
Setelah sekian menit berdebat dengan Raysa soal Si Pak Fajar yang digandrungi para mahasiswi di kampusnya,tak terasa kini hari mulai malam.Sheila akhirnya mengakhiri panggilan itu lebih dulu karena ia sudah tidak tahan mendengar Raysa yang selalu memuji-muji Fajar terus-terusan.
Merasakan hal aneh yang begitu sering terjadi di dalam hidupnya belakangan ini membuat Sheila merasa jengah, bagaimana bisa hidupnya yang begitu sempurna, tenang nyaman dan damai,seketika berubah menjadi kehidupan yang sangat melelahkan seperti ini.Setiap harinya bagaikan sedang menghitung kapan hari kematiannya akan tiba saja.
Pagi ini Sheila baru saja bersiap untuk berangkat ke kampusnya, tiba-tiba didepan pagar rumahnya ada yang membunyikan klakson mobil dengan begitu kerasnya.Sampai-sampai suaranya sangat mengganggu siapapun yang mendengarnya.
Papa Sheila yang baru saja bangun tidur jadi ikutan marah-marah karena merasa terganggu.
"Siapa sih yang membunyikan klakson sekeras itu?, didepan rumah kita..lagi." ujarnya kesal.
"Gak tahu juga ya Pa, ayo kita lihat!. " ajak Nyonya Fatiah.
"Biar Sheila aja Ma yang lihat, siapa tahu itu teman Sheila. " Sheila menawarkan diri untuk melihat siapa yang datang.
Setelah gerbang dibuka, Oh No...
Ternyata yang datang adalah pria pemaksa dan arogan yang sudah mengklaim Sheila sebagai tawanannya.
"Kenapa anda kemari sepagi ini?!. " tanya Sheila dengan ketus.
"Hey nona!, saya harap kamu tidak lupa kalau mulai sore kemaren kamu itu adalah tawanan saya!, atau perlu saya umumkan pada seluruh dunia kalau kita sudah sepakat untuk hidup bersama?!. " bisik Fajar ditelinga Sheila.
"Saya tanya untuk apa anda kemari sepagi ini?!. " Sheila benar-benar kesal, moodnya langsung berubah menjadi buruk setelah kedatangan Fajar pagi ini.
"Tenang dulu dong, santuy... "
"Kalau gak mau jawab ya udah, saya juga mau berangkat ke kampus nih. Jadi tolong singkirkan mobil anda dari sini, mobil saya mau lewat. " ujar Sheila.
"Gak bisa, kamu harus ikut saya ke kantor KUA. "ujar Fajar sambil menarik tangan Sheila kearah mobilnya.
" Gak bisa, saya tidak mau!. "Sheila mencoba memberontak.
" Apa kamu lupa dengan kesepakatan kita kemaren?. "tanya Fajar dengan tatapan yang mendominasi.
" Saya tidak pernah berkeinginan untuk menikah dengan anda!, saya sudah bilang kalau saya mencintai seseorang dan saya hanya akan menikah dengan dia, bukan dengan anda!. "bentak Sheila sambil mencoba menarik lengannya yang sedang ditarik oleh Fajar.
" Pokoknya kamu harus ikut saya untuk mendaftarkan pernikahan kita ke KUA. "ajak Fajar dengan terus menarik tangan Sheila ke arah mobilnya.
" Saya gak mau!!, PAPA, MAMA, TOLONG SHEILA.. "teriak Sheila.
" Ada apa ini ribut-ribut?.. "tanya papanya Sheila yang baru saja keluar dari rumah diikuti istrinya dibelakangnya.
" Anda?!.. "Tuan Hari kaget bukan main ketika melihat sosok laki-laki yang kini sedang menarik tangan putri semata wayangnya.
" Hemmm... "Fajar tersenyum seolah sedang menantang calon mertua paksaannya itu.
"Tolong Anda lepaskan putri kami, saya akan berikan apa saja yang Anda mau, asalkan jangan Sheila putri kami. Dia harta kami saru-satunya. " ucap Nyonya Fatiah yang sangat mengkhawatirkan putrinya.
"Mama... tolongin Sheila Ma, Sheila dipaksa buat nikah sama orang ini... " rengek Sheila sambil terus memberontak.
"Saya sudah ajukan penawaran pada kalian, yang saya mau hanya dia. Bukan yang lain!." ujar Fajar dengan lantang.
"Kalau putri kami bersedia, kami pasti akan merestui, tapi Anda lihat sendiri, putri kami tidak mau, bisakah kami memberikan hal yang lain?. " Tuan Hari mencoba memberikan penawaran.
"Kalau kalian mau ikut, ikuti saja kami!. " bukannya menjawab tawaran dari Papanya Sheila, Fajar malah dengan kasarnya menarik tangan Sheila dan memasukkannya ke dalam mobilnya.Lalu secepatnya ia memutar untuk masuk kedalam mobilnya dan duduk kursi pengemudi.
