
Sheila terus berjalan tanpa menghiraukan pria yang ada dibelakangnya, ia tidak perduli sama sekali meskipun beberapa wanita ada yang mengenali suaminya itu walaupun sekarang Fajar mengenakan kacamata hitam besarnya.
"Itu 'kan pengacara terkenal itu. " terdengar suara dari orang-orang.
"Iya,saya sering lihat dia di TV. " ujar wanita yang satunya lagi.
"Gila, banyak juga yang ngefans sama pria arogan kayak dia. Najis banget. "gumam Sheila.
Mendengar semua orang sibuk membicarakan dirinya,Fajar semakin mempercepat langkahnya.Ia hanya membalas mereka semua dengan sebuah senyuman yang ia tebarkan ke segala arah.
Akhirnya Sheila bisa sampai lebih dulu di dekat mobil Fajar,Ia belum bisa masuk karena suaminya itu masih beberapa meter di belakangnya.
"Tlutt.. tlutt... " bunyi remot Mobil yang dinyalakan oleh Fajar membuka kunci.
Sheila segera membuka pintu mobil dibagian belakang dan masuk dengan belanjaannya.
"Kenapa kamu duduk dibelakang?,aku ini bukan supir kamu!. " bentar Fajar.
Sheila terkesiap melihat mata Fajar yang memerah dan menatapnya nanar.Mau tak mau ia kembali turun dan pindah ke kursi yang ada disamping kemudi.
"Lain kali kamu harus tahu dimana posisi kamu baik di meja makan maupun di dalam mobil. Jangan sesekali lagi membuat aku naik pitam, hari ini kepalaku sudah pusing karena pekerjaan, jadi kamu jangan memancing emosiku lagi!. " ujar Fajar dengan tegasnya.
"B-baik Pak,eh maaf.. Mas Fajar. " jawab Sheila kikuk.
"Kenapa kamu ini kaku sekali sih?, tidak bisakah kamu bersikap normal saja?. " tanya Fajar lagi.
"Beginilah saya. " jawab Sheila singkat.
"Jangan bohong, tadi aku lihat dengan mata kepalaku sendiri kalau kamu bisa ngobrol dengan santai sama pria yang waktu itu aku hajar habis-habisan." ujar Fajar.
"???. " Sheila bengong, ia tidak menyangka kalau Fajar bisa tahu tadi ia sempat ngobrol sama Angga.
"Kenapa?, kaget ya aku bisa tahu kelakuan kamu dibelakangku?. " tanya Fajar ,sinis.
"Nggak kok, terserah apa saja yang mau anda lakukan,mau buntutin saya,mau mengintai semua kegiatan saya, saya tidak peduli. " jawab Sheila tak maupun kalah.
"Ka-mu ya.Makin lama makin berani jawab-jawab perkataan ku!. " Fajar jadi kesal.Saking kesalnya ia sampai melampiaskan amarahnya pada setir mobilnya.
Sheila hanya bisa mengelus dada melihat kelakuan suami arogan nya itu.
"Sabar... sabar.. " ucapnya dalam hati.
Tak berapa lama kemudian, Fajar langsung melajukan mobilnya ke arah rumahnya.
"Eee, Mas Fajar. Bisakah kita mampir sebentar kerumah Mama dan Papa?. " tanya Sheila dengan takut-takut.
"Untuk apa kamu main kesana lagi?. " tanya Fajar dengan nada yang setengah marah.
"Saya sudah rindu sama Mama dan Papa, dan saya juga mau mengambil beberapa barang pribadi saya yang sangat penting. " ujar Sheila.
"Barang apa itu?, bukan dari mantan kamu 'kan?. " tanya Fajar penuh selidik.
"Kami bahkan belum putus. " batin Sheila.
Sampai saat ini ia belum bisa menghubungi Akash, disatu sisi ia masih belum bisa untuk jujur akan status nya, dan disisi lain Sheila juga masih mencintai kekasihnya itu. Jadi ia tidak sanggup untuk mengatakan semuanya, apalagi beberapa hari ini kekasihnya itu juga belum menghubungi dirinya lagi.
"Kenapa diam?. " Fajar bisa membaca raut kebingungan di wajah istrinya itu.
Sontak saja Sheila langsung menoleh ke arah suaminya itu, rahangnya mengeras. Hatinya sudah sangat lama memendam kesal dengan pria arogan ini, ingin rasanya ia menelan pria ini hidup-hidup dengan sekali hap.
" Dari mana anda tahu soal Akash?!. "tanya Sheila geram.
