
Degupan jantung Sheila semakin kencang,bahkan Fajar saja bisa mendengarkan bunyinya.
"Kamu deg-degan, " ucap Fajar.
"Siapa yang deg-degan. " Sheila mencoba berdusta dengan apa yang ia rasakan.
"Hahaha, sudah.. tidak usah bohong.Ayo ikut aku, " ajak Fajar sambil menarik tangan istrinya itu menuju ke ruang kerjanya di lantai atas.
"Ngapain kita kesini?, " tanya Sheila setelah mereka tiba di ruang kerja Fajar.
"Aku mau menunjukkan sesuatu." Fajar mengeluarkan sesuatu dari lacinya, "Bacalah."
Sheila mengulurkan tangan kirinya menyambut map yang Fajar berikan.Seketika mata Fajar terbelalak melihat cincin kawin yang ia berikan,kini sudah bertengger di jari manis istrinya itu.
"Kamu memakainya? " tanya Fajar.
"Iya, " jawab Sheila, "Aku pikir, tidak ada ada salahnya jika aku memakainya.Ini bagus juga, setidaknya aku tidak akan di anggap masih sendiri. " Sheila mengalihkan pandangannya, ia tidak kuasa menatap mata Fajar yang dari tadi terus menatap dirinya.
"Terimakasih, kamu sudah mau memakainya," ujar Fajar sambil memegangi tangan Sheila yang mengenakan cincin.
"Iya,sama-sama.Terimakasih juga cincinnya. " Sheila menarik tangannya yang di pegang oleh Fajar.Lalu Sheila segera beralih ke sofa dan duduk di sana.
Fajar mengikutinya,lalu ikut duduk juga di sebelah istrinya itu.Sheila sedikit terhenyak saat Fajar menaruh tangannya di senderan sofa yang ada di belakang Sheila.
"Jadi, aku di panggil sebagai saksi korban?" Sheila nampak kebingungan,ternyata Angga benar-benar sudah melaporkan suaminya.Akhirnya Fajar memberitahunya perihal surat panggilan itu.
"Lalu apa yang akan kamu lakukan? " tanya Fajar.
"Aku gak tau,apa aku harus datang?" tanya Sheila balik, ia kebingungan.
"Tentu saja,kamu sebaiknya memang datang.Tapi.... " Fajar nampak sedikit berhati-hati dalam berkata.
"Tapi apa?" tanya Sheila lagi.
"Tapi..., apakah kamu mau bersaksi untuk memberatkan aku?" tanya Fajar.Terus terang ia sendiri khawatir kalau sang istri malah mengambil kesempatan ini untuk lepas dari dirinya.
Sheila terdiam, ia nampak sedang berpikir, "Bagaimana ini?apa aku buka saja cerita yang sebenarnya? tapi bagaimana kalau hal ini malah membuatnya kesulitan. Ahhh.. kenapa aku jadi gak tega jika melihat dia harus meringkuk di jeruji besi? " Pikiran Sheila kini berkecamuk.
Begitu banyak kemungkinan yang akan terjadi, jika dirinya menceritakan semuanya dari awal asal -usul dirinya mengenal pria yang sudah sah menjadi suaminya ini. Bisa-bisa semua aibnya yang sudah menabrak Fajar dan istri pertamanya dulu juga ikut terbongkar,Sheila bingung harus bagaimana.
"Bagaimana? apa keputusan mu? " tanya Fajar lagi.
"Aku gak tau harus bagaimana?aku bingung. " Sheila tertunduk sambil mengurut keningnya yang terasa pusing.
"Apa aku boleh memberi saran? " tanya Fajar.
"Saran apa? biasanya juga langsung bilang gak pakai nanya, " ujar Sheila.
"Coba Kamu pikirkan lagi,karena ini menyangkut masa depan kamu dan juga aku. masa depan hubungan kita ini, juga masa depan Papa mu."Fajar mencoba memperingatkan Sheila agar tidak bertindak gegabah, karena banyak hal yang harus di pikirkan kalau ia sampai membuka cerita yang sebenarnya.
" Jujur saja, aku tidak peduli dengan masa depan hubungan kita akan seperti apa, yang aku khawatirkan adalah Papa. "Sheila menatap nanar mata Fajar,Fajar pun menatap Sheila dengan tatapan memelas.
" Aku tau, kamu pasti akan melakukan semua hal untuk kedua orang tua dan juga keluargamu. "Fajar mendengkus kesal, ia pun menarik nafas berat dan lalu berdiri.
