolak-balik ke kampus kamu." jawab suaminya itu.
"Siapa juga yang minta di antar?!." batin Sheila.
"Memang aku mau bawa mobil sendiri,akan lebih praktis.Kalau harus nunggu-nunggu dulu,yang ada aku bisa jamuran di kampus. " jawab Sheila lagi.
"O iya,bawa ini.Disitu ada uang jatah bulanan kamu disana.Kamu gunakan sebaik mungkin. ya.Itu khusus untuk keperluan kamu." ujar Fajar sambil menyodorkan sebuah kartu debit kepada Sheila.
Kening Sheila mengernyit,sebenarnya ia baru akan menanyakan soal kartu-kartu dan juga dompetnya pada sang Mama.Tapi hari ini Fajar malah memberinya sebuah kartu debit.
"Ini untukku?."tanya Sheila tak percaya, ia meraih benda itu dari tangan Fajar.
" Iya,ambillah,PIN nya tanggal pernikahan kita.Mulai sekarang kamu tidak usah minta uang sama Papa dan Mama kamu lagi,selama kamu masih menjadi tanggungjawabku, apapun yang kamu kebutuhkan mintalah kepadaku."ujar Fajar.
"Ha?."Sheila melongo seakan tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
" Tanggal pernikahan kami berapa ya?. "Sheila tak pernah ingin mengingat hari itu,tapi kini mau tak mau ia harus mengingatnya.
" Ayo kita ke bawah. "ujar Fajar.
Sheila akhirnya tersadar dari keterkejutannya, ia pun mengambil tas nya lalu mengikuti suaminya itu ke bawah.
Sekarang benaknya masih memutar-mutar tentang perkataan Fajar barusan,ia harus bagaimana sekarang?, haruskah ia senang? atau sebaliknya?. Ah bingung sekali.