" Kamu lupa ya, kamu sendiri loh yang sudah memberi tahu ku.Lagipula aku sudah menyampaikan sama tuh cowok kalau kamu sekarang sudah menikah dengan ku.Jadi dia pasti sudah tidak akan berharap lagi sama kamu. "ucap Fajar dengan santainya.
" Apa?!, jadi selama beberapa hari ini Akash tidak lagi menghubungi saya karena anda sudah memberi tahu semuanya sama dia?!. "Sheila benar-benar tidak menyangka.
Ia sudah tidak bisa membendung lagi air matanya.Tak dapat ia bayangkan bagaimana perasaan Akash saat ini, pasti laki-laki itu kini sangat membenci dirinya.
" Kamu itu jangan terlalu berharap sama laki-laki seperti dia, kamu fikir selama ini dia itu laki-laki setia?, hehehe."
"Apa maksud Anda?. "tanya Sheila.
" Nanti akan ku beritahu, tapi ada syaratnya. "ujar Fajar dengan senyuman miring nya.
" Kamu fikir kamu bisa mengendalikan aku, kamu salah besar, justru hidupmu lah yang akan aku kendalikan."batin Fajar.
Sheila hanya bisa mengusap air matanya,tidak ada gunanya sekarang ia menangis. Kalau ternyata hidupnya kini sudah seperti sebuah sampan yang berada di tengah lautan luas.Tak akan cukup tenaga untuk mengayuh, hanya bisa mengikuti arah angin yang meniupkan ombak sambil berharap suatu saat nanti ombak itu yang akan membawanya kembali ke pantai.Namun entahlah pantai yang mana.
Fajar memutar arah mobilnya ,sekarang mereka ada dijalan yang menuju ke rumah keluarga Wibowo.Sheila baru menyadari hal itu setelah Fajar menyodorkan kotak tisue dan meminta Sheila untuk menghapus air matanya.
"Pakai ini, hapus airnya mata itu. Entar dikira orang tua kamu aku sudah KDRT. " ujar Fajar.
Sheila menyambut tisue itu dengan sentakan tangan sehingga kotak tisue yang berbahan kertas itu pun sobek dan tisue nya berhamburan.
Tak mau suaminya itu keburu marah, Sheila segera merapikan semua tisue-tisue itu kembali.
"Lain kali jangan gegabah,Oya.. di dalam nanti bersikaplah sebaik mungkin, seolah-olah hidup mu sangat bahagia.Jangan pernah kamu mengeluhkan aku dihadapan kedua orang tua mu. " ancam Fajar, tapi dengan nada yang lembut
"Iya,bawell." kesal Sheila.
"Wah,sudah berani ya." ujar Fajar sambil mendelik ke arah Sheila.
Baru saja Fajar ingin mendekatkan wajahnya ke wajah istrinya itu guna memberi hukuman, tapi Sheila sudah membuka mobil lalu turun lebih dulu.
"Haisshh." Fajar meraup wajahnya kasar.
Sheila berbalik dan menjulurkan lidahnya kepada Suaminya itu. 😜
"Emang enak. " olok Sheila, puas rasanya ketika ia bisa ngerjain Fajar, setidaknya kini ia bisa membalaskan sedikit rasa sakit hatinya kepada pria yang sudah membuat hidupnya terpuruk seperti saat ini.
Fajar menyingsingkan lengan kemejanya, ia pun turun dari mobil dan segera mengikuti Sheila yang sudah masuk terlebih dahulu ke dalam rumah orang tuanya.
Rasanya ingin sekali Sheila marah kepada dua orang yang berperan dalam kelahirannya kedunia ini, apalagi setelah ia melihat Mama dan Papanya yang begitu santai sedang duduk-duduk di tepi kolam renang sambil menikmati makanan ringan dan jus buah.
"Mama, Papa, Sheila pulang. " ujar Sheila.
"Sheila, sayang. " Mama Fatiah sudah tidak bisa membendung kerinduannya kepada putri satu-satunya itu.
"Kata suami kamu, kamu sibuk ngerjain tugas kuliah. Memangnya seberat itu ya tugas kuliah kamu sampai gak bisa angkat telepon Mama, sampai gak bisa balas chat dari Mama. " ujar sang Mama.
Sejenak Sheila terdiam,ponselnya saja baru dikembalikan. Berarti selama ini Fajar sudah melihat semua pesan yang ada di ponselnya, bisa-bisanya pria itu berbohong kalau dia sedang mengerjakan tugas kuliah. Padahal kenyataannya, Sheila harus kerja rodi dan bahkan dipaksa melayani pria arogan itu di atas ranjang.
Sheila memeluk sang Mama sambil menatap Fajar dengan wajah yang penuh amarah.Didalam hatinya,ia mengucapkan sumpah serapah untuk pria itu.