" Aku hanya mau berdiri saja,"jawab Fajar.
"Setelah aku pikir-pikir, sepertinya aku akan mengatakan kalau saat kejadian itu terjadi, kita statusnya sudah bertunangan, dan saat itu kamu sedang tidak menculik aku, " ujar Sheila, membuat Fajar bisa sedikit bernafas lega. Ia sangat senang karena istrinya itu mau berdiri di pihaknya.
"Benarkah?terimakasih ya Sa...." Fajar memeluk Sheila secara tiba-tiba,tadi ia sempat nyaris memanggil Sheila dengan sebutan sayang.
"Itu semua aku lakukan demi Papaku, aku tahu Mas Fajar pasti akan memanfaatkan kasus Papa untuk mengancam aku,jika aku sampai membenarkan tuduhan Angga, terhadapmu," ujar Sheila.
"Setidaknya aku tau,kalau kamu sudah peduli padaku, suamimu ini, " ucap Fajar,ia langsung memeluk Sheila karena merasa senang.
Sheila yang mendapatkan pelukan tiba-tiba dari Fajar langsung menjadi kaku dan terdiam seribu bahasa.Matanya mengerjap beberapa kali,sambil memastikan kalau jantungnya masih aman atau tidak.
Deg... deg... deg.... tak karuan.
"Kenapa Mas Fajar memelukku ?"tanya Sheila.
" Karena aku ingin berterimakasih,ternyata kamu mempedulikan keselamatan dan juga kebebasan ku,"jawab Fajar.
"Maaf,aku tidak bilang semua ini demi kamu 'kan? "ujar Sheila,Fajar terlalu ge-er menurutnya.Sheila berusaha melepaskan dirinya dari pelukan suaminya itu,ia mendorong tubuh Fajar sekuat mungkin.
" Kenapa? "tanya Fajar.
" Aku sesak gak bisa nafas.Sebaiknya aku kembali ke kamar,besok ada kuis,aku harus masuk pagi.Jadi aku harus tidur,takut kesiangan. "
Sheila memutar tubuhnya dan beranjak pergi.
Namun dengan sigap,Fajar kembali memeluk tubuhnya dari belakang dengan sangat erat.
"Besok,biarkan aku yang mengantarmu ke kampus,"bisik Fajar di telinga Sheila.
Sheila merasa risih dengan perlakuan Fajar,ia mencoba menghindarinya, "Maaf Mas Fajar, aku harus segera ke kamar.Masih banyak yang harus aku bereskan dan juga aku harus segera tidur." Sheila membuka paksa pelukan Fajar yang ada di pinggangnya dan pergi meninggalkan suaminya itu,kembali ke kamar.
"Baiklah,aku juga mau ke kamar. " Fajar mengikuti Sheila dari belakang dan ikut masuk ke kamar mereka.
Kali ini,Sheila mulai membiasakan dirinya.Tidur disamping suaminya itu, membuatnya harus terus waspada,walaupun akhirnya ia tertidur juga.
*****
Pagi menjelang,Sheila terbangun dengan posisi tangan Fajar yang ada di perutnya.Hal ini sudah biasa baginya.
Sheila pun bersiap-siap mandi,sholat subuh,dan berangkat ke kampus.Hari ini ia sengaja tidak membangunkan Fajar,karena ia tahu kalau Fajar susah tidur semalam.
Pria itu terus saja bergerak kesana kemari, mungkin perasaannya sedang tidak menentu, sehingga ia terus saja gelisah.
Kedekatan dirinya dengan sang istri baru-baru ini,sudah membuatnya jadi serba salah.Apalagi semalam ia habis minum kopi buatan Lina.Entah apa yang dimasukkan oleh gadis itu ke dalam kopinya,semalaman ia terus terjaga dan merasakan panas di tubuhnya.
****
"Nyonya Sheila sudah berangkat ke kampus dengan mobilnya sendiri, Tuan, " jawab Bik Tarnik saat Tuannya menanyakan dimanakah Sheila berada, karena ia tidak melihat istrinya itu sejak ia bangun tidur.
"Begitu ya, terimakasih Bik. " Fajar segera naik lagi ke kamarnya untuk mandi dan bersiap-siap.Ia harus segera mengejar Sheila kampusnya,ia khawatir istrinya itu akan berubah pikiran dan berdiri di pihak Angga.