Tuan Hari dan Nyonya Fatiah hanya bisa bengong melihat kelakuan Fajar yang sangat berani melakukan penculikan putri mereka didepan mata mereka sendiri.
"Sheila.. " Tuan Hari tersadar dan langsung ingat untuk segera bergegas mengambil kunci mobilnya kedalam dan langsung mengajak sang istri untuk mengejar mobilnya Fajar.
*****
Sheila yang berada didalam mobilnya Fajar kini hanya bisa pasrah,apalagi pria itu sudah seperti orang kesurupan yang siap menelannya hidup-hidup.
Fajar mengemudikan mobilnya dengan kecepatan diatas rata-rata sehingga dalam hitungan menit saja mereka sudah tiba di depan Kantor Urusan Agama yang dituju.
"Ayo turun!. " Ucapan Fajar ini sudah seperti sebuah perintah.
"Bapak duluan aja. " jawab Sheila yang seolah tak peduli kalau Pria yang kini membukakan pintu disampingnya itu sedang menatap dirinya dengan wajah yang penuh amarah.
"Apa kamu ingin kita langsung menikah hari ini juga?!. " ancam Fajar.
Dengan perasaan yang tak dapat digambarkan, Sheila segera turun dari mobil pria itu. Perlahan ia menatap gedung didepannya yang bertuliskan KUA, Sheila membuang nafas kasar, namun mau tak mau ia juga harus mengikuti langkah pria itu masuk kedalam ruangan pendaftaran pernikahan.
"Bagaimana mau daftar?, saya kan tidak membawa data diri saya, baik KK maupun hal lainnya sebagai syarat pendaftaran. " Sheila merasa dirinya aman.
"Kamu tidak usah khawatir, semuanya sudah saya urus. Bahkan sekarang juga kalau mau kita bisa menikah. " ujar Fajar santai.
"Apa??!. " Sheila lagi-lagi dibuat terkejut oleh pria itu, dari mana Fajar bisa mendapatkan data dirinya'fikirnya.
Dua puluh menit kemudian, mobil yang dikemudian oleh Papanya Sheila baru tiba di depan kantor KUA.
"Pa,apa putri kita akan baik-baik saja?." tanya Nyonya Fatiah.
"Jangan cemas Ma, ayo kita masuk dulu. Biar kita bisa tau apa maunya Si Fajar itu!. "kata Tuan Hari.
" Cepetan Pa, Mama takut nanti kita terlambat."
Keduanya berlarian kedalam sambil bertanya kepada orang-orang yang lewat dimana keberadaan putri mereka dengan menyebutkan ciri-ciri Sheila kepada siapa saja yang mereka temui.
"Yang ini Pa ruangannya. " Nyonya Fatiah menunjuk pintu yang diatasnya bertuliskan ruang registrasi.
Mereka segera masuk kedalam, benar saja.. disana Sheila sedang dipaksa untuk menandatangani surat pendaftaran pernikahan sebagai calon mempelai wanita.
"Sheila.. "
"Mama.. Papa.. " Sheila langsung Berhambur kepelukan sang Mama.
"Kamu fikirkan lagi sayang,kalau hati kamu setuju. Mama akan merestui kamu nak. " Nyonya Fatiah hanya bisa menangis melihat putri semata wayangnya yang harus mengalami pernikahan tanpa cinta seperti ini.
"Mungkin Sheila sudah tidak punya pilihan Ma. " Sheila teringat akan foto-foto bukti Korupsi sang Papa yang selalu diingatkan oleh Fajar ditelinga nya setiap kali ia ingin menolak.
Fajar tersenyum puas mendengar perkataan yang baru saja Sheila ucapkan.Rencana balas dendam nya untuk istri dan calon anaknya akan segera terlaksana.Didalam hatinya ia berkata "Bersiaplah untuk menerima pembalasan dari ku gadis pembunuh!. "
"Ee.. begini Pak penghulu, berhubung disini sudah hadir orang tuanya calon istri saya ini. Bagaimana kalau pernikahannya kita laksanakan hari ini juga?. " Fajar sengaja melakukan itu agar rencananya segera terlaksana.
"Loh, bukannya kita baru mau daftar aja. Kenapa langsung menikah?. " Sheila tidak terima.
"Apa kamu masih punya pilihan Nona?, ingat! Selain bukti korupsi papamu, aku juga punya bukti surat perjanjian kita yang disitu menyatakan, sebagai penebusan dosa kamu bersedia untuk menjadi pengganti istri saya dan melahirkan seorang anak untuk saya sebagai ganti kamu sudah menyebabkan istri dan anak saya meninggal dunia. " ujar Fajar. Lagi-lagi pria itu menampilkan senyuman liciknya.
Sheila tidak bisa berkutik lagi sekarang, ia hanya bisa menghela nafas pasrah berulang kali.